
zrass zrass zrass
Hujan membahasi seluruh gaunku, tapi aku tak peduli aku terus berlari. Tak peduli banyak ranting yang ku injak tanpa alas kaki, tak peduli licinnya tanah basah yang telah mengotori gaunku. Aku tetap tidak peduli yang penting aku terus berlari, berlari mengikuti suara hatiku, suara hati yang memanggil manggil namaku.
Brug
Aku terjatuh terejembab ke dalam semak belukar. Bau amis menyeruak dari sana. Aku terluka, kaki ku mengeluarkan banyak sekali cairan merah yang disebut darah. Aku merintih menahan sakit ku.
"Putri!"
"Putri!"
"Putri!"
Aku menoleh ke arah belakang memperhatikan jalanan yang sudah aku lewati tadi. Suara itu makin mendekat aku tak ingin tertangkap, aku tetap ingin kabur. Kabur dari orang orang yang katanya menyayangi ku tapi mereka malah menyuruhku mengorbankan cintaku. Jelas aku tak mau, aku lebih baik lari saja.
Aku berlari kembali dengan langkah yang tertatih tatih menahan rasa nyeri di telapak kaki ku. Sesekali aku menoleh kebelakang suara itu masih ada, panggilan panggilan itu terus menyeru memanggilku. Tidak aku tidak ingin kembali aku harus menemuinya.
Hujan semakin deras menyamarkan cairan bening yang mengalir di pipiku. Aku mengusap air mataku kasar. Sakit rasanya, bukan sekedar kaki ku yang berdarah atau gaunku yang kotor dan lusuh. Tapi sesuatu yang sangat menyakitkan menusuk ulu hati ku. Bayang bayang menyakitkan itu selalu berputar dalam otak ku. Air mata ku kembali mengalir bersama derasnya air hujan. Pandanganku sedikit memburam karena nya.
Brug
Aku kembali terjatuh, kini terjatuh dalam tanah basah berlumpur. Luka kaki ku makin dalam.
"Ah!"Aku meringis pelan melihat darah yang kini mengalir lebih banyak bercampur dengan tanah juga air hujan.
"Putri!"
"Putri!"
"Putri!"
Suara sialan itu lagi. Aku mencoba untuk bangkit kembali. Tapi tidak bisa kaki ku terluka terlalu parah, aku juga lemas karena kehilangan banyak darah. Aku memejamkan mataku membiarkan hujan menerpa wajahku. Mungkin aku harus menerima kenyataan.
"Hei,"
Suara itu, itu dia aku membuka mata ku mencari cari suara itu. Suara yang selama ini tak boleh aku dengar. Suara yang sangat aku rindukan. Aku yakin itu Dia, lelaki yang aku sayangi. Kekasihku. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling tapi nihil dia tidak ada. Aku mungkin hanya berimajinasi, membayangkan kehadirannya yang sebenarnya tidak ada. Aku tertunduk dan menangis.
"Jangan menangis aku disini,"aku mengangkat wajah ku lalu tersenyum. Dia benar ada disini. Dia menatapku penuh kasih kemudian menangkup wajahku kemudian memelukku erat. Aku tau suara hati ini tak akan salah.
"Sudah kubilang aku akan datang,"
Deg Deg Deg
Aku terbangun dari tidurku dengan keadaan syok dan langsung terduduk. Mengambil segelas air putih lalu meminumnya sampai habis. Aku mengusap kepalaku pelan.
"Aduh gue mimpi apa sih,"aku kemudian mengusap wajahku dan wajahku ternyata basah seperti habis menangis.
__ADS_1
Aku kembali mengingat ngingat mimpi itu. Mimpi yang samar samar tentang seorang putri yang melarikan diri dan bertemu cintanya. Singkatnya seperti itu.
"Ah ini pasti efek nonton film,"ucapku pelan kemudian menatap jam dinding yang menunjuk kan tengah malah. Sudah lama aku tak bangun tengah malam seperti ini, karena aku tau penyebab aku terbangun tengah malam adalah Daniel, si roh penjaga yang mesum itu.
"Hei aku gak mesum,"ujar Daniel yang ternyata telah duduk di jendela ku yang terbuka.
Sejak kapan dia disana?
"Walau kamu gak bangun tengah malam aku tetep jagain kamu tidur kok,"jawabnya sambil tersenyum kemudian turun dari sana lalu menutup jendela. Ia menghampiri ku perlahan.
"Mau apa Lo?"aku menyipitkan mataku curiga dan terus memandangnya yang kini duduk di sampingku. Ia mengelus rambutku pelan.
"Mau tidur lah. Besok kan sekolah,"jawabnya santai.
"Ya jangan tidur disini,"ucapku sebal.
"Memangnya kenapa apa aku gak boleh nih tidur sama pacarku,"ucapnya tetap santai. Wajahku tiba tiba memanas. aku memegang kedua pipiku yang memerah. Apa apaan dia ini.
"Daniel walau menurut lo kita ini pacaran kita itu gak boleh ngapain ngapain ih,"ujarku sebal. Sudah aku bilang dia ini benar benar mesum.
"Lah bukannya kamu sekarang yang lagi mikir mesum?"ujarnya kemudian tertawa mengejek ku. Wajahku semakin memerah.
"Ih apaan sih gue cuma waspada aja,"ujarku lalu cemberut kesal.
"Waspada dari apa? Emangnya ngapa ngapain yang kamu maksud itu apa?"tanya nya mengejek ku. Aku membuang wajahku dari nya juga menutupi wajah yang memerah karena aku berpikir yang aneh aneh. Tapi kalau dia tidak memancing aku tidak akan berpikir seperti ini. Aku menutup wajahku malu.
"Mau kemana?"tanya ku kini melihat ke arah Daniel yang tengah membelakangi ku. Ia berbalik menatapku lalu menghampiri ku lalu tersenyum.
"Gak jadi deh tidur disini nya,"ucapnya.
"Boleh gue pegang sayapnya?"tunjuk ku pada sayap dengan bulu berwarna hitam yang terlihat lembut itu.
"Pegang aja,"ucapnya kemudian sayap itu mendekat padaku. Aku memegangnya dan benar benar lembut juga harum. Refleks aku memeluk ujung sayap itu.
"Aw,"Daniel memekik pelan. Refleks aku melepas pelukan itu dari sayapnya.
"Eh maaf,"gumamku.
"Gak papa,"gumam Daniel tersenyum."dari dulu kamu emang suka sama sesuatu yang lembut dan wangi ya?"tanya Daniel.
"Hehe iya,"jawabku terkekeh. Ia kemudian mendekatiku dan mencium kening ku lembut.
"Aku pergi dulu,"ucap nya kemudian menghilang menyisakan asap asap hitam yang perlahan menghilang pula. Aku tersenyum senang mengingat perlakuan manisnya.
Tunggu aku kenapa?
***
__ADS_1
Daniel tiba di dalam rumahnya dengan berteleportasi. Sesuatu yang memang mungkin dilakukan untuk seorang roh tingkat tinggi seperti Daniel.
Ia terdiam menatap lingkungan sekitar lewat jendela lantai dua rumah mewahnya. Rumah besar dengan fasilitas lengkap miliknya. Ia menghela nafas menutup jendela itu kemudian beralih menatap sebuah lukisan besar yang tergantung di kamarnya. ia terus tersenyum menatap lukisan itu.
tok tok tok
suara pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang dan ia yakin itu pasti salah seorang dari pelayannya.
"Ada apa?"tanya Daniel setelah ia membuka pintu kamarnya. Pelayan laki laki itu menunduk memberi hormat.
"Ada tamu Tuan,"ucap pelayan itu dengan nada yang rendah dan tetap menunduk tidak berani menatap Daniel.
"Siapa yang datang tengah malam begini?"tanya Daniel sebal. Pelayan itu terdiam sebentar karena ragu menjawab nya.
"Tuan Raja yang datang tuan,"jawab Pelayan laki laki itu.
Daniel mengepalkan tangannya kesal lalu memukul kencang tembok yang berada di sampingnya itu hingga membuat si pelayan kaget.
"Bilang padanya untuk pulang saja,"suruh Daniel pada pelayan itu dengan nada yang geram. pelayan itu bergidik ngeri takut jika tuannya itu marah. Ia pun mengangguk pelan.
"Kalau begitu pulang lah bersama ku,"ajak seseorang yang tiba tiba datang menghampiri Daniel ia lalu memberi isyarat dengan mengangkat telapak tangannya agar pelayan itu segera pergi.
"Aku tidak akan pernah pulang,"jawab Daniel tegas menatap dingin laki laki di hadapannya ini.
"Kenapa apa kamu tetap akan pulang bersama gadis itu?"
"Aku harus menyelesaikan sekolah ku,"
"Sekolah apa? Kau sudah berapa kali sekolah dan lulus karena perempuan yang kau anggap Ravanya dan kau selalu lihat jika perempuan itu bukanlah Ravanya yang kau cari, mereka hanya mirip. Dan sekarang siapa namanya? oh ya Rani, Dia itu juga pasti bukan Ravanya,"
"Aku tidak akan Pulang,"jawab Daniel tegas.
"Kenapa? Apa kau akan terus berdiam disini selamanya? Aku hanya mengkhawatirkan mu,"
"CUKUP! Cukup Ayah cukup!"
"Aku tau berapa kali aku gagal mencari Ravanya, Tapi untuk kali ini aku yakin jika dia benar benar Ravanya ku bukan hanya sekedar mirip seperti yang dulu dulu, aku yakin Ayah aku yakin,"
"Terserah kamu kalau begitu. Ayah cuma khawatir. Kamu sudah berlebihan, Apa kau juga akan membunuhnya jika dia bukan Ravanya lagi?"
Daniel terdiam kemudian memantapkan hatinya.
"Aku janji akan membawanya kembali, kembali ke kehidupan ku dan bersama ku,"
"Ayah harap janji mu itu tidak berujung kecewa lagi Daniel."
***
__ADS_1
TBC...