
Saat tiba di parkiran kantor JC, Arungga berpapasan dengan Arbi yang terlihat panik. Arbi nampak berlarian tak tentu arah seolah sedang mencari sesuatu atau justru sedang menghindari sesuatu. Arungga pun bertanya karena penasaran.
"Lo kenapa Bi, kok panik banget keliatannya?" tanya Arungga.
"Dio Ar. Dio!" kata Arbi.
"Kenapa Dio?" tanya Arungga.
"Dio kesurupan!" sahut Arbi.
Arungga mengerjapkan mata karena ingat tak pernah menjumpai kejadian seperti ini di kehidupan sebelumnya. Namun lamunan Arungga buyar saat melihat Arbi kembali berlari kebingungan.
"Kalo Dio kesurupan, kenapa Lo yang lari-lari kaya orang kesurupan?" tanya Arungga tak mengerti.
"Gue lagi nyari bantuan Ar. Gue bingung kenapa ga ada oramg satu pun yang bisa Gue mintain tolong. Biasanya kan ada security atau karyawan yang berseliweran. Ini ga ada sama sekali. Bahkan meja receptionist aja kosong. Cewek yang tugas di sana juga ga keliatan!" sahut Arbi cepat.
Jawaban Arbi mengejutkan Arungga. Ia tak mengerti mengapa Arbi mengatakan tak melihat siapa pun di sana. Padahal saat itu security terlihat stand by di Pos security. Salah seorang diantaranya terlihat berjaga di loby. Beberapa karyawan juga nampak mondar mandir di sekitar mereka. Dan saat Arungga menoleh kearah meja receptionist, ia bisa melihat dua orang karyawati di sana. Bahkan salah seorang diantaranya sedang duduk sambil menerima telephon.
Arungga yang mengira Arbi terlalu panik pun mencoba maklum. Ia menawarkan bantuan dan diangguki Arbi.
" Ayo Kita ke ruang istirahat karyawan Ar !" kata Arbi sambil melangkah cepat mendahului Arungga.
Tiba di sana Arungga dan Arbi melihat Dio sudah terkapar di lantai. Sekujur tubuh dan wajah Dio basah dengan keringat. Saat itu Dio nampak menggeliat kesakitan sambil menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Liat kan Ar. Dio kaya gini dari tadi. Yang bikin merinding karena dia kaya lagi minta ampun sama sesuatu yang ga kasat mata," kata Arbi setengah berbisik.
Arungga pun mengangguk lalu perlahan mulai mendekati Dio dan menyentuh tangannya.
"Dio ... Dio!" panggil Arungga sambil mengguncang tangan Dio.
Dio berhenti merintih lalu menjauhkan telapak tangan dari wajahnya. Saat melihat Arungga, Dio pun menghambur memeluk Arungga dengan erat sambil menggumamkan kata maaf berulang kali.
"Arungga ... maafin Gue Ar, maaf. Gua janji ga bakal kaya gitu lagi. Tolong maafin Gue ya Ar," pinta Dio dengan tubuh gemetar.
Meski tak mengerti maksud Dio, Arungga hanya mengangguk mengiyakan. Baginya yang terpenting saat ini adalah membebaskan Dio dari cengkraman sesuatu yang entah berwujud seperti apa.
__ADS_1
"Iya. Gue maafin Lo Di. Sekarang bangun dan duduk. Kita bisa omongin ini baik-baik kan," kata Arungga.
Ucapan Arungga membuat getaran di tubuh Dio berhenti. Perlahan Dio membuka mata dan mengurai pelukannya lalu menatap Arungga lekat. Saat itu kondisi Dio terlihat mengenaskan. Wajahnya tampak pucat, bibir membiru dan kedua bola matanya berwarna merah.
"Tolong air Bi," pinta Arungga sesaat kemudian.
Arbi pun bergegas mengambil air dalam kemasan botol lalu menyerahkannya kepada Arungga. Sebelum menyerahkannya kepada Dio, Arungga membuka tutup botol lalu membacakan surah Al Fatihah lebih dulu.
"Nih minum," kata Arungga yang diangguki Dio.
Dio pun menyambut air pemberian Arungga lalu meneguknya hingga tandas. Setelahnya Arbi menyerahkan tissu dan membantu mengusap keringat di wajah Dio.
"Lo gapapa kan Di?" tanya Arbi cemas.
Dio mengangguk sambil mengamati dirinya sendiri. Setelah kondisinya membaik, Arungga dan Arbi membantu Dio duduk di atas kursi.
"Jadi sekarang Lo bisa ceritain apa yang terjadi. Sebenernya Lo kenapa Di?" tanya Arbi.
"Mmm ... Gue diserang sosok makhluk menyeramkan yang duduk di situ Bi," sahut Dio sambil menunjuk sofa panjang yang ada di dalam ruangan.
"Makhluk menyeramkan apaan sih maksud Lo. Daritadi di sini ga ada siapa-siapa selain Kita Di. Ga usah ngaco deh Lo!" kata Arbi gusar.
Melihat Arbi dan Dio hampir berdebat, Arungga pun bergegas melerai.
"Sebentar, jangan ribut dulu dong. Sekarang kasih kesempatan Dio buat cerita dan please jangan dipotong dulu Bi," kata Arungga.
"Ok," sahut Arbi cepat.
" Nah sekarang giliran Lo Di, coba Lo jelasin pelan-pelan," pinta Arungga yang diangguki Dio.
Lalu mengalir lah cerita dari mulut Dio.
Awalnya Dio dan Arbi masuk ke ruang istirahat karyawan. Mereka biasa istirahat di sana sàmbil menunggu jam kerja mereka tiba. Pihak JC memang menyediakan ruangan khusus untuk karyawan magang seperti mereka agar bisa beristirahat.
Saat Arbi dan Dio masuk, keduanya melangkah kearah yang berbeda. Jika Arbi mendekati lemari untuk meletakkan tas, Dio justru duduk sambil meluruskan kaki di atas sofa panjang sambil terus bermain game di ponselnya.
__ADS_1
Saat Dio meluruskan kaki, Dio merasa menyentuh sesuatu. Padahal seingatnya tak ada apa pun di sana tadi. Karena penasaran Dio pun menoleh kearah ujung sofa dan terkejut saat melihat sosok hitam berambut panjang dengan wajah menyeramkan tengah duduk menghadap kearahnya.
Saat itu Dio merasa seluruh tubuhnya membeku. Dia hanya bisa terpaku seolah dipaksa menatap makhluk itu walau hati kecilnya menolak. Dari tempat duduknya Dio bisa melihat makhluk itu melakukan hal yang mengerikan sekaligus menjijikkan.
Makhluk itu nampak mengoyak wajahnya sendiri dengan kuku tangannya yang panjang dan menghitam itu. Setelahnya makhluk itu justru memasukkan cuilan daging wajahnya yang berlumuran darah itu ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya pelan.
Entah mengapa saat Dio menatap makhluk itu, bayangan saat dia mencoba menjebak Arungga kembali melintas. Dio pun panik. Apalagi makhluk menyeramkan itu kemudian mengulurkan tangan seolah ingin mencuil wajahnya lalu mengunyahnya seperti yang ia lakukan tadi. Karena itu lah Dio menutupi wajahnya dengan kedua tangan karena takut makhluk itu menyakitinya.
Dio menyelesaikan ceritanya sambil mengusap wajahnya. Setelahnya ia melihat Arbi dan Arungga yang saling menatap bingung.
"Kenapa ?, Lo berdua ga percaya sama cerita Gue?" tanya Dio.
"Percaya!" sahut Arungga dan Arbi bersamaan.
"Terus?" tanya Dio tak sabar.
"Lo bilang kalo Lo diperlihatkan kejadian saat Lo mencoba menjebak Gue. Kalo boleh tau kapan dan dimana ?, kok Gue ga tau sama sekali?" tanya Arungga sambil menatap Dio lekat.
Dio pun nampak salah tingkah. Setelah berpikir sejenak akhirnya Dio pun mengakui kejahatannya yang telah menukar berkas laporan keuangan Arungga beberapa hari yang lalu. Dio terpaksa mengakui kejahatannya karena tak ingin dihantui sosok makhluk hitam menyeramkan itu lagi.
Mendengar pengakuan Dio membuat Arungga terkejut bukan kepalang. Ia tak menyangka jika bukan hanya Haikal yang menginginkannya celaka, tapi Dio juga.
"Gue ga nyangka Lo sejahat itu Di. Padahal selama ini Kita ga pernah punya masalah apa-apa kan. Gue kira sikap Lo tulus, ternyata...."
"Gue minta maaf Ar !. Gue akui Gue iri sama Lo. Gue ga suka saat Pak Aji atau semua karyawan di sini memuji kinerja Lo. Gue ga suka Lo melampaui Gue. Tapi sekarang Gue sadar. Lo berhak mendapatkan pujian karena hasil kerja Lo emang bagus. Bener kata Dio, karena terlalu fokus mencari cara buat ngejatohin Lo, kerjaan Gue justru terbengkalai dan bikin Gue dimarahin sama Pak Aji. Maafin Gue ya Ar, please," pinta Dio sungguh-sungguh.
Melihat kesungguhan Dio membuat Arungga tertegun sejenak. Kemudian Arungga menganggukkan kepala pertanda ia telah memaafkan Dio.
"Ok. Kita anggap ini ga pernah terjadi ya Di. Ke depannya ayo Kita belajar bersama dan bersaing sehat untuk mendapatkan tempat yang layak di JC," kata Arungga bijak.
"Setuju !. Ayo Kita bikin JC bingung karena ga bisa memilih siapa diantara Kita bertiga yang harus terdepak karena Kita adalah calon karyawan terbaik yang pernah mereka temui!" sela Arbi sambil berdiri dan mengulurkan tangannya untuk mengajak adu toast.
Ucapan Arbi membuat Arungga dan Dio saling menatap sejenak. Setelahnya mereka ikut berdiri dan meletakkan telapak tangan di atas tangan Arbi. Sesaat kemudian suara sorakan semangat pun terdengar menggema di ruangan itu disusul tawa Arungga, Arbi dan Dio.
Kemudian ketiganya kembali bicara santai. Sesekali Arungga nampak tersenyum. Ia bahagia bisa mendapatkan teman seperti Arbi dan Dio yang dengan gentle mau mengakui kesalahanya. Arungga berharap pertemanan mereka bisa langgeng nanti.
__ADS_1
"Walau apa yang Dio lakukan salah, tapi setidaknya dia lebih baik dari Haikal karena mau mengakui kesalahan dan janji ga akan mengulanginya lagi," batin Arungga sambil tersenyum puas.
\=\=\=\=\=