ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )

ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )
30. Khawatir...


__ADS_3

Arungga masuk ke kamarnya sambil membanting pintu. Setelahnya ia pergi ke kamar mandi. Arungga berpikir dengan membasuh diri dengan air akan bisa meredakan amarahnya.


Selama beberapa saat Arungga membiarkan dirinya basah kuyup di bawah guyuran shower sambil berusaha mengatur nafasnya yang memburu itu.


Arungga memejamkan mata saat kembali teringat dengan pengkhianatan yang dilakukan Haikal di kehidupan sebelumnya. Ia menggelengkan kepala saat rasa sakit yang mendera tubuh dan jiwanya kembali datang. Tanpa sadar Arungga pun menangis karena tak kuasa menahan sedih dan marah yang bercampur menjadi satu.


"Sia*an, Gue kecolongan. Gue pikir semua berubah karena Gue juga berusaha merubah hal penting yang Gue abaikan dulu. Ternyata Gue salah. Haikal justru masuk dari sisi yang lain. Tapi kenapa harus Alina. Gue lebih rela kehilangan Tantri daripada Alina. Dan Gue ga mau Alina dirusak oleh cowok bajing*n kaya Haikal," gumam Arungga geram.


Suara ketukan di pintu kamar mandi membuyarkan lamunan Arungga. Ternyata Arman yang memanggil Arungga berkali-kali karena khawatir anak sulungnya itu melakukan sesuatu yang membahayakan jiwanya.


"Arungga !. Ga ... Arungga!" panggil Arman berkali-kali sambil terus mengetuk pintu.


"Iya Pa!" sahut Arungga.


"Kamu ngapain di dalam, kok ga keluar-keluar daritadi?" tanya Arman.


"Aku mandi sekalian ber*k Pa !" sahut Arungga asal.


"Oh gitu, pantesan lama. Kalo udah selesai, temuin Papa di depan tivi ya Ga!" kata Arman sebelum keluar dari kamar Arungga.


"Siap Pa!" sahut Arungga lantang.


Arungga pun bergegas menyelesaikan mandinya. Setelahnya ia mengganti pakaian lalu keluar dari kamar untuk menemui sang papa. Di sana ia melihat sang papa yang duduk ditemani secangkir kopi.


"Ngopi Ga," kata Arman sambil menyodorkan cangkir kopinya kearah Arungga.


Arungga pun menerimanya lalu menyesap isinya perlahan. Ia dan sang papa memang biasa melakukan itu saat keduanya sulit tidur atau sedang begadang untuk nonton tayangan sepak bola di televisi.


Kemudian perbincangan ringan pun terjadi antara Arungga dan Papanya. Tapi dalam perbincangan itu Arman tak menyinggung soal kemarahan Arungga sama sekali. Arman justru bicara mengenai bengkel yang saat ini kedatangan karyawan baru bernama Ozi.


Ozi dipekerjakan untuk bantu-bantu di bengkel. Ozi sangat suka saat diminta menyeduh kopi atau membuat makanan ringan. Selebihnya Ozi membantu tugas para karyawan bengkel seperti membeli rokok atau makan siang.


Arungga tertawa saat sang papa menceritakan tingkah lucu Ozi yang transgender itu. Apalagi Ozi kerap latah saat dikejutkan oleh rekan-rekannya. Dan karena itu lah Arman seringkali marah. Ia khawatir saat Ozi latah, Ozi sedang memegang alat atau benda berbahaya yang bisa membahayakan dirinya dan orang di sekitarnya.

__ADS_1


Suara tawa Arungga terdengar oleh Veni yang saat itu masih ada di kamar Alina. Ia sedang menginterogasi Alina namun gadis itu terus membisu hingga membuatnya kesal.


"Mama cuma ga mau Kamu melakukan sesuatu yang akan Kamu sesali nanti Alina !. Liat kemarahan Kakakmu !. Dia pasti tau sesuatu dan itu bikin Mama khawatir tau ga?!" kata Veni marah.


Alina hanya membisu. Ia malu mengakui bahwa Haikal baru saja menciumnya tadi. Dan itu dilakukan di trotoar saat Haikal berhenti dengan alasan memperbaiki kaca spion motornya yang miring.


Lelah menunggu Alina bicara, Veni pun keluar dari kamar Alina. Saat sang Mama hendak meraih handle pintu Alina pun mengatakan sesuatu yang membuat Veni tersenyum.


"Aku ga melakukan itu Ma. Aku tau itu dosa!" kata Alina lalu segera menutupi kepalanya dengan bantal.


Veni mengucap hamdalah dalm hati usai mendengar ucapan Alina. Setelahnya Veni menemui Arungga dan papanya yang sedang asyik berbincang di ruang tengah. Veni hanya menyapa mereka lalu masuk ke dalam kamar untuk istirahat. Veni memang tak ingin menginterogasi Arungga karena itu adalah 'bagian' suaminya.


Tak lama setelah Veni masuk ke dalam kamar, Arman pun bangkit untuk menyusul. Namun sebelum ia beranjak masuk ke dalam kamar Arungga mengatakan sesuatu.


"Aku punya alasan kenapa ngelarang Alina pacaran sama Haikal Pa," kata Arungga tanpa menatap sang papa.


Arman berhenti melangkah lalu menoleh kearah Arungga.


"Iya Nak. Papa percaya sama Kamu. Kamu melakukannya karena Kamu ingin melindungi Alina. Tentang Haikal, Kamu yang paling tau bagaimana cara menanganinya. Papa hanya ingin Kamu mengendalikan amarahmu supaya ga merugikan Kamu nanti," kata Arman bijak.


Setelahnya Arman masuk ke dalam kamar meninggalkan Arungga yang masih setia duduk menonton televisi.


\=\=\=\=\=


Saat tengah malam Alina keluar dari kamar karena haus. Setelah kembali dari ruang makan Alina menoleh ke ruang tengah. Gadis itu berdecak sebal saat melihat televisi dan lampu yang masih menyala. Ia tahu pasti papa atau kakaknya yang lupa mematikan televisi sebelum tidur.


Alina pun melangkah ke ruang tengah untuk mematikan televisi. Namun ia terkejut saat melihat Arungga berdiri menghadang langkahnya. Untuk sejenak kedua kakak beradik itu saling menatap dalam diam. Namun sedetik kemudian Alina menghambur memeluk Arungga sambil meminta maaf. Arungga pun balas memeluk sang adik sambil mengusap kepalanya dengan sayang.


"Maafin Aku Kak," kata Alina.


"Iya Na. Maafin Kakak juga ya. Tolong jauhi Haikal. Dia ga baik untuk Kamu dan keluarga Kita," kata Arungga tegas.


"Pasti Kak. Aku juga udah putusin Bang Haikal waktu dia telepon tadi," sahut Alina.

__ADS_1


"Secepat itu?" tanya Arungga sambil mengurai pelukannya.


"Iya. Abis ngeliat Kakak marah tadi Aku jadi takut. Apalagi Mama juga nanyain Aku terus kaya Polisi lagi nanyain penjahat. Makanya daripada dimusuhin Kakak dan Mama, lebih baik Aku putusin Bang Haikal. Dia kan bukan siapa-siapa. Selain itu Aku masih muda, cantik, menarik. Pasti bisa dapat cowok yang lebih baik dari dia nanti," sahut Alina sambil mengibaskan rambutnya dengan bangga.


Jawaban Alina membuat Arungga tertawa geli. Ia mengusak rambut Alina dengan gemas hingga membuat Alina menjerit kesal.


Tanpa Arungga dan Alina sadari aksi mereka diamati oleh kedua orangtua mereka dari ambang pintu kamar. Arman dan Veni nampak tersenyum melihat Arungga dan Alina kembali rukun. Tak ingin mengusik keakraban kakak beradik itu, Arman dan Veni pun menutup pintu lalu kembali tidur.


Malam itu Arungga dan Alina bicara banyak hal. Arungga sadar ia terlalu sibuk hingga tak menyadari jika adiknya sudah tumbuh menjadi gadis belia yang cantik dan menarik. Pasti akan banyak kumbang jantan yang mengincar untuk memilikinya. Dan Arungga merasa itu haknya untuk menyeleksi mereka nanti.


"Jangan percaya kalo ada cowok yang menyatakan ketertarikannya sama Kamu dengan gampang. Hati-hati Na, cowok yang mulutnya manis biasanya buaya," kata Arungga mengingatkan.


"Biasanya. Artinya ga semua kan Kak?" tanya Alina.


"Ck, ga usah bantah bisa ga sih. Kakak ngomong kaya gini biar Kamu bisa lebih waspada. Liat pake hati kalo mau tau orang itu tulus atau ga," kata Arungga ketus.


"Sayangnya hatiku ga punya mata Kak. Jadi ga bisa ngeliat ketulusan orang," sahut Alina cuek namun membuat Arungga kesal.


Arungga pun menarik Alina lalu menjitaki kepala adiknya hingga Alina mengaduh kesakitan.


"Ampuunn ... sakit Kak," rengek Alina.


Arungga pun mendengus lalu melepaskan pelukannya. Setelah itu ia bangkit dari duduknya. Kemudian Arungga menarik tangan Alina lalu membawanya melangkah hingga ke depan pintu kamar sang adik.


"Kalo Kamu ga bisa menilai ketulusan orang, tanya sama Allah aja. Karena Allah adalah zat yang paling tau dan sebaik-baiknya pelindung," kata Arungga sambil mendorong Alina masuk ke dalam kamar dari ambang pintu.


"Caranya?" tanya Alina pura-pura tak tahu.


"Sholat, monyong!" kata Arungga kesal sambil bersiap menarik Alina.


Alina pun tertawa lalu bergegas menutup pintu hingga Arungga hanya bisa menangkap angin. Arungga pun ikut tertawa melihat tingkah sang adik.


Setelah memadamkan lampu dan televisi, Arungga pun masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2