ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )

ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )
7. Dibully ...


__ADS_3

Sudah bisa diduga, Arungga lolos seleksi penerimaan karyawan magang di perusahaan JC. Tentu saja Arungga merasa sangat bahagia. Apalagi kali ia lolos tanpa beban karena tak harus bertanggung jawab pada Haikal seperti di masa lampau.


Usai mendengar pengumuman penerimaan karyawan, Arungga pun bergegas pulang. Ia nampak tergesa-gesa berjalan melewati gerbang kampus karena langit mulai gelap dan tampaknya akan segera turun hujan. Hari ini Arungga sengaja tak menggunakan motor milik sang ayah karena ingin menikmati perjalanan dengan kendaraan umum.


Tiba di halte, hujan pun turun dengan derasnya. Arungga menghela nafas lega karena berhasil tiba di halte tepat waktu hingga tubuhnya tak basah karena kehujanan.


Arungga pun mengedarkan pandangannya ke penjuru halte dan melihat banyak orang yang berteduh di halte itu selain dirinya. Dari tempatnya berdiri ia juga melihat Zahira yang nampak berdiri di pinggir halte sambil mendekap erat tasnya. Saat itu di sekitar Zahira terlihat empat orang mahasiswa yang menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.


Arungga mengerutkan keningnya karena tak mengerti apa yang dilakukan empat orang pria terhadap satu orang wanita itu. Apalagi mereka melakukannya di tempat umum dan jelas terlihat.


Perlahan Arungga bergeser untuk 'menguping' apa yang dibicarakan Zahira dengan empat mahasiswa itu.


" Gue ga bawa uang lebih sekarang. Ini cuma cukup untuk naik bis aja...," kata Zahira lirih.


" Ga mau tau. Lo udah ngerusakin kamera Gue, makanya Lo harus ganti. Lo tau kan berapa jumlah kerugian Gue itu. Dan Gue udah berbaik hati ngasih kesempatan sama Lo buat nyicil, makanya ga usah banyak alasan kalo Gue tagih sekarang...," kata salah satu mahasiswa bernama Daren.


" Tapi kan ga tiap hari juga Ren. Kalo dihitung dari sejak awal Gue setor uang sama Lo, kayanya itu udah lebih dari cukup buat bayar kerugian Lo...!" sahut Zahira cepat.


" Heh, darimana Lo tau kalo uang yang Lo kasih itu cukup. Emangnya Lo ngitung semuanya...?!" tanya Daren marah.


" Iya. Gue catet semua uang yang Lo rampas dari tangan Gue. Dan harusnya itu udah selesai dari Minggu kemaren...," sahut Zahira ketus.


Jawaban Zahira mengejutkan Daren dan ketiga temannya namun membuat Arungga tersenyum.


" Cerdik...," puji Arungga dalam hati.


Menyadari Zahira lebih cerdik dari yang mereka duga, Daren dan ketiga temannya nampak saling menatap sejenak. Kemudian keempatnya mengangguk seolah telah menyepakati sesuatu.


" Kalo emang Lo udah nyatet semuanya, coba kasih liat mana buktinya...," tantang teman Daren.


" Gu... Gue ga bawa sekarang. Besok Gue kasih liat buktinya...," sahut Zahira gugup sambil mendekap erat tasnya.


" Kok Lo gugup. Jangan-jangan Lo bohong ya...," kata salah seorang mahasiswa sambil merangsek maju mendekati Zahira.

__ADS_1


" Gue ga bohong...! " sahut Zahira.


" Gue ga percaya. Sini Gue cari sendiri buktinya...!" kata salah satu teman Daren sambil merebut tas Zahira.


Saling merebut tas pun terjadi. Dan anehnya tak satu pun orang di halte yang terusik dengan adegan itu seolah mereka terbiasa melihat pemandangan seperti itu. Arungga mengepalkan tangannya karena kesal melihat kezholiman di depan matanya itu. Saat ia berniat membantu, saat itu lah tas di tangan Zahira berhasil direbut dan sebagian isinya terburai keluar.


" Jangan...!" jerit Zahira.


Dan saat Zahira menjerit itu lah semua orang menoleh kearahnya seolah baru tersadar jika telah terjadi pembullyan di sana. Daren yang tak menyangka Zahira akan menjerit pun panik.


" Balikin Tom...!" perintah Daren lalu angkat kaki dari halte diikuti kedua temannya.


Mahasiswa bernama Tomi pun menuruti permintaan Daren. Ia segera mengembalikan tas milik Zahira lalu bergegas lari mengikuti Daren dan kedua temannya itu.


Zahira nampak menghela nafas lega. Ia bergegas meraih benda miliknya yang berhamburan di lantai halte. Zahira terkejut saat sebuah tangan ikut membantu meraih benda miliknya. Saat Zahira melihat siapa pemilik tangan itu, Zahira lebih terkejut lagi.


" Arungga...?!" kata Zahira sambil membulatkan matanya.


" Bukan urusan Lo...," sahut Zahira ketus.


" Tapi ini ga bener Za. Lo bisa laporin ini ke Dekan...," kata Arungga gusar.


" Ga perlu. Gue masih bisa menghandle semuanya sendiri...," sahut Zahira cuek.


" Tapi Za...," ucapan Arungga terputus saat Zahira lari menuju bis yang baru saja tiba.


Arungga hanya bisa menganga menatap Zahira yang nampak berdiri berdesakan diantara para penumpang bis. Gadis itu sempat melirik kearah Arungga saat bis mulai melaju meninggalkan halte.


" G*la !. Jadi selama ini Zahira dibully abis-abisan. Gue pikir Zahira cuma ngalamin pembullyan verbal di kampus. Ini parah banget, kasian Zahira...," batin Arungga sambil menatap bis yang ditumpangi Zahira dengan perasaan berkecamuk.


Tak lama kemudian bis yang ditunggu Arungga tiba. Arungga pun bergegas naik. Meski pun harus berdesakan bersama penumpang lain, Arungga terlihat santai. Sesekali ia tersenyum tipis karena bersyukur bisa kembali mengulang moment berharganya itu. Moment saat ia menjadi mahasiswa yang harus berjuang mengejar mimpinya.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Arungga pun tiba di rumah dalam kondisi basah kuyup. Beruntung tasnya terbuat dari bahan kedap air sehingga buku dan semua yang tersimpan di dalam tas tetap kering.


" Kehujanan ya Kak...?" sapa Alina saat membuka pintu.


" Udah tau nanya. Basa-basi aja Lo...," gerutu Arungga sambil mendelik kesal.


Ucapan Arungga tak membuat Alina marah. Gadis itu justru tertawa geli hingga membuat Arungga makin kesal.


" Kok ketawa sih. Ambilin handuk dong Na...!" kata Arungga gemas.


" Eh iya. Sorry Kak, kirain mau langsung ngacir ke kamar kaya biasanya...," sahut Alina sambil melangkah ke dalam rumah.


Ucapan Alina membuat Arungga termangu. Ia kembali mengingat kebiasaannya dulu yang membuat sang Mama menjerit kesal karena ia telah membuat lantai basah saat berlari ke kamar dalam keadaan basah kuyup.


" Kan bisa minta tolong ambilin handuk Ga !. Bukannya lari kaya anak kecil begini. Liat nih, lantai jadi basah dan ini bikin kerjaan Mama nambah tau. Padahal Mama lagi sibuk ngawasin plafond yang bocor. Lagian apa Kamu ga mikirin efeknya ya. Gimana kalo ada yang kepeleset gara-gara nginjek lantai basah kaya gini...!" omel sang Mama sambil mengepel lantai.


Arungga memejamkan mata mengingat betapa 'nakalnya' dia dulu. Arungga ingat persis bahwa ia sengaja melakukannya hanya untuk membuat sang Mama kesal. Dan itu berhasil. Namun sekarang Arungga tak ingin melakukannya lagi karena ia sudah berjanji ingin memperbaiki semuanya.


" Kakaaakk...!" panggil Alina lantang hingga membuat Arungga terkejut.


" Ya ampun Alina. Kakak ga tuli ya, kenapa harus jerit-jerit begitu sih...?!" kata Arungga sambil menutup telinganya.


" Apanya yang ga tuli. Di panggilin daritadi malah diem aja. Kakak tidur ya...?" tanya Alina sambil menyodorkan handuk di tangannya kearah Arungga.


" Sembarangan. Siapa yang tidur...," sahut Arungga sambil mengusap rambutnya dengan handuk.


" Kalo ga tidur ngapain merem di situ...?" tanya Alina dengan tatapan menyelidik hingga membuat Arungga tersentak.


" Sok tau Lo...!" sahut Arungga salah tingkah.


Setelah mengucapkan itu Arungga melangkah cepat ke kamar hingga membuat Alina kembali tertawa.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2