
Liburan satu minggu kali ini Anin habiskan pulang kampung ke panti asuhan, tempatnya dulu Anin tinggal, di besarkan di tempat ini sampai hingga Anin bisa berdiri sampai sekarang Ini.
Semuanya berkat jasa ibu-ibu panti, orang-orang yang menyayangi nya selalu tulus ikhlas merawatnya, dan memberikan kasih sayang kayaknya ibu kandung sendiri.
Di tempat ini Anin menghabiskan masa kecilnya seperti teman-teman lainnya yang tinggal di panti asuhan.
Mempunyai panggilan yang berbeda, karena ini merupakan panggilan masa kecilnya dan sangat mudah di hafal. Kakak Anin panggilan yang sangat muda untuk di eja, itulah panggilan akrab di tempat panti ini. Nama yang indah memiliki arti yang indah pula, Anin perempuan cantik dan baik hati.
Rela mengubur mimpinya demi bisa membantu adik-adik nya bersekolah, cukup melihat mereka tersenyum sudah membuatnya bahagia.
"Kak Anin kenapa melamun? ayo temenin aku main sambil belajar, Kak?" Ajak si kecil Nina. Nina memiliki nasib seperti Anin yang di tinggal ke dua orang tuanya, sama halnya Nina.
"Hmmm ayok! mau main apaan sih kog main sambil belajar ." Tutur kak Anin yang menerima uluran tangan si kecil Nina. Nina masih sangat kecil untuk mengetahui dunia luar, Anin berharap nasib yang di alaminya tak seperti dirinya.
__ADS_1
"Rahasia dong kakak cantik." sahut Nina sudah menggeret tangan Anindya i untuk berada di tempat khusus bermain. Disana banyak Adik-adik yang bermain, ada pula yang belajar .
"Kakak cantik." teriaknya semua menghambur ke pelukan Anini. Di sampai ingin terjungkal Bila tubuhnya tak di kelilingi Adik-adik depan, belakang, dan samping.
"Pintar-pintar ya biar jadi orang hebat, biar kelak kalian besar bisa mendapatkan masa depan yang layak dan baik ya sayang." Anin mengucapkan doa tulus untuk adik-adiknya, doa yang akan membawa pada kesuksesan untuk calon penerus pengurus panti, semoga saja!
Mereka masih asyik sibuk berpelukan, mereka menceritakan tentang perubahan suasana panti ketika kak Anin tak tinggal lagi di sini. Suasana yang berbeda membuatnya rindu akan masa-masa dulu, Masa masih ada kakak cantiknya.
Seandainya aku di lahirkan kembali, pasti aku ingin tetap tinggal di panti, merawat, membantu ibu si sini menjaga kalian.
Anin mulai menerawang jauh, jika, seandainya tetapi semua hanya ada di angan-angannya. Kini semua tak sama, takdir yang membuat ku harus belajar mandiri, belajar untuk bisa hidup dari luar panti.
🌹
__ADS_1
Liburan satu minggu nya terasa singkat, mau tak mau harus sudah kembali ke apartemen yang letaknya sedikit jauh dari tempatnya dulu.
Anin sudah kembali ke Bandung, pagi ini sedikit terlambat bangun nya membuatnya sedikit berjalan cepat untuk segera sampai tempat kerja nya.
Hushhh... rasa lelahnya membuat keringat sebiji jagung pun berpusat di wajahnya. Nampak warna mengkilat di wajah Anin, ada raut kelelahan karena tak memperdulikan rasa capeknya terpenting dirinya harus cepat sampai tempat kerja sebelum Atasannya sampai duluan.
"Kamu kenapa, Anin? sepertinya habis lari maraton ya, sampai wajahmu penuh dengan keringat hihi."
"Tetapi wajah mu glowing kena keringat, Anin! pasti banyak yang mengira kamu perawatan wajah di dokter hihihi."
"Enggak usah ketawa lebar-lebar, enggak lucu!" Ujar Anin sedikit jutek, karena kesal sikap sahabatnya yang menertawakan aksi telatnya karena bangun kesiangan.
Nindy semakin tertawa cekikikan, melihat sikap jutek sahabatnya yang sudah kelewatan mengemaskan. Bila Anin adalah i anak kecil, pasti sangat menggemaskan, pasti Ndy sudah mencubit pipi gemas sahabatnya. Pipi yang membuatnya lucu, dan sangat gemesin dengan wajahnya di tekuk.
__ADS_1