
Setelah dipecat secara tak terhormat dari cabang perusahaan JC, Tantri tak lagi memiliki pekerjaan. Sehari-hari ia hanya duduk sambil merenungi nasibnya di teras rumah. Ibu tiri Tantri yang kesal melihat tingkahnya pun tak lagi bisa menguasai diri. Ia melabrak Tantri dan memarahinya tanpa ampun.
"Jadi begini aslinya Tante. Setelah Aku jadi pengangguran dan ga punya penghasilan, Tante marahin Aku. Apa Tante lupa siapa yang ngasih Tante uang belanja lebih hingga Tante bisa jalan-jalan ke Bali?!" kata Tantri kesal.
"Hei ... Kamu berani itung-itungan sama Saya sekarang. Jangan lupa ya Tan. Siapa juga yang udah mau nampung perempuan breng*ek yang suka ganggu Suami orang kaya Kamu ?. Kalo bukan Saya yang belain Kamu waktu itu, pasti Kamu udah mati di penjara tau ga!" sahut ibu tiri Tantri tak kalah lantang.
Tantri terdiam mendengar jawaban ibu tirinya itu. Tantri pun teringat kejadian setahun lalu. Tantri akui saat itu ia memang kalut. Ia baru saja berkencan dengan pria kaya raya yang mengaku sebagai duda. Namun saat ia sedang menikmati kebersamaan dengan pria itu, istri sah pria itu datang dan melabraknya. Bahkan wanita itu juga mengajak dua orang polisi untuk menangkapnya.
Karena panik Tantri pun menghubungi ibu tirinya itu. Ia tak mungkin menghubungi orangtua kandungnya karena tak ingin mereka malu. Dan saat ibu tirinya datang ke kantor polisi, wanita itu sangat terkejut. Ternyata istri sah pria yang dikencani Tantri adalah temannya.
Kemudian terjadi lah kesepakatan diantara ibu tiri Tantri dengan wanita itu. Wanita itu bersedia mencabut laporan kepolisian asal Tantri mengembalikan semua uang dan barang mewah yang telah diberikan suaminya. Saat itu Tantri setuju. Ia langsung mengembalikan semua barang mewah pemberian suami wanita itu. Namun tentang uang, Tantri minta waktu untuk mengembalikannya karena tak memiliki uang sepeser pun.
"Saya ga mau tau. Kalo Kamu hanya bisa mengembalikan barang-barang pemberian Suami Saya, artinya Kamu tetap tinggal di penjara. Yah, ga lama kok. Paling lama dua bulan. Anggap aja itu untuk menebus uang yang telah Suami Saya berikan," kata wanita itu ketus.
Ucapan wanita itu membuat Tantri panik. Ia pun meminta bantuan ibu tirinya sekali lagi. Dan entah bagaimana caranya akhirnya wanita itu bersedia memberi waktu.
Setelah menanda tangani surat pencabutan laporan di kantor polisi, mereka pun kembali ke rumah masing-masing. Namun saat Tantri akan masuk ke dalam Taxi, ibu tiri Tanti memanggilnya.
"Ada apa Tante?" tanya Tantri.
"Ada apa ?. Kamu ga lupa kan sama apa yang barusan Saya lakukan untuk Kamu. Ingat ya Tantri, ga ada yang gratis di dunia ini!" kata ibu tiri Tantri sambil melotot.
"Iya iya Aku tau. Tante tenang aja. Aku bakal ganti uang Tante nanti," sahut Tantri cepat hingga membuat wanita itu tersenyum.
"Bagus. Jangan lupa bunganya ya!" kata ibu tiri Tantri sambil berlalu.
Tantri pun terdiam sambil menatap punggung sang ibu tiri yang menjauh.
__ADS_1
Selanjutnya tiap bulan Tantri memberikan uang dalam jumlah besar kepada ibu tirinya itu. Ibu kandung Tantri yang mengetahui anaknya memberi uang banyak pada madunya pun marah lalu mengusir Tantri dari rumah. Tantri yang tak mau menceritakan alasannya memberi uang pada ibu tirinya pun hanya bisa pasrah saat itu. Karena tak punya tujuan, akhirnya Tantri datang ke rumah ibu tirinya.
Menganggap kehadiran Tantri bisa mencukupi semua keperluannya, ibu tiri Tantri pun mengijinkan Tantri tinggal di rumahnya. Dan selama hampir setahun Tantri tinggal bersamanya, ibu tiri Tantri bahkan bisa menikmati liburan ke Bali bersama teman-temannya dengan uang yang Tantri berikan padanya.
Tanpa Tantri sadari, sebenarnya hutangnya telah lunas di bulan ke delapan ia mencicil. Namun ibu tiri Tantri sengaja berbohong hanya karena ingin memanfaatkan Tantri.
Dan saat mengetahui Tantri dipecat, ibu tiri Tantri pun panik. Ia merasa Tantri akan membebani hidupnya nanti. Apalagi ayah Tantri sudah lama tak menafkahinya karena mengalami kesulitan keuangan.
Dan setelah sebulan Tantri menganggur, kesabaran ibu tiri Tantri pun tak terbendung lagi. Ia tak mau Tantri tinggal bersamanya karena Tantri tak lagi bisa memberinya uang.
Dan kini Tantri tengah mengemasi pakaiannya di kamar. Ia menggerutu karena harus hengkang dari rumah yang masih milik ayahnya itu.
"Ga usah ngedumel. Saya denger apa yang Kamu bilang!" kata ibu tiri Tantri dari ruang tengah.
"Kenapa Tante tega sama Aku. Ini juga kan rumah Ayahku, jadi Aku juga berhak tinggal di sini! kata Tantri kesal.
Dengan marah Tantri pun keluar dari rumah ibu tirinya. Ia tak ingin kembali ke rumah ibu kandungnya karena takut.
Malam itu Tantri menumpang Taxi dan berkeliling kota tanpa tujuan. Di perjalanan Tantri teringat dengan Haikal. Ia pun bergegas pergi menemui Haikal untuk minta bantuannya.
Saat tiba di depan rumah kontrakan Haikal terlihat Haikal sedang bercumbu dengan seorang wanita. Tantri pun marah dan memaki Haikal. Suaranya yang lantang membuat semua tetangga Haikal keluar. Haikal yang malu pun segera mengajak Tantri pergi dengan motornya.
Haikal berhenti di pinggir jalan dan menyuruh Tantri untuk turun. Namun Tantri menolak dan itu membuat Haikal marah. Arungga yang kebetulan melintas di tempat itu pun terkejut melihat Tantri dan Haikal sedang bertengkar hebat di pinggir jalan.
Arungga pun berhenti lalu menepikan motornya. Ia berniat melerai pertengkaran Haikal dan Tantri. Namun Arungga menghentikan aksinya saat mendengar namanya disebut.
"Dasar cowok breng*ek ga tau diri Lo. Setelah apa yang Gue berikan ternyata Lo masih berani mengkhianati Gue. Mana janji Lo yang katanya mau bahagiain Gue!" kata Tantri marah.
__ADS_1
"Ga usah ngatain Gue. Ngaca dong, Lo juga mengkhianati Arungga dan tidur sama Gue. Kalo Gue mencari cewek lain itu wajar karena Gue ga mungkin bertahan sama cewek ga punya prinsip kaya Lo!" sahut Haikal lantang.
Ucapan Tantri dan Haikal mengejutkan Arungga. Ia tak menyangka jika Tantri dan Haikal telah mengkhianatinya hingga sejauh itu.
"Jadi Kalian berdua nusuk Gue dari belakang?!" tanya Arungga lantang hingga membuat Tantri dan Haikal terkejut lalu menoleh kearahnya.
"Arungga!" panggil Tantri dan Haikal bersamaan.
"Iya, kenapa?. Kaget?" tanya Arungga sambil mendekat kearah mereka.
"Ini ... Arungga. Ini ... Lo cuma salah paham. Gue sama Tantri...."
"Ga perlu jelasin lagi Kal. Selama ini Gue tau kalo Lo berdua menjalin hubungan rahasia di belakang Gue. Semula Gue ga peduli karena Gue pikir ini cuma sesaat. Tapi karena Kalian udah sejauh itu, Gue ga bisa maafin lagi," kata Arungga hingga membuat Haikal dan Tantri panik.
"Tunggu Ar, Aku bisa jelasin semuanya," kata Tantri sambil berusaha meraih tangan Arungga.
Arungga menepis tangan Tantri sambil bergeser menjauh. Ia menggelengkan kepalanya sambil mengucapkan kalimat yang tak pernah Tantri inginkan.
"Ga akan ada lagi kesempatan buat Kamu Tantri. Sekarang atau nanti sama aja. Kita selesai, putus," kata Arungga sambil menatap Tantri lekat.
Setelah mengatakan kalimat itu Arungga pun melangkah menuju motornya. Saat Haikal mencoba merangkulnya, Arungga menepisnya. Bahkan Arungga mendorong tubuh Haikal hingga jatuh terjengkang di trotoar. Kemudian Arungga menstarter motornya lalu melajukannya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Tantri dan Haikal di sana.
Haikal nampak mengusak kasar rambutnya. Sedangkan Tantri nampak terpaku menatap kepergian Arungga. Tanpa ia sadari air matanya mengalir menganak sungai. Entah mengapa saat itu Tantri merasa dadanya berdenyut nyeri. Terasa sangat sakit. Lebih sakit dibandingkan saat ia menyaksikan perselingkuhan Haikal dengan wanita lain.
Malam itu menjadi malam yang tak terlupakan untuk Tantri. Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa ia telah jatuh hati pada Arungga, pria yang berstatus kekasih namun tak pernah ia perlakukan layaknya kekasih.
Dengan langkah gontai Tantri pun melangkah sambil menyeret kopernya. Ia tak menghiraukan pertanyaan Haikal. Rupanya kehilangan cinta yang terlambat ia sadari itu telah berhasil memporak porandakan hati dan hidup Tantri.
__ADS_1
\=\=\=\=\=