
Terkadang Ravanya berhenti sejenak untuk mengistirahatkan lengannya. Lalu ia kembali mengayunkan pedangnya.
Daylan mengusap keningnya kemudian mendekati Ravanya.
"Bukan seperti itu!"Ravanya menghentikan kegiatannya, ia menatap ke arah Daylan yang berjalan ke arahnya.
"Seperti ini,"ujar Daylan kemudian berdiri di belakang Ravanya dan memegangi tangan Ravanya yang sedang menggenggam pedang.
"Pegang yang kuat, ayunkan yang kuat."Daylan mengajari Ravanya, Ravanya mengangguk paham dan membiarkan lengannya mengikuti gerakan lengan Daylan. Daylan tiba tiba melepas genggaman pedangnya yang membuat Ravanya kewalahan dan pedang itu seketika terjatuh mengenai kakinya.
"Aduh. Aw, kaki ku berdarah!"teriak Ravanya lalu berjongkok dan memegangi kakinya. Daylan ikut panik, ia mencoba untuk memegang luka di kaki Ravanya.
"Jangan di sentuh,"ucap Ravanya menahan sakit.
"Sudah kau diam saja."Daylan mengelus luka itu perlahan sambil mengucapkan sesuatu yang Ravanya tak mengerti. Luka itu sembuh dengan cepat dan Ravanya tidak merasakan sakit lagi di kakinya.
"Bagaimana kau lakukan itu?"tanya Ravanya penasaran. Ravanya memegang telapak tangan Daylan dan melihatnya penasaran.
"Kenapa kamu ini selalu memegang lengan orang lain dengan sembarangan?"tanya Daylan dengan tatapan tak suka, tapi Daylan membiarkan lengannya di pegang oleh Ravanya.
"Tangan mu lembut ya? Bagaimana kamu merawatnya?"tanya Ravanya penasaran lagi sambil mengelus telapak tangan Daylan.
"Dengan tidak membiarkannya di pegang oleh orang lain,"ujar Daylan menarik lengannya perlahan dari genggaman Ravanya.
"Benarkah? Tanganku juga tak di sentuh sembarang orang, tapi kenapa tak selembut milik mu?"tanya Ravanya sambil mengulurkan lengannya pada Daylan. Dengan ragu Daylan memegang lengan Ravanya.
"Tangan mu juga lembut tapi terasa dingin? Apa kamu kedinginan?"tanya Daylan.
"Berhentilah merayu Puteri Ravanya, Pangeran Daylan,"ketus Firlangga yang baru sampai dengan pelayanannya.
Daylan melepas genggaman tangannya lalu berdiri menghadap Firlangga.
"Aku tak merayu nya,"jawab Daylan dingin. Ravanya lalu ikut berdiri.
"Kenapa kau membawa Puteri Ravanya pergi di tengah malam seperti ini? Apa kau berniat untuk merayu lalu menculiknya?"tanya Firlangga marah. Daylan terdiam tak peduli dengan apa yang di ucapkan oleh Firlangga, toh dia tidak berniat melakukan hal itu. Sama sekali tidak.
"Kamu tak boleh asal bicara pangeran Firlangga, Pangeran Daylan tidak seperti itu. Malah dia berniat baik untuk mengajari ku,"balas Ravanya membela Daylan.
"Pangeran Daylan, bolehkah kita belajar lagi besok. Aku ingin kembali ke akademi,"lanjut Ravanya. Daylan pun mengangguk.
"Ayo puteri mari pulang dengan ku?"ajak Firlangga. Ravanya terdiam wajahnya menatap ke arah Daylan.
"Aku ingin pulang bersama pangeran Daylan."
__ADS_1
***
Ke esokan hari nya, semua orang telah tahu jika Ravanya belajar bermain pedang diam diam bersama Daylan. Hal itu membuatnya dan Daylan di panggil oleh ketua pengurus Akademi.
"Puteri! Pangeran! Kalian telah melanggar aturan. Pergi tengah malam tanpa ijin, bermain pedang diam diam. Itu melanggar aturan,"ucap Sudo, ketua pengurus akademi.
"Maaf Tuan Sudo, tetapi aku hanya ingin belajar untuk melindungi diri. Aku ingin belajar sesuatu yang baru di sini. Aku ingin jadi seorang puteri yang tangguh tanpa harus selalu bergantung pada seorang pangeran,"jelas Ravanya membela dirinya.
"Tetap tidak bisa tuan Puteri. Maafkan saya, oleh karena hal itu kalian berdua akan kami hukum dan hukumannya kalian tidak bisa masuk kelas selama beberapa hari. Terimakasih, kalian boleh pergi,"pungkas Sudo, dengan terpaksa mereka berdua pun keluar dari ruangan itu dan berjalan bersama.
"Maafkan aku pangeran, gara gara aku pangeran jadi ikut di hukum,"sesal Ravanya.
"Sudahlah jangan di pikirkan, lebih baik kita pikirkan bagaimana supaya kita tetap bisa belajar bermain pedang,"ujar Daylan membuat Ravanya mengangkat wajahnya semangat.
"Jadi pangeran tetap mau mengajari ku?"tanya Ravanya. Daylan mengangguk sambil tersenyum kaku.
"Berapa lama pangeran tidak tersenyum? Senyum mu terlihat kaku,"ujar Ravanya sambil tertawa pelan.
"Aku tak tahu, ku rasa ini yang pertama."jawab Daylan.
"Sungguh? Ya ampun, tenang saja pangeran aku akan membuat mu terus tersenyum,"ujar Ravanya dengan senyum manis di bibirnya, Daylan tersenyum kembali. Daylan tak tahu kenapa bibirnya begitu ringan sekarang.
"Puteri Ravanya!"panggil Firlangga, Ravanya terdiam tak acuh.
"Maaf pangeran, aku sudah punya guru ku sendiri,"jawab Ravanya dingin.
"Sudahlah biarkan dia ikut,"suruh Daylan.
Ravanya menarik nafas perlahan.
"Baiklah pangeran Firlangga kau boleh ikut. Aku juga ingin minta maaf atas kelakuan ku beberapa hari terakhir ini,"ujar Ravanya.
"Kamu tidak perlu minta maaf puteri, aku yang salah karena membatasi mu untuk belajar. Jadi ayo aku antar puteri ke kamar,"ajak Firlangga. Ravanya menolak.
"Tidak usah, aku akan pergi ke kamar ku sendiri saja."Ravanya tersenyum kemudian pamit untuk pergi ke kamarnya.
Firlangga menatap Daylan dengan tatapan kurang suka. Dan Daylan menyadari hal itu.
"Apa kau cemburu?"tanya Daylan.
"Puteri Ravanya adalah calon Ratu ku, Calon istri ku. Jangan kamu terus merayu nya,"jawab Firlangga kemudian pergi dari hadapan Daylan.
***
__ADS_1
Ravanya berjalan bolak balik di depan pintunya, menunggu Daylan datang menemui nya. Anna hanya terdiam bingung menatap majikannya berbuat demikian.
"Puteri menunggu siapa?"tanya Anna mulai membuka suara.
"Pangeran Daylan. Dia bilang dia akan datang malam ini,"jawab Ravanya.
"Apa puteri akan belajar bermain pedang lagi?"tanya Anna mulai khawatir.
"Ah, tidak Anna. Aku, pangeran Daylan dan pangeran Firlangga akan pergi sebentar untuk berjalan jalan,"bohong Ravanya, ia terpaksa melakukan itu supaya Anna tidak melarangnya lagi. Tapi sebenarnya Anna tahu dan ia membiarkan itu, Anna tak mau terlalu ikut campur.
"Baiklah puteri."
Suara ketukan pintu pun muncul, dengan segera Ravanya membuka pintu kamarnya. Ravanya tersenyum melihat Daylan dan Firlangga datang bersama sama.
"Bisakah kita pergi sekarang?"tanya Ravanya antusias.
"Tentu saja ayo kita pergi,"ajak Firlangga.
"Anna! Aku akan pergi sebentar, kamu jangan khawatir ya."ucap Ravanya kemudian pergi bersama Daylan dan Firlangga.
Mereka bertiga masuk ke dalam kamar Daylan untuk melakukan teleportasi dibantu oleh Bert. Mereka bertiga pun sampai di hutan tempat dimana Ravanya dan Daylan berlatih kemarin malam.
Latihan pun di mulai, Firlangga dan Daylan secara bergantian mengajari Ravanya. Bahkan mereka bersama sama mengajari Ravanya.
"Pegang yang kuat dan ayunkan yang kuat. Seperti kemarin malam,"ujar Daylan. Ravanya mengangguk paham dan mulai melakukan apa yang Daylan sudah ajarkan.
Setelah itu Ravanya mengistirahatkan dirinya dan duduk di samping Firlangga.
"Ini untuk mu puteri. Sepertinya kau haus,"tawar Firlangga memberikan Ravanya sekantung air.
"Terimakasih pangeran, kamu minum saja. Aku tidak begitu haus,"ucap Ravanya.
"Minum saja air nya, kau jangan berpura pura tidak haus. Cepat minum,"ujar Daylan menyimpan kantung air miliknya ke atas tangan Ravanya dan memaksa nya untuk minum.
Ravanya melirik Daylan, kemudian ke kantung air itu. Lalu melirik Daylan lagi. Daylan membuang muka nya, tak balik menatap Ravanya. Akhirnya Ravanya pun minum dari air itu.
"Terimakasih,"ucap Ravanya lalu memberikan kantung air itu kembali pada Daylan. Ravanya mengusap bibirnya yang basah, ia lalu menatap Daylan lagi.
"Kenapa kau melihat ku seperti itu? Sudahlah, ini saat nya kita pulang,"ajak Daylan.
***
Bersambung....
__ADS_1