Arrive

Arrive
24 Seorang Putri Yang Menyebalkan


__ADS_3

Aku mendesah pelan


"Tak bisakah jika Daniel ikut tinggal di istana? Oh iya Nina juga,"pinta ku karena aku ingin Daniel dan Nina juga tinggal di sini bersama aku dan Rangga.


Raja Alison dan Ratu Alisa saling memandang satu sama lain. Mungkin untuk menentukan boleh atau tidaknya. Dan aku harap itu boleh.


"Boleh saja. Tapi jika aku boleh tau apa hubungan kalian berempat?"Aku senang Raja Alison mengijinkan dan aku bersorak senang.


"Kami semua bersahabat,"jawab Daniel. Padahal baru saja aku akan menganga untuk mengatakan itu. Aku menatap ke arah Daniel dan ia tersenyum padaku.


"Berapa lama kami semua akan berada di Neutralis? Apakah kami tidak bisa berteleportasi untuk kembali?"Rangga bertanya serius.


"Kami bangsa Neutralis tidak bisa melakukan itu. Kami juga masih berusaha untuk menciptakan teknologi teleportasi,"ucap Rilianza tersenyum begitu manis ke arah Rangga selain itu sedari tadi tatapannya tak pernah lepas dari Rangga maupun Daniel. Tapi Rilianza tak pernah melihat ke arah ku.


Apa dia belum pernah melihat laki laki tampan sebelumnya? Kemungkinan itu membuatku sebal terlebih jika yang dia perhatikan adalah Daniel. Aku diam diam menatapnya agak jengkel, Untung dia tidak melihat ke arahku sekarang.


"Ah tapi kalian tenang saja kami sudah menghubungi kerajaan Plusialis tentang kedatangan kalian. Dan beberapa hari lagi mereka akan berkunjung kesini,"tambah Raja Alison tersenyum.


"Beval! Beval!"panggil Raja Alison memanggil atasan tertinggi keamanan di kerjaan Neutralis itu lewat earphone walki talki yang ada di telinganya. Dan aku baru sadar jika benda itu sedari tadi terpasang di telinganya.


Tak lama pria gagah berkumis itu datang dan menundukan badannya perlahan.


"Semua nya sudah beres tuan, para tamu sudah kami bawa ke penginapan kerajaan,"ucapnya lalu menunduk lagi. Raja Alison mengangguk.


"Sekarang kamu bawa gadis yang bernama Nina dari sana. Dia temannya Rani dan dia akan tinggal disini,"suruh Raja Alison.


"Baik."


"Aku saja yang menemui Nina. Apakah penginapan nya jauh dari sini?"aku menghentikan langkah pak Beval.


"Tidak terlalu jauh. Jika kalian ingin pergi kesana Rilianza akan mengantar kalian,"ujar Raja Alison mengiyakan permintaan ku. Rilianza tampak senang dan matanya juga berbinar.


"Ayo ikut denganku,"ucapnya dengan semangat.


Kenapa aku jadi sebal dengan Rilianza?


***


Kami sudah berjalan lumayan jauh. Bisa aku deskripsikan kerajaan Neutralis ini sangat luas dengan berbagai gedung serta bangunan di dalamnya. Namun semua nya menyatu dalam satu komplek istana, Banyak sekali fasilitas di sini dan aku yakin semua fasilitas ini diperuntukan untuk keluarga kerajaan dan juga tamu kerajaan.


"Jadi istana ini benar benar luas ya?"aku terkagum kagum melihat seluruh bagian istana yang kami lewati saat akan menuju penginapan istana.


Belum ada jawaban dari Rilianza yang berjalan bersama Rangga di depan kami. Aku memperhatikannya dari belakang menunggunya untuk bicara.


"Tentu saja istana ini sangat luas,"jawabnya sambil tersenyum ke arah Daniel. Hey aku yang bertanya bukan Daniel.

__ADS_1


"Nah itu salah satu taman kerajaan,"tunjuk Rilianza pada sebuah taman yang indah penuh dengan warna warni bunga dan air mancur bulat di tengahnya.


Kami ber'oh'ria.


"Kak Rangga, apa kakak mengingat tentang tempat tempat di sini?"tanya nya mendekat pada Rangga.


"Inget sih enggak tapi ya kayak tau gitu,"jawab Rangga.


"Kata ayah ku Firlangga itu pangeran di kerajaan Plusialis tapi dia sering kesini. Jadi kakak pasti tau tempat disini walau banyak yang berubah sih,"ujar Rilianza tersenyum lebar sambil menyelipkan anak rambut kebelakang telinganya.


Rilianza memang cantik, penampilan nya juga menarik, rambut hitam panjang dengan Tiara indah di atasnya serta gaun formal yang ia kenakan terlihat pas di tubuhnya. Tentu saja itu di dukung oleh posisi nya sebagai seorang putri.


"Jadi Ravanya itu Putri kerajaan Neutralis?"tanya Rangga. Rilianza mengangguk semangat.


"Tapi kenapa kamu gak tanya sama Rani?"lanjutnya lagi. Rangga benar kenapa dia tidak bertanya padaku.


"Oh iya,"desah Rilianza. Ia lalu berbalik kebelakang dan tersenyum.


"Aku tid-"


"Kak Daniel menurut kakak tamannya indah gak?"ia memotong ucapanku. Aku pikir dia akan bertanya padaku tapi ia malah bertanya pada Daniel.


"Iya taman nya sangat cantik,"jawab Daniel sambil membalas senyum Rilianza.


Bisa bisa nya Rilianza mendiskriminasikan aku. Menganggap seolah aku tak ada disini. Apa dia selalu begitu jika ada laki laki tampan. Padahal aku terlihat jelas disini, sangat jelas dengan ekspresi sebal ku terhadapnya.


Daniel berbalik mundur, aku terdiam di tempat membiarkan dia menghampiri ku. Ia terlihat tersenyum mengejek ke arah ku, ia lalu membungkuk sedikit badannya agar bisa berbisik di telinga ku.


"Kamu cemburu ya?"tanya nya. Aku mendorongnya agar menjauh.


"Ya enggaklah. Apaan sih,"aku melipat ke dua tangan di dada. Rilianza dan Rangga yang berjalan didepan menghentikan langkahnya dan melihat ke arah aku dan Daniel.


"Kalau enggak kenapa kamu terus menggerutu?"tanya nya sambil menangkup pipi ku dengan kedua tangannya.


"Hah siapa?"aku membuang wajahku yang memerah karena tatapannya yang terlalu dekat. Daniel masih memegangi pipi ku. Aku memegang tangannya untuk menjauhkan itu dari sana.


"Kalau gitu ayo lanjut jalan,"katanya sambil menarik tanganku. Aku terdiam."ayo, kalau enggak aku cium kamu nih di depan mereka."lanjutnya sambil berbisik, dan nampak sebuah senyum tersembunyi di balik wajahnya. Dia ini selalu pandai mencari kesempatan.


"Iya iya."


Aku kemudian kembali berjalan bersama mereka. Ekspresi wajahku tak berubah, aku tetap kesal pada Rilianza.


"Sini ransel kamu,"pinta Daniel lalu mengambil ranselku dan membawakannya.


"Daniel gak usah,"ucapku berusaha mengambil ransel ku kembali. Setelah aku simpan buku tebal pemberian Raja Alison disana, volume ransel memang jadi lebih berat. Tapi itu sungguh tak masalah.

__ADS_1


"Aku aja yang bawa. Ayo,"kata Daniel lalu menggenggam tanganku. Aku hanya bisa mengangguk pasrah.


"Kita sudah sampai," ujar Rilianza lalu mengajak kami masuk ke sebuah gedung yang mirip dengan tower apartemen yang begitu megah.


Saat aku masuk kedalam, kami di sambut oleh beberapa pelayan yang menunduk dan tersenyum ramah. Lalu di sana ramai sekali orang, dan yang aku tahu itu adalah teman teman satu sekolah ku.


Mereka sedang sibuk mengobrol dan mendengarkan arahan dari para pelayan, mereka juga tengah sibuk dengan barang bawaan mereka dan akan segera pergi ke kamar mereka masing masing.


Semua orang pasti tahu soal aku yang reinkarnasi dari Ravanya. Mereka pasti heboh dan akan menghantam ku dengan banyak pertanyaan. Sebelum mereka menyadari kehadiran ku di sini aku menarik tangan daniel menjauh dari Rangga dan Rilianza.


"Daniel bisa gak sihir pikiran mereka seolah mereka udah tau tentang aku supaya mereka gak heboh,"ucapku berbisik pelan agar tak terdengar juga tak ada orang yang mengetahui keberadaan ku. Aku tak mau semuanya jadi heboh dan menjadikan ku pusat perhatian. Aku tidak suka jadi perhatian banyak orang--teman teman satu sekolah serta guru dan yang lainnya.


"Kamu bilang gak sopan sihir pikiran orang,"tolaknya.


"Ish Daniel sekali ini aja ya, please."aku menyatukan kedua tangan ku di dada lalu tersenyum se manis mungkin.


"Yaudah iya tapi kamu merem ya,"suruhnya. Aku mengangguk lalu memejamkan mataku kemudian sebuah tangan besar menutup mataku, aku meraba tangan itu, dan itu adalah tangan Daniel.


"Daniel udah belum?"tanya ku dalam keadaan pandangan yang gelap. Tangan Daniel menyingkir dari penglihatan ku kemudian aku membuka mataku perlahan. Seperti tak ada yang berubah semua nya terlihat sama seperti yang aku lihat tadi.


"Ini beneran udah? Gimana caranya?"


"Rahasia,"jawabnya.


ish padahal aku sangat penasaran


"Itu Nina lagi ngobrol sama Rangga. Kesana yuk,"ujarku senang. Aku menarik lengan Daniel menuju Nina yang tengah mengobrol dengan Rangga juga Rilianza.


"Ninaa!"panggil ku. Nina menoleh.


"Ranii!"kami berdua kemudian berpelukan seolah telah berpisah lama.


"Rani kamu kok bisa sama mereka? Terus kamu beneran reinkarnasi nya Ratu Ravanya?"tanya Nina penuh semangat dan heboh.


Alis ku mengkerut pelan. Bukankah Daniel sudah memanipulasi pikiran orang orang seolah olah mereka tau tentang kebenaran ku dan tidak akan gempar soal itu. Namun mengapa Nina terlihat sangat heboh.


"Lo masih aja heboh Nin,"ujar Daniel terkekeh pelan. Dan Nina tersenyum menampakan gigi nya.


Ah, Aku lupa jika Nina itu memang selalu heboh. Dimanapun, kapanpun, apa saja pun pasti ia hebohkan.


***


TBC...


flo tunggu like, komen sama vote nya. Eh saran juga ya. Terimakasih :)

__ADS_1


__ADS_2