ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )

ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )
29. Jangan Sentuh Alina !


__ADS_3

Arungga bergegas mengumpulkan data yang ia miliki. Semua, tanpa terlewat satu pun. Arungga juga melibatkan Aji untuk membantunya.


"Tapi tolong lakukan diam-diam ya Pak. Kita belum tau separah apa kebocoran yang dimaksud Bu Zahira. Saya ga mau orang yang Kita curigai tau, terus melempar kesalahan ke orang lain," kata Arungga.


"Iya Ar. Tapi menurut Saya, kalo Bu Zahira sampe ngeluh dan minta bantuan Kamu, itu artinya masalahnya pasti ga sederhana Ar," sahut Aji cepat.


"Betul Pak. Saya akan mulai mengamati semua karyawan lebih detail, termasuk karyawan baru. Sedangkan Pak Aji tolong kumpulkan data dan bukti sebanyak-banyaknya. Sekecil apa pun bukti yang Pak Aji temukan, langsung bawa ke Saya ya Pak," pinta Arungga.


"Siap Ar. Kalo gitu Saya permisi dulu ya," pamit Aji sambil membuka pintu.


Arungga pun mengangguk lalu kembali mengamati 'laporan usang' di mejanya.


Bukan tanpa alasan Arungga berani menceritakan apa yang dikhawatirkan Zahira kepada Aji. Arungga merasa, sebagai orang lama Aji pasti paham seluk beluk divisi keuangan. Selain itu Arungga menimbang hubungan Aji dengan Jendral Catur. Arungga yakin Aji pasti akan membantu Zahira mengungkap kebenaran nanti.


\=\=\=\=\=


Arungga nampak menatap hamparan bunga di taman saat ia mendengar suara Haikal mendekat. Saat itu Haikal sedang menelepon seseorang. Dari kalimat yang diucapkan Arungga tahu jika Haikal sedang bicara dengan seorang wanita istimewa.


Arungga menoleh saat Haikal duduk di sampingnya sambil tersenyum.


"Kenapa senyum-senyum sendiri. Stress Lo ya?" tanya Arungga ketus.


"Gue lagi happy Ar, makanya Gue senyum terus daritadi," sahut Haikal cepat.


"Pacar baru?" tanya Haikal.


"Calon pacar," sahut Haikal cepat.


"Terus Tantri gimana?" tanya Arungga.


"Ya ga gimana-gimana. Gue sama Tantri kan ga punya hubungan serius, jadi Gue ga harus mikirin perasaan dia dong. Kalo soal hubungan int*m yang pernah Gue dan Tantri lakukan, itu kan cuma untuk kesenangan aja karena dilakukan tanpa cinta," sahut Haikal santai.


"Jadi siapa?" tanya Arungga penasaran.


"Maksud Lo?" tanya Haikal balik.


"Cewek yang lagi Lo deketin," sahut Arungga.


"Oh dia. Pokoknya Gue ga bakal buka jati diri cewek ini karena dia terlalu istimewa. Dan Lo, berhenti ngurusin siapa pasangan Gue. Lebih baik Lo juga cari cewek baru biar ga uring-uringan terus kaya gitu," sahut Haikal sambil melangkah meninggalkan Arungga di taman.

__ADS_1


Arungga pun nampak melepas kepergian Haikal sambil menggeram kesal.


\=\=\=\=\=


Arungga tiba di rumah saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Veni dan Arman nampak menyambut di teras dengan tatapan cemas.


"Aku abis lembur di kantor Ma. Selain itu Aku kan cowok. Jadi Mama ga perlu lebay deh, masa pake nungguin di sini segala. Aku malu Ma," protes Arungga.


"Ga usah ge-er Kamu Ga. Yang nungguin Kamu tuh siapa. Mama sama Papa lagi nungguin Alina. Udah hampir jam setengah sebelas kok belum pulang. Padahal pamitnya cuma pergi sebentar tadi. Udah gitu HP nya ga bisa dihubungi, Mama kan jadi khawatir" kata Veni kesal.


Arungga pun melirik jam di pergelangan tangannya. Ia memutuskan mencari Alina di rumah teman-teman sang adik yang dikenalnya.


Tak lama kemudian Arungga sudah berada di jalan raya. Ia baru saja mendatangi beberapa rumah teman Alina dan menanyakan keberadaan sang adik, namun nihil. Arungga mulai dilanda kecemasan mengingat tingkat kriminalitas yang tinggi terhadap perempuan belakangan ini.


Arungga terus melajukan mobilnya dan berharap bisa menemukan Alina. Saat itu lah kedua mata Arungga menangkap dua sejoli yang sedang berciuman di trotoar tepat di bawah pohon besar. Arungga tahu itu Alina.


Arungga pun bergegas memacu mobilnya agar bisa tiba di sana. Namun sayang, Alina dan kekasihnya justru telah melaju lebih dulu sambil berboncengan di atas motor.


"Dasar Anj*ng sia*an !. Liat apa yang bakal Gue lakuin karena Lo udah berani nyentuh Alina !" jerit Arungga sambil memukul kemudi berulang kali.


Arungga pun mempercepat laju kendaraannya hingga tiba di rumah lebih dulu. Veni dan Arman nampak mengerutkan kening saat melihat Arungga pulang dalam keadaan marah dan tanpa Alina. Saat Veni akan bertanya dimana Alina, tiba-tiba sebuah motor memasuki halaman rumah.


"Arungga hentikan !. Apa-apaan sih Kamu !" kata Arman lantang.


Bukan menghentikan aksinya, Arungga justru menyerang pria pengendara motor itu setelah sebelumnya mendorong Alina agar menjauh.


Pria yang masih mengenakan helm itu pun tak kuasa membalas serangan mendadak Arungga. Jeritan Veni dan Alina membuat suasana makin tak terkendali. Sedangkan Arman yang sibuk melerai pun ikut jadi sasaran serangan brutal Arungga.


"Berhenti Arungga!. Kamu mau bikin Papa mati ya ?!" jerit Veni sambil memeluk suaminya erat.


Ucapan Veni menyadarkan Arungga. Ia pun menghentikan aksinya lalu menoleh kearah kedua orangtuanya. Setelahnya ia menatap Alina dengan tatapan marah.


"Masuk ke dalam Alina. Masuk!" bentak Arungga marah.


Alina yang terkejut mendengar kemarahan Arungga pun lari terbirit-birit ke dalam rumah. Sedangkan kekasih Alina berusaha bangkit lalu membuka helm yang menutupi kepalanya.


"Ini Gue Ar, Haikal," kata Haikal sambil meringis.


"Bang*at. Apa yang Lo lakuin sama Alina ?. Dia adik Gue, setan!" kata Arungga marah sambil menarik kerah jaket Haikal dan bersiap meninjunya lagi.

__ADS_1


"Arungga !" panggil Arman sambil berusaha menahan tinju sang anak.


"Lepasin Pa. Aku ga mau Alina menjalin hubungan sama Bang*at ini. Ga boleh!" kata Arungga lantang.


"Iya iya Papa ngerti. Sekarang lepasin Haikal, biar dia pulang dulu. Ga enak sama tetangga malam-malam ribut kaya gini," kata Arman.


Dengan enggan Arungga melepaskan cekalan nya.


"Pergi Lo. Jangan berani deketin Alina lagi. Kalo Lo berani melanggar perintah Gue, Lo bakal mati. Denger Gue kan anj*ng?!" kata Arungga marah.


Haikal mengangguk sambil menatap Arungga. Ia tak percaya bisa melihat Arungga semarah itu. Dengan tubuh gemetar Haikal berusaha bangkit lalu mengendarai motornya meninggalkan rumah itu tanpa pamit.


Veni dan Arman yang melihat kepergian Haikal pun hanya bisa saling menatap tak mengerti.


Setelah Haikal tak terlihat lagi Arungga pun terlihat jauh lebih tenang. Ia menoleh kearah kedua orangtuanya lalu memeluk mereka bergantian.


"Maafin Aku Pa, Ma. Maaf udah bikin Papa Mama kaget," kata Arungga dengan suara serak.


"Ada apa ini Arungga. Ga biasanya Kamu meledak-ledak kaya gini. Kalo Kamu ga setuju Haikal pacaran sama Alina, kan bisa diomongin baik-baik," kata Arman.


"Jadi Alina pacaran sama Haikal Pa. Sejak kapan?" tanya Arungga.


"Mama Kamu tuh yang tau pasti," sahut Arman sambil melirik kearah Veni.


"Baru sebulan Ga. Kenapa sih ?. Emangnya ga boleh kalo Adikmu pacaran sama sahabatmu. Ga ada yang salah kan?" tanya Veni.


"Tetap aja ga boleh Ma !. Pokoknya Aku ga ngijinin Alina pacaran sama Haikal. Kalo sampe Aku tau Alina masih menemui Haikal atau sebaliknya, liat aja. Haikal yang bakal mati atau Aku yang mati!" sahut Arungga tegas lalu bergegas masuk ke dalam rumah.


Ucapan Arungga mengejutkan Arman dan Veni. Keduanya terdiam dengan mulut ternganga saking terkejutnya.


"Anakmu kenapa sih Pa. Kok Mama jadi takut ya ngedenger ancamannya tadi," kata Veni gusar.


"Mana Papa tau Ma. Mungkin ada masalah besar antara Arungga sama Haikal yang belum terselesaikan," sahut Arman.


"Tapi marahnya Arungga tuh beda banget Pa. Dia kaya punya dendam tersendiri sama Haikal. Padahal selama ini kan Arungga sayang banget sama Haikal. Masa cuma gara-gara Haikal pacarin Alina dia sampe ngancam segala," kata Veni bingung.


"Kita pikirin nanti ya Ma. Sekarang Mama masuk terus tengokin Alina. Papa khawatir dia shock gara-gara ngeliat kebrutalan Arungga tadi," kata Arman.


Veni mengangguk lalu bergegas masuk ke dalam rumah. Sedangkan Arman nampak menutup pintu pagar. Ia tersenyum kearah beberapa tetangga yang nampak berdiri di depan rumah mereka masing-masing karena terkejut dengan pertengkaran Arungga dan Haikal tadi.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2