
Arungga masuk ke Divisi Keuangan sesuai arahan yang ia terima. Bersamanya saat itu ada dua orang mahasiswa dari kampus lain yang juga berhasil lolos seleksi menjadi karyawan kerja paruh waktu. Saat itu lah Arungga baru tahu jika perusahaan JC membuka lowongan pekerjaan bukan hanya di kampusnya tapi juga di beberapa kampus lainnya.
Arungga pun berkenalan dengan kedua pria calon rekan kerjanya itu. Mereka adalah Arbi dan Dio.
Kemudian mereka bertiga menemui salah satu staf di Divisi Keuangan bernama Aji.
"Jadi siapa diantara Kalian yang bernama Arungga?" tanya Aji.
"Saya Pak," sahut Arungga.
Aji pun menoleh kearah Arungga dan mengamatinya sejenak. Setelahnya Aji mengangguk seolah mengerti sesuatu. Arungga, Arbi dan Dio saling menatap bingung melihat sikap Aji yang sedikit aneh itu.
"Baik lah. Sekarang mari Saya tunjukkan tempat duduk Kalian dan apa yang harus Kalian lakukan nanti," kata Aji sambil melangkah menuju tiga meja kosong yang ada di dalam ruangan.
Kemudian Aji memperkenalkan Arungga, Arbi dan Dio kepada semua karyawan di Divisi Keuangan. Setelahnya Aji pun memberitahu apa saja yang harus Arungga dan dua rekannya lakukan.
Hari-hari selanjutnya Arungga nampak menikmati perannya sebagai karyawan magang. Arungga mudah beradaptasi dengan semua karyawan termasuk mengikuti ritme kerja mereka. Arungga juga selalu menyelesaikan tugasnya tepat waktu hingga membuat Dio iri.
"Sejak awal Gue udah curiga kalo Arungga itu bukan sekedar mahasiswa magang biasa kaya Kita," kata Dio saat ia dan Arbi sedang duduk di kantin.
"Maksud Lo apa sih?" tanya Arbi tak mengerti.
"Lo ga lupa kan gimana sambutan Pak Aji waktu Kita bertiga pertama kali datang ke perusahaan ini?" tanya Dio.
"Iya, kenapa emangnya?" tanya Arbi.
"Waktu itu Pak Aji langsung nanya siapa yang namanya Arungga. Gue yakin Arungga pasti punya kenalan orang dalem makanya dia diperlakukan sedikit lebih istimewa daripada Kita," sahut Dio.
"Masuk akal sih. Tapi di luar itu emang kerjaan Arungga jauh lebih baik daripada Kita kok. Jadi wajar kalo semua orang lebih condong ke dia," kata Arbi santai.
__ADS_1
Mendengar ucapan Arbi yang sulit untuk diprovokasi membuat Dio marah. Ia memalingkan wajahnya kearah lain sambil mendengus kesal.
Diam-diam Dio mulai berencana mencelakai Arungga. Ia pun mencari cara untuk bisa menjebak Arungga agar Arungga terdepak dari JC. Dan nampaknya keberuntungan sedang berpihak padanya. Dio mendapatkan waktu yang tepat untuk menjalankan rencananya.
Sore itu seperti biasa para karyawan tengah bersiap-siap untuk pulang. Mereka nampak mulai merapikan meja masing-masing. Salah satu karyawan bernama Reza pun mengingatkan Arungga, Arbi dan Dio untuk membereskan pekerjaan mereka karena jam pulang hampir tiba.
"Dirapiin aja dulu, besok baru dilanjutin lagi. Kalo keuangan itu ga bisa dikerjain buru-buru, harus teliti biar ga salah. Satu angka aja yang salah bisa berdampak besar buat Kita," kata Reza.
"Iya Bang," sahut Arungga, Arbi dan Dio bersamaan.
"Tapi Arungga hampir selesai tuh Bang, kayanya tanggung kalo pulang sekarang. Keliatannya Arungga bakal nyelesain tugasnya hari ini juga deh. Iya kan Ar?" tanya Dio sambil menatap Arungga.
"Iya Di. Soalnya besok Gue ga bisa masuk kerja karena ada kuis sampe sore di kampus. Daripada kepikiran terus di kampus, lebih baik Gue selesain sekarang," sahut Arungga sambil tersenyum.
"Oh gitu. Ya gapapa juga sih kalo mau diselesaikan sekarang. Ntar kalo udah selesai taro aja di meja Gue atau mejanya Pak Aji ya Ar," pesan Reza.
"Siap Bang!" sahut Arungga sambil bersikap sempurna layaknya tentara hingga membuat Reza dan semua orang tertawa kecil.
"Iya Bang!" sahut Arungga, Arbi dan Dio bersamaan.
"Lo gapapa sendirian di sini Ar?" tanya Arbi sambil menatap Arungga lekat.
"Gapapa kok. Kan masih ada security di depan," sahut Arungga sambil tersenyum.
"Bukan gitu Ar. Gue denger kantor ini kalo malam tuh ada setannya. Hiiyyy ... serem," kata Arbi setengah berbisik.
"Masa sih, Lo kata siapa?" tanya Arungga tak percaya.
"Banyak yang ngomong kok Ar. Lo aja yang terlalu serius kerja jadi ga tau berita up date di sekitar Kita," sahut Arbi sambil mencibir.
__ADS_1
Kemudian mengalir lah cerita dari mulut Arbi tentang penampakan hantu di lift juga tentang benda atau alat tulis kantor yang bergerak sendiri tanpa disentuh.
Arungga nampak terkejut mendengar cerita Arbi. Sambil mendengarkan cerita Arbi, ingatan Arungga kembali melayang ke saat dimana ia sedang berstatus sebagai karyawan magang di kehidupan sebelumnya. Dan Arungga nampak termangu karena ia jelas mengingat tak ada satu pun peristiwa 'horror' saat itu.
Bulu kuduk Arungga pun meremang mendengar cerita Arbi. Apalagi Arbi juga menambahkan tentang penampakan hantu wanita yang berseliweran di ruangan, khususnya di Divisi Keuangan. Arbi mengatakan jika hantu itu adalah wujud lain dari arwah penasaran mantan karyawati di Divisi Keuangan yang meninggal karena bunuh diri.
Desas desus yang terdengar adalah wanita bernama Anya itu bunuh diri karena terlibat skandal dengan salah satu staf di Divisi Keuangan.
Ada yang menduga jika Anya terlibat dalam kasus penggelapan uang yang dilakukan oleh oknum staf Divisi Keuangan itu. Kemudian Anya memilih bunuh diri karena tak mau menanggung sendiri hukuman penjara yang mengintainya.
Kabar lainnya yang beredar mengatakan jika Anya menjalin hubungan rahasia dengan salah satu staf di Divisi Keuangan. Karena tak kuat menaggung malu setelah dimaki oleh istri sah sang oknum staf Divisi Keuangan di depan para karyawan JC, Anya pun memilih mengakhiri hidup. Ia ditemukan meninggal dunia di toilet dalam kondisi pergelangan tangan nyaris putus.
Gosip tak hanya berhenti di sana. Salah satu petugas cleaning servis yang menemukan jasad Anya pertama kali mengatakan jika gadis itu diduga sedang hamil muda. Dari organ int*mnya mengalir darah segar dalam jumlah banyak seperti wanita yang keguguran. Ada yang menduga Anya sengaja melakukan aborsi karena malu hamil di luar nikah dan bayinya tak memiliki ayah.
Polisi dan petugas forensik yang datang memastikan Anya meninggal karena kehabisan darah melihat darah yang menggenangi tubuhnya saat itu.
"Kejadiannya kapan Bi?. Kok Gue ga pernah denger," kata Arungga gusar.
"Kejadian persisnya kapan Gue juga ga tau Ar. Tapi banyak karyawan dari Divisi lain yang bilang begitu kok. Gue denger cerita ini dari salah satu karyawan yang pernah kerja lembur di sini. Kalo ga percaya tanya aja sama Dio. Dia juga denger waktu orang itu cerita di kantin. Iya kan Di?" tanya Arbi sambil menoleh kearah Dio.
"Ck, itu kan cuma gosip Bi. Ga usah dianggap serius lah. Lagian Arungga tuh pemberani, ga kaya Lo. Dia pasti ga terpengaruh sama cerita picisan kaya gitu," sahut Dio cepat.
"Iya sih. Arungga emang pemberani, tapi ga ada salahnya juga dikasih tau. Biar dia bisa berhati-hati," kata Arbi sambil tersenyum kecut.
"Tapi cerita Lo justru bikin Gue was-was nih Bi," sahut Arungga kesal namun membuat Arbi tertawa.
"Udah sore nih, balik yuk. Atau Lo mau nemenin Arungga di sini?" tanya Dio sambil menoleh kearah Arbi.
"Ga lah. Daripada lembur dan ketemu setan, lebih baik Gue cabut. Duluan ya Ar," sahut Arbi cepat hingga membuat Arungga dan Dio tertawa.
__ADS_1
Sesaat kemudian Dio dan Arbi nampak melenggang pergi meninggalkan Arungga seorang diri. Arungga pun hanya bisa menghela nafas panjang karena harus bekerja dibayangi penampakan hantu nanti.
\=\=\=\=\=