ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )

ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )
33. Syarat Dari Haikal


__ADS_3

Meski Haikal telah tertangkap dan dijebloskan ke penjara, Arungga masih belum bisa bernafas lega. Ancaman Haikal masih terngiang di telinganya dan itu membuat Arungga khawatir.


Saat Arungga tiba di rumah, ia disambut Alina dan kedua orangtua mereka. Arungga nampak mengerutkan keningnya lalu menatap ketiganya bergantian.


"Ada apa ngumpul di sini. Lagi nungguin Aku ya?" tanya Arungga.


Bukannya menjawab pertanyaan sang kakak, Alina justru menghambur memeluk Arungga sambil mengucapkan terima kasih. Kemudian Arman dan Veni pun ikut memeluk Arungga tak kalah erat.


"Aduuuhhh ... lepasin, sesak nih. Aku ga bisa nafas!" kata Arungga sambil meronta.


Arman, Veni dan Alina pun mengurai pelukan mereka lalu mengajak Arungga masuk ke dalam rumah.


"Ada apa sih sebenarnya. Kenapa Kalian bertingkah aneh kaya gini?" tanya Arungga penasaran.


"Begini Nak. Tadi ada dua Polisi berpakaian preman datang ke sini. Mereka nyari Alina," kata Veni membuka percakapan.


"Nyari Alina, ada apa Ma?. Kamu ga melakukan kejahatan kan Na?!" tanya Arungga disambut gelengan kepala oleh Alina.


"Sabar Ga. Biar Mama Kamu cerita dulu sampe selesai," kata Arman mengingatkan.


Arungga pun mengangguk lalu membiarkan sang Mama menceritakan apa yang terjadi. Arungga terkejut saat sang Mama mengatakan jika polisi datang karena Alina dinyatakan terlibat dalam penggelapan dana yang dilakukan Haikal di JC group.


"Tapi Polisi bilang Kamu udah berhasil membuktikan kalo Alina ga terlibat. Bahkan Kamu justru nunjukin bukti lain yang memberatkan Haikal. Ibarat senjata makan tuan, apa yang Haikal katakan justru makin membuktikan seberapa detail dia menyusun rencana ini. Makasih ya Ga, Kamu udah melindungi Adikmu dengan baik," kata Veni dengan mata berkaca-kaca.


"Sama-sama Ma. Tapi Aku ga sendiri melakukan itu Ma. Pewaris JC dan calon Suaminya ikut membantu mencari bukti kebohongan Haikal dan menyerahkannya ke pihak kepolisian," kata Arungga.


"Kalo gitu tolong sampaikan rasa terima kasih Kami sama mereka ya Nak," pinta Veni tulus.


"Siap Ma," sahut Arungga cepat.


Kemudian Arungga bertanya pada Alina kenapa memberi nomor rekening Bank pada Haikal. Alina mengaku tak tahu menahu tentang itu. Nampaknya Haikal memang memanfaatkan kelengahan Alina hingga berhasil mendapatkan no rekening Banknya.


"Jadi ini alasan Kakak kenapa ngelarang Aku pacaran sama Bang Haikal," gumam Alina sendu.


"Ini cuma salah satu sebab aja Na. Ada sebab lain yang belum bisa Kakak ceritakan sama Kamu. Tapi terima kasih karena Kamu udah percaya sama Kakak," kata Arungga.


"Sama-sama Kak," sahut Alina sambil tersenyum.


"Terus apa rencana Kamu selanjutnya setelah Haikal dijebloskan ke penjara Ga?" tanya Arman.


"Memastikan Haikal mendekam lama di sana Pa. Apalagi emangnya," sahut Arungga sambil tersenyum penuh makna.


Arman dan Veni nampak saling menatap kemudian menggelengkan kepala. Sejak beberapa waktu mereka terbiasa melihat sikap Arungga yang penuh teka-teki itu.


\=\=\=\=\=


Haikal terbukti bersalah. Ia divonis hukuman enam tahun penjara dan denda seratus lima puluh juta rupiah. Bukti yang Haikal miliki tentang keterlibatan Alina pun dimentahkan Fauzan.

__ADS_1


Dan saat ditanya motif sebenarnya melakukan penggelapan, Haikal mengatakan itu semua karena ia iri dengan keberhasilan yang Arungga capai. Ia juga kesal karena Arungga menolak membantunya mewujudkan semua keinginannya.


Meski alasan Haikal terdengar mengada-ada, tapi hukum tak bisa ditawar. Haikal pun dimasukkan ke rutan Cipinang untuk menjalani hukuman.


Mengetahui Haikal ditangkap polisi dan dipenjara, Tantri pun panik. Ia datang untuk menjenguk Haikal di kantor polisi.


Meski pun mereka bukan sepasang kekasih, tapi Haikal selalu datang menemui Tantri di rumah kontrakan yang disewanya untuk Tantri itu. Mereka bahkan sering melakukan hubungan layaknya suami istri hingga tanpa Tantri sadari dirinya hamil. Dan ia menemui Haikal untuk meminta pertanggungjawaban.


Saat melihat Tantri menjenguknya, Haikal nampak bahagia.


"Jadi apa salah Lo, kenapa Lo dipenjara Kal?" tanya Tantri kala itu.


"Gue dituduh korupsi. Dan salah satu orang yang udah bikin Gue masuk ke sini adalah Arungga," sahut Haikal.


"Arungga?!" tanya Tantri tak percaya.


"Iya. Lo ga percaya kalo dia juga bisa berbuat jahat sama sahabatnya sendiri?" sindir Haikal.


Tantri membisu karena tak tahu harus bicara apa. Saat menyadari Tantri yang terlihat gugup dan sedikit pucat itu, Haikal pun mengerutkan keningnya dan bertanya.


"Lo sakit Tan?" tanya Haikal.


"Gue bukan sakit Kal. Gue ... hamil anak Lo," sahut Tantri lirih hingga mengejutkan Haikal.


"Lo yakin itu Anak Gue?" tanya Haikal.


Pertanyaan Haikal membuat Tantri yang semula menunduk langsung mendongakkan wajahnya untuk menatap Haikal.


Haikal mendengus kesal. Ia percaya dengan ucapan Tantri. Selama ini Haikal meminta pemilik kontrakan yang juga temannya itu untuk mengawasi Tantri. Sang teman mengatakan Tantri selalu pulang tepat waktu dan hanya dia yang berkunjung ke rumah itu.


"Jadi Lo ke sini untuk minta Gue bertanggung jawab sama bayi di dalam rahim Lo itu?" tanya Haikal kemudian.


"Iya," sahut Tantri cepat.


"Gue ga bisa tanggung jawab selama Gue masih di penjara Tan. Kecuali Gue keluar dari sini atau Lo melakukan satu hal untuk Gue," kata Haikal.


"Melakukan apa?" tanya Tantri.


"Balaskan dendam Gue. Bunuh Arungga," bisik Haikal di telinga Tantri.


Tantri menatap Haikal lekat seolah tak percaya telah mendengar itu dari Haikal. Sedangkan Haikal nampak tersenyum melihat wajah bingung Tantri. Haikal pun berdiri dan bersiap kembali ke sel tahanan.


"Gue bakal lakukan itu dan Lo tepati janji Lo untuk bertanggung jawab sama Anak ini Kal!" kata Tantri tiba-tiba.


"Deal," sahut Haikal sambil tersenyum.


Setelahnya Haikal kembali ke sel tahanan sambil tersenyum puas. Ia senang karena Tantri bersedia membantu menyalurkan dendamnya pada Arungga.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Siska dan Alina membuat janji untuk bertemu. Sejak tahu Siska dijodohkan dengan Arungga, Alina memang membuka komunikasi dengan Siska. Meski pun perjodohan itu gagal, Siska dan Alina tetap berteman baik.


Siska merasa Alina adalah gadis yang baik. Berteman dengannya membuat Siska bisa melihat semua 'hal yang baik', sangat berbeda dengan saat ia bertemu teman-temannya dulu. Selain itu Siska yang berstatus anak bungsu juga merasa menemukan sosok adik dalam diri Alina.


Dan hari itu Siska dan Alina bertemu di sebuah mall. Mereka berbelanja beberapa keperluan wanita seperti make up, pakaian dan aksesoris. Setelahnya mereka masuk ke sebuah kafe untuk beristirahat.


Sambil menunggu pesanan diantar, Siska dan Alina mulai membongkar hasil buruan mereka tadi. Keduanya tampak tertawa gembira. Namun tawa keduanya terhenti saat seorang pelayan kafe menghampiri mereka. Siska dan Alina sama-sama terkejut saat mengenali karyawan kafe.


"Tantri?!" sapa Siska.


Tantri yang melihat Siska dan Alina sejak awal pun hanya bisa tersenyum pasrah saat mereka mengenalinya.


"Iya Sis. Hai Alina, apa kabar?" sapa Tantri sambil tersenyum.


"Alhamdulillah baik Kak. Kakak udah lama kerja di sini ?" tanya Alina.


"Baru dua bulan Na. Kalian ... saling kenal juga?" tanya Tantri sambil menatap Siska dan Alina bergantian.


"Kebetulan ketemu pas belanja terus kenalan deh," sahut Siska cepat.


"Oh gitu. Ternyata dunia sempit banget ya," sindir Tantri hingga membuat Alina dan Siska saling menatap tak mengerti.


Setelahnya Tantri pun berlalu karena harus melanjutkan pekerjaannya.


Alina yang curiga dengan kalimat terakhir Tantri pun bertanya pada Siska. Sadar tak mungkin menyembunyikan semuanya Siska pun mengakui hubungannya dengan Tantri dulu.


Siska juga menceritakan taruhan konyol yang ia dan kelima temannya sepakati dulu. Sesuatu yang Siska sesali hingga sekarang.


"Andai Kami bersaing sehat aja dulu, mungkin Arungga ga akan pacaran sama Tantri selama itu," kata Siska.


"Mungkin justru pacaran sama Kak Siska," sela Alina sambil tersenyum.


"Kayanya sih ga ya. Mungkin pacaran sama yang lain. Karena Arungga itu kan pemilih dan sulit ditebak," sahut Siska sambil mengerucutkan bibirnya.


"Terus setelah pertemuan yang diatur Mama itu, Kalian ga pernah ketemu lagi?" tanya Alina.


"Ga pernah," sahut Siska cepat.


"Kenapa?" tanya Alina.


"Aku malu Na. Udah tau Arungga ga pernah suka sama Aku, eh Aku masih nekad ngejar dia. Bukannya seneng, yang ada dia tambah muak sama Aku nanti," sahut Siska dengan mimik wajah lucu hingga membuat Alina tertawa.


Pembicaraan Siska dan Alina tak sengaja terdengar oleh Tantri yang melintas untuk mengantar pesanan pelanggan kafe. Ia nampak tersenyum tipis karena tahu harus memulai balas dendam dari mana.


"Sebentar lagi Sayang. Sebentar lagi Kamu bisa punya status jelas," gumam Tantri sambil mengusap perutnya.

__ADS_1


Tantri pun melangkah sambil tersenyum tipis karena memiliki ide di kepalanya.


\=\=\=\=\=


__ADS_2