
Arungga kembali menemui Tantri setelah sepuluh menit sembunyi. Saat tak mendapati Haikal di sana, ia pun pura-pura bertanya.
"Mana Haikal?" tanya Arungga.
"Pulang. Katanya ada urusan penting," sahut Tantri dengan enggan.
"Tumben. Biasanya dia betah nongkrong di sini. Kamu ga ngomong sesuatu sama dia kan Sayang?" tanya Arungga sambil menatap Tantri lekat.
"Jadi Kamu nuduh Aku ngusir Haikal ?" tanya Tantri dengan mimik wajah tak suka.
"Ga kok. Aku cuma bingung aja kenapa Haikal mendadak pergi tanpa pamit dulu sama Aku," sahut Arungga cepat.
Ucapan Arungga membuat Tantri tersinggung. Ia berdiri sambil menggebrak meja. Arungga hanya membisu sambil menatap Tantri dengan tatapan tak terbaca.
"Ucapan Kamu barusan menyiratkan tuduhan tau ga!. Ok gapapa. Daripada duduk di sini sama orang yang ga percaya sama Aku, lebih baik Aku pulang," kata Tantri lalu melenggang pergi meninggalkan Arungga yang hanya membisu sambil menatap kepergiannya.
Tiba di luar kafe Tantri pun menoleh ke belakang. Ia mendengus kecewa karena ternyata Arungga tak mengejarnya. Awalnya Tantri mengira Arungga akan panik melihatnya pergi lalu menyusul untuk menghiburnya.
"Dasar cowok ga peka!. Masa dia ga nyusul atau sekedar mencegah kepergian Gue sih. Terus gimana nih. Masa Gue naik angkutan umum gara-gara ga bawa uang lebih buat naik Taxi," gerutu Tantri sambil mengerucutkan bibirnya.
Tantri pun memilih bertahan di depan kafe untuk beberapa waktu. Ia berharap Arungga melihatnya lalu mengantarnya pulang. Namun hampir satu jam menunggu, Arungga tak juga menampakkan batang hidungnya. Dengan terpaksa Tantri pun berjalan kaki menyusuri trotoar agar bisa tiba di halte tempat angkot menaik turunkan penumpang.
Arungga yang masih duduk di dalam kafe sambil menunggu Tantri pergi lebih dulu pun nampak tertawa kecil. Saat Tantri tak lagi terlihat, Arungga pun bergegas keluar lalu melajukan motornya meninggalkan kafe North.
\=\=\=\=\=
Di kantor JC.
Dio nampak tersenyum diam-diam karena berhasil mengotak-atik laporan milik Arungga yang diletakkan di atas meja Aji. Ia berharap Arungga didepak dari kantor JC karena memberikan laporan yang tak sesuai. Apalagi kabarnya laporan itu akan dibawa oleh Aji untuk meeting dengan sang atasan nanti.
Sebelumnya Dio sengaja datang lebih awal pagi tadi karena bermaksud tukar shift. Dio mengatakan jika dua hari ke depan ia harus mengerjakan tugas dari dosen. Karena khawatir tak bisa memenuhi kewajibannya kepada JC dua hari ke depan, maka Dio berinisiatif masuk lebih awal.
Tiba di ruangan yang masih sepi, Dio melihat map berisi laporan milik Arungga ada di atas meja Aji. Dengan mengendap-endap Dio mengambil map milik Arungga lalu menukar beberapa lembar laporan milik Arungga dengan kertas yang dibawanya. Setelahnya Dio keluar dari ruangan menuju toilet. Di sana ia menghancurkan lembar kertas milik Arungga lalu membuangnya ke tempat sampah.
__ADS_1
Dio kembali ke ruangan lima menit kemudian lalu duduk di balik meja kerjanya. Saat itu beberapa karyawan lain telah datang. Arbi yang merupakan teman sekampus Dio pun datang tak lama kemudian. Keduanya saling menyapa sambil tersenyum lalu mulai melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
Aji yang memang biasa datang paling akhir diantara semua karyawan Divisi Keuangan, nampak bergegas melangkah mendekati Reza.
"Laporan yang Saya minta kemarin mana Za?" tanya Aji.
"Ada di atas meja Bapak. Kayanya Arungga yang naro langsung di sana," sahut Reza sambil menunjuk meja kerja Aji.
"Oh gitu. Makasih ya Za," kata Aji sambil menghampiri meja kerjanya.
"Sama-sama Pak," sahut Reza sambil tersenyum.
Dari tempat duduknya Dio bisa melihat Aji mengamati isi laporan Arungga sekilas. Setelahnya Aji pergi ke ruangan Manager Keuangan sambil membawa berkas laporan yang dibuat Arungga.
Beberapa waktu pun berlalu. Semua karyawan nampak sibuk bekerja. Namun Dio justru terlihat gelisah. Berkali-kali Dio menoleh kearah pintu berharap Aji kembali sambil meluapkan kemarahannya. Namun sayang keinginan Dio tak terwujud.
Menjelamg jam istirahat Aji pun kembali dengan wajah yang tenang seolah tak terjadi apa pun. Melihat hal itu membuat Dio bingung.
Namun tak lama kemudian Aji bertanya pada Reza yang kebetulan melintas di depan mejanya.
"Arungga jadi ijin ga masuk hari ini ya Za?" tanya Aji.
" Iya. Kenapa Pak, apa ada masalah sama laporannya?" tanya Reza yang secara tak langsung juga mewakili pertanyaan Dio.
"Oh ga ada. Laporannya bagus. Bahkan Manager Keuangan minta ketemu langsung sama Arungga besok," sahut Aji sambil tersenyum.
"Arungga pasti seneng denger ini Pak," kata Reza yang disambut anggukan kepala Aji.
"Pasti. Bahkan Manager Keuangan penasaran sama cara Arungga menyelesaikan laporannya yang terbilang sulit itu," sahut Aji sambil tersenyum.
Mendengar Arungga mendapat pujian dari Manager Keuangan membuat Dio meradang. Ia tak mengerti mengapa ia gagal menjatuhkan Arungga. Padahal seingatnya ia telah mengganti lembaran kertas laporan Arungga tadi.
Tiba-tiba suara Aji membuyarkan lamunan Dio. Apalagi saat itu Aji sudah berdiri di depan meja Dio sambil menatapnya lekat.
__ADS_1
"Apa perkerjaanmu sudah selesai Dio?" tanya Aji.
"Se-sebentar lagi Pak," sahut Dio gugup.
"Kenapa lama sekali sih. Ini hari ke tiga Kamu mengerjakannya lho. Kamu bisa contoh Arungga kan. Dia bisa mengerjakan pekerjaan lebih cepat karena fokus sama tugasnya. Jangan kebanyakan melamun. Percuma !. Angka-angka itu ga akan berubah kalo Kamu ga menghitungnya," sindir Aji sambil berlalu.
Ucapan Aji membuat Dio merasa tertampar, sakit sekaligus malu. Beruntung saat itu jam istirahat telah tiba hingga sebagian karyawsn sudah keluar dari ruangan dan tak mendengar ucapan Aji. Dio menatap punggung Aji dengan tatapan penuh kebencian. Namun aksinya terhenti saat Arbi datang mendekat.
"Kenapa Di, disemprot Pak Aji ya?" tanya Arbi.
"Iya. Gue ga masalah kalo ditegur karena lelet. Tapi Gue ga suka dibandingin sama Arungga. Dia kan sama kaya Kita, sama-sama magang di sini. Kenapa Pak Aji cuma ngeliat kelebihan dia tapi ga mau menghargai apa yang udah Kita kerjain," kata Dio berapi-api.
"Tapi Pak Aji emang bener Di, Lo yang kelewatan. Kerjaan ini kan gampang, masa Lo bisa ngaret setorinnya sih. Ini kaya bukan Lo tau ga Di!. Padahal kan Lo juga jago ngerjain ini di kampus. Mungkin gara-gara Lo sibuk mikirin cara buat ngejatohin Arungga makanya Lo jadi ga fokus sama tugas Lo," kata Arbi sambil melirik kearah laporan Dio.
Ucapan Arbi membuat Dio tersentak kaget seolah baru tersadar. Sejujurnya Dio juga tak mengerti mengapa ia kesulitan mengerjakan tugasnya itu. Padahal ia adalah salah satu mahasiswa terpandai di angkatannya.
Dio pun teringat dengan keanehan yang ia alami. Meski pun sudah mengecek ulang pekerjaannya berkali-kali, namun selalu ada angka yang salah dan itu membuat Dio berkali-kali merevisi laporannya.
Kemudian Dio menatap Arbi yang saat itu tengah mengamati hasil kerjanya.
"Gimana Bi?" tanya Dio cemas.
"Udah beres kok. Kenapa ga langsung Lo serahin aja ke Pak Aji biar ga kena semprot kaya tadi?" tanya Arbi tak mengerti.
" Lo yakin Bi?" tanya Dio tak percaya melihat Arbi meletakkan laporan miliknya di atas meja kerja Aji.
"Iya. Yuk Kita ke kantin sekarang," ajak Arbi sambil menarik lengan Dio.
Dio pun terpaksa mengikuti Arbi. Namun sebelum benar-benar keluar dari ruangan, Dio sempat menoleh kearah meja kerja Aji dan terkejut. Saat itu Dio melihat sosok bayangan melintas dekat meja Aji tepat di atas kertas laporan miliknya.
"Jangan-jangan rumor tentang hantu penunggu Divisi Keuangan emang beneran ada. Dan hantu itu ga suka sama karyawan yang jahat kaya Gue. Hiiiyyy ... kalo gini caranya Gue kapok deh. Ga lagi-lagi Gue bikin ulah kaya tadi," batin Dio sambil bergidik lalu mempercepat langkahnya menuju kantin.
\=\=\=\=\=
__ADS_1