ATLANTIC 2 - Fire Of God Olympus Sparta

ATLANTIC 2 - Fire Of God Olympus Sparta
Bab 9


__ADS_3

...Ibu ... Maafkan Shin...


Dengan membopong suami nya, Friska pun membaringkan tubuh Shin yang tengah pingsan di kamar dengan perlahan.


Friska masih belum mengetahui apa yang di maksud oleh suami nya tentang sebuah kabar buruk. justru hal tersebut membuat Friska menjadi semakin khawatir dengan keselamatan suaminya dan seluruh anggota keluarganya. mengingat, Shin adalah manusia Atlantis terakhir yang mungkin saja masih di incar oleh pihak pemerintahan Amerika serikat.


Friska hanya takut hal serupa kembali terjadi ketika Shin kehilangan seluruh anggota keluarganya setelah mereka di bantai oleh kolega Professor Hardy.


Di dalam kamar, Friska merawat Shin yang tengah pingsan dan menunggu kabar yang sempat di bicarakan oleh suami nya tersebut.


Namun, karena waktu yang tidak memungkinkan, Friska harus meninggalkan Shin sejenak untuk menjemput Hideo pulang ke rumah.


Shin yang saat itu tengah pingsan, bermimpi bahwa keluarganya masih utuh dan mereka sedang berkumpul bersama saat jam makan malam.


Di dalam mimpinya, Shin berjalan di halaman rumah Professor Hardy dan ia di sambut oleh Professor Hardy bersama ayahnya ketika ia hendak masuk kedalam rumah.


"Shin, dari mana saja kamu? kami sudah menunggumu di sini sejak tadi. sekarang waktu nya makan malam, ibumu sudah masak masakan spesial untukmu."


Professor Hardy tersenyum ramah menyambut kedatangan Shin.


"Kamu pasti lelah setelah bermain seharian nak, ayo kita makan bersama-sama"


Ajak Arif, ayah Shin.


"I'iiya ayah."


Shin seolah terlihat sedang kebingungan di dalam mimpinya. namun, ia tidak menyadari bahwa itu semua hanyalah sebuah mimpi.


Shin hanya berfikir bahwa keluarganya masih utuh seperti biasa. akan tetapi di dalam hati nya, ia merasa sangat kebingungan dan seperti ada sesuatu yang mengganjal fikiran nya.


Saat di meja makan, Shin melihat ibunya yang sudah menyiapkan makanan kesukaannya. Bahkan Shan saudara kembarnya dan maqq adik perempuannya juga menyambut kedatangan nya di meja makan.


"Dasar menyebalkan, kau ini dari mana saja hah?!"


Bentak Shan dengan memandang kesal wajah Shin.


"Aku..., aku tidak ingat."


Jawab Shin kebingungan.


"Kakaak, hari ini Maqq menemani ibu masak loh, spesial untuk kakak Shin. hihihi."


Maqq tertawa kecil menyambut kedatangan Shin, kakak nya.

__ADS_1


"Benarkah?"


Tanpa terasa, air mata Shin pun keluar.


Tanpa sadar, Shin menangis tersedu-sedu ketika bertemu dengan semua anggota keluarganya. ia tidak mengerti mengapa ia bisa menangis. padahal setiap hari ia selalu bertemu dengan keluarga nya.


Shin merasa seperti ada rasa rindu yang amat sangat besar di dalam dirinya ketika bertemu dengan semua anggota keluarganya di dalam mimpi.


"Kamu kenapa Shin?"


Tanya Numala yang tampak kebingungan.


"Padahal kita semua selalu bertemu setiap hari di rumah. tapi entah kenapa, rasanya aku seperti merindukan kalian semua."


Shin mengusap air mata nya dengan siku dan tersenyum bahagia.


"Kamu bicara apa Shin? ibu selalu di sini bersamamu, kenapa kamu bisa rindu kepada kami?"


Numala hanya tersenyum lalu memeluk Shin dengan penuh kasih sayang.


"Ibu..., Shin minta maaf. selama ini Shin selalu menentang ucapan ibu."


Dalam pelukan ibu nya, Shin menangis tanpa terbendung.


Numala memeluk Shin dengan erat dan mencium kening nya.


"Maqq tidak ya bu? huuuff"


Dengan muka cemberut, Maqq cemburu dengan kakak nya yang di peluk oleh ibunya.


"Hehehe, Maqq juga anak kesayangan ibu"


Ujar Numala.


"Baiklah, sebaiknya kita makan sekarang. ibumu sudah masak masakan spesial untukmu Shin."


Ujar Arif, ayah Shin.


"Iya ayah."


Dalam mimpinya, Shin terlihat sangat bahagia bercanda dan tertawa di meja makan selayaknya kehidupan mereka dahulu sebelum keluarga mereka di bantai oleh Park Shin, kolega Professor Hardy.


"Kakak, kita keluar yuk. nanti Maaq ajak kakak terbang kayak waktu itu."

__ADS_1


Ajak Maqq.


"Waaah, ayok Maqq. ajak kakak terbang kayak waktu itu yah."


Shin terlihat sangat antusias ketika di ajak adik nya terbang untuk melihat bintang-bintang di langit.


"Ibu juga mau ikut, bolehkan?"


Numala pun ingin ikut bersama anak-anak nya yang ingin terbang melihat bintang-bintang di langit.


"Kalau begitu, ayah juga mau ikut."


Seru Arif dengan penuh semangat.


"Bagaimana dengan mu Shan? aku tau kau juga mau ikut, tapi kau malu-malu kan? hahaha."


Shin menggoda saudara kembarnya yang selalu bersikap dingin dan cuek.


"Hmm, kau bersemangat sekali Shin."


Dengan senyum yang di paksakan, Shan selalu bersikap cuek kepada siapapun. termasuk pada Shin, saudara kembarnya sendiri.


"Sudah lah, ayoo!"


Shin pun menarik tangan Shan.


"E'eeehhh"


Shan terlihat kaget ketika tangan nya di tarik paksa oleh Shin.


Seketika itu, Maqq pun mengeluarkan bakat alamnya dan mengeluarkan butiran-butiran cahaya kecil seperti emas dari dalam tubuh nya.


"Semuanya, pegang tubuh Maqq ya."


ujar Maqq, setelah mengeluarkan bakat alam nya.


Semuanya memegang tubuh Maqq yang di kelilingi banyak cahaya.


Dengan kekuatan alam nya, Maqq pun mengajak seluruh anggota keluarganya terbang untuk melihat jutaan bintang-bintang dan aurora yang sangat indah.


Sambil menatap langit, mereka memperhatikan aurora yang sangat cantik di pegunungan tempat mereka tinggal. mereka sangat bahagia karena bisa terbang dan melintasi langit malam bersama-sama.


*********

__ADS_1


next bagian 10


__ADS_2