ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )

ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )
28. Hampir Mendekat


__ADS_3

Beberapa detik setelah menghabiskan air minum di gelas Arungga, Siska pun tersadar. Ia nampak malu dan salah tingkah karena telah melakukan hal itu.


"Arungga ... sorry. Gue ga sengaja. Mmm ... ini ... biar Gue pesenin lagi minuman Lo ya," kata Siska gugup.


Melihat kegugupan Siska membuat Arungga tak kuasa lagi menahan tawa. Dan akhirnya Arungga pun tertawa. Sangat keras hingga menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka.


Siska yang tak suka ditertawai dan tak ingin jadi pusat perhatian pun sigap menutup mulut Arungga dengan telapak tangannya. Dari jarak sedekat itu Siska dan Arungga bisa saling menatap lebih intens.


Arungga terpaku menatap wajah Siska. Entah mengapa jantungnya berdetak lebih cepat saat ia bisa mengamati wajah Siska dari dekat. Arungga suka melihat kedua mata Siska yang berbinar tulus, bentuk hidung dan bibirnya, juga kulit putih yang merona kemerahan itu. Arungga juga suka aroma parfum yang menguar dari tubuh Siska, karena terasa lembut dan menenangkan.


Siska nampak menikmati moment kedekatannya dengan Arungga. Ia menyudahi aksinya saat menyadari tatapan mata Arungga terhunus padanya.


"Maaf," kata Siska lirih.


Arungga mengangguk dan berdehem untuk menetralisir rasa gugupnya. Untuk sejenak Arungga dan Siska terdiam. Siska yang mulai merasa tak nyaman pun akhirnya pamit undur diri.


"Kalo gitu Gue duluan ya Ar. Makasih untuk makan sorenya," kata Siska.


"Biar Gue anter ya Sis," kata Arungga.


"Ga usah. Gue masih ada urusan lain Ar," tolak Siska.


"Oh gitu. Kita turun bareng aja ya. Gue juga ga mau sendirian di sini," kata Arungga.


"Ok," sahut Siska cepat sambil mengangguk.


Saat Siska dan Arungga bangkit dari duduknya, Zahira dan Fauzan juga tampak melangkah meninggalkan tempat itu. Keduanya bahkan telah tiba di depan pintu lift.


"Kayanya Zahira lagi buru-buru banget ya. Jangan-jangan dia juga ngeliat Kita tadi Ar," kata Siska.


"Mungkin," sahut Arungga asal.


"Apa itu ga berpengaruh buat kerjaan Lo Ar. Bisa aja Zahira marah ngeliat Lo jalan sama Gue terus Lo dipecat. Kan Kita dan hampir semua mahasiswa di kampus dulu tau kalo Zahira itu ... suka sama Lo," kata Siska ragu lalu menoleh kearah Arungga.


Arungga menggelengkan kepala mendengar ucapan Siska. Ia heran mengapa Siska bisa berpikir seperti itu.


"Zahira itu orang yang ga suka mencampur adukan urusan pribadi sama kerjaan Sis. Jadi Lo ga perlu khawatir," kata Arungga.


"Syukur deh kalo gitu," sahut Siska sambil tersenyum lalu menghela nafas panjang.


"Kenapa Gue baru tau kalo Lo kaya gini ya Sis," kata Arungga sambil menatap Siska lekat.


"Eh, maksud Lo gimana ya?" tanya Siska tak mengerti.

__ADS_1


"Gapapa. Ayo masuk," ajak Arungga saat pintu lift terbuka.


Siska pun mengangguk lalu masuk ke dalam lift.


\=\=\=\=\=


Saat Arungga tiba di rumah, ia disambut sang Mama dengan pertanyaan beruntun. Arungga nampak tenang namun justru Arman yang terlihat tak sabar.


"Biar Arungga bersih-bersih dulu Ma. Baru pulang udah diberondong pertanyaan kaya gitu kan ga enak," kata Arman mengingatkan.


"Iya deh. Tapi mandinya cepetan ya Ga. Mama udah ga sabar denger cerita Kamu," kata Veni.


"Iya. Ngomong-ngomong Alina kemana Ma?" tanya Arungga sambil menatap ke penjuru ruangan.


"Lagi keluar sebentar. Katanya sih mau ketemu sama temennya," sahut Veni.


"Siapa Ma, cowok atau cewek?" tanya Arungga penasaran.


"Mama juga ga tau. Kenapa Kamu malah jadi nanyain Alina sih Ga. Buruan mandi. Mama tunggu di sini. Cepetan, ga pake lama!" kata Veni kesal namun membuat Arungga tertawa.


Kemudian Arungga masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Veni pun menatap punggung anak sulungnya sambil tersenyum penuh makna.


Saat ini perasaan Veni memang tengah membuncah bahagia. Bagaimana tidak. Alina yang cuek dan terkesan anti pria itu tampak mulai memperlihatkan ketertarikannya pada seorang pria. Artinya Veni tak perlu khawatir jika Alina akan memiliki kecenderungan yang menyimpang. Sedangkan Arungga juga baru saja menemui wanita yang ia harap bisa menjadi menantunya kelak.


Tak lama kemudian terdengar deru motor memasuki halaman rumah. Arman dan Veni saling menatap sejenak kemudian tersenyum. Veni pun bergegas membuka pintu dan terkejut saat melihat Alina dan teman prianya itu sedang saling memeluk.


Setelah pria itu pergi, Veni pun menutup pintu. Arman nampak mengerutkan keningnya melihat sang istri yang tersenyum sambil menggelengkan kepala. Setelah Veni menceritakan apa yang terjadi, keduanya pun tertawa.


Arungga yang baru saja selesai membersihkan diri pun ikut bergabung dengan kedua orangtuanya. Lalu mengalir lah cerita dari mulut Arungga tentang pertemuannya dengan Siska tadi. Veni terkejut mendengar Arungga dan Siska telah saling mengenal karena mereka pernah mengenyam pendidikan di kampus yang sama dulu.


"Tapi menurut Mama Siska itu anak yang baik, iya kan Ga?" tanya Veni.


"Sejauh yang Aku tau sih emang gitu Ma," sahut Arungga.


Sesungguhnya Arungga tahu jika Siska pernah menjadikan dirinya bahan taruhan bersama Tantri dan keempat teman lainnya. Sayangnya Tantri yang memenangkan taruhan itu dan menjadi kekasihnya untuk beberapa tahun. Arungga memilih menyimpan cerita itu karena tak ingin penilaian baik sang Mama terhadap Siska berubah.


"Terus?" tanya Veni tak sabar.


"Aku belum tau ke depannya gimana Ma. Saat ini Aku membuka diri kok untuk semua yang datang. Tapi kalo belum bisa menentukan pilihan, itu karena Aku emang belum nemu yang cocok," sahut Arungga bijak.


Ucapan Arungga membuat Veni mencibir kesal namun membuat Arman tersenyum.


"Udah Ma, jangan bahas ini lagi. Mama kan bilang cuma mau ngenalin mereka dan ga maksa mereka jadian. Sekarang tepati dong janji Mama itu," kata Arman.

__ADS_1


"Iya, Mama tau," sahut Veni ketus.


"Daripada marah-marah ga jelas, lebih baik Mama siapin makan malam. Papa lapar nih," kata Arman sambil mengusap perutnya.


Veni pun menatap suaminya sejenak lalu tersenyum. Setelahnya ia bangkit meninggalkan anak dan suaminya itu untuk menyiapkan makan malam.


\=\=\=\=\=


Di ruang kerjanya Arungga sedang berdiri sambil menatap pemandangan di luar jendela.


Arungga tersenyum saat kembali teringat pertemuannya dengan Siska. Bayangan Siska menari-nari di benak Arungga hingga membuat jantungnya berdebar kencang. Arungga menggelengkan kepala sambil terus menyangkal perasaan aneh yang menyelinap di hatinya.


Arungga menoleh saat mendengar suara pintu diketuk. Ia pun mempersilakan orang di balik pintu untuk masuk. Namun Arungga terkejut melihat Zahira yang ada di balik pintu. Apalagi gadis itu masuk ke dalam ruangan bersama Fauzan.


"Bisa Kita bicara sebentar Ar?" tanya Zahira.


Mendengar Zahira memanggilnya tanpa embel-embel 'Pak' menyadarkan Arungga jika saat itu Zahira ingin bicara sebagai teman dan bukan atasan.


"Tentu," sahut Arungga sambil tersenyum.


"Kenalin ini Fauzan. Dia ... calon Suami Gue," kata Zahira malu-malu.


Arungga yang pernah mendengar hubungan Zahira dan Fauzan dari Siska pun nampak tersenyum.


"Oh hai, apa kabar. Kenalin Gue Arungga," sapa Arungga ramah sambil mengulurkan tangannya.


"Gue Fauzan. Seneng berkenalan sama Lo," sahut Fauzan tak kalah ramah.


"Silakan duduk," kata Arungga yang diangguki Zahira dan Fauzan.


Setelah mereka duduk, Zahira pun mulai mengungkapkan niatnya menemui Arungga. Ternyata Zahira mencium adanya kebocoran keuangan perusahaan. Ia minta bantuan Arungga untuk membantunya mengungkap siapa dalang di balik raibnya sejumlah uang milik perusahaan itu.


"Kenapa ga lapor Polisi aja sih Za?" tanya Arungga.


"Gue ga mau Kakek tau. Lo tau kan kalo kasus udah di tangan Polisi pasti jadi besar dan berlarut-larut. Gue khawatir itu membahayakan kesehatan Kakek. Orangtua Gue aja ga Gue kasih tau karena Gue mau ini selesai di lingkungan dalam aja. Jadi gimana Ar, Lo bisa kan bantu Gue?" tanya Zahira penuh harap.


Arungga terdiam sejenak kemudian mengangguk mengiyakan permintaan Zahira hingga membuat gadis itu tersenyum lega.


"Karena Gue sibuk, Lo bisa hubungi Kak Fauzan kalo ada apa-apa nanti. Gue percaya Kalian bakal bisa bekerja sama untuk menangani ini," kata Zahira.


Arungga dan Fauzan pun saling menatap lalu mengangguk.


Setelah mengungkapkan keinginannya, Zahira pun keluar dari ruangan Arungga diikuti Fauzan.

__ADS_1


Arungga melepas kepergian Zahira dan Fauzan dengan tangan terkepal. Nampaknya ia tahu siapa dalang dibalik hilangnya dana perusahaan JC group.


\=\=\=\=\=


__ADS_2