
Keputusan Arungga mengakhiri hubungannya dengan Tantri membuat Haikal terkejut. Ia tak menyangka jika Arungga akan mengambil langkah itu setelah lama menjalin kasih dengan Tantri.
Selama ini Haikal merasa jika Arungga adalah pria yang bucin akut. Bagaimana tidak. Saat banyak berita miring beredar di sekitarnya mengenai sifat Tantri yang buruk, Arungga nampak tak peduli. Dan saat gosip mengatakan jika Tantri diduga berkencan dengan sosok pria yang lebih dewasa yang lebih layak menjadi ayahnya, Arungga pun tetap tenang. Termasuk saat Tantri digosipkan berkencan dengannya, Arungga masih terlihat santai.
"Kalo dia udah tau Tantri juga ngedate sama Gue, kenapa baru sekarang dia marah. Pake mutusin Tantri segala. Kayanya ada yang ga beres nih," gumam Haikal.
Haikal pun bermaksud meninggalkan tempat itu namun urung saat melihat Tantri yang mematung dengan tatapan kosong.
Haikal pun mendekati Tantri lalu menepuk bahunya dan bertanya. Bukannya menjawab, tapi Tantri justru melangkah sambil menyeret kopernya.
"Mau kemana Tan?!" ulang Haikal dengan lantang.
Tantri tetap membisu dan terus berjalan menyusuri trotoar entah kemana. Haikal yang khawatir pun mau tak mau mengikuti Tantri sambil terus mengajaknya bicara.
Setelah berjalan sejauh hampir dua kilo meter, Tantri pun kelelahan dan berhenti. Kemudian ia duduk di sebuah halte yang sepi sambil meluruskan kedua kakinya.
Haikal datang sambil membawakan sebotol air mineral. Tantri pun meraihnya lalu meneguk isinya dengan cepat.
"Lo gapapa kan Tan ?. Lo mau pergi kemana sekarang?" tanya Haikal hati-hati.
"Bukan urusan Lo. Kenapa masih ngikutin Gue Kal. Bukannya tadi Lo nyuruh Gue pergi?" tanya Tantri ketus.
"Gue emang nyuruh Lo pergi karena Gue pikir Lo punya tujuan yang jelas. Tapi kalo Lo cuma luntang lantung kaya gelandangan gini, lebih baik Lo ikut Gue," sahut Haikal.
"Kemana?" tanya Tantri.
"Ke rumah kenalan Gue. Dia punya kontrakan, kali aja Lo bisa numpang beberapa hari di sana sampe Lo dapat kerjaan. Gue ga bisa nampung Lo di rumah kontrakan Gue karena Gue takut warga ngusir Gue Tan. Mereka taunya Kita kan cuma pacar bukan Suami Istri," kata Haikal menjelaskan.
Tantri tampak berpikir sejenak. Setelahnya ia mengangguk karena memang tak punya pilihan. Kemudian Haikal membawa Tantri ke rumah seorang kenalannya dan menitipkan Tantri di sana. Haikal juga membayar biaya kontrakan hingga dua bulan ke depan agar Tantri merasa lebih nyaman dan tak perlu mencari tempat tinggal lain.
\=\=\=\=\=
Sore itu di salah satu mall di Jakarta.
Arungga tak sengaja menabrak seorang gadis yang tengah membawa secangkir kopi panas. Akibatnya cangkir pecah dan kopi itu tumpah. Bahkan sebagian kopi mengotori pakaiannya dan pakaian gadis itu.
__ADS_1
"Sorry Mbak!" kata Arungga sambil menarik gadis itu menepi agar menjauh dari pecahan cangkir yang berserakan di lantai.
Namun tiba-tiba seorang pria bertubuh besar menghalau Arungga dan menepis tangannya dengan kasar. Arungga yang terkejut dengan perlakuan pria itu pun siap menyerangnya. Perkelahian hampir saja terjadi. Beruntung gadis itu menjerit hingga suara jeritannya berhasil melerai keduanya. Arungga terkejut saat mengetahui gadis itu adalah Zahira.
"Jangan Pak. Dia temanku!" kata Zahira lantang.
Pria bertubuh besar yang tak lain adalah body guard Zahira itu pun mengangguk dengan takzim lalu menjauh dari Arungga.
"Zahira, jadi itu Lo" kata Arungga sambil merapikan kemejanya yang kusut.
"Iya Ar. Lo gapapa kan?" tanya Zahira sambil mengamati kemeja Arungga yang kotor terkena tumpahan kopi.
"Gapapa. Ini bisa dibersihin nanti," sahut Arungga sambil tersenyum.
"Tapi gara-gara Lo, kopi Gue jadi tumpah. Padahal Gue lagi pengen banget ngopi sekarang," kata Zahira dengan mimik sedih.
"Sorry Za. Gimana kalo Gue ganti. Sekarang Lo duduk aja di sana, Gue beliin kopi lagi buat Lo ya," kata Arungga yang diangguki Zahira.
Arungga pun bergegas pergi dan kembali dengan dua gelas kopi di tangannya. Zahira yang duduk menunggu di kursi dekat taman pun menyambutnya sambil tersenyum.
"Kopi itu emang ga ada yang jual karena Gue bawa dari rumah. Terus, yang mana kopi buat Gue, siniin Ar," pinta Zahira.
Arungga pun menyerahkan kopi di tangannya kepada Zahira. Dan Arungga pun tersenyum melihat Zahira meneguk kopi itu tanpa sungkan.
"Dia emang orang baik. Dari dulu sampe sekarang ga pernah berubah. Walau sekarang dia menduduki jabatan penting tapi dia tetap low ptofile. Bahkan dia mau menerima kopi murah yang Gue beli itu," batin Arungga kagum sambil terus mengamati Zahira.
Sadar dirinya terus diamati oleh Arungga, wajah Zahira pun merona. Zahira nampak salah tingkah dan itu membuat Arungga tertawa.
"Jangan ketawain Gue Ar. Gue malu nih," kata Zahira sambil mengalihkan tatapannya kearah lain.
"Siap Bos," sahut Arungga hingga membuat Zahira mengerucutkan bibirnya karena tak suka dengan panggilan itu.
"Lagi ngapain Lo di sini Ar, kok sendiri. Tantri mana?" tanya Zahira beberapa saat kemudian.
Sebelum menjawab pertanyaan itu, Arungga pun duduk tepat di samping Zahira.
__ADS_1
"Gue ... udah putus sama Tantri. Ternyata Lo bener. Tantri emang bukan cewek yang tepat untuk Gue," kata Arungga sambil menatap jauh ke depan.
"Putus. Lo putusin Tantri setelah bertahun-tahun bersama?" tanya Zahira tak percaya.
"Iya," sahut Arungga cepat.
Zahira terdiam. Entah mengapa melihat reaksi Zahira yang biasa saja usai mendengar penuturannya, Arungga pun bingung lalu memberanikan diri menatap gadis itu lekat.
"Kenapa reaksi Lo datar aja Za. Bukannya ini yang Lo mau. Kan sebelum ini Lo selalu gigih ngingetin Gue buat nyelidikin Tantri. Dan setelah Gue memenuhi keinginan Lo, Lo justru keliatan ga seneng gitu," kata Arungga gusar namun membuat Zahira tersenyum getir.
"Kenapa baru sekarang Ar?" tanya Zahira.
"Maksud Lo gimana ya Za?" tanya Arungga tak mengerti.
"Setelah bertahun-tahun Lo bertahan dalam hubungan yang ga sehat itu, kenapa baru sekarang Lo ngambil keputusan. Lo ga tau kan kalo ada hati yang terluka dengan keputusan Lo," kata Zahira gusar.
"Siapa yang terluka dan kenapa harus terluka. Bukannya dia bahagia karena akhirnya bisa lepas dari Gue?" tanya Arungga tak mengerti.
"Andai Lo lepas Tantri sejak dulu, mungkin dia akan bahagia," sahut Zahira sambil melengos untuk menyembunyikan rasa kecewanya.
Sesungguhnya Zahira berbohong. Orang yang dia maksud adalah dirinya sendiri. Zahira memang terluka saat mengetahui keputusan Arungga yang menurutnya sangat terlambat.
"Kalo gitu kenapa bukan dia yang mutusin Gue dulu. Kenapa harus nunggu Gue yang mutusin?" tanya Arungga kesal.
"Sebenernya alasan kenapa Tantri ga mau mutusin Lo ya karena taruhan itu. Kalo Tantri mutusin hubungan Kalian lebih dulu, maka dia kena denda dan harus bayar lima kali lipat dari uang taruhan yang dia menangin. Makanya dia sengaja bikin ulah supaya Lo yang mutusin dia, dengan begitu dia ga harus bayar denda. Tapi ternyata Lo terlalu cinta sama Tantri dan ga rela mutusin dia begitu aja. Dan akhirnya hubungan Kalian terus terjalin walau pun Tantri terus mengisinya dengan pengkhianatan," kata Zahira panjang lebar.
"Gue punya alasan khusus kenapa Gue terus menahannya di sisi Gue Za. Tapi maaf, Gue ga bisa ceritain apa alasannya," kata Arungga.
Zahira hanya menggelengkan kepala mendengar pengakuan Arungga. Ia menyesal kenapa harus mendengarnya sekarang setelah ia tak lagi bisa memilih.
Hampir semua orang tahu jika Zahira mencintai Arungga sejak dulu. Ia selalu berharap agar Arungga mau mengakhiri hubungannya dengan Tantri karena dia ingin menggantikan posisi Tantri. Saat itu Jendral Catur masih memberi kebebasan pada Zahira untuk menentukan masa depannya termasuk dalam hal pasangan dan pekerjaan.
Namun saat tenggang waktu yang diberikan Jendral Catur usai, Zahira tak memiliki kesempatan lagi untuk memilih. Kini Zahira hanya bisa menjalani apa yang telah ditetapkan sang kakek. Dalam hal karir dan pekerjaan, Zahira telah setuju menggantikan kakeknya menjadi pemimpin perusahaan. Sedangkan dalam urusan pasangan, Zahira menyerahkan sepenuhnya pada keputusan sang kakek. Itu artinya Zahira harus menerima pria pilihan kakeknya yang dijodohkan dengannya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1