
Seperti yang diduga Arungga. Haikal lolos seleksi penerimaan karyawan baru di JC dan akan mengikuti masa percobaan selama tiga bulan.
Mengetahui nama Haikal ada dalam daftar nama karyawan baru, Arungga nampak antusias. Bagaimana tidak, moment untuk Arungga membalas dendam akan segera tiba. Meski pun tanpa Tantri, tapi Arungga tak peduli.
Arungga ingat, di kehidupan sebelumnya mereka ada di divisi yang sama. Saat itu Arungga memang menjadi Manager sedangkan Haikal dan Tantri adalah stafnya.
Namun kali ini Haikal justru masuk ke divisi pemasaran terlebih dulu sebelum akhirnya masuk ke divisi keuangan.
"Jadi begini alurnya, ini beda banget sama kehidupan Gue sebelumnya. Tapi gapapa. Cepat atau lambat Gue juga bakal ketemu sama Haikal. Dan kali ini Gue ga bakal biarin dia lolos," batin Arungga sambil mengepalkan kedua tangannya.
Hubungan Arungga dan Haikal memang kembali membaik setelah Haikal datang menemui Arungga lebih dulu dan meminta maaf padanya.
"Ayo lah Ar. Masa cuma gara-gara cewek model Tantri persahabatan Kita berakhir. Harusnya Lo berterima kasih sama Gue karena Gue tau belangnya Tantri. Asal Lo tau ya Ar, Tantri udah ga peraw*n saat pertama kali Gue tiduri. Waktu Gue tanya sama siapa dia pertama kali melakukan itu, Tantri bilang udah biasa begituan dari SMA. G*la ga tuh cewek !" kata Haikal kala itu.
"Udah tau g*la kenapa masih Lo deketin," sahut Arungga ketus untuk sekedar menyembunyikan rasa muak akan cerita Haikal tadi.
"Abis gimana Ar. Dia mancing terus sih. Udah dong, Kita baikan yuk. Percaya sama Gue, Tantri bukan cewek baik-baik dan ga layak bersanding sama Lo!" kata Haikal lagi.
Arungga pun terdiam. Dalam hati ia memang berniat memaafkan Haikal. Ia sengaja mengulur waktu agar terkesan sangat mencintai Tantri dan marah dengan pengkhianatan Haikal.
"Ok Gue setuju. Tantri emang ga layak untuk Gue tapi layak untuk Lo. Gue ga peduli lagi sama Tantri karena Gue bisa cari yang lebih baik nanti," kata Arungga akhirnya.
Haikal pun tertawa keras mendengar ucapan Arungga. Kemudian Haikal mengulurkan tangannya sebagai permintaan maaf. Dengan enggan Arungga menyambut uluran tangan Haikal sebagai tanda mereka telah berdamai.
Lamunan Arungga pun buyar saat ponselnya berdering. Arungga tersenyum saat melihat nama Haikal di layar ponselnya itu. Arungga yakin Haikal menghubunginya karena ingin memberi tahu keberhasilannya lolos seleksi penerimaan karyawan baru di JC. Dengan enggan Arungga menerima panggilan Haikal itu.
"Assalamualaikum. Iya Kal, kenapa?" tanya Arungga pura-pura tak tahu.
"Wa alaikumsalam Ar. Lo tau ga Gue dimana sekarang?" tanya Haikal.
"Ck, ngapain sih ngasih tebakan jam segini. Lo tau kan kalo Gue lagi kerja. Kalo emang mau ngajak main, ntar aja pas Gue udah pulang kerja," kata Arungga ketus namun membuat Haikal tertawa.
Arungga mengusap wajahnya saat mendengar tawa gembira Haikal. Dulu ia selalu merindukan suara tawa Haikal karena tawa khas Haikal mampu melebur semua kegundahannya. Arungga bahkan berusaha melakukan berbagai cara agar Haikal bisa selalu tertawa seperti itu.
Namun mengingat rasa sakitnya pengkhianatan yang Haikal lakukan ditambah sakit akibat luka yang Haikal sematkan di punggungnya membuat Arungga hanya bisa menggertakkan gigi menahan marah.
__ADS_1
"Arungga, Lo masih di sana kan?" panggil Haikal saat tawanya mereda.
"Hmmm ...."
"Ok deh, Gue tau Lo lagi sibuk. Makanya Gue langsung aja ya," kata Haikal.
"Langsung aja tuh langsung ngomong ke intinya, bukannya malah muter-muter kaya gitu Kal," tegur Arungga kesal.
"Iya iya, sabar dong. Gue mau ngasih tau kalo Gue diterima di JC Ar. Gimana, hebat kan Gue?!" kata Haikal antusias.
"Yang bener Lo, wah hebat banget. Tapi kok bisa. Kapan Lo masukin lamaran di JC?" tanya Arungga pura-pura terkejut.
"Ck, Arungga Arungga. Dari dulu Lo masih begini aja. Lo tuh terlalu fokus sama satu hal sampe Lo ga sadar apa yang terjadi di sekeliling Lo. Masa Lo ga tau kalo JC membuka lowongan pekerjaan. Pantesan Lo juga ga ngasih tau Gue, ternyata Lo emang ga tau apa-apa ya," kata Haikal kesal.
"Sorry Kal. Gue emang lagi dikejar deadline nih. Terus gimana, kapan Lo mulai kerja?" tanya Arungga.
"Besok," sahut Haikal cepat.
"Terus traktirannya kapan?" tanya Arungga lagi.
"Ok. Insya Allah Gue tepat waktu kali ini," sahut Arungga sebelum mengakhiri pembicaraan mereka.
\=\=\=\=\=
Sore harinya Arungga menemui Haikal di tempat mereka biasa bertemu yaitu sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan. Namun Arungga terkejut karena melihat Tantri juga ada di sana.
Awalnya Arungga ingin mundur, tapi ia urungkan karena tak ingin dicap pengecut. Selain itu Arungga ingin membuktikan bahwa ketiadaan Tantri di sisinya tak berpengaruh apa pun pada hidupnya. Justru Arungga ingin memperlihatkan kesuksesannya di hadapan Tantri.
Haikal pun menoleh saat Tantri memberi kode jika Arungga datang dan sedang berjalan kearah mereka.
"Telat dua puluh tiga detik Ar!" kata Haikal sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ck, gitu aja pake diitung. Lo tau kan kalo jalanan macet," sahut Arungga.
"Iya deh. Karena kali ini Gue lagi happy, Lo bebas dari denda," kata Haikal hingga membuat Arungga tersenyum.
__ADS_1
Di tempat duduknya Tantri hanya diam sambil mengamati interaksi Haikal dan Arungga. Sejak melihat Arungga datang Tantri merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Entah mengapa akhir-akhir ini Tantri merindukan senyum Arungga. Dan saat melihat Arungga tersenyum justru membuat Tantri salah tingkah. Karena tak ingin Arungga tahu bagaimana perasaannya, Tantri pun pura-pura mengalihkan tatapannya kearah lain.
Seolah baru menyadari kehadiran Tantri, Arungga pun tersenyum dan menyapanya.
"Lo di sini juga Tan. Apa kabar?" tanya Arungga.
"Ga sebaik dulu," sahut Tantri cepat.
Arungga hanya mengangguk lalu duduk di hadapan Haikal. Arungga tak bertanya lagi karena ia memang tak mau tahu dengan apa yang sedang Tantri alami.
Diam-diam Tantri terus mengamati Arungga. Entah mengapa setelah mereka putus Tantri baru menyadari jika Arungga adalah pribadi yang menyenangkan. Tantri juga mengagumi penampilan Arungga yang terlihat mapan dan bersinar itu.
Haikal nampak tak suka melihat bagaimana cara Tantri menatap Arungga.
"Ehm ... apa ga ada orang lain yang bisa Lo liatin seintens itu Tan. Inget, dia bukan pacar Lo lagi dan di sini ada Gue juga. Jaga sikap Lo dan ga usah kegenitan. Arungga ga bakal mau sama cewek bekas pake kaya Lo," bisik Haikal sambil menatap Tantri lekat.
Tantri yang tersinggung dengan ucapan Haikal pun membalasnya.
"Gue tau Arungga bukan siapa-siapa Gue sekarang. Tapi tolong hargai perasaan Gue sedikit aja Kal, ga usah ngomong kaya gitu bisa kan," pinta Tantri dengan mata berkaca-kaca.
"Ga usah kebanyakan permintaan Tan. Gue undang Lo ke sini cuma mau ngetes gimana sebenernya perasaan Lo berdua setelah putus. Ternyata Arungga emang udah ga suka sama Lo. Jadi sebaiknya Lo minggir atau Lo bakal tau akibatnya," ancam Haikal.
Tantri pun terkejut lalu berusaha menetralisir wajahnya yang memucat itu. Dengan gugup Tantri bergeser menjauh lalu memilih duduk di tempat lain karena takut dengan ancaman Haikal.
Arungga yang tahu jika Haikal baru saja mengancam Tantri pun bersikap seolah tak tahu apa-apa.
Selama pertemuan itu Arungga dan Haikal terlihat baik-baik saja layaknya sahabat. Tantri yang datang atas permintaan Haikal pun nampak tak berkutik. Ia menyesali keputusannya yang menerima undangan Haikal. Namun jauh di lubuk hatinya Tantri lebih menyesali sikapnya yang tak setia kepada Arungga saat mereka masih menjadi sepasang kekasih dulu.
\=\=\=\=\=
Arungga memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Ia tersenyum mengingat pertemuannya dengan Haikal dan Tantri tadi. Saat melihat mereka Arungga tahu jika hubungan Haikal dan Tantri tidak sebaik yang terlihat.
"Kita liat nanti Haikal. Pembalasan Gue mungkin ga sekejam Lo tapi rasa sakitnya akan Lo ingat terus sampe mati," gumam Arungga sambil tersenyum penuh makna.
\=\=\=\=\=
__ADS_1