Bahagia Selepas Bercerai

Bahagia Selepas Bercerai
Bab 18


__ADS_3

Tidak Anin sadari kedekatan dengan Dewa berjalan begitu saja, tidak ada lagi rasa perkewuh atau sungkan, atau malu-malu. Anin seakan menulikan telinganya untuk tidak mendengar apa-apa, seakan angin lalu, karena tak semua orang itu akan suka padanya


nyatanya banyak yang tak suka terhadap dirinya.


Berita kedekatan nya dengan pemilik perusahaan semakin santer terdengar, lagi-lagi Anin tak mau ambil pusing, atau menanggapi nya membuat gosip berlalu seperti angin yang tertiup.


Waktu seakan enggan untuk diam, jarum jam terus saja berputar pada porosnya sama halnya perubahan cuaca dari musim kemarau ke musim hujan.


Setahun sudah aku dan Ndy tinggal di Jakarta, selama itu pula keduanya seperti tak terpisahkan.


Keduanya bagaikan perangko yang selalu melekat pada kertas, seperti itulah persahabatan keduanya seperti saudara sendiri.


Persahabatan keduanya semakin solid, Nindy sangat setuju melihat kedekatan sahabatnya dengan pak Dewa selaku atasannya, bos tempat ia dan Anin bekerja.


Tidak berharap muluk-muluk, Nindy ingin sang sahabat bahagia dan nyaman berada di orang yang tepat untuknya, untuk menyadarkan bahunya.


Saking hematnya keduanya, mereka sudah tinggal di apartemen yang tak jauh dari kantor. Walaupun masih dalam tahap mencicil, tak masalah asalkan tiap bulannya bisa membayar cicilan.


Mereka mengendarai mobil matic berwarna hitam, aku yang duduk di bangku kemudi. Nindy duduk di sebelahnya sang sopir, tidak ada candaan seperti biasanya, karena pagi ini mereka bangun kesiangan. Mau tak mau mereka memfokuskan perhatian pada jalanan yang sangat macet, maklum jam kantor.


Tiba di pelataran parkiran kantor, mereka buru-buru untuk melepas salt belt. Tidak ingin membuat bos mereka marah, keduanya cepat-cepat turun untuk masuk ke ruangan nya.


Baru saja melangkah kan kakinya beberapa kali, suara deheman seseorang membuatnya menoleh ke belakang.


Di sana berdiri bos mereka yang pagi ini terlihat sangat tampan sekali, Anin yang melihatnya sampai terpesona, sampai tak berkedip.


Mereka tak menyadari bahwa Dewa sedang berjalan kearah nya, mereka sibuk dengan rasa tidak enak karena telat datang ke kantor.


"Hmmmm!" bisiknya Dewa tepat di telinganya Anin, aku kegat karena tak menyangka bahwa Dewa mau datang menghampiri nya.


"Kenapa telat hmm! bangun kesiangan ya, atau tidur kemalaman gara-gara nonton drakor." Tutur Dewa dengan senyum licik, aura nya seperti sedang mengintimidasi seseorang.


Keduanya hanya mampu menundukkan kepalanya, belum ada niatan untuk menatap sumber suara yang sangat ia kenali.


"Maaf telat!" cicitnya Anin mewakili keduanya.


Anim sendiri sedang harap-harap cemas karena belum mendengar jawaban dari atasan nya langsung. Berharap bos nya tak marah, memberikan keringanan atas keterlambatan nya datang.


"Aku maafkan tetapi dengan satu syarat!" Ujar Dewa dengan nada penuh dengan intimidasi.

__ADS_1


Anin langsung mengangkat kepalanya untuk melihat pria yang ada di depannya, "Syaratnya apa? cepat katakan!" gertak nya Anin, aku sendiri sudah risih karena pasang mata seakan tak bersahabat.


"Nanti malam kita makan malam, jam 7malam aku jemput!"


"Ta...p...!"


"Tidak ada kata tapi-tapian, tidak ada penolakan!"


Aku ingin membuka suara, menolak ajakan makan malam nya, tetapi belum juga bibirnya berucap Dewa sudah tidak ada lagi di depannya.


Dewa sudah berlalu meninggalkan Keduanya yang masih berdiri seperti sapi ompong. Nindy sendiri yang menyaksikan drama queen tak berani untuk membuka suara, mendengar suara calon sepasang kekasih jadi senyum-senyum sendiri.


"Kenapa kamu senyum-senyum?" tanya Anin memicingkan ekor matanya melihat sikap sahabat nya berubah menjadi manis.


"Ahhh enggak pa-pa, ayo kita masuk ke ruangan nanti ketahuan Dewa tampan lagi bisa berabe. Posisi kita sebagai karyawan busa terancam, Di." Ujar Nindy menggeret tangan nya Anin supaya segera mengikuti nya.


Anin hanya menurut saja tanpa ada niatan untuk membantah, karena dirinya sudah pusing tujuh keliling mendengar ajakan Dewa. Yang mengajaknya malam ini untuk makan malam, walaupun bukan yang pertama nya tetapi aku mempunyai feeling kuat pasti tidak untuk makan malam saja.


Pukul 7malam tepat Dewa sudah memparkirkan mobilnya di dalam apartemen tersebut bassement tempat parkir nya. tidak ada niatan untuk menghubungi Anin lebih dulu.


Dewa ingin membuat kejutan dengan datang tiba-tiba, setelah memencet tombol yang di tuju. Dewa mengulum senyum melihat wajahnya Anin yang terkejut dengan kedatangan nya.


Kenapa tak ada sahutan dari dalam? kemana dia? berbagai pertanyaan memenuhi otak pintarnya, tetapi belum juga ada seseorang keluar membuka kan pintu.


Dewa sudah sampai di lantai lima, tepat nya tempat Anin tinggal. Hatinya kian tak menentu, debaranya sangat kuat seperti gemuruh hujan turun.


Berkali-kali menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengeluarkan rasa tak biasa, supaya tak gugup untuk mengunjungi gadis pujaannya.


Bismillah


Ting Tong....


Dewa sudah memencet tombol bel yang terletak di sisi pintu, sudah tiga kali tetapi belum ada jawaban. Mencoba untuk memencet lagi, berharap ini usaha terakhirnya untuk menemui wanitanya.


Ting Tong...


"Siapa?" tanya nya dari dalam.


Ting Tong

__ADS_1


"Siapa sih bertamu saja pakai acara pencet bel beruntun ahh!" gerutu Anina yang sangat jengkel, niatnya untuk istirahat lebih awal hanya dalam angan-angan nya.


Langkah kakinya lemes, seperti tak bertenaga jika tak bunyi terus pasti yang lainnya terganggu (tetangga sekitar rumah).


Ceklek


"Kamu!" tunjuk jari Anim mengarah ke wajah Dewa.


"Sudah siap tuan putri."


"Siap mau tidur! memang mengapa?"


"Jangan katakan kamu lupa dengan syarat nya di kantor tadi!"


"Syarat apa?"


"Malam ini kita diner."


"Diner."


"Iya."


Anina tidak bisa menyangkal lagi, hanya bisa pasrah dengan pria yang masih berdiri di depan pintu. Tampilannya tak seperti biasanya, malam ini kelihatannya tampan nya berkali-kali lipat dari hari biasanya.


Mereka sudah berada di dalam mobil tidak ada pembicaraan, hanya suara jarum berdetak, dan suara musik yang mengalun indah.


Aku sedang fokus dengan jalanan yang di lihatnya dari kaca, hatinya masih sangat dongkol bila tak mengingat bahwa dirinya masih mempunyai cicilan perbulan.


"Ehmm!"


Aku tak menggubris suara deheman sang sopir, tidak berniat untuk membalasnya. Fokusnya hanya satu sampai tujuan, makan terus pulang.


Anin sampai terperanjat kaget dengan bangunan rumah yang bak istana, pikirannya tidak karuan dan sangat tak percaya dengan pria di sebelahnya.


"Kita mau kemana?" tanya Anin dengan aura penuh dengan pertanyaan.


"Ke rumah ku!" jawabnya Dewa singkat.


Tidak ada lagi percakapan keduanya, aku memilih mengikuti langkah pria yang selalu menggenggam tangannya erat. Walaupun otak pintarnya berkelana kemana-mana? tetapi tubuhnya tak menolak dengan pesona pemilik perusahaan Armadya Group.

__ADS_1


Anin berusaha untuk rileks, tak beranggapan malam ini keduanya sedang berada di dalam rumah dengan jari yang saling bertautan.


__ADS_2