
Arungga menyusul Zahira dan Fauzan ke bandara. Ada berkas penting yang harus Zahira tanda tangani sebelum ia berangkat berbulan madu bersama suaminya.
"Berapa lama Kalian pergi?" tanya Arungga sambil merapikan berkas yang telah ditandatangani Zahira.
"Insya Allah sepuluh hari. Mungkin bisa lebih cepat tergantung situasi," sahut Fauzan sambil melirik mesra kearah Zahira yang bersandar manja di lengannya.
"Yah nasib pemilik perusahaan, mau liburan aja susah. Banyak yang harus dihitung dan dipikirin," sela Zahira sambil mencibir hingga membuat Arungga dan Fauzan tertawa.
"Tapi seminggu sampe sepuluh hari kan cukup Za. Emangnya Lo mau ngapain sih lama-lama liburan," goda Arungga.
"Ck, Lo tuh belum tau sih gimana serunya menikah. Makanya nikah dong Ar. Ups, jangan bilang Lo belum punya calon ya Ar," kata Zahira sambil menatap Arungga lekat.
"Udah ada kok Za. Mungkin dalam waktu dekat Gue bakal omongin rencana ini sama dia. Mudah-mudahan dia mau nikah sama Gue," sahut Arungga sambil tersenyum.
"Ga usah kelamaan Ar. Ntar keburu diambil orang lho. Kasih kepastian, terus nikahin deh biar ga bisa kemana-mana lagi," gurau Fauzan yang diangguki Zahira.
Ucapan Fauzan mau tak mau membuat Arungga gusar. Dia memang belum memberi kepastian pada Siska tentang perasaannya pada gadis itu. Ia khawatir Siska hanya menganggapnya sahabat dan justru mencari pria lain untuk dinikahi nanti.
"Tapi Gue masih ga abis pikir sama Haikal. Setelah dipukuli sampe babak belur, terus jatuh dari ketinggian, kenapa dia masih bisa bertahan ya Ar ?. Apa Lo ga curiga sama dia Ar. Mmm ... maksud Gue, mungkin ga kalo dia pake semacam jimat yang bikin dia ga bisa mati ?" tanya Zahira dengan mimik wajah serius.
"Gue pikir juga begitu Za. Iya kan Bang?" tanya Arungga.
"Masuk akal. Jaman emang udah berubah jadi modern. Tapi hal mistis kaya gini mah tetap ada dan diminati oleh orang-orang yang lemah iman kaya Haikal," sahut Fauzan.
"Tapi hal mistis juga pasti punya kelemahan kan Sayang?" tanya Zahira.
"Iya. Asal Haikal melanggar pantangan, dia pasti celaka. Tapi Aku pikir Haikal juga ga bahagia sekarang. Dia memang hidup tapi dalam kondisi cacat. Dia cuma bisa menyaksikan orang-orang yang dia benci dan yang pernah dia sakiti hidup bahagia tanpa dia bisa melakukan sesuatu. Bukan kah itu menyakitkan. Anggap aja itu hukuman yang layak buat dia setelah menjahati Kalian," kata Fauzan.
"Iya," sahut Arungga dan Zahira bersamaan.
"Jadi sudahi kemarahan Kalian. Fokus aja menata masa depan. Dan Kamu, bersiap lah untuk jadi Ibu karena Aku mau Kamu melahirkan Anak-anak Kita Sayang," kata Fauzan sambil menatap Zahira dengan lembut.
"Siaaapp Bos!" sahut Zahira sambil tertawa.
Arungga mendengus kesal melihat kemesraan Zahira dan Fauzan. Ia pun pergi meninggalkan sepasang suami istri itu tanpa pamit.
"Mau kemana Ar ?!" tanya Fauzan lantang.
"Pulang !. Bete ngeliatin Lo berdua mesra-mesraan kaya gitu !" sahut Arungga ketus.
Ucapan Arungga membuat Fauzan dan Zahira tertawa keras.
\=\=\=\=\=
Siska terkejut saat melihat Arungga datang menjemputnya di yayasan tempatnya mengajar.
"Gimana, udah selesai kan ngajarnya ?. Kalo udah, sekarang ikut Aku yuk," kata Arungga sambil membuka pintu mobil.
__ADS_1
"Kemana ?" tanya Siska.
"Ke suatu tempat. Ada yang mau Aku omongin, penting," sahut Arungga hingga membuat Siska mengerutkan keningnya.
Kemudian Arungga memacu kendaraannya menuju suatu tempat. Bukan tempat romantis tapi menyenangkan. Siska tertawa karena saat itu ia diajak ke atap gedung JC. Arungga pun tersenyum melihat Siska menyentuh Police line yang masih tersisa di sana mengingat tempat itu adalah lokasi terjadinya tindak kriminal yang dilakukan Haikal.
Arungga mendekati Siska lalu meraih jemari tangannya. Siska pun berhenti tertawa lalu mengamati wajah Arungga lekat.
"Tolong dengerin Aku ya Sis. Aku emang bukan cowok romantis, jadi ga tau gimana cara menyampaikan perasaan ini dengan baik. Aku ngajak Kamu ke sini karena di sini lah Aku yakin sama perasaanku. Siska, Aku Sayang sama Kamu. Bukan sebagai teman atau sahabat ya, ini rasa sayang yang berbeda. Dan Aku mau menikah sama Kamu. Satu hal yang belum pernah terpikirkan saat Aku bersama yang lain tapi terpikirkan saat bertemu Kamu. Ingat kan saat pertama kali Kita makan di restoran di roof top waktu itu ?. Nah itu lah pertama kalinya Aku membahas pernikahan. Terasa aneh karena Aku ngomongin itu sama Kamu dan bukan sama mantanku, padahal Kami bersama bertahun-tahun," kata Arungga panjang lebar.
Ucapan Arungga membuat Siska membatu. Ia terkejut sekaligus bahagia. Pria yang ia damba menyatakan cinta dan mengajaknya menikah di waktu yang sama.
"Kamu ... serius Ar ?" tanya Siska dengan suara bergetar.
"Sangat serius. Kenapa Sis?. Kamu ga lagi deket sama cowok lain atau justru udah terikat janji sama cowok lain kan ?" tanya Arungga cemas.
"Ck, mana bisa sih Aku kaya gitu kalo yang ada di kepalaku selalu Kamu," sahut Siska sambil berdecak sebal namun membuat Arungga tertawa.
"Jadi gimana Sis, mau kan Kamu nikah sama Aku?" tanya Arungga penuh harap.
"Tapi Kita kan baru aja berdamai Ar. Apa ga terlalu cepet ya. Kita juga belum saling paham sama sifat dan karakter masing-masing," kata Siska ragu.
"Gapapa. Kita bisa saling mengenal nanti. Jadi ini artinya Kamu mau nikah sama Aku kan Sis ?" tanya Arungga lagi sambil mengeratkan genggaman tangannya.
"Iya Ar, Aku mau," sahut Siska sambil tersenyum.
Arungga pun mengucap hamdalah lalu memeluk Siska erat. Arungga merasa beban berat yang ditanggungnya tanggal saat Siska menerima lamarannya. Sesaat kemudian ia mengurai pelukan lalu mendaratkan kecupan di kening Siska hingga membuat wajah gadis itu merona.
"Se-sekarang ?!" tanya Siska tak percaya.
"Iya. Aku ga mau keduluan orang lain nanti," sahut Arungga sambil menggamit tangan Siska lembut lalu membawanya melangkah meninggalkan atap gedung JC.
Siska bahagia bukan kepalang. Saat itu ia bak melangkah di atas awan mendengar ucapan Arungga. Apalagi saat kedua orangtuanya menyambut baik niat Arungga.
Veni dan Arman yang mengetahui Arungga melamar Siska pun nampak bahagia. Tanpa membuang waktu mereka bergegas mempersiapkan pernikahan Arungga dan Siska.
Alina dan Yudha yang juga mendengar berita itu tak kalah bahagia. Itu artinya mereka juga bisa segera mewujudkan mimpi mereka untuk bersanding di pelaminan. Alina memang tak ingin 'melangkahi' sang kakak karena ingin memastikan Arungga bahagia setelah banyak hal buruk yang mereka lalui bersama.
\=\=\=\=\=
Di sebuah rumah di pinggiran kota. Seorang pria nampak duduk sambil menatap ke layar televisi tanpa berkedip.
Pria itu memiliki postur tubuh yang aneh. Duduk di atas kursi roda dengan tubuh setengah membungkuk, kedua tangan dan kakinya tampak tak sempurna karena menekuk kearah yang berbeda. Mulutnya sedikit menganga karena tulang rahangnya tak bisa lagi terkatup. Selain itu bola mata kanannya hilang dengan tulang dahi yang melesak ke dalam.
Pria itu adalah Haikal. Sahabat sekaligus musuh abadi Arungga.
Haikal nampak menatap nanar kearah televisi yang menayangkan pesta pernikahan Arungga dan Siska. Entah siapa yang mengirim video itu. Yang pasti pengirimnya ingin Haikal sakit hati.
__ADS_1
Di sana diperlihatkan tawa bahagia Arungga, Siska dan keluarga mereka. Ada Fauzan yang memeluk Zahira sambil mengusap perut sang istri yang sedikit membuncit itu. Saat kamera menyorot kearah Alina yang sedang berdiri berdampingan dengan Yudha, Haikal nampak menggeram marah. Sesaat kemudian setitik air mata pun jatuh di wajahnya.
"Ini terlalu menyakitkan. Luka fisik masih bisa Gue tahan, tapi luka hati ga mungkin Gue tahan. Rasanya Gue ga sanggup nanggung luka yang sempurna ini," batin Haikal.
Haikal menoleh saat melihat sosok pria berdiri di ambang pintu rumahnya. Pria itu adalah paranormal yang selama ini membantu memasang susuk kekebalan di tubuh Haikal. Ternyata dia lah yang telah mengirim video yang sedang Haikal saksikan itu.
Bukan tanpa alasan paranormal yang dipanggil Buyut itu mengirimkan video kebahagiaan Arungga. Ia hanya ingin Haikal sadar jika semuanya sudah berakhir. Selain itu Buyut iba dengan kondisi Haikal yang sudah tak bisa hidup layak dengan kondisinya yang cacat itu.
"Gimana Haikal. Apa Kamu masih mau bertahan?" tanya sang paranormal sambil tersenyum penuh makna.
Haikal menggeleng dan itu membuat Buyut tersenyum.
"Se - ka - rang ...," kata Haikal lirih dan Buyut pun mengangguk.
Kemudian Buyut maju mendekati Haikal. Ia melakukan gerakan aneh sambil merapal mantra. Setelahnya Buyut menyentuh dada dan perut Haikal lalu menarik sesuatu dari sana.
Saat sesuatu ditarik keluar dari tubuhnya, Haikal nampak menggelepar kesakitan. Namun hanya beberapa detik. Dan di detik ke sepuluh Haikal pun diam tak bergerak. Haikal meninggal dalam kondisi duduk dengan mata dan mulut terbuka.
Buyut menghela nafas panjang lalu mengusap wajah Haikal sambil membaca mantra hingga mulut dan mata Haikal bisa tertutup sempurna.
Kemudian Buyut memadamkan lampu, mengambil kaset rekaman pernikahan Arungga lalu memasukkannya ke dalam saku baju. Setelah menyelimuti tubuh Haikal, Buyut pun berjalan menuju pintu.
"Maaf Haikal. Selamat jalan," kata Buyut sambil menutup pintu.
\=\=\=\=\=
Seminggu kemudian televisi menayangkan berita tentang penemuan mayat pria di rumah kontrakan dalam kondisi duduk dan membusuk. Buyut yang melihat tayangan berita itu nampak tersenyum getir. Secuil perasaan bersalah hinggap di hatinya. Buyut sadar, harusnya Haikal sudah tewas saat terjatuh dari atap gedung JC. Tapi karena susuk yang ia sematkan membuat Haikal tetap hidup meski pun dalam kondisi cacat.
Di tempat lain Arungga justru sedang menikmati kebahagiaan bersama Siska dan keluarga besar mereka. Hidup Arungga lebih teratur dan terasa sempurna dengan kehadiran Siska.
Hingga detik ini Arungga tak pernah tahu jika Haikal telah meninggal dunia dalam kondisi yang sangat mengenaskan.
S E L E S A I
\=\=\=\=\=
Assalamualaikum wr wb readers tersayang..
Alhamdulillah novel "Arungga (kesempatan ke 2)" telah selesai.
Terima kasih untuk semua suport, baik dalam bentuk like, komentar, bintang, vote dan hadiahnya. Semua sangat berarti untuk author.
Semoga Kita senantiasa dalam lindungan Allah SWT, diberi kesehatan, rezeqi berlimpah dan umur yang berkah. Aamiin yaa Robbal'alamiin...
Sebelum dan sesudahnya author ucapkan terima kasih.
Wassalam
__ADS_1
Author
( ummiqu )