
Jumlah siswa/siswi beserta guru hampir sekitar tiga ratus orang lebih. Mereka semua berdiri di sepanjang jalan di samping bus masing masing terparkir berjajar.
Mereka bertanya tanya tentang apa yang sedang terjadi. Saling bertanya dan melirik satu sama lain. Tak sedikit orang yang masih mengumpulkan kesadaran mereka.
"Dini hari kayak gini siapa coba yang mau menghentikan bus yang lewat kalau bukan para pembajak bus,"ujar salah seorang siswa dari bus sebelah yang mengemukakan pemikirannya. Banyak orang mengangguk setuju dengan pendapatnya. Banyak juga orang yang merasa khawatir karena pemikiran yang disetujui banyak orang itu. Tapi kita masih belum tau pasti.
Aku memandangi setiap orang yang menampakan ekspresi mereka masing masing. Tiba tiba jemari ku terasa hangat seperti di genggam seseorang, membuat ku refleks menoleh untuk memastikan. Daniel, dia mengepal jemari ku erat lalu tersenyum tipis ke arah ku. Ia mencoba menenangkanku agar tidak terlalu panik.
"Tangan kamu dingin banget. Mau aku peluk?"tanya nya sembari mengepal jemari ku dengan kedua tangannya. Aku menggeleng.
"Daniel orang orang lagi panik kok kamu malah modus sih?"tanya ku heran. Dan ia hanya menjawab dengan cengiran kecil di wajahnya. Aku menggelengkan kepala ku.
Semua orang seketika diam menghapus suara mereka masing masing ketika seorang tak di kenal datang menghampiri kelas kami. Aku tak begitu dapat jelas akan orang itu. Sekilas aku lihat ia bukan seperti seorang pembajak bus atau sejenisnya. Aku rasa dari seragam dan penampilannya ia terlihat seperti aparat penegak hukum.
"KALIAN SEMUA KEMBALI MASUK KE DALAM BUS SEPERTI YANG LAINNYA KEMUDIAN IKUTI KAMI DARI BELAKANG. KALIAN AKAN KAMI BAWA KARENA TINDAKAN MIGRASI ILEGAL!"teriak nya membuat semua mati kutu lalu terdiam mengikuti yang lain itu kembali masuk ke dalam bus dalam pikiran kebingungan karena di sebut migrasi ilegal.
Pria berkumis subur itu berjalan meninggalkan kami dengan tatapan tajamnya untuk kembali berteriak pada orang orang dari bus lainnya.
Kami para siswa dan siswi masuk ke dalam bus terlebih dahulu membiarkan para guru yang tengah berdiskusi bersama para supir. Mungkin menanyakan hal hal yang memang harus ditanyakan untuk menjawab resah hati para murid nya.
"Anak anak ku semua mungkin kalian tidak percaya dengan yang terjadi saat ini."Bu Ajeng menghela nafasnya pelan seolah tak tau bagaimana cara untuk memberitahukan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Bu kenapa kita disebut migrasi ilegal. Bukankah perjalanan kita ini resmi?"Rasya bangkit dari duduk nya tak terima dengan apa yang sudah ia dengar dan lihat. Yang lainnya pun ikut menyahut pelan membenarkan apa yang Rasya katakan.
"Iya Bu."
"Ilegal apa sih Bu? Lagian kita niat nya jalan jalan bukan pindah wilayah."
"Iya Bu kenapa jadi kayak gini?"
"Tenang semua nya anak anak penjelasan ibu belum selesai,"kini indah yang mulai bicara."Kita tidak di Alphetis."lanjut Bu Indah seolah tak percaya dengan perkataan nya sendiri.
__ADS_1
Seketika seisi bus menjadi semakin ramai dan orang orang berdiri dari kursi mereka untuk adu lempar pendapat, seperti suara kawanan tawon yang tengah terbang.
Aku ikut berdiri dari duduk ku kemudian melihat ke arah Daniel yang juga menatap ke arah ku. Aku kemudian berteriak dalam hati agar ia dapat mendengar suara hati ku.
"Daniel kamu tau gak ini dimana?"Daniel menggeleng pelan.
"Terus bagaimana kita bisa di luar Alphetis? Apa kamu beneran gak tau?"aku mengangkat kedua alis ku menunggu jawaban darinya.
"Aku gak tau posisi tepatnya kita dimana. Sepertinya kita semua berteleportasi besar besaran dari Alphetis."
Semua orang senyap mendengar ucapan Daniel dan semua tatapan tertuju padanya. Tatapan yang tak percaya dengan apa yang barusan Daniel katakan.
"Daniel Lo tau darimana? Jangan ngarang Lo,"tanya Athala meragukan Daniel. Aku dan Rangga kemudian beradu tatap sesaat sebelum Rangga berbicara membela Daniel.
"Bisa jadi kita memang berteleportasi."Rangga menyetujui perkataan Daniel karena tau siapa Daniel itu begitu juga aku yang percaya pada ucapan Daniel. Tentu saja karena Daniel seorang roh--aku lebih suka menyebutnya begitu walau aku tau dia bukanlah roh, aku rasa sebutan itu lebih enak.
Semua kembali beradu argumen dan kebanyakan dari mereka kontra terhadap perkataan Daniel yang tidak masuk akal. Nina menyenggol ku untuk mempertanyakan apa yang telah pacar ku--Daniel-- katakan. Aku terduduk bingung diantara puluhan suara yang terus berbunyi.
"Duduk kalian semua."seisi bus pun menurut untuk duduk kemudian menatap ke depan menunggu penjelasan.
"Sudah ibu bilang kalian pasti tidak akan percaya dengan semua ini tapi perkataan Daniel itu memang benar. Orang berkumis tadi berkata pada supir jika kita telah melakukan teleportasi ilegal."Bu Indah menjelaskan dengan bersusah payah supaya dia sendiri percaya dengan semua ini.
"Tapi bagaimana bisa?"tanya salah satu siswa. Pak supir kemudian berdiri di belakang kedua wali kelas sebelum bus ini melaju. Pak supir berperut tambun itu menghela nafas pelan.
"Maaf anak anak kita juga tak tau bagaimana ini bisa terjadi tapi semua telah terjadi. Kalian lebih baik tenang, mungkin setelah kita mengikuti orang berkumis tadi kita akan tau mengapa."
Semua kembali hening dan menatap pak supir kembali ke tempat duduknya dan mulai menyalakan mesin mobil.
"Jadi Bu kita ini sekarang dimana?"Aku menatap ke arah Nina yang mengacungkan tangannya bertanya.
"Kita semua ada di Kerajaan Neutralis."
__ADS_1
Aku membulatkan mataku tak percaya. Bagaimana bisa?
***
Kami semua masuk ke dalam suatu bangunan besar dan megah serta luas kemudian di bawa ke suatu tempat untuk di adili.
Aku benar benar tak percaya jika ini memang benar kerajaan Neutralis pasalnya di sini tidaklah kuno dan terjadi perang seperti yang si pembawa pesan sampaikan. Bahkan disini benar benar maju dan lebih modern dari Alphetis.
Saat kendaraan melintas di jalanan yang penuh dengan kendaraan kendaraan yang hampir serupa dengan alat transportasi di alphetis, kami benar benar terlihat berbeda. Terlihat plang atau spanduk juga papan iklan tertempel dalam layar LCD yang besar. Juga banyaknya gedung gedung pencakar langit yang menjulang. Keadaan disini tak kuno, mereka ternyata mengalami kemajuan jaman seperti Alphetis bahkan keadaan mereka sama seperti Negera termaju di Bhilbhut kanan.
Kami semua terpana melihat realita yang tak sesuai dengan pemikiran yang sebelumnya kami percayai. Berita yang telah kami tonton pun tak mengandung kebenaran soal kerajaan yang tak tersentuh akan modernisasi. Semua ini berbanding terbalik dengan apa yang kami rasakan saat ini.
NEUTRALIS BALAI ISTANA
Bacaan itu tercetak jelas di sebuah layar besar di depan pintu masuk dan tentu kami dapat membaca dan yakin jika kami benar benar ada di Neutralis. Ruangan dengan pilar pilar besar yang menyangga, langit langit yang tinggi tak tergapai juga lantai marmer yang begitu mewah.
Kami berdiri menghadap beberapa anak tangga yang mengarah pada suatu kursi kebesaran atau singgasana pemimpin disini.
Tak lama seorang pria setengah baya dengan mahkota besar di kepala serta jubah berwarna putih menggantung di punggungnya. Ia kemudian duduk dengan gagah di kursi kebesaran nya. Di ikuti oleh kedua perempuan cantik. Dan aku rasa itu adalah istri dan anaknya.
Tatapan matanya menyapu seisi ruangan melihat kami yang tengah kebingungan. Setelah itu pria berkumis yang kami lihat kemarin memberikan sebuah tab lalu memegangkan mikrofon untuk Raja itu.
"Selamat pagi semuanya."sapa nya sebagai pembukaan dan dengan ragu ragu kami menjawabnya serentak dan mengikuti beberapa pria pria berseragam yang menundukan tubuhnya.
"Pagii!"
"Saya tidak akan basa basi, jadi kalian semua telah melakukan teleportasi besar besaran secara ilegal. Untuk itu kalian semua akan di kurung sementara sembari kami akan menyelidiki darimana kalian berasal dan bagaimana kalian melakukan pelanggaran ini. Terimakasih."Raja yang aku tidak tahu namanya itu mengakhiri ucapannya dan dengan sigap pria berkumis itu mengambil tab dari tangannya.
***
TBC.....
__ADS_1