
"Jadi apa yang harus aku lakukan Nuala?"
Tanya Hideo lagi.
Nuala pun berfikir sejenak.
"Aku ingin kau berlari mengitari padang rumput ini."
"Hmm baiklah... ini benar-benar sebuah penghinaan. Dasar, seenaknya saja menjadikan ku umpan."
Celetuk Hideo di dalam hati.
Hideo pun berlari mengitari padang rumput tersebut. namun, tidak terjadi apa-apa.
"Nuala... sebenarnya apa rencanamu? aku sudah capek berlari-lari tidak jelas begini."
Dengan nafas ngos-ngosan, Hideo sudah tidak sanggup lagi berlari-lari tidak jelas di padang rumput tersebut.
"Ini aneh, seharusnya sistem keamanan nya bekerja. ia akan aktif setelah menangkap sebuah pergerakan melalui sensor panas."
Sambil memegang dagu, Nuala merasa ada yang aneh dengan benteng proyeksi tersebut yang tidak bekerja sebagai mana mesti nya.
"Sekarang aku mulai berfikir kalau kau hanya mau mengerjaiku saja Nuala. mana mungkin tempat ini sebuah ruang proyeksi, tempat ini benar-benar sebuah padang rumput biasa. tidak mungkin sebuah proyeksi terlihat benar-benar nyata seperti ini, bahkan aku bisa merasakan banyak sekali hembusan angin di sini."
Balas Hideo, dengan nafas nya nya mulai habis setelah berlari mengitari padang rumput tersebut.
"Hembusan angin kau bilang?
Nuala tampak sedang memikirkan sesuatu yang janggal.
"Kenapa,apa kau tahu sesuatu?"
Tanya Hideo yang mulai berhenti berlari dan mulai duduk dengan nafas terengah-engah.
__ADS_1
Nuala pun mencoba menggunakan insting nya untuk mencari tahu dari mana asal sumber angin tersebut.
Nuala merasakan semua angin yang berhembus tersebut berasal dari semua penjuru arah kecuali dari atas.
"Ini hanya angin buatan. Setiap angin yang berhembus, berasal dari semua penjuru. hal ini benar-benar tidak mungkin terjadi bila kita benar-benar sedang berada di sebuah padang rumput yang luas."
Nuala memprediksi bahwa angin yang berhembus merupakan angin buatan yang sengaja di ciptakan bangsa Atlas.
"Kau benar Nuala, aku tidak menyangka kalau bangsa Atlas seperti mu ini benar-benar cerdas. jika angin berhembus dari segala arah, itu akan menyebabkan pergesekan udara dan membuat sebuah angin topan. Insting mu tajam sekali Nuala."
"Tepat, ku fikir kau hanya makhluk rendahan bodoh yang tidak mengerti apa-apa.
Tapi... bukan hanya itu saja."
Nuala pun menatap langit untuk mencari sesuatu yang menurut nya janggal.
"Huuuh dasar menjengkelkan!
Lalu, apa lagi yang kau maksud wahai Nuala yang pintar?!"
"Tempat ini pastilah berbentuk melingkar, karena angin yang kita rasakan berasal dari setiap titik, kecuali bagian atas."
Hideo pun menatap bagian atas.
"Ini benar-benar terlihat nyata untuk sebuah dinding proyeksi. semua ini sangat lah menakjubkan. awan dan matahari di atas benar-benar terlihat nyata, bahkan aku bisa merasakan hangatnya sinar matahari di atas."
Hideo sangat takjub melihat kemajuan teknologi bangsa Atlas dalam membuat sebuah benteng proyeksi yang terlihat seperti kondisi alam yang sangat nyata.
"Itu semua hanya proyeksi, suhu panas ini hanyalah suhu buatan dari sebuah alat canggih."
Jawab Nuala.
"lalu, setelah mengetahui bentuk dari ruangan ini dan kondisi di dalam nya, apa rencanamu Nuala?"
__ADS_1
"Aku akan menghancurkan atap nya."
"Heei... apa itu tidak berbahaya? kau bilang tempat ini benteng pertahanan kan? bisa saja sistem keamanan nya bekerja jika kau merusaknya dengan paksa!"
Hideo mencoba memperingatkan Nuala agar ia tidak berbuat gegabah dalam mengambil keputusan.
"Aku sudah memikirkan semua nya sejak tadi. sebaik nya kau diam saja."
Nuala pun mengumpulkan kekuatan alamnya dalam satu titik, lalu mengarah kan nya ke atas menggunakan kekuatan cahaya yang ia miliki. seketika, langit seolah terlihat retak seperti telur dan akhirnya langit buatan itu runtuh.
Terlihat langit yang sebenarnya memancarkan sinar matahari setelah Nuala menghancurkan benteng proyeksi tersebut.
Tiba-tiba, Semua dinding proyeksi tersebut berubah menjadi sebuah dinding kaca yang berbentuk lingkaran besar.
Namun, setelah mereka menghancurkan benteng tersebut dengan paksa, ratusan benda tajam menyerang mereka dari langit-langit dan sistem keamanan benteng tersebut mulai bekerja.
"Nuala....! Di atas!"
Teriak Hideo.
Nuala pun membuat tameng cahaya untuk melindungi diri dari serangan sistem keamanan benteng tersebut, sekaligus melompat dengan jarak yang sangat jauh bersama Hideo meninggalkan benteng tersebut.
Setelah melewati benteng proyeksi, mereka pun tiba di sebuah perbatasan kerajaan Atlantis dan melihat sebuah pangkalan udara yang sangat maju dengan sistem persenjataan mereka yang sangat modern.
"Ini tidak mungkin....
peradaban bangsa Atlantis yang terkenal maju itu ternyata benar-benar pernah ada selama ini."
Hideo seolah tidak percaya dengan apa yang telah ia lihat, dan hanya bisa terkesima melihat kemajuan teknologi bangsa Atlantis dalam pertahanan Maritim.
__ADS_1
*******
Next bagian 27