ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )

ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )
27. Jodoh Untuk Arungga ?


__ADS_3

Arungga sedang mengamati pekerjaan karyawan divisi keuangan saat ia melihat sosok pria baik yang pernah menjadi atasannya melintas. Pria itu adalah Fauzan. Saat itu Fauzan tampak keren dan berwibawa dengan out fit yang dikenakannya.


Arungga terus mengikuti kemana Fauzan melangkah dengan kedua matanya. Namun ia harus kehilangan jejak saat Fauzan masuk ke dalam lift.


Arungga pun kembali mengamati pekerjaan karyawan dan mencoba melupakan apa yang dilihatnya tadi. Arungga mengira Fauzan tak akan terlibat jauh dalam misi balas dendamnya nanti.


Bukan tanpa sebab Arungga berpikir seperti itu. Setelah Arungga kembali ke kehidupannya, ia dihadapkan pada banyak kenyataan yang berbeda dengan apa yang pernah ia temui di kehidupan sebelumnya. Alur hidupnya berubah, begitu pula jalan cerita dari tiap orang yang ia kenal.


Dan kenyataan yang berbeda kembali Arungga temui saat ia pulang dari kantor.


Sore itu Arungga sengaja pergi ke mall untuk menemui wanita yang dijodohkan oleh sang mama.


Arungga memang tak pernah lagi menggandeng seorang wanita setelah mengakhiri hubungannya dengan Tantri. Dan itu membuat Veni cemas. Ia khawatir Arungga trauma dengan wanita. Karenanya Veni mengatur kencan buta untuk Arungga.


Awalnya Arungga menolak karena tak ingin menyakiti wanita yang dijodohkan dengannya itu. Namun Veni meyakinkan Arungga bahwa ia tak memaksa Arungga menikahi wanita itu.


"Hanya ketemu dan kenalan aja. Soal lanjut atau ga, berjodoh atau ga, Kita liat aja nanti. Mama ga maksa kok," kata Veni kala itu.


Arungga pun setuju karena tak ingin membuat sang Mama kecewa. Dan sore itu ia telah berada di mall yang dimaksud sang Mama.


Sambil melangkah perlahan Arungga mulai mengamati sekelilingnya. Veni memberitahu Arungga jika wanita itu mengenakan gaun denim berwarna biru laut, rambut sebahu, mengenakan sling bag dan sepatu berwarna putih. Arungga berhenti melangkah saat melihat wanita dengan ciri-ciri yang disebut sang Mama.


Dari jarak sepuluh meter Arungga bisa melihat wanita itu tengah berdiri sambil mengetik sesuatu di ponselnya. Nampaknya wanita itu juga mulai gelisah karena pria yang ditunggu tak juga datang. Namun saat Arungga memanggil namanya, wanita itu pun tersenyum lalu menoleh.


Namun sedetik kemudian senyum wanita yang tak lain adalah Siska itu pun memudar saat ia mengenali siapa pria yang memanggil namanya.


"Arungga?" kata Siska dengan suara tercekat.


"Siska. Lo beneran Siska kan?" tanya Arungga ragu.


"Iya. Lo ... ngapain di sini. Ups, sorry. Maksud Gue, Kita bisa ngobrol lain kali aja ya. Kali ini Gue lagi nunggu seseorang. Dan ini penting banget buat nentuin masa depan Gue nanti," kata Siska cepat.


"Cowok?" tebak Arungga.


"Iya," sahut Siska cepat sambil menatap ke sekelilingnya dengan tatapan cemas.

__ADS_1


"Apa Lo diminta ke sini sama seseorang. Maksud Gue sama ... Tante Veni mungkin?" tanya Arungga hati-hati.


"Eh, kok Lo tau sih Ar. Iya, Gue ke sini karena mau ketemu sama Anaknya Tante Veni. Apa Lo kenal sama dia ?. Kasih tau Gue gimana orangnya dong Ar. Dia keren, sombong atau kuper. Duh, kok Gue khawatir mengecewakan dia ya. Tapi Gue udah Ok kan Ar, penampilan Gue ga malu-maluin kan Ar" tanya Siska beruntun sambil mengamati dirinya sendiri.


Ucapan Siska membuat Arungga menghela nafas panjang. Ia mengusap wajahnya untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Anak Tante Veni itu Gue Sis," kata Arungga sesaat kemudian.


Siska terkejut mendengar ucapan Arungga. Saking terkejutnya Siska pun tanpa sadar mundur beberapa langkah.


"Lo anaknya Tante Veni ?!" tanya Siska tak percaya.


"Iya," sahut Arungga sambil mengangguk.


"Ya Allah. Sorry Ar, Gue ga tau kalo itu Lo. Andai Gue tau, pasti Gue nolak sejak awal," kata Siska tak enak hati.


"Gapapa Sis. Gue tau Lo juga pasti ga dikasih info lengkap tentang cowok yang bakal Lo temuin ini. Iya kan ?" tanya Arungga sambil tersenyum.


Siska pun mengangguk. Sejujurnya Siska senang saat tahu pria yang sedang coba dijodohkan dengannya adalah Arungga. Baginya tak sulit untuk menerima dan mencintai Arungga, karena ia memang pernah mencintai Arungga saat di bangku kuliah dulu.


Kemudian Arungga mengajak Siska bicara di suatu tempat. Siska pun setuju dan memilih tempat yang romantis sebagai tempat perdananya 'berkencan' dengan Arungga.


\=\=\=\=\=


Siska nampak mengamati Arungga yang sedang menikmati makanan ringan di hadapannya. Dalam hati Siska bersorak gembira karena bisa mendapatkan moment langka seperti ini, yaitu duduk berdua sambil menatap wajah tampan Arungga.


"Kenapa senyum-senyum sendiri Sis. Emang Lo ga khawatir disangka gila sama pengunjung lain?" tanya Arungga sambil menatap ke sekelilingnya.


"Ck, apaan sih Lo Ar. Ngerusak moment aja. Gue tuh lagi nikmatin mimpi Gue yang akhirnya bisa terwujud tau ga," sahut Siska kesal sambil mengerucutkan bibirnya.


Sikap Siska justru membuat Arungga merasa terhibur. Ia pun tertawa dan itu membuat Siska makin kesal.


"Maaf deh, Gue kan cuma bercanda. Emangnya mimpi apa yang terwujud di tempat ketinggian kaya gini Sis?" tanya Arungga.


"Mimpi tentang ... Eh, Lo ga boleh tau. Ini rahasia Ar!" kata Siska cepat sambil menutup mulutnya.

__ADS_1


Arungga pun menggelengkan kepala mendengar jawaban Siska. Lalu mengalir lah percakapan ringan antara Arungga dan Siska. Arungga lebih dulu menceritakan perjalanan hidupnya. Siska nampak tak terkejut saat Arungga menceritakan hubungannya dengan Tantri yang telah berakhir. Bahkan Siska tersenyum puas saat Arungga mengatakan dia lah yang memutuskan hungan mereka.


Setelahnya giliran Siska yang menceritakan apa yang ia lakukan setelah lulus kuliah. Ternyata saat ini Siska bekerja sebagai guru di sebuah yayasan. Selain itu Siska juga tengah mengikuti kursus bahasa asing.


"Bagus Sis. Itu pasti berguna nanti," kata Arungga.


"Iya sih. Gue juga ga tau sampe kapan bisa jadi guru di yayasan itu. Makanya sebelum dipecat, Gue pergunakan waktu yang ada sebaik mungkin. Pagi sampe siang ngajar di yayasan, sorenya kursus bahasa asing deh," sahut Siska sambil tersenyum.


"Dan saat menikah nanti, Lo bisa bantu Suami Lo cari uang dari rumah. Entah buka les private bahasa asing atau jadi penerjemah buku berbahasa asing," kata Arungga.


"Ga usah ngomongin pernikahan deh Ar. Gue malu," potong Siska dengan wajah merona.


"Lho kenapa memangnya?. Kita kan udah dewasa. Wajar dong kalo ngomongin soal pernikahan," sahut Arungga.


Siska hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban Arungga. Baginya tak ada gunanya membicarakan pernikahan saat itu karena sikap Arungga yang masih abu-abu.


"Kita emang udah dewasa. Tapi buat apa ngomongin pernikahan kalo Lo sendiri ga tertarik menikah sama Gue Ar," batin Siska gusar sambil meneguk juice buah di hadapannya.


Arungga yang tahu Siska tak nyaman dengan topik pernikahan pun ikut diam. Arungga mencoba bertahan di sana karena yakin jika mata-mata sang Mama tengah mengawasi dia dan Siska saat itu.


Kemudian Arungga mengedarkan pandangan ke penjuru restoran, tak sengaja matanya menangkap sosok Zahira yang sedang duduk berhadapan dengan Fauzan. Dari kejauhan Arungga bisa melihat sikap canggung Zahira dan Fauzan. Tentu saja itu membuat Arungga penasaran.


Siska yang diam sejak tadi pun ikut melihat kearah yang sedang ditatap Arungga dan terkejut.


"Itu kan Zahira. Sama siapa dia di sana?. Jangan-jangan cowok itu tunangannya ya," kata Siska hingga membuat Arungga terkejut.


"Darimana Lo tau kalo itu tunangannya?" tanya Arungga.


"Dari teman di yayasan yang kenal sama keluarganya Zahira. Katanya Zahira akan menikah sama cowok pilihan Kakeknya. Eh, ngomong-ngomong Lo tau ga kalo sebenernya Zahira itu tajir melintir Ar?" tanya Siska.


"Tau. Kan sekarang Gue kerja di perusahaan milik Zahira," sahut Arungga sambil tersenyum.


"Maksud Lo Zahira itu pemilik JC group?!" tanya Siska.


"Iya," sahut Arungga.

__ADS_1


Jawaban Arungga membuat Siska terkejut bukan kepalang. Untuk menetralisir rasa terkejutnya Siska minum banyak sekali. Bahkan tanpa sadar Siska juga meneguk air di gelas Arungga hingga membuat Arungga kembali terdiam.


\=\=\=\=\=


__ADS_2