ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )

ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )
40. Belajar Menerima


__ADS_3

Di saat Arungga sedang memeluk Zahira, saat itu lah beberapa orang polisi datang bersama Fauzan. Arungga pun segera mengurai pelukannya lalu menyerahkan Zahira pada Fauzan.


"Maafin Gue Bang. Gue cuma ...," ucapan Arungga terputus karena Fauzan memotong cepat.


"Gapapa Ar. Gue paham kenapa Lo lakuin itu tadi. Makasih ya, Gue bawa Zahira sekarang," kata Fauzan.


Arungga mengangguk lalu membiarkan Fauzan menggendong Zahira dan membawanya pergi.


Kemudian Arungga bersandar pada pagar pembatas sambil menatap para polisi yang bekerja mengamankan TKP. Ia tak peduli dengan luka di betisnya yang masih mengeluarkan banyak darah. Arungga masih tak menyangka jika ending cerita di kehidupan ke duanya adalah jatuhnya Haikal dari atap gedung JC.


Tiba-tiba Arungga mendengar namanya dipanggil. Arungga menoleh dan terkejut melihat Siska berlari kearahnya sambil menangis. Lebih terkejut lagi karena Siska menghambur ke pelukannya. Arungga pun tak ingin lagi menahan diri. Ia pun balas memeluk Siska dengan erat dan membiarkan gadis itu menangis menumpahkan emosinya.


Beberapa saat kemudian Siska mengurai pelukannya. Wajahnya tampak sembab dan dipenuhi air mata. Tanpa ragu Siska berusaha menyeka ingus dan air matanya dengan lengan jas milik Arungga yang masih ia kenakan. Arungga pun hanya bisa tersenyum melihat tingkah absurd Siska. Kemudian Arungga pun membantu Siska menghapus air mata di wajah gadis itu dengan jarinya.


"Jangan nangis lagi. Aku gapapa kok," kata Arungga sambil tersenyum.


Mendengar ucapan Arungga membuat Siska ikut tersenyum. Apalagi Arungga sudah mengganti sebutan Gue menjadi Aku. Walau terdengar asing namun Siska sangat menyukainya.


"Iya. Tapi Aku khawatir banget Ar," kata Siska dengan suara bergetar.


Arungga kembali tersenyum bersama rasa hangat yang menyelinap di hatinya saat mendengar pengakuan Siska.


"Jadi Kamu belum pulang daritadi?" tanya Arungga.


"Iya. Aku ga bisa tenang kalo belum ngeliat Alina selamat. Pas ngeliat kondisi Alina Aku kaget. Ditambah ngeliat sesuatu melayang jatuh tadi. Aku kira itu Kamu ...," sahut Siska hampir menangis.


Arungga pun kembali memeluk Siska. Ia juga mengusap punggung Siska dengan lembut untuk menyalurkan rasa sayang yang entah sejak kapan ia miliki.


Dan pelukan keduanya terurai saat seorang petugas medis menghampiri mereka. Ia mengingatkan jika luka di betis Arungga harus segera diobati jika tak ingin mengalami infeksi.


Arungga pun mengangguk lalu membiarkan lukanya diobati dan dibalut. Setelahnya Siska membantu mendorong kursi roda yang disiapkan team medis khusus untuk Arungga.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Keesokan harinya kantor JC gempar. Berita tentang perkelahian Arungga demi menyelamatkan Zahira pun tersebar luas. Yang mengejutkan adalah karena penjahat yang harus dihadapi Arungga adalah Haikal, mantan staf keuangan yang dipecat Zahira karena korupsi.


Gara-gara kasus itu pula rencana Zahira dan Fauzan untuk berbulan madu pun tertunda. Bahkan keduanya belum sempat melakukan malam pertama karena Zahira yang kelelahan setelah bolak balik ke kantor Polisi untuk melengkapi berkas laporan.


Dan yang mengejutkan adalah karena Haikal yang dikira meninggal justru dinyatakan masih hidup oleh pihak Rumah Sakit, walau pun dengan kondisi cacat.


"Apa-apaan ini. Kenapa penjahat itu masih hidup. Harusnya dia mati setelah jatuh dari ketinggian kan," kata Zahira gusar.


"Istighfar Sayang. Ga seharusnya Kamu ngomong kaya gitu. Itu sama aja Kamu mendahului Allah. Karena bagaimana pun hak menghidupkan dan mematikan makhluk kan milik Allah," kata Fauzan mengingatkan.


"Astaghfirullah aladziim. Iya, Kamu bener. Maafin Aku Sayang, Aku terlalu emosi kalo ngebahas penjahat itu," sahut Zahira sambil bersandar manja di pelukan Fauzan.


"Liat sisi positifnya aja. Mungkin Allah memberinya kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya itu. Andai dia ga bisa, mungkin dengan menerima takdir dan menjalani sisa hidupnya dalam keadaan sakit adalah salah satu cara dia menebus dosanya dulu," kata Fauzan bijak sambil mengusap kepala Zahira dengan sayang.


Ucapan Fauzan membuat Zahira tersenyum. Ia bersyukur karena bisa menikah dan dicintai Fauzan. Dalam hati Zahira berjanji akan belajar mencintai Fauzan dan menjalani pernikahan mereka sebaik mungkin.


"Kenapa senyum-senyum sendiri kaya gitu?" tanya Fauzan curiga.


"Gapapa. Aku lagi ngebayangin gimana rasanya malam pertama. Jujur Aku penasaran. Tapi Aku ingin melakukannya jauh dari sini. Di suatu tempat yang romantis mungkin," kata Zahira sambil menatap Fauzan dengan senyum penuh makna.


"Kalo gitu Kita bisa latihan dulu untuk melakukan hal kecil. Yah, anggap aja itu pemanasan sebelum masuk ke point utama," kata Fauzan sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Zahira.


"Latihan gimana maksud Kamu?" tanya Zahira sambil menatap Fauzan dengan jantung berdebar.


Bukannya menjawab pertanyaan sang istri Fauzan justru mendaratkan ciuman panjang di bibir Zahira. Awalnya lembut dan hati-hati, namun perlahan berubah menjadi lebih liar. Zahira yang terkejut dan sedikit kesulitan mengimbangi aksi sang suami pun perlahan mulai bisa menikmati apa yang dilakukan Fauzan padanya. Bahkan Zahira mengalungkan lengannya di leher Fauzan hingga membuat sang suami tersenyum bahagia.


\=\=\=\=\=


Arungga masih berdiri sambil menatap kesal ke dalam ruangan tempat Alina dirawat. Saat itu terlihat Alina tengah dikunjungi seorang pria. Yang membuat Arungga kesal, pria itu adalah Yudha, tetangga mereka yang sering membuat Alina menangis dulu.


Usia Yudha setahun lebih muda dari Arungga. Mungkin karena tak punya adik, Yudha kerap mengganggu Alina hingga menangis.


"Berhenti ngintipin Alina kaya gitu Ga. Kalo mau, Kamu kan bisa masuk ke dalam," kata Veni kesal.

__ADS_1


"Ga perlu. Aku masih kesal sama dia karena udah bikin Alina masuk got dulu," sahut Arungga cepat.


Ucapan Arungga membuat Veni menggelengkan kepala. Ia tak percaya jika anak sulungnya itu masih mendendam pada Yudha setelah belasan tahun berlalu.


"Lagian kenapa Mama ga ngelarang Yudha deketin Alina sih Ma?" tanya Arungga.


"Mama ga mungkin ngelarang Yudha menjenguk Alina Ga," sahut Veni hingga mengejutkan Arungga.


Bagaimana tidak, selama ini Veni terkenal galak jika ada seorang pria yang mencoba mendekati Alina. Dan biasanya Veni akan tampil sebagai pengambil keputusan tentang boleh atau tidaknya Alina menjalin hubungan.


"Aku baru tau Mama ternyata punya rasa takut juga sama orang. Tapi ini si Yudha lho Ma," kata Arungga tak terima.


"Mama tau. Tapi gimana Mama mau ngelarang Yudha, dia kan dokter yang merawat Alina sejak awal Ga!" sahut Veni datar.


Arungga terkejut lalu menatap ke dalam ruangan sambil mengamati dengan cermat. Setelahnya Arungga nampak menepuk dahinya. Bagaimana dia bisa tak menyadari jika Yudha memegang stetoskop.


"Emangnya Rumah Sakit ini ga punya dokter lain selain Yudha Ma?" tanya Arungga namun membuat Veni berdecak sebal.


Saat Arungga masih tak percaya melihat kenyataan di depannya, Yudha pun menoleh kearahnya dan tersenyum hingga membuat Arungga gugup.


"Apa kabar Ar ?" sapa dokter Yudha dengan ramah sambil melangkah mendekati Arungga.


"Hai Yud, eh maksud Gue dokter Yudha. Lo ... beneran dokter kan Yud ?" tanya Arungga ragu hingga membuat Yudha tertawa.


"Iya Ar. Kan Gue yang nangani Alina sejak dia dibawa ke sini. Jujur Gue seneng karena akhirnya bisa ngerawat pacar sendiri di sini," sahut Yudha sambil tersenyum.


"Pacar ?. Maksudnya Lo pacaran sama Alina, sejak kapan Yud ?" tanya Arungga gusar.


"Lho, Gue pikir Lo udah tau kalo Gue sama Alina pacaran," sahut Yudha sambil melirik Veni dan Arungga bergantian.


Mendengar ucapan Yudha membuat Arungga terdiam sedangkan Veni nampak tersenyum tipis. Setelah Yudha pamit karena harus mengecek pasien lain, Arungga pun mendesak sang mama untuk memberi penjelasan.


"Udah lah Ga, jangan over protektif. Alina udah dewasa dan Kamu juga ga selamanya bisa menjaga Adikmu. Kamu akan menikah suatu saat nanti, begitu pun Alina. Setelah kejadian malam itu Alina sangat terpukul dan hampir depresi. Tapi Yudha berhasil membangkitkan semangatnya. Mama pikir Yudha dan Alina pasangan serasi. Mereka saling mencintai dan bisa menerima kekurangan juga kelebihan masing-masing. Selain itu Yudha juga punya pekerjaan tetap. Dia mapan, tampan, cerdas. Jadi Mama ga punya alasan buat nolak dia. Harusnya Kamu juga gitu Ga," kata Veni panjang lebar.

__ADS_1


Ucapan sang mama membuat Arungga tersadar jika sudah saatnya ia menerima semuanya termasuk perubahan alur hidupnya.


\=\=\=\=\=


__ADS_2