
Sementara itu Alina sedang berada dibawah pengawasan pria yang menculiknya. Pria itu tak lain adalah Haikal.
Sebelumnya Haikal berhasil masuk ke arena pesta pernikahan Zahira dan menarik Alina keluar dari sana. Meski pun tak melakukan kekerasan fisik pada Alina, tapi Haikal menempelkan belati di pinggang belakang Alina hingga membuat gadis itu ketakutan dan terpaksa menuruti semua ucapan Haikal.
"Kenapa Kita ke sini Bang. Mau apa di sini?" tanya Alina saat mereka tiba di atap gedung.
"Selama buron Abang tinggal di sini Na. Ga ada yang tau tempat ini karena jarang yang naik ke sini," sahut Haikal sambil tersenyum.
"Terus Abang mau apa?" tanya Alina dengan suara bergetar.
"Ga mau apa-apa. Abang cuma mau Kamu dengerin Abang Na. Ga usah takut, Abang ga bakal nyakitin Kamu kok," sahut Haikal sambil menatap Alina lekat.
"Abang tau kan kalo apa yang Abang lakukan ini salah. Semua orang pasti panik dan nyariin Aku karena Aku ga ada dimana-mana Bang!" kata Alina gusar.
"Sssttt ... ga usah teriak Na. Abang ga tuli. Abang cuma mau Kamu duduk dan dengerin Abang. Bisa kan ?!" tanya Haikal sambil membungkam mulut Alina dengan telapak tangannya.
Alina mengangguk cepat karena khawatir Haikal akan menyakitinya. Haikal pun tersenyum lalu menarik tangannya setelah melihat anggukan kepala Alina.
Kemudian Haikal membawa Alina duduk di pagar pembatas yang mengelilingi atap gedung. Alina menolak. Selain takut ketinggian, Alina juga khawatir Haikal khilaf lalu mendorongnya ke bawah.
Haikal pun mengalah dan akhirnya mereka hanya bicara sambil bersandar pada pagar pembatas itu.
Alina terpaksa mendengarkan apa yang Haikal ucapkan. Sesekali Alina menoleh kearah lain untuk melihat kemungkinan melarikan diri. Haikal marah lalu membentaknya hingga membuat Alina takut. Saat itu Haikal membicarakan masa lalu, cita-cita, cinta dan masa depannya. Sesuatu yang belum sempat mereka bicarakan saat menjadi sepasang kekasih dulu.
"Jadi gimana Na, apa Kamu mau menikah sama Abang?" tanya Haikal kemudian.
"Apa, me-menikah ?" tanya Alina gugup.
"Iya Na. Abang cinta sama Kamu. Cuma Kamu satu-satunya wanita yang ingin Abang nikahi. Yah, walau Abang breng**k dan suka mempermainkan wanita, tapi Kamu adalah pengecualian," kata Haikal sungguh-sungguh.
"Maaf Bang. Aku ga bisa menikahi pria yang berkali-kali berusaha menyakiti Aku dan keluargaku. Selain itu, Aku udah ga cinta sama Kamu Bang," sahut Alina tegas.
Ucapan Alina membuat Haikal marah. Ia menarik Alina dan berniat menciumnya. Alina menghindar dan berhasil mendorong Haikal lalu lari kearah pintu. Namun langkah Alina terhenti karena Haikal menjegal langkahnya hingga gadis itu jatuh tersungkur. Alina menjerit saat Haikal berhasil menind*h punggungnya. Alina kembali menjerit saat Haikal merobek pakaiannya di bagian belakang.
__ADS_1
"Kalo Aku ga bisa miliki Kamu, maka ga ada orang lain yang boleh memiliki Kamu Alina. Kamu itu cuma buat Aku. Paham ga?!" kata Haikal lantang sambil menciumi Alina dengan brutal.
Alina terus menjerit dan berusaha melepaskan diri dari dekapan Haikal. Air mata nampak membasahi wajahnya yang pucat. Sedangkan Haikal makin beringas saat rintik hujan turun membasahi sebagian tubuh Alina yang tersingkap itu.
Di saat Alina hampir kehilangan segalanya, sebuah besi mampir di kepala Haikal hingga pria itu terlempar dari atas tubuh Alina.
Alina pun beringsut menjauh sambil berusaha menutupi tubuhnya, sedangkan Haikal nampak menjerit marah sambil memegangi kepalanya yang terluka itu. Kemudian ia dan Alina menoleh kearah sosok yang memukulnya tadi dan mereka melihat Arungga berdiri dengan gagah sambil memegang sebatang besi berukuran setengah meter.
Kemarahan nampak tercetak jelas di wajah Arungga. Apalagi ia baru saja menyaksikan upaya Haikal menodai Alina. Sesuatu yang tak ada di kehidupan sebelumnya.
Tanpa membuang waktu Arungga menghampiri Haikal sambil mengayunkan besi di tangannya. Namun sayang, Arungga kalah cepat. Haikal justru telah menancapkan belati yang dipegangnya ke betis Arungga hingga membuat Arungga menjerit lalu jatuh tersungkur.
"Kakaaak ...!" panggil Alina saat melihat sang kakak jatuh sambil memegangi kakinya yang terluka.
Dan Alina kembali menjerit memanggil Arungga saat Haikal mendekatinya lalu menyeret tubuhnya agar menjauh dari sang kakak.
"Bang*at Lo Haikal. Lepasin Alina !" jerit Arungga marah namun justru membuat Haikal tertawa.
"Lo selalu ngelarang Gue buat deketin Alina. Dan itu bikin Gue penasaran Ar. Jadi Gue mau tau senikmat apa sih Alina. Gue ga akan pelit. Kali ini Gue ijinin Lo ngeliat semuanya Ar !" kata Haikal di sela tawanya.
Sebelum Haikal berhasil melancarkan aksinya, sebuah tendangan kembali mampir mengenai tubuhnya hingga terguling di lantai. Selanjutnya Haikal tak berdaya karena menjadi bulan-bulanan kedua body guard Zahira
Zahira yang ternyata juga ada di sana langsung menutupi tubuh Alina dengan jaket yang ia kenakan. Melihat Zahira menutupi tubuh adiknya dengan jaket mengingatkan Arungga pada apa yang ia lakukan pada Siska tadi. Ia tersenyum bahagia karena Allah langsung membalas kebaikannya tanpa ditunda.
"Cukup, hentikan !. Sekarang tinggalkan Kami dan tolong bawa Alina ke tempat yang aman !" pinta Zahira lantang.
"Terus gimana sama Ibu?" tanya salah satu body guard Zahira.
"Saya gapapa. Masih ada yang harus Saya selesaikan di sini. Kalian tunggu aja di bawah," sahut Zahira.
Kedua body guard Zahira saling menatap sejenak kemudian mengangguk. Meski mereka tampak menuruti permintaan Zahira, namun mereka memiliki siasat untuk melindungi Zahira.
Arungga nampak menghela nafas lega saat melihat kedua body guard Zahira membawa Alina pergi. Namun saat melihat Zahira memilih tinggal di sana membuat Arungga panik. Ia khawatir Haikal akan membunuh Zahira seperti di kehidupan sebelumnya. Arungga pun meminta Zahira pergi tapi Zahira menolak.
__ADS_1
Hujan pun mulai membasahi semuanya termasuk Arungga, Haikal dan Zahira. Petir menggelegar di langit seolah berada dekat di atas kepala mereka. Ini sama persis dengan kejadian saat Arungga dan Zahira meregang nyawa dulu.
" Jangan di sini Za. Bahaya. Saat ini Gue bener-bener ga bisa melindungi Lo!" kata Arungga putus asa.
"Sama kaya dulu ya Ar. Saat itu Lo juga ga bisa menyelamatkan Gue dari belati Haikal," sahut Zahira sambil tersenyum.
Ucapan Zahira membuat Arungga terkejut. Ia tak menyangka jika Zahira juga terlahir kembali dan memiliki kesempatan ke dua sama seperti dirinya.
"Zahira. Jadi Lo juga ...," ucapan Arungga terputus karena Zahira memotong cepat.
"Iya Ar. Itu sebabnya Gue tau kemana Haikal membawa Alina pergi. Walau alur ceritanya berbeda sama kehidupan yang dulu, termasuk pernikahan Gue dan Fauzan, juga kehadiran orang-orang baru di sekitar Kita, tapi garis besarnya tetap sama. Iya kan Ar?" tanya Zahira yang diangguki Arungga.
Di saat Zahira dan Arungga bicara, Haikal menggunakan kesempatan itu untuk menyerang Zahira dari samping. Arungga mengingatkan Zahira hingga Zahira berhasil menghindari serangan Haikal. Namun Haikal tak putus asa. Ia kembali mencoba menyerang Zahira yang saat itu tengah membungkuk untuk membantu menarik belati dari betis Arungga.
Kali ini Haikal menggunakan dasi milik Arungga yang terjatuh sebagai senjata. Ia mengalungkan dasi itu ke leher Zahira lalu menariknya dengan kuat hingga Zahira tercekik dan sulit bernafas.
Melihat hal itu Arungga pun bangkit dengan susah payah lalu menyerang Haikal dengan belati milik Haikal yang berhasil ia ambil dari betisnya. Kali ini Arungga tak ingin kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan Zahira. Meski pun ia harus mengorbankan nyawanya, Arungga tak peduli. Yang terpenting baginya adalah menepati janjinya untuk menyelamatkan Zahira.
Tarik menarik pun terjadi. Haikal menarik Zahira dengan dasi yang mengalungi lehernya. Sedangkan leher Haikal ditarik oleh lengan Arungga hingga ke pagar pembatas.
Dua body guard Zahira yang menyaksikan aksi tarik menarik itu dari halaman parkir pun ikut panik. Tapi melihat upaya Arungga dan posisinya yang lebih menguntungkan, mereka sedikit tenang.
Saat mencapai pagar pembatas, Arungga pun melukai lengan Haikal hingga pegangannya pada dasi yang menjerat leher Zahira terlepas. Kemudian Zahira bergeser menjauh menyisakan Arungga dan Haikal yang masih berusaha saling menjatuhkan.
Di satu kesempatan Haikal berhasil merebut belati dari tangan Arungga lalu menyabetkannya ke leher Arungga. Beruntung Arungga berhasil menghindar hingga serangan Haikal hanya mengenai angin. Karena kekuatan yang Haikal gunakan terlalu besar membuat tubuhnya ikut memutar lalu terlempar melewati pagar pembatas dan melayang jatuh ke bawah.
Arungga dan Zahira hanya bisa menatap tubuh Haikal yang melayang ke bawah dengan tatapan ngeri. Dan keduanya juga menyaksikan tubuh Haikal mendarat di lantai parkir dengan kondisi mengenaskan. Bisa dipastikan jika tubuh Haikal saat itu mengalami patah tulang parah. Sesaat kemudian darah nampak merembes lalu perlahan mulai menggenang di sekitar tubuh Haikal. Setelahnya tubuh Haikal mengejang sesaat lalu diam.
"Ha-Haikal ... dia ... mati Ar?" tanya Zahira dengan suara bergetar.
"Gue ga tau Za. Tapi dengan luka separah itu kayanya dia mati," sahut Arungga tak yakin.
Dan tiba-tiba Zahira menjerit histeris lalu menangis. Arungga pun sigap menarik Zahira ke dalam pelukannya untuk menenangkan wanita itu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=