
Arungga sedang menekuri pekerjaannya di ruang kerjanya. Sesaat kemudian Arungga nampak menjentikkan jari setelah menemukan apa yang dicarinya selama ini.
"Bingo !. Akhirnya, kena Lo sekarang," kata Arungga.
Bertepatan dengan itu pintu ruang kerja Arungga diketuk dari luar. Arungga pun bergegas menyimpan semua bukti yang ia miliki, setelahnya baru mempersilakan orang itu masuk.
Arungga mematung saat melihat siapa yang ada di balik pintu. Orang itu adalah Haikal.
Haikal memang ada divisi keuangan setelah melewati masa percobaan tiga bulan di perusahaan. Dan ini bulan ke delapan Haikal ada di Divisi yang dipimpin Arungga itu.
Kondisi Haikal saat itu nampak tak baik-baik saja. Wajahnya terlihat memar, sedangkan lengan hingga telapak tangan kirinya dibalut perban. Arungga yang tahu itu adalah hasil perbuatannya nampak tak peduli.
"Selamat pagi Pak," sapa Haikal ragu.
"Pagi. Ada apa Pak Haikal?" tanya Arungga datar.
"Kata Pak Aji, Bapak perlu laporan terbaru. Saya udah buat dan Pak Aji nyuruh Saya serahin ke Bapak langsung," sahut Haikal.
"Oh itu. Letakkan aja di atas meja, nanti Saya cek," kata Arungga.
Haikal pun mengangguk lalu meletakkan berkas laporan keuangan yang dibawanya di atas meja di hadapan Arungga. Haikal nampak gugup tapi Arungga cuek. Ia mengamati Haikal dengan intens tanpa berkedip.
Setelah meletakkan berkas laporan di atas meja, Haikal pun berbalik lalu melangkah menuju pintu. Namun ia berhenti dan menoleh kearah Arungga.
"Gue minta maaf Ar. Tapi Gue beneran cinta sama Alina. Gue ...."
"Ini jam kerja. Ada baiknya ga membahas masalah pribadi di kantor. Jangan lupa tutup pintunya sekalian," kata Arungga tanpa menatap Haikal.
Haikal menghela nafas panjang lalu mengangguk. Setelahnya ia keluar dari ruangan Arungga dengan perasaan kesal. Sedangkan Arungga hanya tersenyum sinis usai mendengar pengakuan Haikal.
"Cinta?. Lo ga mungkin bisa ngerasain cinta karena hati Lo udah mati Kal," omel Arungga.
\=\=\=\=\=
Fauzan mengajak Arungga bertemu di sebuah tempat. Rupanya Fauzan ingin bicara dengan Arungga secara pribadi.
Tempat yang dipilih Fauzan ada di pinggiran kota Jakarta. Yaitu tempat dimana perusahaan JC group sedang membangun taman bermain keluarga berbayar yang ramah anak.
Arungga yang datang terlambat karena terjebak macet pun nampak tak enak hati. Bagaimana pun Fauzan adalah calon suami Zahira yang merupakan bosnya.
" Sorry telat, macet banget di jalan tadi," sapa Arungga sambil menjabat tangan Fauzan.
__ADS_1
"Gapapa, biasa itu. Kita ngobrol serius tapi santai yuk Ar," ajak Fauzan sambil tersenyum.
"Ok," sahut Arungga sambil mengikuti Fauzan dari belakang.
Fauzan berhenti melangkah lalu duduk di gazebo yang sudah selesai dicat ulang. Kemudian Fauzan mengeluarkan sebungkus rokok yang ia letakkan di hadapan Arungga. Arungga pun ikut duduk dengan benak dipenuhi pertanyaan.
"Jadi ada apa Bang?" tanya Arungga tak sabar.
"Kita mau ngebahas temuan Lo itu Ar," sahut Fauzan sambil menyalakan rokok.
"Apa ada masalah?" tanya Arungga penasaran.
"Kita tahu kalo Haikal lah orang yang udah membobol uang JC. Tapi Lo tau ga apa yang orang Gue temuin?" tanya Fauzan.
"Apaan Bang?" tanya Arungga.
Fauzan nampak menghisap dalam rokoknya lalu menghembuskan asapnya ke udara dengan gerakan lamban seolah ada sesuatu yang membuatnya tak nyaman.
"Ternyata Haikal mengirim sebagian uang curiannya itu ke dua atau tiga nomor rekening lain. Dan Lo tau nomor siapa yang dia pake untuk menyembunyikan hasil kejahatannya?" tanya Fauzan.
"Nomor siapa Bang?" tanya Arungga cemas.
"Salah satu nomor rekening itu terdaftar atas nama Alina Armanditia, adik Lo," sahut Fauzan sambil menatap Arungga lekat.
"Bang*at!" maki Arungga setelah berhasil menguasai diri.
"Makanya Gue sama Zahira sengaja menunda laporan ke Polisi karena ga mau Adik Lo terlibat," kata Fauzan.
"Jadi Gue harus gimana Bang ?. Bisa kan Lo selamatkan Alina. Dia cuma korban dan dia pasti ga tau apa-apa soal ini," kata Arungga cemas.
"Lo tenang aja. Semua bakal diurus sama orang Gue. Gue ngerasa Lo harus tau aja sebreng*ek apa Haikal. Dia orang yang berbahaya. Selain memanipulasi persahabatan Kalian, dia juga memanfaatkan orang-orang terdekat Lo untuk keuntungannya. Gue ga tau ada dendam apa dia sama Lo sampe tega ngelakuin ini, tapi Gue harap Lo hati-hati sama dia Ar," kata Fauzan.
" Iya Bang, makasih. Yang penting bersihkan nama baik Gue dan Adik Gue. Soal Haikal biar jadi urusan Gue nanti," sahut Arungga sambil mengepalkan tangannya.
Fauzan pun mengangguk sambil mengamati ekspresi wajah Arungga. Fauzan mengakui jika Arungga tampan dan berkharisma. Arungga juga pandai dan berbakat. Jadi wajar jika banyak wanita, termasuk Zahira, jatuh hati dan mendamba cintanya.
Fauzan kembali teringat hubungannya dengan Zahira. Dulu mereka bersahabat tapi kini mereka bertunangan. Bahkan pernikahan mereka sedang dipersiapkan.
Fauzan akui awalnya ia hanya bersimpati pada Zahira yang dikucilkan teman-temannya karena penampilannya yang unik itu. Fauzan terus mengawasi Zahira tanpa sepengetahuan siapa pun. Dan Fauzan terkejut saat melihat pertengkaran Zahira dengan Tantri di tanah kosong di belakang kampus.
Dari jarak dekat Fauzan bisa mendengarkan isi pembicaraan Tantri dan Zahira. Ternyata dari sana lah Fauzan tahu jika Tantri dan Zahira juga bersahabat saat masih SMA.
__ADS_1
Tantri marah karena merasa Zahira terus mengikutinya. Tantri khawatir Zahira akan membongkar perilaku buruknya saat SMA dulu pada rekan-rekannya. Dan yang membuat Tantri lebih marah karena Zahira juga mengganggunya saat ia ingin mendekati Arungga.
"Ga usah mimpi kalo Arungga bakal mau sama cewek norak dan kampungan kaya Lo ya Za!" kata Tantri kala itu.
"Biar Gue norak, tapi Gue ga brengsek dan murahan kaya Lo Tan," sahut Zahira cuek sambil melangkah meninggalkan Tantri.
"Tutup mulut Lo atau Lo bakal tau akibatnya Za!" kata Tantri lantang.
"Bodo amat!" sahut Zahira sambil terus melangkah.
Fauzan yang mendengar jawaban Zahira pun tersenyum. Ia kagum pada keberanian Zahira menghadapi Tantri yang cantik, famous dan mengintimidasi itu.
Hingga suatu hari Fauzan melihat Zahira turun dari sebuah mobil mewah dengan pengawalan ketat. Zahira yang panik karena jati dirinya ketahuan itu pun meminta Fauzan untuk tutup mulut. Fauzan mengiyakan namun dengan syarat.
"Jangan musuhin Gue kaya Lo musuhin mereka," pinta Fauzan.
"Ok deal," sahut Zahira sambil tersenyum.
Dan sejak saat itu mereka bersahabat. Fauzan yang telah lulus dari kampus pun masih kerap mengunjungi Zahira di kampus secara diam-diam. Fauzan hanya ingin memastikan jika Zahira baik-baik saja dan punya teman yang menerimanya dengan tulus.
Saat Fauzan kembali dari luar negeri usai menyelesaikan pendidikan S2, Fauzan dihadapkan pada sebuah perjodohan yang diatur oleh orangtuanya. Namun saat tahu Zahira adalah wanita yang dijodohkan dengannya, Fauzan pun panik. Ia khawatir Zahira marah dan menolak perjodohan itu karena persahabatan mereka. Apalagi Fauzan tahu jika hanya nama Arungga yang ada di hati Zahira. Tapi saat Zahira menerima perjodohan mereka dan berjanji akan belajar melupakan Arungga, Fauzan pun percaya.
Awalnya sikap mereka berdua sempat canggung karena harus merubah sikap, panggilan dan cara bicara satu sama lain. Namun Fauzan dan Zahira bisa melewati semuanya dengan baik dan kini mereka siap untuk menikah.
Lamunan Fauzan buyar saat Arungga berdiri sambil menyapa seseorang. Dan saat Fauzan menoleh, ia melihat Zahira di sana. Fauzan pun tersenyum lalu mendekati Zahira.
"Kamu di sini juga Sayang?" tanya Fauzan.
"Aku kan udah bilang mau ke sini. Emang Kamu ga baca pesan chat Aku ?" tanya Zahira setengah merajuk.
"Ya ampun, maaf Sayang. HPku low batt nih," kata Fauzan sambil memperlihatkan ponselnya.
Zahira nampak mendengus lalu membuang tatapannya kearah lain. Fauzan pun berusaha membujuk Zahira dan berhasil. Sesaat kemudian gadis itu nampak tersenyum hingga membuat Fauzan gemas lalu menarik Zahira ke dalam pelukannya. Wajah Zahira pun merona karena aksi spontan yang Fauzan lakukan.
Arungga yang menyaksikan kebahagiaan Zahira dan Fauzan pun ikut tersenyum.
"Terus gimana Kak, apa Arungga udah dikasih tau soal kebusukan Haikal?" tanya Zahira sambil menengadahkan kepalanya untuk menatap Fauzan.
"Udah dong," sahut Fauzan cepat.
Kemudian Fauzan mengajak Zahira duduk untuk melanjutkan pembicaraan dengan Arungga yang sempat terhenti tadi.
__ADS_1
\=\=\=\=\=