
Satu bulan.
Satu bulan terasa sangatlah cepat, perasaan baru kemarin aku di beri kejutan. Hari ini tepat 3minggu kisah kita berlalu, tetapi tergantikan awal yang baru.
"Bila waktu bisa diulang kembali, aku pasti ingin langsung di pertemukan dengan kamu di masa lalu maupun masa sekarang."
"Aku mau kamu yang pertama mengucapkan hari sakral itu tetapi kenyataan aku sudah pernah menikah meskipun pernikahan hanya seumur jagung."
Sebelumnya aku tidak pernah menyangka akan seperti ini, Hatiku sebahagia ini berkat takdir yang membawa kami di pertemukan lalu dekatkan makin dekat hingga satu bulan lalu ia melamar ku.
Peristiwa satu bulan yang lalu membuat jiwa ku bahagia, masa yang indah kini segera tiba. Ada satu hal yang membuat aku terharu, ketika ada seseorang yang mau menerima masa lalu ku, maupun masa ku sekarang.
Aku patut bersyukur, berterimakasih di pertemukan dengan orang yang tepat dengan pria yang tepat.
"Sayang."
"Tidak ada jawaban."
__ADS_1
"Sayang, kenapa pakai melamun?" Dewa mengguncang bahu sang kekasih, di prhatikan Anin banyak melamun.
Entah apa yang sedang ia pikirkan, ada rasa penasaran untuk aku mengajukan serangkaian pertanyaan yang ada dalam benakku.
"Ehh enggak mas." Anin membalas asal, tidak mau ketahuan sang kekasih bahwa v dirinya sedang melamun tentang masa lalu.
"Ada apa bilang sama mas?" Lagi-lagi Dewa mengajukan pertanyaan, karena tak mendapatkan jawaban yang memuaskan.
"Ahh enggak apa-apa mas, ayo makan nanti makanannya keburu dingin." Anin mengalihkan pertanyaan, tidak mau calon suaminya tahu apa yang sedang aku pikirkan.
Akhirnya Dewa pasrah, menyerah tak mengajukan pertanyaan yang membuatnya penasaran.
💚
Persiapan pernikahan untuk satu bulan tidak lah cukup, untung ada keluarga, teman-teman yang mau membantu secara sukarela hari kebahagiaan kami.
Anin ingin pernikahan yang sederhana, terpenting sah di mata hukum dan agama. Mengingat statusnya pernah menikah membuatnya minder.
__ADS_1
Takutnya orang yang berada di masa lalunya tiba-tiba datang, mau ditaruh mana muka cantik, imut dan mengemaskan ini.
Hari ini kita berdua dalam perjalanan ke tempat asal ku, tempat aku di besarkan, tempat untuk aku tinggal sampai aku bisa mandiri. Di sebelah ku ada mas Dewa yang fokus mengemudi mobil.
Kami pulang kampung untuk bertemu keluarga satu-satunya yang aku punya, ia adalah tempat tinggal ku dulu yang manis pahit kehidupannya aku lalui dengan tangis bahagia.
"Mau aku pijitin, mas" tawarnya Anin yang melihat Dewa mengusap tengkungnya yang tak gatal, ada perasaan ingin menggantikan. Sayangnya aku tidak bisa pakai mobil.
"Enggak usah yang, takut kebablasan." Dewa menyengir lucu, dan mengedipkan sebelah mata indahnya.
"Kan kita enggak ngapain-ngapain, mas. masa mas sudah berfikir negatif." ungkap Anin dengan sangat polos.
Tak kunjung mendapatkan balasan dari lelaki di sebelahnya, Anin memilih mengalihkan dunianya lewat kaca jendela yang rintik-rintik
Rasanya aku ingin menertawakan perempuan di sebelah ku karena saking polosnya, tetapi aku tahan. Tak sampai hati membuat perempuan pujaan hatinya meredup sinarnya.
Katanya pernah menikah, kog masih polos ya.
__ADS_1
Tak ingin membahas hal hal yang susah di cerna, Dewa mengalihkan tatapan netranya kearah jalan.
Pagi menjelang siang ini, lalu-lintas nya ramai lancar bertepatan dengan weekend. Banyak mobil pribadi yang menuju ke luar kota, terutama menuju ke Kota Bogor dan Bandung adalah tujuan mereka.