
Siang itu JC nampak sibuk karena akan ada perayaan ulang tahun Jendral Catur sebagai pendiri JC.
Masing-masing divisi mengirim tiga orang sebagai perwakilan untuk membantu team yang ditunjuk Zahira dalam mendekor ruangan. Dari divisi keuangan mengirim Aji dan dua karyawan lainnya.
Karena tiga orang dikirim membantu team dekor, membuat divisi keuangan kekurangan tenaga. Padahal di saat yang sama Zahira juga meminta laporan keuangan Minggu lalu agar diserahkan padanya. Permintaan Zahira otomatis membuat karyawan Divisi keuangan sibuk.
Arungga juga terlihat sangat sibuk hingga tak menyadari aksi Haikal yang ke sekian kalinya.
Dengan santai Haikal mengirim sejumlah uang ke 'rekening bayangan' yang ia miliki. Jumlahnya hanya berkisar belasan juta. Itu jauh lebih kecil daripada jumlah yang biasanya Haikal gelapkan.
Setelahnya Haikal bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa. Ia juga berpura-pura sibuk sama seperti karyawan lain.
Menjelang jam istirahat semua karyawan diminta berkumpul di aula karena sang Jendral akan segera tiba. Dan tepat pukul sebelas siang, Jendral Catur nampak memasuki ruangan didampingi Zahira dan Fauzan.
Semua karyawan nampak menyambut sang Jendral dengan tepuk tangan dan ucapan selamat. Terompet pun berbunyi saling bersahutan hingga membuat ruangan bertambah meriah.
Salah seorang karyawati maju untuk memberikan rangkaian bunga kepada sang Jendral. Tentu saja sang Jendral nampak bahagia. Ia nampak melambaikan tangan sambil tersenyum kearah semua karyawan yang memadati aula.
Kemudian seorang ustadz yang diundang secara khusus pun maju memimpin pembacaan doa khusus di hari ulang tahun sang jendral. Semua orang yang hadir di ruangan itu pun mengaminkan doa tersebut.
Setelah berdoa semua karyawan dijamu makan siang. Dibantu Zahira, Jendral Catur memulai jamuan dengan mengambil makan siang lebih dulu. Zahira mengambilkan apa saja yang diinginkan sang Kakek. Setelah Jendral Catur, giliran Zahira yang mengambil makanan disusul Fauzan dan semua karyawan JC.
Sambil menikmati makan siang bersama, mereka disuguhkan hiburan live musik dan beberapa tayangan cuplikan CCTV yang menggambarkan kinerja para karyawan JC selama ini. Semua karyawan nampak tertawa saat mengenali siapa saja orang yang tertangkap kamera dan apa yang mereka lakukan. Beberapa orang yang tertangkap kamera pun tampak menunjukkan ekspresi yang berbeda. Ada yang tersipu malu, kesal, bahkan ada yang ikut tertawa melihat aksinya sendiri.
Diantara semua karyawan tampak Haikal yang salah tingkah. Ia khawatir jika aksinya selama ini tertangkap kamera CCTV. Namun saat ingat jika tak ada kamera pengawas yang bisa menjangkau tempatnya bekerja, Haikal pun nampak sedikit tenang. Apalagi ia melakukan aksinya dengan rapi.
Namun ketenangan Haikal terusik saat tayangan berhenti pada sebuah bukti transfer atas nama Haikal ke nomor rekening asing. Tidak hanya satu tapi ada beberapa dan jumlah uang yang ditransfer sangat tak lazim untuk karyawan sekelas Haikal. Seluruh karyawan JC terdiam dan saling menatap satu sama lain kemudian semuanya menatap kearah Haikal bersamaan.
Haikal yang saat itu sedang menyuap makanan ke dalam mulutnya pun terkejut saat menyadari tatapan semua orang yang terarah padanya.
"Kenapa ngeliatin Gue kaya gitu?" tanya Haikal bingung.
__ADS_1
"Haikal yang dimaksud di sana itu, Lo kan?" tanya salah seorang karyawan sambil melirik kearah televisi besar di dalam aula.
"Dasar bodoh. Susah payah masuk ke sini cuma bikin ulah yang justru menghancurkan diri sendiri," kata karyawan lain dengan ketus.
Haikal pun panik lalu menatap layar televisi. Ia terkejut karena kejahatannya terbongkar. Dan lebih terkejut lagi saat dua body guard Zahira berdiri di belakangnya bersama dua orang polisi berseragam entah sejak kapan. Dengan sigap kedua polisi itu mencekal kedua lengan Haikal hingga piring di tangannya jatuh dan pecah.
Semua orang menepi saat Zahira, Fauzan dan Arungga melangkah kearah Haikal. Ketiganya nampak menatap tajam dan berhenti tepat di hadapan Haikal.
"I ... ini fitnah. Ar, Lo percaya sama Gue kan. Saya ga melakukan itu Bu Za ...."
"plaaakkk !"
Tamparan sangat keras mendarat di pipi Haikal hingga wajah pria itu menoleh ke samping. Dan pelakunya adalah Zahira, sang pewaris JC.
Haikal nampak meringis menahan sakit. Saat wajahnya kembali menghadap kearah Zahira, terlihat jelas kemarahan di sana. Ia merasa harga dirinya sebagai seorang laki-laki telah diremehkan oleh seorang wanita. Padahal selama ini Haikal kerap meremehkan wanita dan memanfaatkan mereka.
"Kurang baik apa Kami sama Kamu sampe berani-beraninya Kamu mencuri di sini?!" tanya Zahira.
Ucapan Haikal sontak membuat gempar. Kasak kusuk karyawan terdengar dan jelas itu tertuju pada Arungga selaku Manager Keuangan sekaligus sahabat Haikal.
Arungga yang kini menjadi pusat pembicaraan berusaha tetap tenang. Jika tak ingat ucapan sang papa, Arungga pasti sudah melayangkan tinjunya kearah Haikal.
"Jadi Kamu sedang berusaha menjatuhkan Pak Arungga. Saya ga tau dendam apa yang Kamu simpan. Tapi selesaikan saja urusan Kalian di luar sana dan jangan libatkan JC!" jerit Zahira marah.
Haikal terdiam sambil menatap Zahira dan Arungga bergantian dengan tatapan penuh kebencian. Fauzan pun maju ke depan Zahira untuk menghadang tatapan mata Haikal yang tertuju pada calon istrinya itu.
"Tolong bawa dia Pak," pinta Fauzan sesaat kemudian.
"Siap Pak," sahut kedua polisi itu bersamaan lalu segera menggelandang Haikal keluar ruangan.
Haikal tak kuasa menegakkan kepala saat mendengar kasak kusuk karyawan JC yang mengiringi langkahnya. Namun Haikal terlihat tenang karena merasa masih memiliki kartu as untuk menjatuhkan Arungga.
__ADS_1
Setelah Haikal didepak dari aula, acara pun kembali berlanjut. Namun Fauzan memilih membawa Zahira keluar dari aula untuk menenangkan diri.
Tiba di ruangan Zahira nampak tak kuasa lagi menahan tangis. Fauzan pun memeluk Zahira dengan erat dan berusaha menenangkannya.
"Kenapa Kamu menangis. Harusnya Kamu senang karena bisa mengungkap kejahatan Haikal di depan semua orang," kata Fauzan sambil mengusap kepala Zahira dengan lembut.
"Aku sedih karena Kakek harus menyaksikan ketidak mampuanku memimpin JC. Padahal Kakek berharap banyak dariku. Aku khawatir Kakek kecewa," sahut Zahira sambil terisak.
"Siapa bilang Kakek kecewa Za !. Kakek justru bangga sama Kamu!" kata Jendral Catur dari ambang pintu.
Zahira dan Fauzan segera melerai pelukan mereka lalu menatap kearah pintu. Mereka melihat Jendral Catur berdiri gagah di ambang pintu ditemani Arungga.
Kemudian Zahira melangkah cepat lalu menghambur memeluk sang Kakek dan kembali menangis. Fauzan pun mundur untuk memberi kesempatan Zahira bicara dengan kakeknya.
"Kita belum bisa bernafas lega karena ini belum selesai Ar," kata Fauzan saat ia menutup pintu.
"Iya Bang, Gue tau itu. Haikal pasti bakal ngeluarin bukti lain untuk menjebak Gue," sahut Arungga gusar.
"Kita udah berusaha semaksimal mungkin dan berharap semua akan baik-baik saja. Tapi Lo tenang aja. Andai terjadi sesuatu yang ga diinginkan, Zahira ga akan terpengaruh karena dia percaya sama Lo 100%. Mungkin lebih percaya sama Lo dibanding sama Gue," kata Fauzan sendu.
"Apa maksud Lo Bang ?. Kayanya Gue nangkep Nada cemburu di ucapan Lo barusan," kata Arungga sambil menatap Fauzan lekat.
Ucapan Arungga membuat Fauzan tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Apa keliatan jelas ya Ar?" tanya Fauzan.
"Banget. Tapi gapapa. Itu artinya tanpa Lo sadari sebetulnya Lo mulai mencintai Zahira. Apa Gue betul?" tanya Arungga.
"Iya," sahut Fauzan malu-malu dan gantian Arungga yang tertawa.
Tawa Arungga makin keras saat ia menoleh dan mendapati Zahira tengah berdiri mematung di belakang Fauzan dengan wajah yang merona. Nampaknya Zahira mendengar pengakuan Fauzan tadi. Sedangkan Jendral Catur nampak tersenyum diam-diam melihat sikap malu-malu Zahira dan Fauzan.
__ADS_1
\=\=\=\=\=