ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )

ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )
36. Tewas...


__ADS_3

Pagi itu Rumah Sakit dibuat gempar dengan kematian Tantri yang misterius. Bagaimana tidak. Tantri ditemukan tewas dalam kondisi wajah tertutup bantal. Selain itu bagian bawah tubuh Tantri juga digenangi darah merah kehitaman.


Team medis menyatakan Tantri meninggal karena kehabisan nafas. Dan diduga sebelum tewas, Tantri juga mengalami penganiayaan di bagian perut.


Berita tentang meninggalnya Tantri pun sampai ke telinga kedua orangtua Arungga. Mereka terkejut, iba sekaligus panik. Siska yang memang rajin menjenguk Alina karena merasa bertanggung jawab pun ikut gusar dengan berita itu.


"Siapa yang tega menganiaya Tantri sampe meninggal ya Pa?" tanya Veni.


"Yang pasti orang yang punya masalah sama Tantri. Soalnya Papa dengar luka di tubuh Tantri terlihat ga wajar Ma," sahut Arman.


"Orang yang diduga keras punya masalah sama Tantri, ya Arungga Pa. Kan dia marah banget waktu tau Tantri menyakiti Alina," bisik Veni gusar.


"Ck, Mama nih gimana sih. Mama mau bilang kalo Anak Kita itu pembunuh?. Itu mustahil Ma !. Arungga emang marah, tapi Papa yakin dia ga sebodoh itu untuk membunuh Tantri yang ada dalam penjagaan ketat Polisi," kata Arman kesal.


"Iya maaf Pa. Kan Mama cuma nebak asal aja tadi. Lagian Mama juga amit-amit kalo si Arungga sampe membunuh orang," sahut Veni sambil tersenyum kecut.


"Udah Om Tante. Yang harus Kita pikirin sekarang adalah gimana cara mindahin Alina dari sini. Menurutku tempat ini udah ga aman buat Alina," kata Siska mengingatkan.


Ucapan Siska menyadarkan Veni dan Arman. Keduanya saling menatap sejenak lalu mengangguk.


"Kita pindahin Alina ke Rumah Sakit lain atau kalo bisa Kita bawa pulang aja sekalian. Biar Alina Kita rawat di rumah aja ya Ma," kata Arman kemudian.


"Emang boleh kaya gitu Pa?" tanya Veni.


"Harusnya sih boleh. Kan Alina korban Tante. Beda sama Tantri yang statusnya tersangka," sela Siska.


Veni pun mengangguk tanda mengerti. Jujur ia khawatir akan keselamatan Alina.


Setelahnya Arman keluar untuk mengurus administrasi Alina. Karena paham dengan kekhawatiran keluarga pasien, pihak Rumah Sakit pun mengijinkan Alina keluar dari Rumah Sakit pagi itu juga. Bahkan mereka memberi surat rujukan agar Alina bisa dipindahkan ke Rumah Sakit lain.


Arungga yang mendengar Alina dipindahkan ke Rumah Sakit lain karena kematian Tantri pun nampak gusar. Ia khawatir jika kematian Tantri adalah satu isyarat akan terjadinya peristiwa yang lebih besar nanti.


Arungga memang tak bisa berbuat apa-apa karena sedang meeting dengan Zahira dan stafnya di kantor. Arungga menduga Haikal terlibat dengan pembunuhan Tantri mengingat betapa Haikal sangat menyayangi Alina. Haikal pasti tak suka siapa pun menyentuh Alina apalagi mencelakainya seperti apa yang dilakukan Tantri.


Memikirkan itu membuat Arungga berpikir keras. Dia tak menyangka perubahan alur cerita di kesempatan ke dua kehidupannya ini sangat kontras.

__ADS_1


Jika di kehidupan sebelumnya Tantri dan Haikal terus bersama hingga Haikal membunuhnya, tapi kali ini justru Tantri meninggal lebih dulu dan dalam kondisi mengenaskan.


"Keliatannya Gue harus lebih waspada kali ini.Haikal bisa melakukan sesuatu yang ga terduga nanti," gumam Arungga sambil mengusap wajahnya.


Arungga kembali fokus ke depan. Saat itu Zahira sedang mengarahkan para stafnya untuk membantu pelaksanaan pesta pernikahannya.


\=\=\=\=\=


Seorang pria nampak menikmati suasana pantai dengan tenang. Ia berbaring tertelungkup sambil meluruskan kedua kakinya. Pria yang tak lain adalah Haikal itu nampak memejamkan mata saat jari-jari lentik seorang wanita memijat punggungnya.


Sambil memejamkan matanya Haikal kembali mengingat apa yang telah ia lakukan hingga ia bisa tiba di pulau cantik nan eksotis itu.


Setelah dua kali berkelahi dengan Arungga karena Alina, Haikal pun makin tak terkendali.


Malam sebelum Tantri meninggal dunia, Haikal nekad menyuap salah seorang sipir penjara yang lemah iman agar membantunya keluar dari penjara sebentar.


Awalnya sang sipir penjara menolak. Namun saat Haikal memperlihatkan bukti transfer ke rekening sang istri, oknum sipir itu pun luluh.


"Tapi janji ga lama-lama ya Kal. Saya ga mau yang laen tau kalo ada tahanan yang keluar," kata sipir penjara.


"Bukan apa-apa Kal. Pimpinan udah mulai curiga sama Saya. Jujur Saya takut. Saya ga mau kehilangan pekerjaan dan ikut dipenjara gara-gara Kamu!" kata sang sipir dengan ketus.


Haikal pun terdiam. Ia memilih fokus memperhatikan jalan daripada mendengar ocehan sang sipir. Tiba di luar pagar penjara Haikal disambut orang suruhan sang sipir yang langsung membawanya pergi dari sana.


Setelah berganti pakaian, Haikal pergi ke Rumah Sakit tempat Alina dan Tantri dirawat.


Haikal dengan mudah masuk ke ruang rawat inap tempat Tantri ditahan. Ia ingin bertanya langsung pada Tantri tentang apa yang terjadi sesungguhnya.


Nampaknya keberuntungan sedang berpihak pada Haikal. Dengan mudah ia menyelinap masuk ke dalam ruangan Tantri saat polisi yang berjaga sedang buang air kecil ke toilet.


Tantri yang terbangun karena mendengar suara pintu terbuka pun terkejut melihat kedatangan Haikal. Ia senang sekaligus takut. Senang karena Haikal datang mengunjunginya hingga ia tak merasa sendiri. Takut karena ia kini telah kehilangan bayi yang membuatnya datang menemui Haikal dulu.


Haikal membekap mulut Tantri saat wanita itu ingin memanggil namanya. Tantri pun mengangguk pertanda ia tak akan bersuara agar tak menimbulkan kecurigaan orang di luar sana.


Perlahan Haikal melepaskan Tantri lalu bertanya apa yang terjadi pada Alina dan kenapa gadis itu terluka. Dengan terbata-bata Tantri pun menceritakan apa yang telah ia lakukan. Haikal nampak menyimak dengan seksama kalimat demi kalimat yang Tantri ucapkan.

__ADS_1


Setelah Tantri selesai bercerita Haikal pun berjalan mondar-mandir di dalam ruangan. Tantri nampak ketakutan lalu meminta maaf.


"Aku juga minta maaf. Karena kejadian itu ... Anak Kita ... dia ... hilang," kata Tantri hati-hati.


"Hilang bagaimana maksud Lo?" tanya Haikal tak mengerti.


"Gue keguguran," sahut Tantri lirih hingga nyaris tak terdengar.


Ucapan Tantri membuat Haikal berhenti melangkah. Ia menatap Tantri lekat lalu tersenyum penuh makna.


Dan tanpa diduga tiba-tiba Haikal mendorong Tantri hingga terhempas ke tempat tidur lalu Haikal menduduki perutnya. Tantri yang masih lemah karena baru saja menjalani pendarahan itu nampak tak kuasa melawan.


"Sakit Ha ... Haik ... kal. To ... long jangan kaya gini," pinta Tantri sambil berusaha mendorong Haikal.


"Ini hukuman karena Lo udah berani menyakiti Alina tanpa seijin Gue. Tau ga Lo betapa pentingnya Alina buat Gue ?!" tanya Haikal sambil memukul perut Tantri dengan keras hingga membuat Tantri membelalakkan mata.


"Ja ... di Lo beneran cin ... ta sama Al ... Alina Kal?" tanya Tantri dengan suara terputus-putus.


"Iya!" sahut Haikal cepat hingga membuat Tantri terkejut dan sakit hati.


Tantri memejamkan matanya karena merasa sangat bodoh telah berkorban banyak hal untuk pria yang tak pernah mencintainya.


"Kalo Lo cinta sama Alina, untuk apa Lo menghamili Gue Kal?" tanya Tantri dengan suara tercekat.


"Anggap aja itu kecelakaan. Gua ga pernah menginginkan anak itu. Dan Gue datang nemuin Lo karena cuma Lo yang mau diajak begituan dengan gratis dan tanpa imbalan. Sekarang pergi lah ke neraka untuk menyusul bayi sial Lo itu karena ga ada gunanya lagi Lo hidup," bisik Haikal sambil tersenyum sinis.


Lagi-lagi ucapan Haikal membuat Tantri terluka. Air mata pun tak lagi terbendung saat ia menatap pria yang telah menghancurkan hidupnya itu untuk yang terakhir kali.


Saat Haikal menarik bantal lalu menutupi wajahnya dengan kuat, Tantri pun pasrah. Tantri masih berusaha memukul Haikal dan berusaha mencari udara segar namun nihil. Akhirnya Tantri pun berhenti bernafas setelah beberapa waktu.


Setelah yakin Tantri tewas, Haikal pun bergegas keluar dari ruangan itu lalu pergi tanpa diketahui siapa pun.


Sayangnya Haikal tak pernah kembali ke penjara seperti janjinya. Haikal pergi entah kemana dan ditetapkan sebagai buronan kepolisian.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2