
Pagi itu Arungga terbangun dengan tubuh yang lelah seolah usai berlari puluhan kilo meter. Arungga bahkan keluar dari kamar paling akhir karena memilih berbaring sejenak usai sholat Subuh tadi.
Saat sarapan pagi pun Arungga nampak tak semangat seperti biasanya hingga membuat adik dan kedua orangtuanya khawatir.
"Kamu gapapa Ga ?, kok lemes banget keliatannya," kata Veni sambil menyentuh dahi Arungga.
"Aku gapapa Ma. Cuma ngantuk aja," sahut Arungga sambil menguap.
"Itu namanya kecapean. Keliatannya Kamu belum siap kerja paruh waktu sambil kuliah Nak. Mungkin harusnya Kamu fokus kuliah dulu sampe selesai. Setelah lulus baru kerja," saran sang papa.
"Tapi kesempatan untuk kerja di JC kan ga datang dua kali Pa. Aku beruntung karena lolos seleksi dan masuk ke sana lebih awal. Katanya kan mahasiswa yang magang di sana juga berpeluang untuk jadi karyawan tetap nanti. Aku pikir ini bagus. Aku bisa mulai bikin pondasi di sana. Di saat yang lain lagi pusing nyari kerjaan setelah lulus nanti, Aku justru udah punya kerjaan dan siapa tau justru udah jadi karyawan tetap di JC," kata Arungga panjang lebar.
"Iya sih. Terus hari ini Kamu ke JC lagi?" tanya Arman.
"Hari ini Aku ijin ga masuk kerja karena harus ngikutin kuis di kampus Pa," sahut Arungga.
"Emang boleh kaya gitu Kak?" tanya Alina.
"Boleh dong. Mereka kan tau kalo Kakak masih mahasiswa aktif. Kuliah tetap jadi prioritas, setelahnya baru menyelesaikan pekerjaan di JC," sahut Arungga.
Alina pun nampak menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Tak lama kemudian Arman dan Arungga nampak menyelesaikan sarapan mereka.
"Jangan lupa minum vitamin yang Mama siapin ya Ga," pesan Veni saat Arungga bangkit dari duduknya.
"Iya Ma," sahut Arungga cepat.
Setelah berpamitan dengan keluarganya, Arungga pun pergi menuju kampus.
\=\=\=\=\=
Tiba di kampus Arungga sengaja pergi ke perpustakaan. Selain akan mencari beberapa buku untuk referensi dalam menyelesaikan tugasnya, Arungga juga ingin istirahat sejenak dan menjauh dari keramaian.
" Masih ada dua jam lagi. Gue rasa ini cukup untuk istirahat sambil belajar," gumam Arungga sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Kemudian Arungga memilih duduk di sudut ruangan. Hanya ada satu kursi dan satu meja di sana. Ada sebuah jendela besar tertutup tirai tipis yang memperlihatkan taman kecil di samping perpustakaan yang ditata dengan apik.
__ADS_1
Saat Arungga mulai tenggelam dalam buku-buku yang dibacanya, sebuah suara dari taman perpustakaan mengganggu konsentrasinya. Meski pun dinding perpustakaan dibuat kedap suara, namun Arungga masih bisa mendengar dan mengenali suara itu sebagai suara Tantri.
Arungga pun menghentikan aktifitasnya lalu mencoba mengintip dari sela tirai. Ia terkejut melihat Tantri sedang bicara dengan Zahira.
"Ga usah ikut campur Za. Urus aja urusan Lo sendiri!" kata Tantri marah.
"Kalo Lo mainin orang lain Gue bisa ga peduli Tan. Tapi kalo Arungga yang Lo mainin, Gue ga terima!" sahut Zahira dengan berani.
"Lo ngomong apa sih Za. Siapa yang lagi mainin siapa?" tanya Tantri pura-pura tak tahu.
"Ga usah ngelak Tan. Lo jadiin Arungga pacar cuma karena pengen menang taruhan sama genk Lo kan?!" kata Zahira lantang.
Ucapan Zahira tak hanya mengejutkan Tantri tapi juga Arungga. Tantri tak menyangka jika Zahira mendengar semua percakapannya dulu dan bahkan berani menegurnya sekarang. Sedangkan Arungga tak menyangka jika dirinya terlalu naif hingga terpedaya oleh muslihat Tantri.
" Sssttt ... ga usah teriak Za. Lo ga lagi mancing orang lain buat musuhin Gue kan?" tanya Tantri panik.
"Oh ternyata Lo takut juga dimusuhin orang ya Tan," ejek Zahira.
"Ok. Sekarang bilang apa mau Lo. Jangan bilang Lo pengen bagian dari uang taruhan yang Gue menangin itu," kata Tantri sambil tersenyum penuh makna.
Ucapan Zahira membuat Arungga terharu namun justru membuat Tantri tertawa geli. Gadis itu bahkan memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa.
"Ya ampuuunnn ... baru kali ini Gue denger kalimat drama kaya gini. Menyayangi dengan tulus. Ga usah lebay deh Za. Arungga itu cowok Gue. Mau Gue sayang atau ga itu bukan urusan Lo!" kata Tantri di sela tawanya.
"Terserah Lo Tan. Tapi jangan kaget kalo Gue bakal sebarin rahasia Lo andai Lo masih aja kaya gini," kata Zahira hingga membuat Tantri terkejut lalu menghentikan tawanya.
"Lo ngancem Gue Za?!" tanya Tantri marah.
Zahira hanya menggedikkan bahunya lalu melangkah meninggalkan Tantri. Sikap Zahira mambuat Tantri kesal. Gadis itu mengejar Zahira. Saat posisinya dekat dengan Zahira, ia pun mengulurkan tangannya untuk menjambak rambut Zahira. Namun Zahira berkelit dan berbalik untuk menepis tangan Tantri.
Aksi Zahira membuat Tantri terkejut. Apalagi setelah menepis tangannya, Zahira juga mendorongnya hingga jatuh terjengkang ke tanah. Tantri nampak meringis kesakitan saat bok*ngnya mencium tanah dengan telak.
"Jangan main-main sama Gue Tan!" pekik Zahira sambil melotot.
Tantri terdiam sambil menatap Zahira lekat. Rona ketakutan jelas terlihat di wajah cantiknya. Dalam hati Tantri khawatir jika Zahira akan menyakitinya. Namun saat Zahira berbalik lalu melangkah meninggalkannya, Tantri pun nampak menghela nafas lega.
__ADS_1
"Untung aja dia ga ngamuk," gumam Tantri sambil mengusap dadanya untuk menetralisir debaran jantungnya yang sempat mengg*la tadi.
Tantri pun berusaha bangkit. Sambil meringis ia menepis debu yang menempel di bagian belakang pakaiannya. Ia juga mengamati telapak tangannya yang terluka karena harus menahan bobot tubuhnya saat terjatuh tadi.
Saat sedang mengamati lukanya, Tantri pun menoleh kearah jendela perpustakaan. Ia mengerutkan keningnya karena merasa ada seseorang yang mengamatinya dari sana tadi.
"Wooooiii ... siapa di sana?!" tanya Tantri lantang.
Sunyi, sepi tak ada jawaban. Arungga yang masih berdiri di balik jendela pun segera merunduk agar Tantri tak mengetahui keberadaannya. Setelahnya Arungga bergegas membereskan buku yang dibacanya lalu keluar dari perpustakaan.
Sesaat setelah Arungga keluar dari perpustakaan, Tantri pun masuk ke dalam perpustakaan. Ia melangkah cepat menuju jendela samping dekat taman namun tak melihat seorang pun di sana. Mengetahui tak ada siapa pun di balik jendela membuat Tantri tersenyum.
Ternyata Tantri khawatir ada orang yang telah mendengar percakapannya dengan Zahira tadi dan menyebarkannya ke seantero kampus. Setelah memastikan tak ada siapa pun yang mengetahui rahasianya, Tantri pun bergegas keluar dari perpustakaan. Namun langkahnya terhenti saat Haikal memanggil namanya.
"Ada apa Kal?" tanya Tantri.
"Ikut Gue ke kafe North yuk," ajak Haikal.
"Kapan?" tanya Tantri.
"Ntar siang," sahut Haikal.
"Gue ga enak sama Arungga. Ntar kalo dia tau gimana?" tanya Tantri.
"Arungga ga bakal tau. Dia kan lagi sibuk magang di JC. Kalo mau, ntar Gue tunggu di tempat biasa ya," kata Haikal sambil menaik turunkan alisnya.
"Ok deh. Gue juga lagi pengen refreshing nih," sahut Tantri hingga membuat Haikal tersenyum lebar.
Setelah membuat kesepakatan, Tantri dan Haikal pun berpisah. Masing-masing melangkah kearah yang berbeda. Tanpa Tantri dan Haikal sadari, Arungga yang berdiri di balik pohon mendengar percakapan mereka tadi. Arungga nampak mengepalkan tangannya dengan geram.
"Ternyata sejak awal Kalian emang udah mengkhianati Gue. Ok, Gue bakal ikuti permainan Kalian. Kita liat seberapa mahir Kalian menyembunyikan ini di depan Gue," gumam Arungga sambil tersenyum penuh makna.
Setelah Arungga berhasil mengendalikan diri, ia pun keluar dari tempat persembunyiannya lalu melangkah menuju kelas.
\=\=\=\=\=
__ADS_1