ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )

ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )
16. Satu Per Satu Terungkap


__ADS_3

Setelah moment pertemuan 'tak sengaja' di kafe North dengan Arungga dan Tantri, Haikal pun nampak sedikit menjaga jarak dengan Arungga. Sedangkan Tantri yang merasa terjebak diantara Haikal dan Arungga pun nampak semakin bingung menentukan pilihan.


Saat Tantri mencurahkan kegundahannya kepada genknya, bukan mendapat solusi, Tantri justru ditertawai. Dan itu membuatnya kesal bukan kepalang.


"Dasar temen pea Lo semua. Tau temen lagi susah, bukan dibantu malah diketawain!" kata Tantri sambil berkacak pinggang.


"Lo emang layak diketawain karena Lo itu emang lucu Tan!" sahut Siska di sela tawanya.


"Lucu plus o'on," sela Nadine sambil mencibir.


"Apa sih maksud Lo berdua?" tanya Tantri tak mengerti.


"Di rumah Lo ada cermin kan?" tanya Siska.


"Ada," sahut Tantri cepat.


"Apa Lo ga pernah ngaca gimana wajah Lo ?. Orang yang ga bisa menghargai orang lain kenapa malah berharap dihargai sama orang?" tanya Siska ketus.


"Betul!" sahut Nadine dan ketiga temannya.


Ucapan Siska membuat Tantri bertambah bingung.


"Ayo lah Sis. Gue ceritain semua sama Kalian tadi karena Gue butuh solusi dan bukan untuk dibully kaya gini!" kata Tantri tak suka.


"Lo tuh emang ga tau malu ya Tan. Bisa-bisanya Lo pacaran sama Arungga tapi Lo ngasih harapan sama Haikal. Sekarang Lo datang sama Kita dan cerita banyak seolah Lo adalah wanita yang teraniaya. Lo pikir Kita semua percaya dan mau bantuin Lo ?" tanya Nadine.


"Tapi Lo juga inget kan kalo Kalian bilang Gue bisa lepasin Arungga setelah beberapa waktu. Tapi liat sekarang. Arungga justru makin lengket dan posessif sama Gue. Gue ke sini cuma mau Kalian bantuin cari cara supaya Arungga ngejauh dari Gue karena Gue takut !" kata Tantri gusar.


"Takut apa?" tanya salah satu anggota genk.


"Takut Arungga tau kalo Gue ngeduain dia sama sahabatnya sendiri, terus dia main kasar sama Gue," sahut Tantri panik.


"Kenapa Kami yang harus nyari cara ?" tanya Nadine dengan tatapan kesal.

__ADS_1


Saat Tantri akan kembali mendebat Nadine, tiba-tiba Siska berdiri lalu menggebrak meja. Tantri dan keempat temannya terkejut lalu menatap kearah Siska.


"Udah cukup!. Kesepakatan Kita hanya tentang Arungga dan ga termasuk Haikal. Lo yang breng*ek, jadi ga usah ngeluh apalagi minta bantuan. Selesaikan sendiri semuanya dan jangan sekali pun nyeret Kami atau Lo bakal tau akibatnya!" kata Siska sambil menatap Tantri lekat.


Setelahnya mengancam Tantri, Siska mengajak keempat temannya meninggalkan tempat itu. Tantri hanya bisa mengusak rambutnya dengan kasar untuk melampiaskan rasa kesalnya.


\=\=\=\=\=


Arungga pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan buku-buku yang dipinjamnya. Di sana ia bertemu dengan Zahira yang juga tengah mengembalikan buku.


Arungga berdiri tepat di belakang Zahira yang tengah mengantri. Dari jarak sedekat itu ia bisa lebih intens mengamati penampilan Zahira.


Saat itu Zahira mengenakan tunik garis-garis berwarna hitam kuning selutut dipadu dengan celana panjang hitam. Tak ada yang salah dengan itu. Hanya saja Zahira menambahkan rompi hitam belel yang sedikit merusak pemandangan. Di saat gadis lain membiarkan rambutnya tergerai di punggung, Zahira justru mengikat rambutnya. Ia juga menambahkan kaca mata bulat berwarna merah yang membuatnya terlihat aneh. Arungga ingat jika Zahira memang mengenakan kaca mata di kehidupan kemudian.


Menyadari pria yang ia sukai berada tepat di belakangnya membuat Zahira tak nyaman. Ia pun keluar dari antrian lalu pura-pura mencari buku lain di rak buku.


Arungga masih menatap Zahira dengan intens karena teringat sesuatu. Di kehidupan sebelumnya Zahira sengaja menemuinya untuk memberi tahu kebusukan Tantri. Waktu itu Arungga sangat marah dan mengira Zahira hanya mencari cara agar Tantri terlihat buruk di matanya.


"Harusnya Zahira menyapa Gue dan ngajak Gue bicara kan. Tapi kenapa dia malah menghindar ya. Apa ada yang salah sama urutan kejadiannya?" batin Arungga gusar.


"Makasih," kata Zahira lirih.


"Sama-sama," sahut Arungga sambil tersenyum.


Melihat senyum Arungga membuat Zahira gugup. Namun ia berusaha tenang. Dalam hati Zahira menyayangkan jika orang sebaik Arungga harus bersanding dengan wanita seperti Tantri. Untuk sejenak Zahira menatap Arungga yang saat itu pura-pura mencari buku. Setelahnya Zahira pun memberanikan diri bicara mengenai Tantri.


"Mmm ... Gue denger Lo jadian sama Tantri si bunga kampus itu ya?" tanya Zahira hati-hati.


Pertanyaan Zahira membuat Arungga tersentak lalu tersenyum diam-diam. Ia sedikit lega karena akhirnya Zahira mau bicara dengannya. Kali ini Arungga bertekad untuk mendengarkan Zahira bicara hingga selesai.


"Iya. Apa Lo mau ngucapin selamat seperti yang lain?" tanya Arungga sambil menoleh kearah Zahira.


"Ga juga. Gue justru mau ngingetin Lo supaya berhati-hati. Tantri ... dia ga sebaik yang terlihat. Supaya Lo ga sakit hati, sebaiknya Lo selidiki siapa Tantri," sahut Zahira lirih sambil melangkah meninggalkan Arungga.

__ADS_1


Tak ingin kehilangan kesempatan, Arungga pun mengikuti Zahira.


"Gitu ya. Lo ngomong kaya gitu seolah Lo kenal sama Tantri. Apa tebakan Gue bener?" tanya Arungga hingga membuat Zahira menghentikan langkahnya.


"Apa itu penting?" tanya Zahira.


"Tentu. Barusan Lo ngingetin Gue supaya menyelidiki Tantri. Kalo Lo cuma asal ngomong, Gue ga harus peduli kan. Beda halnya kalo Lo emang kenal secara pribadi sama Tantri," sahut Arungga cepat.


"Kalo Gue bilang Gue kenal sama Tantri, apa Lo percaya dan bakal menuruti permintaan Gue?" tanya Zahira.


"Mungkin," sahut Arungga sambil menggedikkan bahunya.


Jawaban Arungga membuat Zahira menghela nafas panjang seolah merasa lelah.


"Sebenernya Gue ga punya keuntungan apa pun saat mengingatkan Lo tadi. Sekarang terserah sama Lo mau gimana," kata Zahira sambil berlalu.


Arungga pun hanya menatap punggung Zahira yang menjauh. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya tahu telah dikhianati Tantri. Tapi Arungga memilih menyimpan semuanya karena ia ingin menyelidiki sejauh mana Haikal dan Tantri mencuranginya.


Selain itu Arungga juga baru saja sadar jika Haikal telah memanfaatkan persahabatan mereka demi kepentingan pribadinya. Dan itu hanya salah satu kesalahan fatal yang Arungga lakukan yang akan ia sesali nanti.


Dulu Haikal kerap datang dan mengeluh padanya jika ia tak bisa membayar biaya kuliah. Alasannya banyak. Salah satunya Haikal mengaku jika sang ayah tak bisa mengirimi uang karena baru saja membiayai pengobatan ibunya yang sakit. Dulu Arungga akan panik dan berusaha membantu Haikal agar bisa melanjutkan kuliah bersamanya. Bahkan Arungga rela menyisihkan sebagian uang sakunya agar bisa membantu Haikal.


Tapi ternyata pengorbanan Arungga justru dianggap angin lalu oleh Haikal. Saat Arungga menghemat uang saku demi bisa membantunya, Haikal justru berfoya-foya dengan uang kiriman orangtuanya itu. Salah satunya dengan mentraktir Tantri di kafe North yang harga menunya cukup menguras kantong mahasiswa perantau seperti dirinya.


Setelah mengetahui itu Arungga pun tak lagi mau membantu Haikal meski pun sang sahabat memohon dan bersimpuh di hadapannya.


Arungga masih berdiri menatap Zahira yang sedang mengantri untuk mengembalikan buku.


Perlahan Arungga melangkah menuju pintu keluar. Saat berada tepat di belakang Zahira, Arungga mengatakan sesuatu yang membuat Zahira terkejut.


"Makasih udah ngingetin Gue ya Za," bisik Arungga sambil berlalu.


Zahira menoleh lalu menatap Arungga yang terus berjalan menuju keluar perpustakaan. Sesaat kemudian Zahira pun tersenyum. Entah mengapa ucapan tulus Arungga membuat wajahnya terasa panas.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2