
Selaku kepala sekolah, Mr Jhonson menganggap serius perkelahian antara Malik dan Fred, serta memanggil kedua orang Malik ke sekolah untuk membahas masalah tersebut.
...Mr. Jhonson...
Malik memiliki sifat yang sangat tempramen, pemarah dan tidak sabaran. itu sebabnya ia mudah tersulut emosi apabila seseorang dengan sengaja mencari masalah dengan nya.
Friska hanya pasrah apabila anaknya harus di keluarkan dari sekolah. namun, Shin mencoba meminta pertimbangan kepala sekolah agar Malik tidak di keluarkan dari sekolah dan bertanggung jawab penuh atas perbuatan anak nya terhadap teman satu sekolah nya.
Shin dan Friska juga meminta maaf pada kedua orang tua Fred, karena ulah anaknya lah Fred sampai masuk rumah sakit.
Shin juga harus menanggung semua biaya pengobatan Fred selama di rumah sakit dan menghukum anaknya dengan sangat berat atas perbuatan nya.
Kedua orang tua Fred hanya khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan terhadap anaknya. bahkan, semenjak di bawa ke rumah sakit, Fred masih belum sadarkan diri pasca perkelahian nya dengan Malik saat di sekolah.
Kedua orang tua Fred menganggap hal tersebut sebagai sebuah musibah dan hanya sebuah kenakalan anak-anak remaja. namun yang membuat orang tuanya bingung adalah, bagaimana mungkin sebuah perkelahian anak-anak remaja bisa sampai separah itu. pasalnya, tembok sekolah sampai rusak ketika Malik memukul Fred sehingga membuat beberapa tulang rusuk nya patah.
Shin yang tidak mungkin menjawab pertanyaan orang tua Fred secara blak-blakan, dan mencari alasan sedemikian rupa agar orang tua Fred tidak curiga dengan kekuatan alam yang di miliki anak nya.
Dalam hatinya, Shin berfikir bahwa hal tersebut bisa saja terjadi karena anak nya memiliki sebuah kekuatan alam yang mampu menghancurkan sesuatu dengan hanya tangan kosong.
Bahkan yang ia tahu, setiap bangsa Atlas di takdirkan memiliki bakat alam mereka masing-masing sejak lahir. karena bangsa Atlas bukanlah penduduk asli bumi menurut buku peninggalan Dewa Azzel yang pernah ia baca.
__ADS_1
Ketika sampai di rumah, Shin dan Friska memanggil Malik duduk di ruang tengah untuk menasehatinya.
"Ayah sebelumnya tidak pernah marah padamu Malik. tapi kali ini tindakan mu sudah benar-benar keterlaluan!"
Shin menggeprak meja dengan keras ketika memarahi Malik.
Friska mencoba mengelus bahu Shin agar ia tidak terlalu keras ketika memarahi anak nya.
"Malik..., ibu tau kamu tidak bermaksud melukai teman mu. tapi, ibu harap kamu tidak mengulangi lagi perbuatan mu itu."
Friska hanya menasehati Malik dengan lemah lembut.
"Kamu tau! temanmu itu hampir mati akibat ulahmu!"
Shin benar-benar terlihat marah dengan sikap anak nya yang menurut nya sudah sangat keterlaluan.
Malik membela dirinya dengan alibi bahwa ia tidak bermaksud membuat Fred terluka parah.
"Apa pun itu, kamu tidak perlu menghajar teman satu sekolahmu sampai seperti itu!"
Bentak Shin lagi.
"Apa yang ayah sembunyikan dariku? kenapa aku terlahir memiliki kekuatan yang sangat besar?! aku bahkan sering merusak barang-barang yang ada di sekitar ku. tadi nya hal itu tidak terlalu mengusik ku pada awalnya, tapi..., dengan kejadian ini, aku seolah merasa aneh dengan diriku sendiri!"
__ADS_1
Shin hanya terdiam mendengar pertanyaan yang di tanyakan Malik. ia tidak mungkin memberi tahu anak nya bahwa ia adalah keturunan bangsa Atlas sama seperti dirinya.
"Kamu tidak akan mengerti Malik."
Shin menyentuh bahu Malik dan mulai sedikit melunak."
"Apa yang tidak aku mengerti Ayah?!"
Malik menatap tajam ayahnya dan menepis tangannya.
"Itu semua tidak penting untuk kamu ketahui. yang terpenting adalah, kami khawatir dengan sikap tempramen mu itu Malik."
Friska mencoba menenagkan Malik yang mulai emosi terhadap ayahnya.
"Aku yakin, ayah dan ibu pasti menyembunyikan sesuatu dari ku! tapi semua itu akan aku cari tahu sendiri cepat atau lambat."
Malik pun pergi ke luar rumah dengan membanting pintu hingga pintu tersebut rusak.
Melihat sikap Malik yang berani menentang ucapan nya, Shin teringat dengan dirinya sendiri sewaktu ia seusia dengan Malik.
Shin selalu menentang ucapan ibunya saat ibunya mencoba memperingatinya untuk berhati-hati ketika menggunakan bakat alam.
Namun, Shin yang kala itu masih terlalu muda tidak pernah mau mendengar ucapan ibunya dan justru selalu membangkang.
__ADS_1
********
Next bagian 14