ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )

ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )
35. Kenapa Alina ?


__ADS_3

Saat perjalanan ke kantin Rumah Sakit, Arungga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Siska yang telah mengabari kedua orangtuanya tentang kecelakaan Alina. Siska tersenyum lalu menceritakan kronologi kejadian kecelakaan Alina.


Awalnya Arungga tak menyangka jika Alina dan Siska berteman setelah upaya perjodohan yang dilakukan sang mama berakhir. Walau sempat merasa tak enak hati pada Siska, namun melihat sikap santai gadis itu membuat Arungga tenang.


Cerita terus mengalir dari mulut Siska hingga mereka tiba di kantin dan duduk untuk menunggu pesanan diantar.


"Terus kenapa Tantri mendorong Alina ke tengah jalan, dia sengaja kan?" tanya Arungga.


"Keliatannya dia sakit hati sama Lo Ar. Soalnya dia bilang dia ngelakuin itu supaya Lo tau gimana sakitnya kehilangan," sahut Siska.


"Kehilangan apa sih maksudnya. Gue sama dia udah lama putus. Kalo dia mau sakit hati harusnya dari awal, kenapa setelah setahun lebih baru ngebahas itu. Dan kenapa harus Alina yang dia serang, kenapa bukan Gue?!" tanya Arungga gusar.


"Ya mana Gue tau. Gue sama Tantri juga udah lama ga berhubungan. Sejak lulus kuliah Kami lost kontack. Dan baru ketemu lagi tadi. Kalo Lo bingung, apalagi Gue," sahut Siska kesal.


Arungga terdiam sejenak sambil berpikir keras. Sesaat kemudian Arungga menegakkan kepalanya seolah tahu sesuatu. Siska yang melihat perubahan sikap Arungga pun tampak cemas.


"Lo ... gapapa kan Ar?" tanya Siska hati-hati.


"Insya Allah Gue gapapa Sis. Makasih ya. Eh, udahan kan yang mau dibeli. Kita balik yuk," ajak Arungga.


Siska pun mengangguk lalu kembali berjalan di samping Arungga.


\=\=\=\=\=


Arungga menemui Tantri di ruangan rawat inap. Ada seorang polisi yang berjaga di depan pintu kamar pertanda jika Tantri sudah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus kecelakaan Alina.


Awalnya polisi tak mengijinkan Arungga menemui Tantri. Tapi setelah Arungga menjelaskan hubungannya dengan Tantri, sang polisi pun memberi ijin.


Arungga nampak berdiri mengamati Tantri yang saat itu terbaring dengan mata terpejam. Arungga tahu jika saat itu Tantri telah siuman karena air mata yang mengalir deras di wajahnya. Untuk sejenak Arungga merasa iba melihat kondisi Tantri yang salah satu tangannya diborgol ke rangka tempat tidur besi itu. Namun saat teringat kekejaman yang Tantri lakukan pada Alina, amarah Arungga kembali menyala.


"Ga usah pura-pura pingsan !. Gue tau Lo udah siuman. Sekarang tolong jelasin, kenapa Lo nyakitin Alina. Apa salahnya?. Lo tau kan kalo dia sayang banget sama Lo?" tanya Arungga gusar.

__ADS_1


Tantri membuka matanya lalu menatap Arungga lekat. Entah mengapa saat itu Tantri merasa sangat malu. Ia juga menyesal telah mencelakai Alina hanya karena ingin Haikal bertanggung jawab pada bayinya. Padahal Tantri sadar, jika tak di penjara pun Haikal tak akan pernah mau menikahinya.


"Maafin Gue Ar, Gue khilaf. Gue termakan rayuan Haikal yang janji mau bertanggung jawab sama bayi Gue. Maaf ...," kata Tantri sambil terisak.


"Jadi itu bayi Haikal. Lo masih berhubungan sama dia dan tanpa menikah?. Terus apa hubungan Alina sama semua ini?" tanya Arungga tak mengerti.


"Iya Ar. Gue terpaksa menuruti kemauannya karena Gue hutang budi sama dia. Dan tentang Alina, itu ide Gue sendiri. Haikal hanya minta Gue membunuh Lo sebagai syarat supaya dia mau bertanggung jawab sama anak yang ada di rahim Gue," sahut Tantri sambil menundukkan kepala.


Arungga menghela nafas panjang mendengar ucapan Tantri. Arungga marah karena Alina dilibatkan dalam masalah Tantri dan Haikal. Ia juga tak mengerti mengapa Tantri harus terikat dengan Haikal. Padahal Tantri punya banyak kesempatan untuk kabur dari Haikal. Toh Tantri juga punya pekerjaaan hingga tak harus menggantungkan hidupnya pada Haikal. Seolah bisa membaca apa yang ada di benak Arungga, Tantri pun melanjutkan kalimatnya.


"Lo bener Ar. Harusnya ini jadi kesempatan buat Gue untuk kabur sejauh mungkin dari Haikal karena dia di penjara. Dalam hati Lo pasti ketawa sekarang. Dan parahnya, gara-gara kebodohan Gue, Gue justru kehilangan anak Gue dan terancam penjara karena udah mencelakai Alina. Maafin Gue Ar. Gue tau Lo pasti benci banget sama Gue sekarang," kata Tantri dengan air mata berderai.


"Gue emang marah banget bahkan ingin menghukum Lo Tan. Tapi ternyata Allah lebih dulu menghukum Lo. Mengambil anak dalam rahim Lo itu adalah hukuman terbaik yang harus Lo terima setelah semua kejahatan yang Lo lakuin. Saran Gue, saat Allah masih ngasih kesempatan, gunakan itu sebaik-baiknya," kata Arungga.


Dan setelah menyelesaikan kalimatnya Arungga pun keluar dari ruang rawat inap Tantri dengan perasaan ringan. Sedangkan Tantri hanya bisa menangis menyesali diri.


\=\=\=\=\=


Saat sedang diliputi kemarahan, Haikal dikejutkan dengan suara lantang salah satu sipir penjara yang memanggil namanya. Rupanya ada tamu untuknya.


Haikal pun mengikuti sang sipir sambil bertanya-tanya siapa yang menjenguknya. Haikal ingat ia sudah melarang keluarganya untuk datang menjenguk karena akan sia-sia saja nanti.


Haikal pun masuk ke ruangan dan terkejut melihat Arungga berdiri menyambutnya. Bahkan Haikal pun tak kuasa menghindari pukulan Arungga yang datang tiba-tiba.


"Jadi begini cara Lo memberi salam pertemuan Ar?" tanya Haikal setelah berhasil menjauh dari Arungga.


"Itu untuk Alina dan Tantri. Kalo Lo emang laki-laki, hadapi Gue sendirian Kal. Ga usah pake tangan orang lain untuk menyakiti Gue!" kata Arungga lantang sambil kembali menyudutkan Haikal lalu melayangkan tinjunya lagi.


Perkelahian sengit pun terjadi di dalam ruangan itu. Sipir penjara yang berdiri di balik pintu nampak pura-pura sibuk seolah tak mendengar kegaduhan di dalam sana.


"Dasar banci !. Lo make tangan perempuan lain untuk nyakitin perempuan yang katanya Lo sayangi. Dimana otak Lo Kal?!" tanya Arungga marah.

__ADS_1


"Terserah Lo percaya atau ga. Tapi Gue emang sayang sama Alina. Dan Gue ga pernah nyuruh Tantri menyakiti Alina. Meski pun Gue benci sama Lo, Alina adalah pengecualian," sahut Haikal sambil menjauhi Arungga yang terlihat siap untuk menyerangnya lagi.


"Berhenti mengirim orang untuk menyakiti Alina atau Lo tau akibatnya," kata Arungga lalu berjalan kearah pintu dan keluar dari ruangan itu sambil membanting pintu.


Haikal pun jatuh terduduk sambil menatap nanar kearah pintu. Kebenciannya kepada Arungga kian menggunung dan itu membuatnya menjerit marah.


\=\=\=\=\=


Arungga baru saja keluar dari apotik usai membeli obat luka saat ia berpapasan dengan Siska.


"Arungga !. Lo kenapa?" tanya Siska sambil mengamati Arungga dari atas kepala hingga ujung kaki.


"Gapapa Sis. Ini ... Gue jatoh tadi," sahut Arungga berbohong.


"Lo pikir Gue bodoh sampe ga bisa bedain luka karena jatoh sama luka karena berantem. Sini Gue obatin !" kata Siska sambil menarik tangan Arungga ke kursi taman di depan apotik.


Arungga tak bisa menolak. Ia pasrah saja saat Siska membantunya mengoleskan obat di wajahnya dan membantu membalut luka di tangannya. Entah mengapa Arungga merasa sangat nyaman saat berdekatan dengan Siska. Dan tanpa sadar Arungga terus mengamati Siska dengan lekat hingga gadis itu selesai membalut lukanya.


"Udah selesai. Kenapa Lo ceroboh banget sih Ar. Semua orang lagi sibuk ngurusin Alina yang dirawat di Rumah Sakit, eh Lo malah berantem. Kurang kerjaan banget sih Lo!" omel Siska sambil mengemasi sisa obat.


"Gue dari penjara nemuin Haikal. Gue sama dia berantem tadi," sahut Arungga sambil menatap perban yang membalut tangan kanannya.


Ucapan Arungga mengejutkan Siska karena yang ia tahu Haikal adalah sahabat Arungga.


"Haikal dipenjara, kok bisa ?" tanya Siska.


Arungga mengangguk kemudian menceritakan penyebab Haikal dipenjara termasuk hubungan Haikal dan Tantri. Siska nampak menggeleng tak percaya mendengar Haikal melibatkan Alina dalam masalah yang dibuatnya itu.


"Itu bukan cinta namanya. Kalo Haikal cinta sama Alina, dia pasti rela melakukan sesuatu supaya Alina bahagia dan bukan sebaliknya. Dasar psycho," kata Siska sambil mencibir.


Ucapan Siska membuat Arungga tersentak, kaget sekaligus khawatir.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2