ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )

ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )
25. Jadi Manager


__ADS_3

Setelah melihat Zahira terdiam beberapa saat, giliran Arungga yang bertanya.


"Lo sendiri, ngapain di sini Za?" tanya Arungga.


"Tadinya sih ada janji mau ketemuan sama orang, tapi mendadak dia bilang ga bisa datang karena lagi ada urusan. Jadi sekarang Gue mau pulang aja," sahut Zahira.


"Oh gitu. Sayang banget ya, padahal Gue mau ngajak Lo nonton. Eh, sorry. Boleh kan Gue ngomong gitu ?. Soalnya sekarang kan Lo atasan Gue?" tanya Arungga tak enak hati.


Pertanyaan Arungga membuat Zahira tersenyum. Lagi-lagi ia harus menelan kecewa karena tak bisa memenuhi keinginan Arungga.


"Sorry Ar, Gue ga bisa," kata Zahira akhirnya.


Arungga pun mengangguk sambil tersenyum. Ia mengerti jika sekarang Zahira terikat berbagai macam peraturan karena jabatannya itu.


"Iya Gue ngerti kok. Tapi Gue harap Lo ga salah paham sama Gue Za. Gue ngajak Lo nonton bukan karena pengen ngejar Lo ya. Niat Gue cuma satu, mau memperbaiki hubungan Kita yang kacau itu," kata Arungga.


"Kacau?" ulang Zahira tak mengerti.


"Iya kacau. Kita ini kan ga bisa dibilang teman. Walau satu kampus tapi Kita jarang bicara. Sekalinya ngobrol pasti Gue marah-marah dan Lo selalu judes. Itu karena Kita cuma ngebahas hal yang sama yaitu Tantri. Dan itu terus terjadi sampe akhirnya Gue tau kalo Lo adalah pewaris JC, tempat Gue nyari nafkah," sahut Arungga sambil nyengir namun disambut tawa renyah Zahira.


"Lo bener Ar. Hubungan Kita bisa dibilang unik ya. Bukan temen tapi ngobrol. Bukan musuh tapi kalo ketemu pasti berantem. Aneh," kata Zahira di sela tawanya.


"Betul. Mungkin lain kali Kita punya kesempatan buat ngobrol lebih banyak ya Za. Makasih untuk semuanya dan maaf karena udah ngerepotin Lo dengan urusan Tantri selama ini," kata Arungga dengan tulus.


"Sama-sama. Gue juga minta maaf karena udah bikin Lo kesel tiap kali Kita ketemu," sahut Zahira hingga membuat Arungga tertawa.


"Kita emang konyol banget ya Za. Kalo gitu Gue duluan ya, ntar filmnya keburu mulai nih," pamit Arungga.


"Iya Ar," sahut Zahira sambil tersenyum getir.


Kemudian Arungga pun bergegas melangkah masuk ke dalam mall karena bioskop yang ia maksud ada di dalam mall. Zahira hanya bisa menghela nafas panjang sambil menatap Arungga yang kian menjauh.


"Kita kemana sekarang Mbak?" tanya body guard Zahira saat melihat Zahira membalikkan tubuhnya.


"Pulang Pak," sahut Zahira cepat.

__ADS_1


Body guard Zahira pun mengangguk lalu kembali menjalankan tugasnya mengawal Zahira.


\=\=\=\=\=


Beberapa bulan kemudian Arungga terkejut saat menerima surat pengangkatan resmi dirinya menjadi manager di divisi keuangan. Saat itu Arungga bingung karena merasa tak layak menerima jabatan itu. Arungga pun bergegas menemui Zahira untuk menanyakan keputusannya itu.


"Selamat pagi Bu," sapa Arungga dengan santun.


"Selamat pagi. Ada apa Pak Arungga?" tanya Zahira sambil menatap Arungga.


" Maaf Bu, bisa Saya minta waktu Ibu sebentar?" tanya Arungga.


"Tentu. Silakan duduk," kata Zahira sambil menunjuk kursi di hadapannya.


Arungga mengangguk lalu duduk di hadapan Zahira. Setelahnya Arungga mulai mempertanyakan keputusan Zahira berkaitan dengan pengangkatannya menjadi manager keuangan.


"Kenapa Pak Arungga ga percaya. Pak Arungga sedang meragukan kemampuan Saya menilai kinerja karyawan Saya?" tanya Zahira penuh penekanan.


Arungga menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan teman sekaligus atasannya itu.


Ucapan Arungga membuat Zahira tersenyum. Dalam hati ia bangga dengan sikap Arungga yang sama sekali tak ingin memanfaatkan pertemanan mereka untuk mendongkrak karirnya.


"Siapa?" tanya Zahira kemudian.


"Pak Aji," sahut Arungga cepat.


"Pak Aji memang handal tapi sayang dia ga memenuhi syarat. Saya ga bisa mempercayakan jabatan penting ini sama orang yang ga disiplin seperti dia. Itu sebabnya kenapa Saya memilih Kamu," kata Zahira sambil menggelengkan kepala.


"Maaf, maksudnya gimana ya Bu?" tanya Arungga tak mengerti.


"Kamu tau kan kalo Pak Aji itu selalu datang terlambat. Saya aja bingung kenapa bisa begitu, padahal Saya bisa datang lebih cepat dari Beliau. Dan Pak Aji melakukannya hampir setiap hari. Andai Saya menjadikannya Manager Keuangan, Saya pasti bakal kerepotan. Karena bisa aja Pak Aji belum datang ke kantor saat Saya memerlukannya nanti. Saya ga mungkin milih orang seperti itu untuk jadi Manager kan. Dan satu lagi. Pak Aji akan jadi contoh yang buruk buat karyawan lain karena kebiasaannya itu. Sekedar info, Saya ga mungkin memecat Pak Aji karena hubungan Beliau dengan Kakek Saya di masa lalu. Saya menghargai itu, makanya Saya tetap memberinya kesempatan bekerja di perusahaan ini sampe Pak Aji sendiri yang lelah dan mengundurkan diri," kata Zahira panjang lebar.


Arungga nampak termangu mendengar penjelasan Zahira.


"Tapi Saya ga enak sama Pak Aji Bu," kata Arungga kemudian.

__ADS_1


"Kamu tenang aja. Pak Aji ga bakal marah. Kalo Kamu ga percaya, Kamu bisa tanya langsung sama Pak Aji," saran Zahira.


Arungga pun mengiyakan saran Zahira. Setelahnya ia pamit untuk menemui Aji dan mengajaknya bicara empat mata di taman.


Ternyata apa yang diucapkan Zahira terbukti. Aji memang mengetahui keputusan Zahira itu dan ia terlihat santai. Bahkan Aji mengucapkan selamat kepada Arungga dan berharap Arungga bisa memimpin divisi keuangan lebih baik dari manager sebelumnya.


"Makasih Pak. Saya jadi lebih tenang sekarang. Insya Allah Saya akan memberikan yang terbaik untuk divisi Kita agar bisa menjadi divisi terbaik di kantor ini," kata Arungga.


"Aamiin. Saya dukung Kamu Arungga. Eh, maaf. Sekarang Saya harus panggil Pak ya, kan Kamu atasan Saya sekarang," gurau Aji sambil mengerjapkan mata hingga membuat Arungga tertawa.


"Ga perlu terlalu formal gitu Pak. Bapak masih boleh panggil Saya pake nama aja kaya biasanya," kata Arungga malu-malu.


"Baik lah. Mungkin kalo di luar jam kerja dan ga banyak karyawan JC ya," sahut Aji hingga membuat Arungga tersenyum.


"Maaf Pak Aji. Kalo Saya boleh tau, apa sih sebabnya Pak Aji selalu datang terlambat ke kantor?" tanya Arungga penasaran.


"Saya ngurus Istri Saya yang sakit Ar. Kalo Anak Saya udah datang, baru Saya bisa berangkat ke kantor. Saya kadang ga enak juga sama karyawan lain. Tapi waktu Saya ngajuin pengunduran diri, Pak Jendral marah. Beliau bilang Saya harus tetap kerja di kantor ini. Karena Saya memang perlu uang banyak untuk biaya pengobatan Istri Saya, mau ga mau Saya bertahan. Makanya waktu Bu Zahira bilang akan memilih Kamu jadi Manager Keuangan, Saya langsung setuju. Menurut Saya Kamu layak untuk jabatan itu," kata Aji sambil tersenyum hingga membuat Arungga ikut tersenyum.


\=\=\=\=\=


Arungga berhenti melangkah dan mengerutkan keningnya saat melihat keramaian di depan loby perusahaan. Arungga pun bertanya pada security yang berjaga di parkiran.


"Ada apa di loby Pak, kok rame banget?" tanya Arungga sambil menutup pintu mobil.


"Hari ini mulai dibuka lowongan pekerjaan Pak. Nah mereka adalah calon pelamar yang datang padahal pendaftaran baru dibuka jam sembilan nanti," sahut security.


"Oh gitu. Berapa hari rencananya pendaftaran dibuka?" tanya Arungga.


"Cuma satu hari Pak. Mungkin karena karyawan yang dibutuhkan ga banyak. Kalo Bapak mau masuk ke dalam, Saya bisa antar lewat pintu samping," kata security menawarkan.


"Ga perlu, Saya bisa sendiri kok," sahut Arungga sambil tersenyum.


Security pun mengangguk lalu melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Arungga melangkah menuju samping gedung. Saat itu tak sengaja Arungga melihat Haikal ada diantara para calon pelamar kerja di loby. Arungga tersenyum karena merasa moment yang ia tunggu akan segera tiba.


"Welcome to the jungle Haikal," gumam Arungga sambil tersenyum penuh makna.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2