ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )

ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )
10. Kejutan...


__ADS_3

Karena mendengar namanya disebut, mau tak mau Arungga harus menajamkan telinga untuk mendengarkan pembicaraan Zahira dan Fauzan. Setelah mengetahui kebenaran tentang perasaan Zahira padanya, Arungga nampak menggelengkan kepala.


" Jadi Zahira emang beneran suka sama Gue," gumam Arungga.


Di depan sana Fauzan nampak kembali mendekati Zahira lalu membantunya mengambil buku di rak teratas. Setelah mengucapkan terima kasih, Zahira pun melangkah menuju meja untuk membaca diikuti Fauzan.


Dari tempatnya berdiri Arungga mencoba mengintip siapa pria yang katanya mau berteman dengan Zahira itu. Arungga membulatkan mata saat mengetahui siapa pria itu.


" Pak Fauzan?!" gumam Arungga tak percaya sambil menutup mulut dengan telapak tangan.


Setelahnya Arungga kembali sembunyi karena tak ingin Zahira dan Fauzan tahu keberadaannya.


Apa yang dilihat Arungga memang di luar dugaan. Di kehidupan sebelumnya Arungga mengenal Fauzan sebagai direktur di perusahaan tempatnya bekerja. Fauzan adalah orang yang jarang bicara seperti dirinya. Namun sikapnya terhadap para karyawan cukup ramah, berbeda dengan Arungga yang selalu memasang wajah serius hingga membuat rekan-rekannya enggan untuk menyapa.


" Lo lagi ngapain Ar?" tanya Haikal tiba-tiba hingga mengejutkan Arungga.


" Ish..., ngagetin aja sih Lo Kal," sahut Arungga sambil menepuk dadanya untuk menetralisir rasa terkejutnya.


" Kok kaget. Emangnya Lo lagi ngapain di sini?" tanya Haikal lagi.


" Kalo di perpustakaan tuh biasanya orang ngapain Kal?" tanya Arungga balik bertanya.


" Baca buku," sahut Haikal cepat.


" Nah itu Lo tau," kata Arungga sambil berjalan menuju pintu keluar.


" Tapi Gue liat Lo ga baca buku apa pun. Yang ada Lo malah berdiri kaya orang lagi sembunyi gitu," kata Haikal.


" Itu kan menurut Lo. Terus Lo sendiri ngapain di sini?" tanya Arungga.


" Nyari Lo," sahut Haikal.


" Mau ngapain nyari Gue?" tanya Arungga.


" Minta tolong ajarin tugas Pak Singa," sahut Haikal sambil nyengir.

__ADS_1


" Minta ajarin atau minta kasih tau jawabannya?" tanya Arungga dengan tatapan menyelidik.


" He he..., dua-duanya lah," sahut Haikal sambil tertawa.


" Ck, kapan pintarnya kalo cara Lo gini Kal. Nih, kalo mau nyontek Gue kasih aja. Gue lagi males jelasin apa pun sekarang," kata Arungga sambil menyodorkan buku miliknya kearah Haikal.


" Wah, angin apa yang bikin Lo berubah gini Ar. Biasanya Lo ga suka kalo Gue langsung jiplak kaya gini?" tanya Haikal antusias.


" Mau ga ?. Kalo ga mau, sini balikin," kata Arungga sambil bersiap merebut buku dari tangan Haikal.


" Eh, jangan dong !. Gue mau kok. Gue pinjem sebentar ya," sahut Haikal sambil bergegas menjauh dari Arungga.


Arungga pun hanya bisa menggelengkan kepala melihat Haikal menjauh sambil membawa bukunya. Setelah Haikal pergi, Arungga pun melangkah menuju ke taman di samping perpustakaan. Di sana ia kembali berpikir tentang hubungan Fauzan dan Zahira.


" Seinget Gue, Zahira cuma karyawan kelas teri di perusahaan. Sedangkan Pak Fauzan direktur. Dari posisinya aja udah jelas beda banget. Gue juga ga pernah ngeliat mereka berinteraksi di perusahaan," gumam Arungga sambil memijit pelipisnya.


Ingatan Arungga pun melayang pada saat dimana ia, Zahira dan Fauzan bekerja di perusahaan yang sama. Arungga ingat ia pernah melihat Zahira dan Fauzan ada di tempat yang sama tapi mereka tak saling menyapa.


Pagi itu Arungga tiba lebih awal dari biasanya. Saat masuk ke dalam lift, ia melihat Zahira di sana. Dan seperti biasa pula Zahira terlihat gugup saat berpapasan dengannya. Arungga mengangguk sambil tersenyum kearah Zahira dan dibalas dengan sikap yang sama oleh Zahira.


Tak ada siapa pun di dalam lift saat itu selain mereka. Namun saat pintu lift akan tertutup, sebuah tangan menahan pintu hingga pintu lift kembali terbuka. Di balik pintu terlihat Fauzan yang berdiri dengan gagah. Menyadari atasannya ikut masuk ke lift, Arungga pun tersenyum lalu menyapa Fauzan.


" Pagi, Pak Arungga," sahut Fauzan sambil tersenyum.


" Tumben datang lebih pagi Pak?" tanya Arungga basa- basi.


" Ga usah pake Pak lah Ar. Ga ada siapa pun di sini selain Kita," pinta Fauzan saat lift mulai bergerak naik.


Arungga tertawa. Saat itu Arungga baru saja tahu jika Fauzan pernah kuliah di kampus yang sama dengannya. Fauzan adalah kakak kelas Arungga dan lulus dua tahun sebelum Arungga lulus.


Saat itu Arungga mengira jika Zahira tak mengenal Fauzan karena gadis itu terkenal sangat tertutup.


Lalu mengalir lah pembicaraan yang santai antara Arungga dan Fauzan. Selama perbincangan mereka, tak sekali pun Arungga melihat Fauzan melirik kearah Zahira. Sedangkan Zahira nampak sibuk membaca buku seperti biasa seolah tak peduli dengan sekelilingnya.


" Jangan-jangan mereka saat itu lagi bersandiwara. Pura-pura ga saling kenal karena menyembunyikan sesuatu. Atau justru mereka saling kenal tapi lagi musuhan karena satu dan lain hal. Duuhh..., makin ke sini kok hidup Gue makin kaya roll coaster yaa. Atau justru Gue yang bodoh sampe ga tau apa pun soal semuanya," gumam Arungga geram.

__ADS_1


Arungga pun menoleh kearah pintu perpustakaan dan melihat Fauzan berjalan seorang diri. Saat itu penampilan Fauzan terlihat casual. Dengan celana denim belel dan jaket serta topi yang menutupi kepalanya. Arungga terus mengamati Fauzan hingga pria itu menghilang di parkiran kampus.


" Kalo ga salah, harusnya Pak Fauzan kan udah lulus dari kampus ini. Terus ngapain dia masih berkeliaran di sini ya?" tanya Arungga dalam hati.


Saat itu lah Arungga kembali menoleh kearah pintu perpustakaan. Di sana ia melihat Zahira tanpa kaca mata dan rambut kepang duanya itu. Arungga mengamati dengan intens saat Zahira mengibas rambutnya. Meski pun hanya bisa melihat dari belakang, namun Arungga tak berkedip menyaksikan penampilan Zahira yang berbeda dari biasanya. Untuk sesaat Arungga terpana karena melihat sisi lain seorang Zahira.


Kemudian dengan santai Zahira melenggang pergi dan menghilang di parkiran kampus. Arungga pun berdiri lalu menggelengkan kepalanya sambil menggerutu.


" G*la...!. Apalagi ini?!" kata Arungga sambil menepuk dahinya.


Karena tak beroleh jawaban, Arungga pun memutuskan meninggalkan kampus. Ia bergegas melangkah menuju parkiran.


Tak lama kemudian Arungga nampak telah duduk di atas motornya yang melaju menuju perusahaan JC tempatnya bekerja paruh waktu.


Saat memasuki parkiran perusahaan JC, Arungga bertemu Togar, mahasiswa di kampus yang sama dengannya.


" Hai Gar!" sapa Arungga dengan ramah.


" Hai Ar. Baru sampe juga Lo?" tanya Togar.


" Iya," sahut Arungga sambil tersenyum.


" Ga nyangka bisa ketemu Lo dan kerja bareng di sini ya Ar. Padahal Gue cuma modal nekad doang waktu itu," kata Togar sambil menyamakan langkahnya dengan Arungga.


" Orang-orang di JC menghargai tekad Lo itu Gar. Karenanya Lo diterima di sini walau Lo merasa ga punya prestasi apa pun," kata Arungga sambil menepuk bahu Togar.


" Betul Ar. Walau pas mendaftar Gue sempet dibully sama mahasiswa lain karena tau nilai akademik Gue yang ga seberapa itu. Tapi saat Gue dinyatakan lolos seleksi, mereka semua malah gempar dan kesal," sahut Togar sambil tertawa puas.


" Andai Haikal punya tekad kaya Lo, pasti Kita bisa kerja bareng di sini ya Gar," kata Arungga sambil tersenyum kecut.


" Iya Ar. Sayang banget ya," sahut Togar.


" Ngomong-ngomong ada berapa orang dari kampus Kita yang di tempatin di kantor ini Gar?" tanya Arungga.


" Kalo ga salah sih empat orang. Gue denger yang lain ditempatin di perusahan cabang lainnya," sahut Togar yang diangguki Arungga.

__ADS_1


Kemudian Arungga dan Togar masuk beriringan lalu berpisah di loby karena mereka ditempatkan di Divisi yang berbeda.


\=\=\=\=\=


__ADS_2