ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )

ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )
34. Kecelakaan


__ADS_3

Siska dan Alina pun berada cukup lama di kafe tempat Tantri bekerja. Setelah merasa cukup beristirahat, keduanya pun berniat pulang. Namun sebelum meninggalkan kafe Siska nampak menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang mencari sesuatu.


"Cari apaan Kak?" tanya Alina.


"Tantri. Aku mau kasih sedikit uang buat dia. Kayanya kok dia lagi butuh banget uang," sahut Siska.


"Kak Siska tau darimana kalo Kak Tantri butuh uang?" tanya Alina.


"Feeling aja. Kan Kami pernah deket dulu, jadi sisa perasaan itu mungkin masih tertinggal di sini. Makanya Kakak tau kalo Tantri lagi kesulitan uang," sahut Siska sambil menyentuh dadanya.


"Terus kalo ntar ditolak gimana?" tanya Alina.


"Ya gapapa. Ngadepin sikap Tantri yang turun naik mah udah biasa," sahut Siska sambil tersenyum.


Dan dugaan Alina terbukti. Tantri menolak uang pemberian Siska dengan alasan dia tak ingin berhutang budi pada Siska. Meski Siska berupaya membujuk, toh Tantri tetap menolak. Akhirnya Siska menyerah. Ia menyusul Alina yang lebih dulu keluar dari kafe dan menunggu di luar mall.


"Kita pake satu Taxi aja ya Na. Biar Kakak yang bayar setelah nganter Kamu dulu," kata Siska.


"Ok, makasih ya Kak," kata Alina yang diangguki Siska.


Kemudian Siska dan Alina pun berjalan keluar dari area mall menuju halte yang terletak di depan mall.


Saat sedang berjalan di trotoar, tiba-tiba Alina mendengar langkah kaki berlari cepat kearahnya. Alina menoleh dan terkejut melihat Tantri tengah berlari cepat kearahnya. Alina pun menepi dengan maksud memberi jalan pada Tantri yang ia kira sedang terburu-buru itu. Tapi naas. Saat Alina menepi, Tantri justru sengaja mendorongnya kearah truk pengangkut sayuran yang sedang melaju cepat. Akibatnya Alina tertabrak mobil hingga terlempar beberapa meter. Jeritan pun mengiringi kejadian naas yang menimpa Alina.


Darah pun mengalir dari lengan dan pundak Alina yang terluka. Gadis itu meringis kesakitan lalu jatuh tak sadarkan diri. Suasana makin hiruk pikuk karena beberapa jenis sayuran berjatuhan dari atas truk ke jalan raya. Semua orang dibuat sibuk. Ada yang membantu Alina, ada yang memunguti sayuran yang berserakan di jalan, ada juga yang mencoba mengejar Tantri.


Siska yang tak menyangka Tantri akan mendorong Alina pun ikut mengejar Tantri dan berhasil menangkap lengannya hingga Tantri terpaksa berhenti. Untuk sejenak keduanya saling menatap dalam diam.


"Lo sengaja kan?" tanya Siska sambil menatap Tantri lekat.


"Kalo Iya, emang kenapa?" tanya Tantri.


"Apa salah Alina sampe Lo setega ini sama dia. Lo tau kan apa yang Lo lakuin tadi bisa bikin Alina meninggal ?!" kata Siska gusar.


"Gue tau. Gue sengaja ngelakuin itu biar Arungga tau gimana rasanya kehilangan !" sahut Tantri hingga membuat Siska terkejut bukan kepalang.


Setelah mengatakan itu Tantri pun menarik tangannya dari cekalan Siska lalu melarikan diri. Namun seorang penjual asongan yang kesal melihat aksi yang dilakukan Tantri langsung menangkapnya.

__ADS_1


"Dia yang udah ngedorong cewek itu ke tengah jalan tadi!" kata pedagang asongan itu lantang hingga membuat semua orang menoleh sambil menatap marah kearah Tantri.


Karena panik dan takut dihakimi warga, Tantri pun menjerit ketakutan. Saking takutnya ia mengalami pendarahan hebat. Apalagi sebelumnya ia juga sempat berlari cepat untuk mencelakai Alina dan menghindari warga. Sesuatu yang tak seharusnya dilakukan Tantri di saat usia kandungannya terbilang muda.


Seorang wanita paruh baya yang mengerti apa yang dialami Tantri pun memberitahu jika Tantri keguguran dan perlu dibawa ke Rumah Sakit segera. Siska terkejut mengetahui kehamilan Tantri. Rasa kagumnya pada Arungga perlahan memudar karena ia mengira jika Tantri dan Arungga telah berhubungan int*m hingga menyebabkan Tantri hamil.


Sambil terus mendekap Alina, Siska berdoa agar bayi Tantri baik-baik saja.


Tak lama kemudian warga menghentikan dua buah Taxi. Satu Taxi untuk membawa Alina, satu Taxi lainnya untuk membawa Tantri. Siska memilih menemani Alina karena masih kesal dengan ulah Tantri.


\=\=\=\=\=


Arungga tampak berlari menuju UGD Rumah Sakit swasta. Ia baru saja mendapat kabar jika adik semata wayangnya mengalami kecelakaan.


Tiba di depan UGD Arungga bertemu kedua orangtuanya.


" Gimana keadaan Alina Ma. Apa yang terjadi, kok bisa-bisanya dia ditabrak mobil sayur ?!" tanya Arungga tak mengerti.


"Mama juga belum jelas gimana kronologinya. Mama aja dapat kabar dari Siska tadi," sahut Veni sambil menoleh kearah UGD berkali-kali.


Ucapan sang mama membuat Arungga mengerutkan keningnya karena tak mengerti apa hubungan Siska dengan kecelakaan sang adik hingga dia yang mengabari keluarganya.


"Siska lagi ditanyain Polisi di dalam sana. Mama sama Papa diminta keluar sama perawat karena Alina mau dibawa ke ruang operasi. Katanya ada luka yang harus segera ditangani," sahut Veni.


Arungga pun mengusap wajahnya mendengar jawaban sang Mama. Sesaat kemudian Veni berdiri lalu menyambut Siska. Arman dan Arungga pun ikut berdiri di belakang Veni. Saat itu Siska tampak kusut. Sebagian pakaiannya kotor terkena noda darah Alina yang telah mengering, wajahnya pun tampak pucat. Jelas sekali ia ikut tertekan setelah ditanyai polisi tadi.


"Gimana Sis, apa Polisi udah berhasil menangkap orang yang mencelakai Alina?" tanya Veni.


"Mmm ... orang yang bikin Alina celaka juga sebenernya lagi dirawat di Rumah Sakit ini Tante," sahut Siska.


"Oh ya. Dimana dia sekarang, Tante pengen ketemu sama dia," kata Veni tak sabar.


"Dia ... lagi ditangani sama dokter Tan. Kata dokter dia ... keguguran," sahut Siska tak enak hati.


"Keguguran. Maksud Kamu yang nyelakain Alina itu perempuan juga. Kalo tau dia lagi hamil, ngapain dia jahatin Alina. Emang dia ga khawatir ketulah sama bayinya. Siapa sih dia, jangan-jangan dia punya dendam sama Alina. Tapi kira-kira Tante atau keluarga Tante kenal ga sama dia Sis?" tanya Veni beruntun.


Siska nampak bingung. Ia ragu menjawab karena ia tahu jika Tantri adalah mantan kekasih Arungga. Melihat kebingungan di wajah Siska nampaknya Arungga paham apa yang terjadi.

__ADS_1


"Gapapa Sis, bilang aja," kata Arungga kemudian.


"Tantri," sahut Siska lirih namun masih bisa didengar jelas dan itu mengejutkan Arman, Veni dan Arungga.


"Tantri. Tantri mantan pacar Kamu Ga ?. Kenapa dia nyelakain Alina. Terus bayi di dalam rahimnya anak siapa?, itu anak Kamu bukan Ga?!" tanya Veni marah.


"Tenang dulu Ma. Ga usah teriak-teriak gitu. Ntar Kita malah diusir dari sini gara-gara bikin keributan lho," kata Arman mengingatkan.


"Jawab dulu Arungga !" pinta Veni hampir menangis.


"Iya Ma, itu Tantri mantan pacar Aku. Tapi bayi di rahimnya bukan Anakku. Aku masih waras Ma, ga mungkin Aku melakukan itu sebelum menikah. Lagian Kami juga udah lama ga ketemu, jadi Aku ga tau itu bayi siapa. Mungkin bayi Tantri dan pacarnya," sahut Arungga tegas.


Jawaban Arungga membuat Arman, Veni dan Siska menghela nafas lega.


"Sekarang sebaiknya antar Siska pulang dulu Ga. Kasian, dia pasti capek," kata Arman.


"Iya Pa. Ayo Sis, Gue anterin Lo pulang," kata Arungga.


"Tapi Aku masih mau di sini Om, Tante. Aku mau tau operasi Alina berhasil atau ga," kata Siska.


Arman dan Veni saling menatap sejenak kemudian mengangguk karena mereka tak mungkin memaksa Siska menuruti mereka.


"Baik lah. Tapi Kamu ganti baju dulu ya Sis. Ini Tante bawa beberapa pakaian Alina tadi. Kamu pake aja dulu," kata Veni.


"Iya Tante, makasih," sahut Siska sambil tersenyum.


Kemudian Siska bergegas menuju toilet Rumah Sakit untuk berganti pakaian. Sepuluh menit kemudian Siska telah kembali dengan mengenakan pakaian milik Siska.


"Ternyata Kamu pantes banget pake baju itu Sis. Iya kan Pa, Ga?" tanya Veni.


"Iya Ma," sahut Arman dan Arungga bersamaan.


"Makasih Tante. Sekarang Aku pamit ke kantin sebentar ya, mau beli teh hangat buat Kita," kata Siska yang diangguki Veni.


"Setuju. Ayo Gue temenin Sis," kata Arungga.


Siska pun mengangguk. Sesaat kemudian Arungga dan Siska nampak berjalan bersisian menuju kantin Rumah Sakit.

__ADS_1


Veni dan Arman nampak saling menatap sambil tersenyum melihat interaksi Siska dan Arungga. Mereka merasa jika kecelakaan yang menimpa Alina membawa hikmah tersendiri untuk hubungan Siska dan Arungga.


\=\=\=\=\=


__ADS_2