
Setelah Arbi dan Dio tak terlihat lagi, Arungga pun kembali duduk untuk melanjutkan pekerjaannya.
Setengah jam pun berlalu.
Saat Arungga sedang sibuk menghitung dengan mesin hitung, tiba-tiba Arungga merasa ada hembusan angin di belakang kepalanya. Angin itu disertai aroma tak sedap yang perlahan mulai mengganggu konsentrasinya.
Arungga pun memejamkan mata karena teringat cerita Arbi tentang penampakan hantu di kantor tadi.
"Apa lagi ini. Jangan bilang kalo cerita Arbi itu benar-benar nyata," gumam Arungga sambil mengusap tengkuknya.
Arungga pun mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Meski pun saat itu ruangan terlihat terang benderang, namun suasana ruangan tetap terasa sunyi. Arungga menghela nafas panjang lalu kembali fokus pada kertas-kertas di mejanya.
Tiba-tiba Arungga terlonjak kaget karena suara gaduh dari sudut ruangan. Di sana terdapat mesin foto copy yang seingat Arungga sudah dinon aktifkan sejak jam kerja berakhir tadi.
Arungga menoleh dan terkejut melihat mesin foto copy itu beroperasi sendiri. Ada beberapa lembar kertas yang terjatuh ke lantai hingga menarik perhatian Arungga.
Dari tempatnya duduk Arungga bisa melihat sekilas jika ada sketsa wajah yang terlukis di atas kertas. Arungga mencoba menajamkan penglihatannya karena penasaran dengan sosok yang terlukis di sana.
Tak lama kemudian mesin foto copy pun berhenti beroperasi. Dan beberapa lembar kertas yang berjatuhan di lantai yang semula diam pun perlahan mulai bergerak membentuk satu barisan. Lalu kertas-kertas yang berjajar rapi itu bergerak perlahan ke satu arah seolah ada seseorang yang menariknya.
Arungga tetap bertahan di tempatnya sambil terus mengawasi pergerakan benda di hadapannya itu. Dalam hati Arungga melantunkan zikir yang tak putus karena hanya itu yang bisa ia lakukan saat itu.
Barisan kertas itu perlahan melintas di samping Arungga. Dari jarak sedekat itu memungkinkan Arungga untuk bisa melihat dengan jelas sketsa wajah wanita di atas kertas itu.
Saat sedang mencoba mengamati sketsa wajah di atas deretan kertas itu, tiba-tiba sapaan security mengejutkan Arungga. Ia pun menoleh kearah security yang memanggil namanya.
"Mas Arungga!" panggil security bernama Oman dengan lantang dari ambang pintu.
"Ya Allah, ngagetin aja. Ada apa Pak?" tanya Arungga sambil mengusap dadanya untuk menetralisir detak jantungnya yang berdetak cepat.
"Saya dengar dari Pak Reza ada salah satu karyawan magang yang lembur. Ternyata itu Kamu toh. Terus Kamu lagi ngapain bengong begitu?" tanya Oman sambil melangkah mendekati Arungga.
"Ga bengong kok Pak. Saya lagi ngeliat kertas-kertas yang baris di lantai itu aja," sahut Arungga cepat.
__ADS_1
"Kertas yang mana?. Ga ada kertas kok di lantai," kata sang security.
" Itu ...." ucapan Arungga terputus begitu saja karena ia tak bisa menunjukkan apa yang dilihatnya tadi.
Melihat Arungga yang kebingungan, sang security pun tersenyum maklum.
"Gapapa Mas, gangguan kaya gini mah udah biasa dialami sama karyawan yang lembur kaya Mas Arungga gini," kata Oman.
" Jadi cerita itu bener Pak?" tanya Arungga.
"Kalo maksud Mas Arungga cerita tentang hantu di kantor, Saya rasa wajar. Kan semua tempat memang ada makhluk astral yang ikut menghuninya Mas. Kalo Mas Arungga takut, Saya bisa duduk nemenin di sini sampe Mas Arungga selesai kerja," kata Oman menawarkan diri.
"Mmm ... sebenernya Saya ga takut sih. Tapi kalo sekiranya ga mengganggu pekerjaan Pak Oman, Saya sih ga keberatan ditemenin," sahut Arungga sambil tersenyum.
"Ok deh, Saya duduk di sini ya," kata Oman sambil menarik kursi yang terletak tak jauh dari Arungga.
"Iya Pak, makasih. Ini cuma sebentar kok. Saya cuma tinggal ngecek jumlah akhir di laporan keuangan ini," kata Arungga.
Ucapan Oman sempat membuat Arungga mengerutkan keningnya karena merasa kalimat itu sedikit tak wajar. Namun karena tak ingin membuang waktu, Arungga pun bergegas menyelesaikan pekerjaannya.
Sepuluh menit kemudian Arungga pun telah selesai dengan pekerjaannya. Ia bergegas menyusun laporan lalu memasukkannya ke dalam map plastik. Setelahnya ia meletakkan map itu di atas meja kerja Aji. Arungga memilih meletakkan laporan miliknya di meja Aji karena letak meja Aji yang lebih dekat dengan mejanya. Arungga merasa akan lebih mudah bertanya jika ada kesalahan dalam pekerjaannya nanti.
"Udah Mas?" tanya Oman.
"Alhamdulillah udah Pak. Makasih ya," sahut Arungga sambil tersenyum.
"Sama-sama. Sekarang Kita keluar ya. Tapi Saya ga bisa nganter Mas Arungga sampe loby karena Saya harus kontrol semua ruangan. Biasa lah tugas security. Selain menjaga keamanan, Kami juga harus memastikan ga ada barang karyawan yang tertinggal. Kalo ada yang tertinggal ya titip di Receptionist biar pemiliknya mengambilnya ke sana besok," kata Oman panjang lebar.
"Iya gapapa Pak. Saya bisa turun sendiri kok," sahut Arungga.
"Ok deh. Kita pisah di sini ya Mas," kata Oman saat tiba di depan lift.
Arungga pun mengangguk. Sebelum masuk ke dalam lift Arungga masih sempat menoleh kearah Oman. Arungga mendapati Oman telah berjalan jauh sambil menyinari ruangan demi ruangan dengan senter di tangannya.
__ADS_1
Arungga menghela nafas panjang saat telah berada di dalam lift. Perlahan lift merambat turun. Arungga pun nampak mengamati ruangan lift dengan matanya untuk menghilangkan jenuh.
Tiba-tiba Arungga dikejutkan dengan kehadiran sosok aneh yang memantul di dinding lift. Jika dilihat dari pantulannya, wujud asli pemilik bayangan itu mirip seorang wanita berambut panjang. Posisi wanita itu nampak berdiri di sudut lift sambil menundukkan kepala.
Arungga nampak berusaha tenang. Ia mengusap wajah sambil bersholawat agar tak terusik dengan pantulan aneh itu.
Saat pintu lift terbuka Arungga pun bergegas keluar. Lalu Arungga mempercepat langkahnya agar bisa segera tiba di luar gedung. Namun sapaan Oman mengejutkan Arungga hingga membuatnya menghentikan langkahnya.
Saat itu Arungga melihat Oman mengenakan rompi berwarna mencolok sambil membawa sebuah tongkat. Di tangannya juga terselip peluit yang ia gunakan untuk mengatur kendaraan yang lewat.
"Pak Oman ... daritadi di sini?" tanya Arungga ragu.
"Iya Mas. Lagi ngatur mobil yang keluar supaya ga bersinggungan satu sama lainnya. Kenapa Mas?" tanya Oman.
Arungga mengabaikan pertanyaan Oman dan kembali bertanya.
"Ga ke atas sama sekali Pak?" tanya Arungga.
" Belum Mas. Kalo di sini udah beres baru Saya ke atas. Apa ada yang tertinggal Mas ?. Kalo ada, biar Saya ambil. Mas Arungga tunggu di sini aja," kata Oman sambil bersiap masuk ke loby gedung.
"Ga ada Pak. Ga ada yang ketinggalan!" sahut Arungga cepat.
" Oh syukur lah. Kalo gitu Saya ke sana dulu ya Mas," pamit Oman yang diangguki Arungga.
Oman pun kembali melanjutkan pekerjaannya sedangkan Arungga hanya bisa menatap Oman dengan tatapan bingung. Setelahnya Arungga nampak mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kalo daritadi Pak Oman di sini, terus siapa dong yang ngobrol dan nemenin Gue di atas tadi," gumam Arungga gusar.
Sadar jika dirinya baru saja bertemu dengan 'penunggu kantor', Arungga pun nampak shock.
Setelah berhasil menguasai diri, Arungga pun bergegas menstarter motornya lalu meninggalkan parkiran perusahaan JC dengan kecepatan tinggi. Arungga terus memacu kendaraannya tanpa mau menoleh lagi.
\=\=\=\=\=
__ADS_1