
Saat Arungga berniat kembali ke aula, saat itu lah rombongan pemilik JC tampak meninggalkan aula. Dari kejauhan Arungga bisa melihat beberapa body guard berpakaian serba hitam nampak berjaga di sekitar Jendral Catur dan Zahira.
Arungga pun kembali teringat kejadian beberapa tahun lalu.
Saat itu Zahira tampak berjalan cepat ke taman samping kampus untuk menemui Daren cs. Arungga yang sempat khawatir jika Zahira akan disakiti oleh Daren cs pun harus mengerutkan keningnya karena melihat keanehan yang terjadi. Saat Zahira kembali, gadis itu terlihat baik-baik saja. Justru keesokan harinya beredar rumor jika Daren cs dibuat bertekuk lutut oleh Zahira. Dan Arungga juga bisa menyaksikan sikap Daren cs saat bertemu Zahira. Mereka terlihat ketakutan hingga hanya bisa menundukkan kepala saat Zahira melintas di depan mereka.
"Begitu rupanya. Pasti body guard Zahira yang udah menghajar Daren cs sampe KO dan ga berani lagi mengganggu Zahira. Hebat. Serapat itu Zahira menyembunyikan semuanya sampe ga seorang pun yang menyadari siapa dia sebenarnya," gumam Arungga sambil tersenyum.
Setelah Jendral Catur dan rombongannya berlalu, Arungga bisa melihat Tantri yang berjalan seorang diri sambil menutupi wajahnya dengan tas. Nampaknya Tantri berusaha menyembunyikan diri di keramaian. Melihat kondisinya membuat Arungga iba. Ia pun menghampiri Tantri yang saat itu tengah berjalan menuju gerbang perusahaan.
"Tantri!" panggil Arungga.
Tantri pun berhenti melangkah lalu menoleh kearah suara yang memanggilnya. Namun saat melihat Arungga, ia terlihat gugup dan berusaha menghindar.
"Tunggu Tantri!" panggil Arungga sekali lagi.
"Ada apa Ar?" tanya Tantri tanpa menatap Arungga.
"Kamu di sini juga ?" tanya Arungga pura-pura tak tahu.
"Iya. Ternyata perusahaan tempat Aku kerja adalah cabang perusahaan JC. Dan hari ini Aku diutus perusahaan untuk menghadiri undangan penyambutan Pak Jendral," sahut Tantri cepat.
"Masa sih. Kok Aku baru tau kalo perusahaan tempat Kamu kerja adalah cabang JC," kata Arungga sambil mengamati wajah Tantri yang memar itu.
"Aku juga baru tau hari ini kok. Ya udah, sekarang Aku pulang ya. Aku capek mau istirahat," kata Tantri.
"Tunggu sebentar. Wajah Kamu kenapa, kok memar begini?" tanya Arungga sambil menyentuh pipi Tantri dengan jemari tangannya.
"Oh ini. Mmm ... ga sengaja jatuh kepeleset di toilet tadi," sahut Tantri sambil menepis tangan Arungga.
"Masa sih, tapi ini kaya memar bekas telapak tangan lho Sayang. Jangan-jangan Kamu dipukulin ya ?. Sayang, bilang sama Aku siapa yang udah berani mukulin Kamu kaya gini?!" kata Arungga sambil menatap Tantri lekat.
"Sssttt ... please ga usah panik ya. Aku gapapa kok. Sekarang Aku mau pulang, Aku malu diliatin orang," pinta Tantri.
__ADS_1
"Ok, Aku anter Kamu pulang ya," kata Arungga.
"Emangnya bisa, bukannya Kamu lagi sibuk sekarang?" tanya Tantri.
"Hari ini karyawan JC masuk kantor hanya untuk menyambut Pak Jendral. Setelah beliau pulang artinya Kami bebas. Sekarang Kamu tunggu di sini sebentar, Aku ambil motor dulu ya," kata Arungga.
Tantri pun mengangguk karena tak punya pilihan. Selain itu ia tak ingin menjadi pusat perhatian di luar sana karena wajahnya yang memar dan bengkak itu.
\=\=\=\=\=
Pagi itu di cabang perusahaan JC.
Tantri dan beberapa rekannya yang kerap merundung Zahira dipanggil ke ruang Manager HRD. Mereka nampak pasrah karena sudah menduga apa yang akan terjadi.
" Selamat pagi Pak," kata Tantri dari ambang pintu.
"Selamat pagi. Silakan duduk Tantri," kata manager HRD sambil menunjuk kearah sofa.
"Baik Pak, makasih," sahut Tantri sambil tersenyum getir.
"Kalian pasti sudah tau apa sebabnya Saya mengumpulkan Kalian di sini kan," kata manager HRD membuka pembicaraan.
"Iya Pak," sahut Tantri lirih.
"Jadi, siapa yang bisa menjelaskan alasan Kalian merundung Bu Zahira. Atau jangan-jangan tanpa Saya tau sebenernya Kalian juga sudah merundung karyawan lainnya?" tanya manager HRD sambil menatap Tantri dan rekan-rekannya bergantian.
Untuk sejenak semua terdiam. Hingga salah seorang rekan Tantri pun angkat bicara dan menjelaskan semuanya.
"Tantri yang mulai semua Pak. Dia menghasut Kami untuk merundung Za ... ehm, maksud Saya Bu Zahira. Awalnya Kami juga ga mau. Tapi melihat bagaimana mengesalkannya Bu Zahira saat itu, Kami terpancing dan ikut merundung Beliau," kata rekan Tantri.
"Mengesalkan bagaimana maksudmu?" tanya manager HRD tak mengerti.
"Waktu Tantri minta tolong untuk mengajarinya mengerjakan tugas yang diberikan Bu Intan, eh Bu Zahira menolak. Dia malah mengucapkan kalimat yang bikin Kami kesal," sahut rekan Tantri itu sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
"Memangnya kalimat apa yang diucapkan Bu Zahira saat itu?" tanya sang manager.
"Bu Zahira bilang Kami beruntung bisa kerja di sini. Perusahaan sengaja ngasih kesempatan kepada Kami karena ingin Kami bisa memperbaiki perekonomian Kami. Walau itu betul, tapi Kami tersinggung Pak. Apalagi Bu Zahira menolak mengajari Tantri waktu itu," kata rekan Tantri lainnya.
"Memangnya saat itu Kamu benar-benar ga bisa mengerjakan tugas yang diberikan Bu Intan, Tantri ?. Harusnya kalo Kamu ga ngerti, Kamu bisa tanya langsung sama Bu Intan dan bukan maksa temen Kamu mengerjakan tugas itu!" kata sang manager kesal.
"Saya ... Saya cuma akting Pak. Waktu itu Saya sengaja menjebak Bu Zahira agar terlihat buruk di mata teman-teman," sahut Tantri sambil menundukkan kepala.
Jawaban Tantri mengejutkan rekan-rekannya. Mereka sadar telah dimanfaatkan oleh Tantri untuk menganiaya Zahira dulu.
"Saya ga mengerti kenapa Kamu membenci Bu Zahira sedemikian rupa. Tapi Saya salut sama Kamu Tantri. Ternyata Kamu berhasil bikin Bu Zahira teraniaya di perusahaannya sendiri !" kata Manager HRD lantang sambil menggebrak meja.
Tantri dan rekan-rekannya tersentak kaget lalu kembali menundukkan kepala karena takut melihat kemarahan sang manager.
"Sekarang Kamu juga puas kan ngeliat temen-temen Kamu ini ikut nemenin Kamu hengkang dari perusahaan ini?!" tanya manager HRD sinis.
Ucapan sang manager membuat rekan-rekan Tantri kembali terkejut. Meski sudah menduga sejak awal jika mereka akan mendapat sanksi pemecatan, namun saat mendengarnya langsung dari Manager HRD membuat mereka benar-benar shock.
Sementara itu Tantri nampak kian menundukkan kepalanya karena malu sekaligus takut. Tantri malu karena telah membully orang yang salah. Tantri juga takut akan kembali dihajar oleh rekan-rekannya yang kesal karena ikut dipecat secara tak terhormat itu.
Dan untuk selanjutnya Tantri tak lagi bisa mencerna ucapan manager HRD yang bicara panjang lebar untuk menasehati dia dan rekan-rekannya. Selain didera rasa takut yang amat sangat, saat itu Tantri merasa kepalanya sangat sakit. Pandangan matanya juga berkunang-kunang. Dan detik berikutnya Tantri pun jatuh tak sadarkan diri di lantai.
Manager HRD nampak menggelengkan kepala melihat Tantri yang terjatuh di lantai. Karena mengira Tantri sedang berakting, manager HRD dan rekan-rekan Tantri hanya diam sambil menatap Tantri yang terkapar di lantai itu. Namun setelah menunggu beberapa saat Tantri tak juga bangkit, mereka pun panik.
Manager HRD segera memanggil security dan meminta mereka membawa Tantri ke klinik.
Setelah tubuh Tantri digotong keluar oleh dua orang security, Manager HRD meminta rekan Tantri berkemas.
"Jangan Kalian kira setelah Tantri pingsan Kami akan mengampuni Kalian. Sekarang Kalian kemasi barang Kalian dan tunggu di loby. Staf Saya akan menemui Kalian di sana untuk memberikan pesangon sekaligus surat pemecatan," kata manager HRD datar.
"Apa Kami ga dikasih kesempatan sekali lagi Pak?" tanya salah seorang rekan Tantri penuh harap.
"Sikap Kalian adalah contoh yang buruk. Saya ga ingin perusahaan ini dikotori oleh orang-orang seperti Kalian. Sekarang silakan keluar, jangan lupa tutup pintunya," kata manager HRD dengan tegas.
__ADS_1
Rekan-rekan Tantri saling menatap sejenak kemudian mengangguk. Mereka melangkah gontai meninggalkan ruangan itu. Kini mereka menyesal karena telah salah memilih teman. Mereka pikir Tantri adalah orang baik. Ternyata justru Tantri lah yang membawa mereka ke jurang kehancuran.
\=\=\=\=\=