ATLANTIC 2 - Fire Of God Olympus Sparta

ATLANTIC 2 - Fire Of God Olympus Sparta
Bab 42


__ADS_3

Pada malam harinya, Shin masih memikirkan peristiwa yang ia lihat di televisi.


Shin kembali berspekulasi bahwa pembunuh para perampok tersebut bukanlah orang yang menyerang dirinya pada saat ia pulang dari kantor.


Menurutnya, pembunuh perampok tersebut terlihat masih sangat muda, bahkan Shin memperkirakan usia orang tersebut sama seperti usia Hideo anaknya.


Di ruang kantor rumahnya, Shin terlihat serius bekerja karena harus mengejar Deadline project perusahaan yang baru.


Tok...tok..tok... suara pintu.


"Masuk...."


Friska membuka pintu dengan membawa minuman hangat.


"Jangan terlalu memaksakan diri, Fikir kan juga kesehatan mu."


Ucap Friska, yang menghawatirkan kondisi kesehatan Suami nya.


"Pekerjaan ini harus selesai secepatnya sayang, karena project ini merupakan project yang cukup besar."


Jawab Shin, yang hanya terpaku menatap layar komputer nya.


"Kenapa lampu ruangan nya tidak menyala?"


Tanya Friska lagi.


"Aku sengaja mematikan nya supaya bisa lebih berkonsentrasi saat bekerja."


"Ya sudah, jaga kesehatan mu. aku hanya tidak mau kalau kamu sampai sakit."


Friska pun memasangkan selimut hangat agar Shin tidak kedinginan selama bekerja.


"Jangan selalu menghawatirkan ku, Sekali-sekali khawatir kan lah juga diri mu."


Shin pun mengalihkan pandangam nya dan menatap Friska, lalu memegang tangan nya.


"Apa ada yang sedang kamu fikirkan sayang?"


"Tidak...Tidak ada."


Shin hanya mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


Friska tahu bahwa Shin sedang memikirkan sesuatu sejak sore tadi. namun, ia tidak ingin menanyakan hal tersebut kepada Shin karena ia tidak ingin menambah beban fikirannya.


"Kalau begitu, aku tidur duluan ya sayang, selamat malam."


"Selamat malam."


Shin pun kembali mengerjakan pekerjaan nya hingga jam 12 malam. namun, karena terlalu kelelahan. tanpa sengaja Shin tertidur dengan layar komputer nya yang masih menyala.


Di dalam tidurnya, Shin kembali bertemu dengan pengawal Dewa Azzel, Yaitu Messier 42 atau Orion Nebula.


"Salam Rajaku."


Sapa Orion dengan penuh hormat.


"Orion....?"


"Apa anda sedang memikirkan sesuatu Rajaku?"


Tanya Orion, yang selalu memperhatikan Shin dari alam bawah sadar nya.


"Ya entu saja. mengenai seseorang yang baru saja aku lihat di televisi. apakah orang tersebut termasuk  salah satu dari 9 bangsa Atlas yang masih hidup di zaman ini?"


"Bagaimana mungkin aku bisa menemukan jawaban nya? aku bahkan tidak tahu apapun tentang bangsa Atlas. bahkan yang paling buruk, aku sendiri  tidak tahu apa-apa tentang masalalu ibuku."


Ucap Shin yang mulai terlihat sedih mengingat ibu nya.


"Anda akan segera menemukan jawaban nya Rajaku, jika anda mampu dengan segera menemukan pedang suci Milik Dewa azzel."


"Kau selalu saja berbicara tentang pedang itu, rasanya tidak mungkin aku bisa menemukan nya."


"Dalam kitab peninggalan Dewa Azzel tertulis, pedang tersebut berada di tempat yang paling bercahaya di bumi."


Ujar Orion Nebula.


"Tempat paling bercahaya di bumi kata mu?"


Shin pun berfikir sejenak.


"Apa anda mengetahui sesuatu Raja ku?"


"Mungkin, di langit tempat yang paling bercahaya adalah matahari, sedangkan matahari sendiri terbuat dari gas nitrogen dan helium. Seperti nya aku tahu dimana pedang tersebut berada."

__ADS_1


"Apa yang terlintas dalam fikiran anda Raja ku?"


"Aku memikirkan kemungkinan pedang tersebut berada di dalam gunung berapi. gunung berapi terbesar di dunia."


Shin berspekulasi bahwa pedang tersebut tersimpan di dalam gunung berapi terbesar di dunia, karena gunung berapi merupakan tempat paling bercahaya di bumi.


"Jika benar begitu, segera lah temukan pedang tersebut Rajaku, agar anda dapat menyelamatkan bumi dan seluruh kehidupan di galaxi Milky way."


"Apakah ada cara untuk mendapatkan nya?"


"Tentu saja, karena Dewa ingin aku memberi mu sesuatu."


"Apa itu?"


Tanya Shin lagi.


"Rajaku... tutup matamu. aku akan memberikan kekuatan Dewa Azzel padamu."


Shin pun menutup matanya.


Seketika Orion memegang benda yang mirip dengan matahari. namun, ukuran nya sangat kecil. Orion pun memasukan benda tersebut ke dalam tubuh Shin.


"Aaaaaaaahhhh, Panaaaaas!"


Tanpa sengaja, Shin pun membuka mata.


Cahaya yang di timbulkan benda tersebut sangat menyilaukan sehingga mata Shin seolah terbakar setelah melihat nya.


Tiba-tiba....


kriiiiiing...! suara jam.


Shin pun terbangun dengan keringat nya yang mengucur deras.


"Ternyata yang tadi cuma mimpi."


Ucap Shin, dengan nafas terengah-engah.


*******


next bagian 43

__ADS_1


__ADS_2