ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )

ARUNGGA ( kesempatan ke 2 )
6. Maju Sendiri


__ADS_3

Zahira dan Tantri nampak membisu. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


Jika Tantri kesal karena ancaman Arungga yang akan memutuskan hubungan mereka, Zahira justru terlihat bingung.


" Apa yang udah Lo lakuin sampe Arungga ngebelain Lo kaya gitu...?" tanya Tantri setelah lama terdiam.


" Ngelakuin apa maksud Lo...?" tanya Zahira tak mengerti.


" Ayo lah Zahira. Lo dan Gue termasuk semua orang yang ada di sini tau siapa Lo dan siapa Arungga. Termasuk gimana bencinya dia sama Lo dulu karena Lo terus menguntit dia dan memperlihatkan kekaguman Lo itu !. Tapi liat sekarang. Dia bahkan rela mutusin Gue cuma demi cewek ga penting kaya Lo...!" kata Tantri murka.


Zahira menggelengkan kepalanya pertanda ia juga tak mengerti dengan perubahan sikap Arungga.


" Gue juga ga tau Tan. Tadi Gue lagi jalan ke kantin. Eh, tau-tau Arungga manggil Gue. Keliatannya sih dia dari ruang dosen. Gue aja sampe ga percaya kalo Arungga manggil Gue tadi. Makanya Gue nanya sama dia berkali-kali supaya Arungga sadar apa yang dia lakuin...," sahut Zahira.


" Yang benar Za...?!" tanya Tantri.


" Gue ga bohong Tan. Kalo ga percaya, Lo tanya aja langsung sama Arungga. Tuh, orangnya lagi jalan ke sini...," sahut Zahira sambil melirik kearah Arungga yang melangkah mendekat kearah mereka.


Tantri mendengus kesal mendengar jawaban Zahira. Sudah tentu dia tak akan bertanya pada Arungga tentang mengapa sang kekasih membela Zahira tadi.


Hari itu Arungga, Tantri dan Zahira menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung kantin. Banyak dugaan miring yang terdengar dan itu pasti tertuju kearah Zahira. Namun gadis itu tampak cuek seolah tak peduli. Sikap Zahira justru menimbulkan rasa kagum di hati Arungga.


" Aku udah selesai. Tolong anter Aku balik ke kelas ya Sayang...," pinta Tantri.


" Tunggu sebentar lagi. Zahira kan belum selesai...," sahut Arungga.


" Gue gapapa kok. Kalian duluan aja...," kata Zahira.


" Lo yakin...?" tanya Arungga.


" Yakin lah. Kenapa emangnya...?" tanya Zahira tak mengerti.


" Lo tau apa yang bakal terjadi setelah ini kan Zahira ?. Lo bakal abis dibully sama semua orang yang ada di sini karena Lo udah duduk bareng Gue di sini..., " kata Arungga.


" Tenang aja. Gue udah biasa kok. Sebaiknya Lo anterin Tantri ke kelas, keliatannya dia udah ga nyaman lama-lama di sini...," pinta Zahira sambil melirik kearah Tantri yang gelisah.


Arungga pun menghela nafas panjang lalu mengangguk.

__ADS_1


" Ok, Gue duluan ya. Lo ga usah bayar lagi karena semua udah Gue bayar tadi...," kata Arungga sambil bangkit dari duduknya.


" Oh gitu, makasih ya...," sahut Zahira yang diangguki Arungga.


Kemudian Arungga dan Tantri melangkah pergi meninggalkan kantin. Sebelum benar-benar menjauh dari kantin, Arungga menoleh ke belakang dan balas menatap semua orang yang juga tengah menatapnya. Semua orang nampak terkejut lalu pura-pura sibuk dan kembali pada aktifitas masing-masing.


\=\=\=\=\=


Sejak Arungga 'kembali', ia benar-benar menjadi sosok yang berbeda hingga membuat semua orang yang mengenalnya bingung.


Saat banyak pertanyaan datang mengenai perubahan sikapnya, Arungga hanya menggedikkan bahu. Jika terpaksa menjawab pun Arungga hanya mengucapkan satu kalimat singkat.


" Siapa pun berhak berubah jadi lebih baik...," kata Arungga.


Dan kalimat itu mampu membungkam berbagai pertanyaan lain yang ada di benak semua orang.


Sikap Arungga yang berbeda membuat Haikal kesal. Ia merasa Arungga sengaja mengabaikannya. Apalagi sekarang Arungga tak terbuka seperti dulu. Arungga seolah tak ingin Haikal tahu apa pun tentang dirinya termasuk kali ini.


Sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang jasa membuka lowongan pekerjaan paruh waktu untuk para mahasiswa yang berprestasi. Tentu saja tawaran itu disambut antusias oleh para mahasiswa.


" Lo ikut daftar ke perusahaan JC Ar...?" tanya Haikal saat melihat Arungga di antara para mahasiswa yang mendaftar.


" Iya...," sahut Arungga cepat.


" Kok Lo ga ngajak Gue...?" tanya Haikal.


" Maksud Lo...?" tanya Arungga tak mengerti.


" Maksud Gue, kenapa Lo ga ngajak Gue ikutan daftar. Biasanya kan Lo selalu ngajakin Gue untuk ikut semua kegiatan yang Lo ikutin. Tapi kenapa sekarang diem-diem aja...?" tanya Haikal tak suka.


" Bukan diem-diem Kal. Kan kampus udah ngasih pengumuman sejak seminggu lalu. Gue yakin Lo dan semua mahasiswa juga pasti udah tau kan. Nah, kalo Lo emang tertarik, kenapa ga mempersiapkan semua berkasnya dari awal. Kenapa harus nunggu ajakan Gue segala...?" tanya Arungga.


" Tapi Lo juga tau kan kalo Gue ini ga berprestasi !. Mana mungkin Gue bisa diterima jadi salah satu karyawan di JC...," sahut Haikal gusar.


" Nah itu Lo tau. Jadi jangan salahin Gue kenapa ga ngajak Lo...," kata Arungga sambil tersenyum penuh makna.


Ucapan Arungga membuat Haikal kesal. Ia sadar jika ia tak sepandai Arungga. Namun Haikal juga ingin bisa menjadi karyawan di perusahaan JC yang terkenal itu. Yah, meski pun harus sedikit memalsukan nilai akademis seperti yang selama ini dia lakukan jika ada keperluan.

__ADS_1


" Tapi Gue juga mau kerja part time di JC Ar...," kata Haikal sedikit merengek.


" Masih ada waktu buat nyiapin berkasnya. Coba aja, siapa tau Lo bisa lolos...," sahut Arungga.


" Tapi nilai akademis Gue kan jelek Ar. Mana mungkin Gue bisa lolos...," keluh Haikal.


" Bukan cuma Lo yang punya nilai kurang. Tuh liat Si Ari sama Togar. Kita tau kan kalo mereka jarang dapet nilai B. Tapi mereka cuek. Mereka berani mendaftar meski pun bakal ditolak nanti. Setidaknya mereka berani mencoba bertarung, masalah hasilnya nanti siapa yang bisa nebak. Siapa tau mereka beruntung bisa kerja di JC juga. Ya ga...," kata Arungga sambil menunjuk Ari dan Togar diantara para calon pendaftar.


" Ck, tapi Gue ga sepede mereka Ar. Kalo mereka kan emang udah biasa tahan malu...," sahut Haikal sambil mencibir.


" Kalo gitu ya udah. Artinya Lo takut gagal sebelum berjuang. Mental kaya gini nih yang harus diwaspadai, karena ga berani ngadepin kesulitan dan cuma bisa kabur saat ada masalah...," sindir Arungga ketus.


" Ck, makanya Lo bantuin Gue dong Ar. Gue pasti bisa lolos kalo Lo mau sedikit memalsukan nilai akademis Gue kaya waktu itu...," bisik Haikal.


Ucapan Haikal membuat Arungga terkejut. Ia menggelengkan kepala saat teringat apa yang telah ia lakukan dulu.


Dulu Arungga membantu Haikal melakukan pemalsuan nilai agar Haikal bisa masuk ke perusahaan JC. Bahkan Arungga siap pasang badan untuk membela Haikal. Namun sayangnya, setelah dia dan Haikal menjadi karyawan magang, Haikal justru memfitnahnya diam-diam hingga membuatnya terdepak dari perusahaan JC.


Meski pun setelahnya Haikal meminta maaf dan berdalih jika itu bukan ulahnya, namun Arungga tahu Haikal lah orang yang telah memfitnahnya.


Arungga juga ingat tak lama setelah ia keluar dari perusahaan JC, ia juga harus kehilangan ayahnya yang meninggal karena depresi.


Dan kini Arungga bertekad untuk mengubah semuanya. Meski pun ia tahu tak akan bisa mengendalikan kematian, namun Arungga berharap apa yang ia lakukan bisa memperpanjang usia sang ayah.


" Sorry, Gue ga mau lakuin itu lagi Kal. Gue mau sportif kali ini. Kalo Kita emang berkompeten dan layak, JC pasti mau memberi Kita kesempatan untuk magang di sana...," kata Arungga dengan tatapan dingin.


Jawaban Arungga yang di luar dugaan membuat Haikal terkejut. Ia menatap Arungga dari atas kepala hingga ujung kaki dengan tatapan tak percaya.


" Lo... emang cuma mau maju sendirian kan Ar. Lo ga peduli sama Gue karena menganggap Gue beban. Iya kan...?!" tanya Haikal marah.


" Terserah Lo anggap Gue apa. Yang jelas Gue ga bakal bantuin Lo untuk menipu JC. Titik...!" kata Arungga tegas sambil balas menatap Haikal.


Haikal mendengus kesal lalu beranjak pergi meninggalkan Arungga yang masih menatapnya lekat.


" Benalu kaya Lo emang ga layak dapat kesempatan emas Kal. Gue mau liat, seberapa mampu Lo berhasil tanpa melakukan kecurangan...," gumam Arungga sambil tersenyum sinis.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2