ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )

ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )
37. Salah Paham


__ADS_3

Alina pulih dengan cepat hingga membuat keluarganya bahagia. Siska yang rutin menjenguknya pun tak kalah bahagia. Bahkan Siska ikut menjemput Alina saat gadis itu diijinkan pulang oleh pihak Rumah Sakit.


"Makasih Kak Siska udah rajin menjenguk Aku. Padahal Kakak ga harus lakukan itu, Kakak kan juga harus kerja dan menyelesaikan kursus. Bukannya Kakak udah ga sabar mau jadi penerjemah buku," kata Alina.


"Gapapa Na. Aku merasa ikut bertanggung jawab karena Aku yang mengajakmu keluar hari itu. Andai Kamu ga keluar sama Aku, mungkin Kita ga bakal ketemu Tantri dan Kamu celaka kaya gini," sahut Siska tak enak hati.


Saat itu Siska menemani Alina di kamarnya.


"Jangan ngomong gitu Kak. Ini semua takdir. Tapi kasian Kak Tantri karena meninggal dengan cara tragis. Apa pembunuhnya udah ketangkep Kak?" tanya Alina.


"Kenapa Kamu yakin Tantri meninggal karena dibunuh. Siapa yang bilang begitu sama Kamu Na?" tanya Siska.


"Gue yang bilang begitu!" kata Arungga tiba-tiba dari belakang Siska.


Siska terkejut lalu menoleh kearah Arungga. Melihat Arungga mendekat kearahnya membuat Siska tak nyaman. Ia khawatir kehadirannya di rumah itu tak disukai Arungga. Sebelum Arungga mengatakan sesuatu yang akan membuatnya tersinggung, Siska memilih bangkit dari duduknya lalu pamit pulang.


"Kok buru-buru sih, Kita kan baru aja sampe," protes Veni saat Siska pamit padanya.


"Aku masih harus ke tempat kursus Tante. Hari ini kan ada ujian," sahut Siska sambil tersenyum.


"Kalo itu alasanmu Tante nyerah deh. Semoga cepet lulus ya kursusnya dan Kamu bisa segera mikirin masa depan. Semoga Kamu bisa dapet pasangan yang baik, yang menyayangi Kamu dan mengerti Kamu," kata Veni dengan tulus.


"Aamiin ... makasih Tante," sahut Siska sambil tertawa.


Ucapan Veni membuat Arman dan Alina ikut tertawa sedang Arungga hanya membisu tanpa ekspresi.


Setelah kepergian Siska, Veni meminta Alina istirahat. Alina mengangguk lalu kembali ke kamar.


Saat melangkah ke kamar Alina berpapasan dengan Arungga. Ia menatap kesal kearah sang kakak hingga membuat Arungga bingung.


"Kenapa sih Na. Apalagi salah Kakak sekarang. Kakak kan udah bilang ga bisa ikut jemput karena nemenin Pak Fauzan ngecek gedung buat pernikahannya," kata Arungga.


"Bukan itu!" sahut Alina.


"Terus apa dong?" tanya Arungga tak mengerti.


"Kenapa Kakak terus mengintimidasi Kak Siska. Kalo Kakak ga suka sama dia, ya ga usah ganggu bisa kan?!" kata Alina kesal.


"Ganggu gimana sih maksud Kamu?. Kakak kan cuma mewakili Kamu menjawab pertanyaan dia tentang dugaan pembunuhan Tantri. Apa itu salah ?" tanya Arungga.


"Ck, tau ah. Ngomong sama Kakak tuh emang ga pernah bisa menang," gerutu Alina sambil menghentakkan kakinya.


Sikap Alina justru membuat Arungga makin bingung. Ia masih termenung di depan kamar sang adik hingga suara tawa kedua orangtuanya terdengar. Arungga menoleh dan ikut tersenyum melihat kedua orangtuanya sedang menertawakan gulai ikan yang gosong karena Veni lupa mematikan kompor tadi.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Pesta pernikahan Zahira dan Fauzan pun digelar di hotel bintang lima dengan meriah. Banyak tamu yang hadir untuk memberi ucapan selamat kepada pasangan yang berbahagia itu.


Pada kesempatan itu Arungga hadir bersama Alina dan kedua orangtua mereka. Namun Arungga langsung memisahkan diri karena harus ada di barisan staf yang mendukung pernikahan bosnya. Zahira memang mengundang keluarga Arungga untuk hadir karena merasa memiliki ikatan batin yang kuat dengan mereka. Fauzan pun tak keberatan karena jujur ia juga nyaman dengan kehadiran Arungga di kehidupannya.


Dalam pesta itu juga hadir beberapa teman sekampus Arungga dan Zahira dulu. Zahira memang hanya mengundang beberapa orang yang ia kenal, diantaranya Siska dan Nadine.


Nadine telah menikah dan memiliki seorang anak berusia lima bulan. Dan di pesta itu Nadine datang bersama suaminya. Saat bertemu Siska di tengah ruangan, keduanya nampak menjerit bahagia sambil berpelukan. Jeritan mereka membuat beberapa orang tamu menoleh dan ikut tersenyum. Diantara para tamu yang ikut tersenyum ada Alina dan kedua orangtuanya.


"Ternyata Kak Siska juga diundang Ma," kata Alina dengan wajah berbinar.


"Iya Na. Sekarang pasti Kamu seneng ya karena punya teman buat ngerumpi," sindir Veni sambil mencibir hingga membuat Alina tertawa.


Siska mengajak Nadine menyapa keluarga Arungga. Saat itu Siska sama sekali tak menyinggung tentang Arungga. Ia memperkenalkan Nadine dengan Alina dan kedua orangtuanya begitu saja tanpa maksud apa pun.


Pesta terus berjalan. Di tengah pesta Alina pamit untuk pergi ke toilet. Siska pun mengantarkan Alina karena tak ingin sendiri di sana. Siska memang tak mengenal siapa pun setelah Nadine pergi karena masih harus mengurus bayinya.


"Keliatannya rame banget Na. Kakak tunggu di balkon sana aja ya," kata Siska.


"Iya Kak," sahut Alina sambil melangkah cepat menuju toilet khusus wanita itu.


Siska pun melangkah ke balkon samping. Untuk sejenak Siska nampak menikmati pemandangan malam hari di tempat itu. Ia tersenyum melihat lampu di gedung-gedung pencakar langit yang berkelap-kelip bak kunang-kunang di kegelapan.


Siska yang tak menyadari kehadiran Arungga pun nampak masih asyik dengan aksinya. Ia terkejut saat Arungga menyapanya. Dan Arungga mengerutkan keningnya saat menyadari ketidak nyamanan Siska.


"Apa Gue bikin Lo ga nyaman Sis?" tanya Arungga.


Siska terdiam. Ia tak mungkin mengiyakan pernyataan Arungga karena ia tak ingin membuat masalah. Yang utama karena ia tak ingin hubungannya dengan Alina merenggang hanya karena salah paham antara dia dan Arungga.


Melihat Siska membisu membuat Arungga tak enak hati.


"Gue ga pernah benci sama Lo Sis. Gue juga ga marah sama apa yang Mama lakukan. Justru itu ...," ucapan Arungga terputus karena Siska memotong cepat.


"Nah itu Alina. Alina !" panggil Siska sambil melambaikan tangannya.


Alina menoleh dan tersenyum. Kemudian Alina menghampiri Siska dan Arungga sambil menatap Arungga dengan tatapan tak bersahabat.


"Kakak gapapa kan?" tanya Alina sambil menatap Siska dengan lembut.


"Kakak gapapa kok. Udahan kan, Kita balik ke dalam lagi yuk," ajak Siska.


Alina pun mengangguk. Arungga hanya bisa menggelengkan kepala melihat Siska membawa Alina pergi tanpa pamit padanya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Pesta baru saja usai. Namun Veni dan Arman dibuat khawatir karena Alina tiba-tiba menghilang. Arungga meminta kedua orangtuanya tenang karena ia yakin Alina bersama Siska sekarang.


"Ga mungkin. Siska kan udah pulang setengah jam yang lalu. Tapi Alina ga keliatan baru sepuluh menitan kok," kata Veni sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Yang bener Ma. Tapi Aku liat Alina sama Siska daritadi," sahut Arungga gusar.


"Mama yakin Ga. Abis nganterin Alina ke toilet Siska pamit sama Mama dan Papa. Iya kan Pa?" tanya Veni.


"Iya," sahut Arman cepat.


Arungga pun tersentak mendengar ucapan kedua orangtuanya. Ia khawatir jika Alina kembali celaka mengingat Haikal yang masih diburu Polisi.


"Tolong hubungi Siska Ma!" pinta Arungga.


"Iya, ini juga Mama lagi nelephon Siska," sahut sang mama.


Saat telephon tersambung, Arungga bergegas merebut ponsel sang mama hingga membuat wanita itu terkejut. Namun Veni mengalah dan membiarkan Arungga bicara dengan Siska.


"Dimana Alina?" tanya Arungga.


"Kok tanya Gue. Alina kan sama orangtua Lo tadi," sahut Siska cepat.


"Jangan bercanda Sis. Alina ilang. Dia ga ada dimana-mana. Gue sama orangtua Gue masih di hotel tempat pesta nih. Kalo Alina ada sama Lo gapapa. Tapi tolong suruh dia ngomong sama Gue sekarang," kata Arungga tegas.


Ucapan Arungga membuat Siska kesal sekaligus khawatir. Ia kesal karena dituduh menyembunyikan Alina. Ia juga khawatir karena ingat Haikal masih berkeliaran di luar sana.


Rupanya tak hanya Siska yang kesal dengan ucapan Arungga, Veni juga. Ia bahkan merebut ponselnya dari tangan Arungga sambil memarahi sang anak.


"Arungga !. Apa-apaan sih Kamu?!" kata Veni galak.


"Aku cuma tanya sama Siska, siapa tau Alina bete terus diem-diem ikut Siska pulang ke rumahnya Ma," sahut Arungga cuek hingga membuat Siska kesal lalu menjerit marah.


"Gue ga bakal lakuin tindakan konyol kaya gitu Arungga. Dasar cowok sia*an!" maki Siska lantang dari seberang telephon.


"Ehm ... ini Tante Sis," kata Veni sambil tersenyum.


"Eh, maaf Tante. Aku kira Arungga. Aku bakal bantu cari Alina sekarang ya Tante. Assalamualaikum!" kata Siska di akhir kalimatnya.


Veni menatap layar ponselnya lalu menatap Arungga dengan tatapan kesal. Ia marah karena Arungga telah membuat Siska salah paham padanya. Padahal ia sama sekali tak menuduh gadis itu menyembunyikan Alina. Arungga yang tahu kemarahan sang mama nampak cuek seolah tak terjadi apa pun tadi.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2