
Arungga bertemu Haikal di parkiran kampus. Saat itu wajah Haikal terlihat lesu dan tak bersemangat. Arungga yang sudah tahu apa penyebabnya pun berpura-pura tak tahu lalu menyapa Haikal.
"Kenapa muka Lo kaya gitu Kal?" tanya Arungga setelah memarkirkan motornya.
"Barusan Gue dipanggil TU," sahut Haikal.
"Ada apa dipanggil TU. Jangan bilang Lo nunggak lagi kali ini," kata Arungga sambil mengamati Haikal dari atas kepala hingga ujung kaki.
"Yah gitu deh," sahut Haikal sambil nyengir.
"Kenapa nunggak terus sih Kal. Seinget Gue transferan Bokap Lo lancar-lancar aja belakangan ini," kata Arungga kesal.
"Kepake Ar. Abis kan Gue juga pengen hang out kaya yang laen," sahut Haikal jujur.
"Tapi itu kan bisa dilakuin setelah urusan kampus kelar. Kampus udah ngasih keringanan buat bayar kuliah secara mencicil, tapi Lo yang ga mau manfaatin kesempatan itu. Kalo kaya gini kasian kan orangtua Lo. Udah ngeluarin uang banyak tapi anaknya justru bikin masalah dan ga lulus. Terus gimana nih, Minggu depan kan udah waktunya ujian. Padahal syarat ikut ujian salah satunya ya ga punya tunggakan," kata Arungga gusar.
"Justru itu Ar, tolongin Gue ya. Kan Lo udah punya gaji selama kerja di JC. Gimana kalo Gue pinjem sebagian," pinta Haikal penuh harap.
"Sorry Kal. Kali ini Gue ga bisa bantu karena Gue juga banyak keperluan," tolak Arungga tegas.
"Kali ini ?. Ga salah Ar ?. Bukan cuma kali ini Lo nolak bantuin Gue Ar. Dan yang kaya gini entah untuk yang ke berapa kalinya. Kalo Gue inget-inget, sejak Lo kerja di JC Lo jadi sombong dan lupa sama temen ya Ar," kata Haikal kesal.
"Terserah Lo mau bilang apa. Sorry, Gue harus ketemu Pak Singa," kata Arungga sambil berlalu.
Haikal hanya bisa menatap punggung Arungga yang menjauh sambil tersenyum penuh makna. Ia tahu Arungga tak akan tega melihatnya seperti ini. Haikal yakin Arungga akan membantunya diam-diam seperti yang pernah ia lakukan dulu.
__ADS_1
Haikal ingat jika dia juga pernah mengalami hal serupa tahun lalu. Meski Arungga marah besar saat itu, tapi Arungga lah orang yang membantunya membayarkan uang kuliahnya hingga ia bisa ikut ujian semester. Dan kali ini Haikal hanya perlu sedikit berakting supaya Arungga mau membantunya lagi.
\=\=\=\=\=
Hari Senin pun tiba. Semua mahasiswa yang telah teregristasi akan menerima nomor peserta ujian lalu diarahkan masuk ke dalam kelas sesuai nomor yang tertera di kartu.
Saat itu Haikal nampak berdiri di koridor kampus dengan gelisah. Bagaimana tidak. Haikal tidak bisa masuk ke kelas untuk mengikuti ujian karena belum memiliki kartu peserta ujian. Panitya beralasan Haikal dilarang masuk karena namanya tidak tercantum dalam daftar peserta ujian. Padahal Haikal yakin jika Arungga telah membayar tunggakan biaya kuliahnya.
Berkali-kali Haikal menoleh kearah gerbang kampus berharap Arungga segera tiba. Masih ada waktu setengah jam lagi baginya untuk menyelesaikan administrasi agar ia bisa mengikuti ujian.
Setelah lama menunggu dalam kegelisahan, akhirnya senyum di wajah Haikal pun terbit. Ia melihat Arungga tengah melangkah cepat menuju kelas sesuai nomor urut peserta yang ia miliki.
"Arungga!" panggil Haikal sambil melambaikan tangannya.
Arungga menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah Haikal yang berjalan cepat kearahnya.
"Gue belum bisa masuk karena ga bawa kartu peserta ujian. Sekarang mana kartu peserta ujian Gue Ar?" tanya Haikal sambil menyodorkan telapak tangannya kearah Arungga.
"Maksud Lo gimana ya Kal. Kok Lo nanyain kartu peserta ujian Lo sama Gue. Emang kapan Lo nitip sama Gue?" tanya Arungga.
"Ck, udah deh Ar. Ga usah bercanda lagi. Ujian mulai lima menit lagi nih, tapi Gue belum tau dimana ruangan tempat Gue ujian. Sekarang mana kartu ujian Gue?!" ulang Haikal sedikit kesal.
"Gue ga bercanda Kal. Gue serius nanya kapan Lo nitipin kartu ujian Lo sama Gue?" kata Arungga lagi.
Ucapan Arungga tentu saja membuat Haikal terkejut bukan kepalang. Ia pun menyeret Arungga agar menjauh dari ruang ujian lalu kembali bertanya.
__ADS_1
"Bukannya Lo udah ngelunasin biaya kuliah Gue Jum'at kemarin Ar ?. Itu artinya Gue bisa ikut ujian dong. Makanya sekarang Gue minta kartu peserta ujian Gue. Kalo Lo ga bawa, jangan-jangan masih ada di TU ya ?. Kalo gitu biar Gue ambil sendiri ke sana. Soalnya panitya ujian bilang kalo ga nunjukin kartu peserta Gue ga bisa masuk," kata Haikal cepat sambil bersiap melangkah namun terhenti karena Arungga mencegahnya.
Arungga menatap Haikal lekat sambil menggelengkan kepalanya.
"Gue sama sekali ga ngelunasin uang kuliah Lo Kal. Kan Gue udah bilang kalo Gue ga bisa bantu kali ini. Dan kalo nama Lo ga ada di daftar peserta ujian, artinya Lo emang ga bisa ikut ujian.," kata Arungga dengan mimik wajah serius.
Haikal pun mengerjapkan mata sambil menatap Arungga lekat seolah ingin mencerna kalimat yang baru saja Arungga ucapkan. Setelah beberapa saat tertegun, Haikal pun kembali bicara.
" Jadi ... Lo emang ga bantu Gue kali ini Ar?" tanya Haikal dengan suara tercekat disambut gelengan kepala oleh Arungga.
"Sorry Kal," kata Arungga dengan nada menyesal.
Perbincangan Arungga dan Haikal pun terhenti saat bel tanda mulai ujian berdering. Dengan terpaksa Arungga meninggalkan Haikal yang masih berdiri dengan tatapan kosong.
Arungga masih sempat melihat kearah Haikal sebelum ia masuk ke dalam kelas. Di sana Haikal masih berdiri sambil menatap kearahnya dengan perasaan berkecamuk. Ada perasaan marah, kecewa, sedih, semua campur jadi satu. Haikal pun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru dan melihat semua kelas menjadi hening pertanda ujian dimulai.
"Arungga benar-benar berubah. Dia ga lagi bisa Gue bodohi. Ternyata Gue yang kepedean dan ngira dia udah ngelunasin biaya kuliah Gue. Kalo dipikir-pikir itu emang bukan kewajiban dia. Salah Gue karena udah mengandalkan Arungga. Tapi gapapa. Ke depannya Gue bakal berusaha untuk jadi lebih baik. Mungkin ada baiknya Gue berterima kasih sama Arungga karena udah bikin Gue sadar akan sesuatu," gumam Haikal sambil tersenyum kecut.
Setelahnya Haikal nampak berjalan meninggalkan kampus dengan langkah gontai. Kali ini Haikal nampak benar-benar menyesali tindakannya.
Sedangkan di dalam kelas Arungga nampak mengawali ujian dengan perasaan gundah. Ada perasaan bersalah yang menyergap hatinya mengetahui Haikal tak bisa mengikuti ujian seperti biasanya. Namun setelah beberapa menit berlalu akhirnya Arungga berhasil menguasai diri.
"Sorry Kal. Gue bukan lagi Arungga yang bisa seenaknya Lo bod*hi. Tapi ada baiknya Lo ngalamin ini supaya Lo bisa belajar menghargai orang lain termasuk orangtua Lo yang udah banyak berkorban buat Lo," batin Arungga.
Setelah berpikir seperti itu perasaan Arungga jauh lebih baik. Ia pun kembali fokus mengerjakan soal-soal ujian di hadapannya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=