ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )

ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )
21. Minta Maaf...


__ADS_3

Acara perkenalan dengan pimpinan pusat yang baru pun telah selesai. Sebelumnya semua karyawan diperkenankan bersalaman dengan Zahira.


Saat tiba giliran Arungga menjabat tangan Zahira, keduanya tampak salah tingkah. Untuk sejenak keduanya mematung tanpa bicara selain hanya saling menatap dengan tatapan yang sulit dilukiskan. Arungga tersentak saat seorang rekannya menyentuh punggungnya sambil menggodanya.


"Kesengsem ya Ar. Wajar lah, abisnya Bu Bos Kita yang baru cantik banget sih," bisik Dimas.


Arungga mengabaikan ucapan Dimas. Ia pun mengulurkan tangannya dan disambut dengan hangat oleh Zahira.


"Selamat datang Bu. Saya harap bisa bekerja sama dengan Ibu suatu saat nanti," kata Arungga sambil tersenyum.


"Terima kasih. Dan saat itu terjadi, Saya harap Kita bisa jadi team yang solid," sahut Zahira dengan ramah.


Arungga pun mengangguk lalu bergeser untuk memberi kesempatan pada rekan-rekannya memberi ucapan selamat kepada Zahira.


Setelahnya para tamu undangan dipersilakan untuk menikmati hidangan yang telah disajikan oleh panitya penyelenggara. Arungga dan rekan-rekannya pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan gembira mereka nampak berbaur dengan semua karyawan dari berbagai divisi.


Dari tempat duduknya Zahira bisa melihat antusias para karyawan. Aula pun dipenuhi suara tawa dari para karyawan yang saling bersenda gurau.


"Jangan melamun dong Ra. Ini kan hari bahagia Kamu," tegur pak Catur.


"Iya Kek," sahut Zahira sambil tersenyum.


"Kakek tau Kamu belum siap dengan semua ini. Tapi Kakek mau Kamu mulai belajar dari sekarang Ra. Dan Kamu liat kan. Semua orang menyambut Kamu dengan tangan terbuka. Jadi perkiraanmu kalo karyawan akan menolak dipimpin olehmu itu salah besar. Jaman sekarang bukan gender yang jadi patokan. Tapi siapa yang bisa menunjukkan keahliannya dan membuktikan kepiawaiannya, itu lah yang bakal jadi pemenang," kata pak Catur memberi semangat.


"Iya Kek. Tapi Kakek keliru kali ini," kata Zahira sambil meneguk minuman ringan di hadapannya.


"Oh ya. Di bagian mana Kakek keliru?" tanya pak Catur sambil mengerutkan keningnya.


"Ternyata ga semua orang menyambut kehadiranku dengan tangan terbuka lho Kek. Ada juga yang menyambutku dengan terpaksa dan menunjukkan sikap permusuhan," sahut Zahira.


"Masa sih. Siapa dia, coba Kamu tunjukin orangnya sama Kekek," pinta pak Catur.


"Ga usah. Aku ga mau bikin orang itu besar kepala karena udah berhasil bikin Aku gentar. Nanti dia ngira kalo Aku cuma wanita lemah yang masih ngadu sama Kakeknya saat ditindas," kata Zahira sambil mencibir.


Ucapan Zahira mau tak mau membuat pak Catur tertawa geli. Ia pun mengusak rambut cucu kesayangannya itu.

__ADS_1


"Apa Kakek mau kembali ke ruangan sekarang?" tanya Zahira beberapa saat kemudian.


"Sebentar lagi Nak. Kakek masih mau ngeliat mereka menghabiskan sajian yang Kita siapkan," sahut pak Catur sambil tersenyum.


"Kalo gitu Aku ke toilet sebentar ya Kek," pamit Zahira yang diangguki sang kakek.


Kemudian Zahira pun melangkah meninggalkan aula menuju toilet wanita. Tantri yang melihat Zahira keluar dari aula pun bergegas mengikuti.


\=\=\=\=\=


Zahira nampak sedang mencuci tangan di wastafel usai membuang hajat tadi. Sesekali ia bercermin sambil merapikan rambutnya.


Tiba-tiba Zahira menghentikan aksinya saat melihat pantulan Tantri di cermin. Gadis itu nampak berdiri tepat di belakang Zahira sambil terus mengamati Zahira.


Setelah menghela nafas panjang Zahira pun bergegas keluar dari toilet. Langkahnya terhenti saat Tantri meraih tangannya lalu menggenggamnya erat.


"Ada apa lagi Tan?" tanya Zahira tanpa menatap Tantri.


"Maafin Gue Za," sahut Tantri lirih.


"Maafin untuk apa ya?" tanya Zahira pura-pura tak mengerti sambil menarik tangannya dari genggaman Tantri.


"Ck, kenapa Lo baru minta maaf sekarang. Apa karena Lo tau Gue ini pewaris tunggal JC makanya Lo buru-buru minta maaf. Apa Lo juga bakal ngelakuin hal yang sama andai Gue bukan siapa-siapa Tan?!" tanya Zahira sambil membalikkan tubuhnya lalu menatap Tantri lekat.


Tantri nampak membisu. Ia sadar tak ada gunanya melakukan pembelaan karena kesalahannya sudah menggunung. Karena Tantri tak merespon ucapannya, Zahira pun nampak kesal. Ia pun bersiap melangkah meninggalkan Tantri.


"Tapi Lo ga bakal pecat Gue kan Za?!" tanya Tantri lantang.


"Gue ga bisa janji Tan. Kesalahan Lo secara pribadi mungkin bisa Gue maafin. Tapi Lo emang udah kelewatan. Apalagi Lo juga ngajak karyawan lain lalu bersekongkol melakukan perundungan. Lo ga tau kan gimana rasanya. Makanya jangan salahin Gue kalo Gue merasa kesulitan untuk melupakan semuanya dan melepaskan Lo begitu aja," sahut Zahira cepat.


Setelah mengatakan kalimat itu Zahira pun membalikkan tubuhnya lalu melangkah cepat meninggalkan Tantri.


Tanpa Tantri dan Zahira sadari, pembicaraan mereka didengar oleh Arungga yang saat itu tengah duduk tak jauh dari mereka. Rupanya Tantri dan Zahira bicara di lorong yang dekat dengan taman di samping aula dimana Arungga berada.


Dari tempat duduknya Arungga bisa melihat wajah Tantri yang kusut. Gadis itu juga berkali-kali mengusak rambutnya karena kesal.

__ADS_1


Tak lama kemudian rekan-rekan Tantri pun datang menghampirinya. Mereka bertanya banyak hal hingga membuat Tantri bertambah kesal.


"Satu-satu bisa ga sih?!" protes Tantri.


"Iya maaf. Abisnya Kita kan penasaran," kata salah seorang rekan Tantri.


"Jadi gimana Tan ?. Zahira ... ehm maksud Gue, Bu Zahira mau maafin Lo ga?" tanya rekan Tantri.


"Menurut Lo gimana?. Kata dia, apa yang Gue dan Lo semua lakuin itu udah kelewatan. Nah dari situ Lo bisa tebak kan apa artinya," sahut Tantri cepat.


"Maksud Lo, Kita bakal dipecat gitu Tan?" tanya salah seorang rekan Tantri panik.


"Bisa jadi," sahut Tantri lirih.


"Terus kalo Gue dipecat, gimana dong ?. Padahal nyari kerja dengan gaji besar kaya di JC kan susah...," kata rekan Tantri dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa nanya sama Gue. Gue aja bingung harus ngapain," sahut Tantri sambil mengusap wajahnya.


Tiba-tiba salah seorang rekan Tantri mendekati Tantri sambil mengulurkan kedua tangannya. Rupanya wanita itu berniat mencekik Tantri.


"Ini semua gara-gara Lo ya Tan !. Kalo Lo ga ngajak Kita buat ngebully Bu Zahira, pasti Kita ga bakal dipecat!" kata rekan Tantri lainnya sambil mendelik marah.


"Kok gara-gara Gue sih. Kan Lo sendiri yang setuju ngebully karena menurut Lo dia emang layak dimanfaatin," sahut Tantri tak mau kalah.


"Bukan Gue yang ngomong gitu. Tapi Lo!" kata rekan Tantri marah.


"Lo yang duluan!" sahut Tantri tak kalah lantang.


Perdebatan sengit pun terjadi di tempat itu. Semua tak ada yang mau mengalah karena masing-masing merasa benar. Keributan itu menarik perhatian security yang langsung turun tangan melerai mereka.


Di tempatnya Arungga hanya bisa menggelengkan kepala melihat kekasihnya itu dikeroyok oleh rekan-rekan kerjanya. Aksi Tantri dan rekan-rekannya itu pun menjadi bahan tontonan gratis untuk para karyawan yang sedang melintas di tempat itu.


Sesungguhnya Arungga merasa malu akan ulah Tantri. Selama ini ia sengaja bertahan dalam hubungan tak sehat dengan Tantri hanya karena ingin mengetahui rahasia dan siasat apa yang bakal Haikal buat untuk menjatuhkannya.


Di depan Tantri dan Haikal, Arungga berpura-pura bersikap mesra. Arungga juga bersikap santai saat mendengar Tantri bicara mesra dengan seorang pria via telephon. Meski Tantri tak mengakui siapa pria itu, tapi Arungga tahu jika pria itu adalah Haikal.

__ADS_1


Dan saat menyaksikan sang kekasih terdesak karena ulahnya sendiri, Arungga nampak tak peduli. Ia bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan tempat itu tanpa mau menoleh lagi.


\=\=\=\=\=


__ADS_2