
Meski telah mencari ke semua sudut di hotel itu, Alina tak juga ditemukan. Malam itu juga Arungga memutuskan memanfaatkan bantuan yang ditawarkan Zahira.
Selama ini Zahira memang selalu menyarankan agar Arungga menggunakan body guard handal kepercayaannya untuk menjaga Alina. Body guard itu tak perlu berada dekat dengan Alina. Ia hanya mengawasi dari kejauhan. Meski pun demikian, body guard itu bisa tetap diandalkan untuk menjaga Alina.
Saat Arungga menyampaikan keinginannya, Zahira dan Fauzan tahu jika telah terjadi sesuatu yang serius dengan orang terdekat Arungga.
"Ada apa Ar, apa ada hal yang serius. Tumben Lo minta bantuan Gue ?" tanya Zahira.
"Iya Za. Alina ... ilang. Gue dan orangtua Gue udah nyari kemana-mana tapi nihil. Gue khawatir ini kerjaannya si Haikal. Dia bisa aja nekad dan menyakiti Alina nanti," sahut Arungga gusar.
"Kalo ini ulah Haikal, Lo ga usah khawatir Ar. Bukannya Haikal cinta mati sama Alina ?. Jadi Haikal ga mungkin menyakiti Adik Lo," kata Fauzan.
"Mungkin juga. Tapi ga ada yang tau isi kepala Haikal sebaik Gue. Dia aja tega menyakiti Tantri yang selama ini selalu ada untuknya, apalagi Alina. Kalo dibandingkan sama Tantri, Alina bukan apa-apa. Apalagi selama ini Alina juga selalu nolak saat Haikal mencoba mendekatinya. Gue khawatir, karena telalu mencintai Alina, Haikal justru nekad menyakiti Alina," sahut Arungga gusar.
"Masuk akal. Kalo gitu Lo bisa pake semua body guard Gue untuk mencari Adik Lo," kata Zahira kemudian.
"Ga usah semua Za. Gue cuma perlu dua orang aja kok," sahut Arungga.
Zahira pun mengangguk setuju lalu segera mengutus dua orang body guard andalannya untuk membantu Arungga.
Selain itu Arungga juga menghubungi polisi yang pernah menanyakan keberadaan Haikal padanya. Rupanya Arungga dan polisi itu saling memberi kabar tentang perkembangan kasus kaburnya Haikal.
\=\=\=\=\=
Siska nampak melajukan sepeda motornya menyusuri jalan raya di sekitar hotel B tempat Zahira menggelar pesta.
Rupanya Siska benar-benar mewujudkan ucapannya untuk membantu mencari Alina. Siska seolah lupa jika dia juga seorang wanita yang memiliki penampilan fisik yang memukau. Sudah bisa ditebak jika keberadaan Siska di jalan seorang diri di malam itu justru akan mengundang niat jahat pria hidung belang. Apalagi saat itu Siska hanya mengenakan setelan piyama yang berbahan tipis dan sedikit menerawang.
Siska berhenti tak jauh dari hotel B lalu mengamati sekelilingnya. Siska terkejut saat melihat Alina sedang berjalan pelan bersama seorang pria bertopi menuju sebuah Taxi. Siska pun sembunyi di balik pot besar agar aksinya tak ketahuan oleh penculik Alina.
Dari tempat persembunyiannya Siska bisa melihat Alina berkali-kali menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang mencari bantuan. Sayangnya kondisi jalan saat itu sangat sepi. Ditambah ancaman sebuah pisau di pinggangnya membuat Alina hanya bisa pasrah dan menuruti perintah pria bertopi itu.
Alina dan pria itu masuk ke dalam Taxi yang kemudian melaju cepat meninggalkan tempat itu. Tanpa Alina sadari ponselnya terjatuh dan Siska yang melihatnya pun bergegas mengambilnya.
__ADS_1
Siska segera menghubungi Arungga dengan ponsel milik Alina sambil melajukan motornya mengikuti Taxi yang membawa Alina.
Tersambung. Arungga yang mengira jika Alina yang menghubunginya pun terdengar mengucap hamdalah dengan antusias. Siska hanya bisa berdecak sebal mendengarnya.
"Ini Gue Ar, Siska. Barusan Gue ngeliat Alina sama cowok pake topi pergi pake Taxi. Kayanya Alina ga tau kalo ponselnya jatuh," kata Siska.
"Ok, Lo dimana sekarang?" tanya Arungga.
"Gue lagi ngikutin Alina," sahut Siska cepat.
"Sama siapa Lo di sana, ini kan udah malam Sis. Bahaya kalo sendirian di sana!" kata Arungga gusar.
"Kan Lo yang maksa Gue buat bantuin nyari Alina tadi !. Udah ga usah bawel. Gue aktifin GPS di ponselnya Alina. Lo tinggal ngikutin aja," kata Siska ketus.
"Jangan !. Ga usah Sis, bahaya !" kata Arungga namun tak dihiraukan oleh Siska.
Siska memutus sambungan telephon karena merasa Arungga akan menghambat perjalanannya dan membuatnya kehilangan jejak Alina.
\=\=\=\=\=
Saat Siska mencoba kembali menghubungi Arungga, ternyata ponsel Alina kehabisan baterai. Siska berdecak kesal karena bingung bagaimana cara menyelamatkan Alina. Khawatir akan kehilangan jejak, Siska pun memilih terus mengikuti Alina dan pria itu.
Ternyata pria itu membawa Alina masuk ke jalan sempit yang gelap. Kali ini Siska tak berani mengikuti karena ia takut gelap. Siska pun bersiap pergi saat melihat sebuah mobil berhenti tak jauh dari motornya. Dari dalam mobil keluar lah tiga orang pria yang salah satunya adalah Arungga.
"Arungga !" panggil Siska sambil melambaikan tangannya.
Arungga pun mendekati Siska dan terkejut melihat Siska yang mengenakan piyama berbahan tipis hingga bentuk tubuhnya tercetak jelas. Arungga melirik ke belakang dan melihat tatapan kedua body guard Zahira yang terpaku pada tubuh Siska.
Dengan kesal Arungga melepaskan jasnya lalu menyerahkannya pada Siska dan meminta gadis itu memakainya.
"Apa-apaan sih Ar," protes Siska tak mengerti.
"Piyama Lo tipis dan menerawang. Lo mau mereka ngeliatin bentuk badan Lo yang ga Ok itu ?!" kata Arungga ketus sambil melirik kearah dua body guard Zahira yang kian mendekat.
__ADS_1
Wajah Siska nampak bersemu merah karena malu. Dengan cepat ia memakai jas milik Arungga untuk menutupi tubuhnya.
"Kok Lo tau Gue di sini. Padahal kan ponsel Alina mati," kata Siska.
"Gue nebak aja," sahut Arungga asal sambil mulai melangkah menuju gang sempit di samping gedung JC.
"Apa Lo tau Alina dibawa kemana Ar?" tanya Siska.
Arungga berhenti melangkah dan terkejut melihat Siska ada di belakangnya. Ia meminta Siska pulang karena tak ingin sesuatu terjadi pada Siska nanti.
Sebelumnya Arungga dibuat shock saat mengikuti pergerakan ponsel Alina. Saat itu lah Arungga tersadar jika Haikal akan membawa Alina pergi ke gedung JC. Karena di atap gedung JC adalah tempat Haikal membunuh Zahira dan dirinya.
Arungga nampak gusar saat mengetahui ponsel Alina mati dan tak bisa dihubungi. Ia mencoba menghubungi ponsel Siska namun tak direspon. Berkali-kali Arungga mengusak rambutnya dengan kasar karena khawatir dengan keselamatan Alina dan Siska.
Arungga makin gusar karena ingat jika saat pembunuhan terjadi, ada Tantri dan Zahira di sana. Tapi kedua wanita itu tak ada di lokasi saat ini.
"Tantri udah meninggal, dan Zahira pasti lagi di hotel sama Fauzan. Terus siapa yang menempati posisi mereka. Karena akan ada empat orang di sana selain Gue dan Haikal. Jangan-jangan Alina dan Siska yang menempati posisi Tantri dan Zahira. Kalo dulu Zahira ikut mati terbunuh, artinya salah satu diantara mereka juga bakal terbunuh malam ini. Tapi siapa ?, Alina atau Siska ?" batin Arungga panik.
Arungga senang mengetahui Siska tak bertindak gegabah karena masih menunggu kedatangannya di pinggir jalan. Namun Arungga tak nyaman melihat pakaian yang Siska kenakan. Arungga sadar jika saat itu hari telah larut, jadi wajar jika Siska mengenakan pakaian tidur.
Lamunan Arungga buyar saat body guard Zahira menegurnya. Arungga menghela nafas lega saat tak melihat keberadaan Siska di sana. Ia menduga Siska pulang sesuai permintaannya tadi.
"Kita ke dalam. Ke atap gedung lebih tepatnya," kata Arungga.
"Ibu bilang Kita bisa lewat dalam aja kalo mau ke atas Mas," sahut body guard Zahira.
"Kamu kasih tau Bu Zahira Kita dimana sekarang?" tanya Arungga tak percaya.
"Ga kok. Tapi Ibu tau posisi Kita Mas. Gimana, apa Kita masih mau cari jalan tikus Mas?" tanya body guard Zahira.
"Kalo ada jalan yang mudah, ngapain cari jalan yang sulit. Ayo Kita masuk ke dalam," ajak Arungga.
Kedua body guard Zahira pun tersenyum lalu mengikuti Arungga masuk ke dalam area gedung JC. Mereka disambut security yang nampaknya juga telah diperintah oleh Zahira untuk membantu. Selanjutnya dengan mudah Arungga dan kedua body guard Zahira masuk ke dalam lift menuju atap gedung.
__ADS_1
\=\=\=\=\=