
Awalnya Arungga mengira jika hanya dirinya yang mengetahui 'rahasia' Zahira. Tapi ternyata Arungga salah. Ada orang lain di ruangan itu yang juga mengenal Zahira bahkan mengetahui bagaimana Zahira diperlakukan di masa lalu. Dan orang itu adalah Tantri.
Saat mengetahui Zahira adalah pewaris tunggal perusahaan JC yang terkenal itu, Tantri nyaris pingsan. Beruntung saat itu ada karyawan yang melihat gelagat mencurigakan yang diperlihatkan Tantri hingga bisa segera membantu Tantri.
"Lo gapapa kan?" tanya salah satu karyawan dari cabang perusahaan lain.
"Gapapa, makasih Mas," sahut Tantri cepat.
"Kalo ga enak badan mendingan ke klinik aja Mbak. Letaknya ga jauh dari sini. Kalo bingung tanya aja ke pos Security," kata karyawan lainnya.
"Iya. Saya bakal ke sana kalo udah ga kuat nanti," sahut Tantri sambil tersenyum.
"Ok deh," kata karyawan itu lalu kembali menatap ke depan dimana Zahira sedang memperkenalkan diri.
Tantri pun ikut menatap ke depan. Namun hanya sesaat. Detik kemudian Tantri nampak menundukkan kepalanya sambil mnggenggam ujung blousenya dengan erat karena merasa tak nyaman.
Kemudian Tantri mengedarkan pandangan dan melihat beberapa rekan kerjanya juga tengah menatap kearahnya dengan tatapan panik.
Sebelumnya Tantri dan beberapa rekan kerjanya memang hadir di kantor pusat JC atas perintah atasan mereka masing-masing. Saat tiba di kantor JC, Tantri dan rekannya harus duduk terpisah sesuai nomor urut yang diberikan panitya penyelenggara acara. Dan kini mereka nampak membeku di tempat setelah mengetahui Zahira adalah cucu tunggal pemilik perusahaan tempat mereka bekerja. Rupanya mereka takut dipecat dari perusahaan karena telah merundung Zahira selama ini.
Karena tak tahu harus merespon seperti apa, Tantri pun kembali menundukkan kepala. Saat itu lah kilasan peristiwa setahun lalu pun kembali melintas di hadapannya.
Setelah dinyatakan lulus dari Universitas dan menyandang gelar Sarjana, Tantri mencoba peruntungan dengan melamar pekerjaan di sebuah perusahaan yang sedang membuka lowongan pekerjaan. Tanpa Tantri sadari, perusahaan tersebut adalah salah satu cabang perusahaan JC. Di sana tak sengaja Tantri bertemu dengan Zahira yang saat itu sedang duduk di ruang tunggu sambil menunggu interview.
"Lo di sini juga Za?!" tanya Tantri kala itu dengan mimik wajah tak percaya.
"Iya. Kenapa, ga boleh?" tanya Zahira ketus.
__ADS_1
"Bukan ga boleh. Tapi Gue ngerasa dunia ini sempit banget ya. Kenapa dimana-mana selalu ketemu Lo. Dan ini, jangan bilang Lo juga lolos seleksi tahap pertama terus sekarang lagi nunggu interview," kata Tantri gusar.
"Syukur deh kalo Lo udah tau. Jadi Gue ga perlu capek-capek jelasin," sahut Zahira cuek.
Tantri pun berdecak sebal. Dengan kasar ia membanting tubuhnya tepat di kursi kosong di samping Zahira. Kemudian ia menarik lengan Zahira hingga gadis itu menoleh karena terkejut.
"Apaan sih. Lepasin ga?" protes Zahira.
"Jawab dulu pertanyaan Gue. Kenapa Lo terus ngikutin Gue. Apa Lo mau jadi bayangan abadi Gue Za?!" tanya Tantri sambil mengeratkan cekalannya di lengan Zahira.
"Ck, ga usah geer Lo Tan. Pas Gue ngelamar kerjaan di sini Gue ga tau kalo Lo juga ngelamar di sini. Kalo Lo tanya kenapa Gue selalu ada dimana pun Lo ada, ya mana Gue tau. Dan sekedar informasi, Gue bisa ada di sini karena ada orang dalem yang ngerekomendasiin Gue," kata Zahira dengan bangga.
"Sombong amat sih Lo, Gue ga percaya !. Mana mungkin orang cupu kaya Lo punya kenalan orang dalem. Biar pun perusahaan ini ga sehebat JC, tapi perusahaan ini terkenal bersih dan anti KKN," sahut Tantri cepat hingga membuat Zahira tersenyum tipis.
Dalam hati Zahira bangga karena perusahaan itu memiliki nama yang baik di depan umum.
Tantri hanya melotot kearah Zahira yang nampak melenggang santai memasuki ruang interview saat namanya disebut.
"Dasar cupu. Mimpi aja sana Lo!" gumam Tantri sambil mencibir.
Dan di luar dugaan Tantri, ternyata Zahira juga dinyatakan lulus seleksi penerimaan karyawan baru seperti dirinya. Yang membuat Tantri makin meradang adalah karena Zahira ditempatkan di divisi yang sama dengannya. Hal itu membuatnya terpaksa harus sering bertemu dan berinteraksi dengan Zahira untuk membahas pekerjaan.
Namun Tantri yang selalu memendam kebencian pada Zahira pun tak melewatkan kesempatan untuk 'mengerjai' Zahira. Bahkan Tantri juga mengajak beberapa rekannya untuk merundung Zahira.
Hampir tiap hari Zahira dipaksa melakukan pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab Tantri dan rekannya itu. Namun alih-alih mengeluh atau mengadukan Tantri pada atasan, Zahira memilih bungkam dan menjalani semuanya dengan tenang.
Hingga sehari sebelum kedatangan pemilik perusahaan JC, pimpinan perusahaan memanggil Tantri dan rekan-rekannya untuk menghadap. Saat itu mereka panik karena khawatir aksi mereka merundung Zahira diketahui pimpinan. Namun saat sang pimpinan meminta mereka hadir ke sebuah undangan bisnis mewakili perusahaan, Tantri dan rekan-rekannya pun nampak bahagia.
__ADS_1
"Ga nyangka Kita yang masih tergolong karyawan baru malah dipilih untuk mewakili perusahaan menghadiri undangan," kata salah satu rekan Tantri sambil tersenyum lebar.
"Mungkin karena pimpinan puas sama kinerja Kita selama ini. Bukannya cuma karyawan teladan ya yang dipilih untuk mewakili perusahaan," kata rekan Tantri lainnya.
"Tapi ini sebenernya bukan hak Kita lho. Kan yang ngerjain semua tugas Kita si Zahira. Itu artinya dia lah yang hebat dan pantas mewakili perusahaan untuk menghadiri undangan ini," kata rekan Tantri mengingatkan.
"Hush ... ga usah kenceng-kenceng bisa ga sih. Lo ga mau orang lain denger terus ngadu sama pimpinan kan?. Lagian kalo dipikir-pikir, si Cupu itu emang layak jadi kacung dan Kita yang jadi tuannya. Jadi ga usah berdebat lagi. Yang penting sekarang Kita bersiap supaya bisa tampil sebaik mungkin besok," kata Tantri tegas.
"Ok deh. Lo emang selalu bener Tan," sahut salah seorang rekan Tantri hingga membuat Tantri dan rekannya yang lain tertawa.
Namun tawa Tantri dan rekannya terhenti saat mereka melihat Zahira keluar menuju parkiran di halaman belakang.
"Eh itu kan si Cupu. Mau kemana dia jam segini ?. Jangan-jangan tugas yang Kita kasih ke dia belum selesai dikerjain," kata rekan Tantri kesal.
" Udah biarin aja. Karena Gue lagi happy, kerjaan yang tadi Gue kasih ke dia biar Gue handle sendiri. Kalian juga. Ambil kerjaan di meja si Cupu, terus lanjutin di meja masing-masing," kata Tantri.
Rekan Tantri pun saling menatap sejenak lalu mengangguk. Dengan enggan mereka pergi ke meja Zahira untuk mengambil map berisi tugas yang mereka titipkan tadi. Selanjutnya mereka mulai menyelesaikan pekerjaan mereka masing-masing hingga selesai.
Sore itu Tantri berhasil menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu karena sebagian telah diselesaikan Zahira. Saat ia menoleh ke meja Zahira ia pun terkejut karena tak mendapati Zahira di sana.
"Kemana sih si Cupu. Udah hampir jam pulang kerja belum balik juga. Ish, ngapain sih Gue mikirin dia. Ada baiknya dia pergi dan ga usah balik lagi ke kantor ini. Bikin sepet mata dan darah tinggi aja," gumam Tantri sambil melengos.
Dan lamunan Tantri pun buyar saat suara lantang Zahira di depan sana seolah sengaja diperdengarkan untuk mengabulkan harapan Tantri.
"Saya juga mohon maaf karena setelah ini Saya akan merepotkan para pimpinan direksi. Saya mohon sedikit waktunya agar para pimpinan direksi berkenan mengantar Saya berkeliling meninjau perusahaan yang akan Saya kunjungi nanti ...."
Demikian bunyi salah satu kalimat yang membuat Tantri dan rekan-rekannya gusar. Bagaimana tidak. Itu artinya Zahira akan mulai sibuk dan mungkin tak punya waktu lagi untuk bertemu Tantri dan rekan-rekannya di kantor cabang.
__ADS_1
\=\=\=\=\=