Bahagia Selepas Bercerai

Bahagia Selepas Bercerai
Episode 40


__ADS_3

Masih di tempat yang sama Keduanya masih berada di villa, mereka saling bertukar cerita, tertawa bahkan saling memeluk erat. Kebetulan hari ini sedang turun hujan, cuacanya sangat cocok untuk berduaan seperti ini.


Cup


Cup...


Muach...


"Muach untuk calon istriku yang cantik ini."


Dewa reflek mencium kening Anin, tidak hanya satu kali berkali-kali Dewa lakukan saking gemesnya untuk segera memakannya.


"Mas udah geli.. " Anin sedikit memberontak untuk melepas pelukan hangat pria yang ada di hadapannya.


Bukannya berhenti Dewa menghadiahkan kecupan bertubi-tubi, kecupan sayang untuk seseorang tersayang.


Mereka larut dalam kemesraan, hanya untuk memeluk, mencium tidur pun keduanya tak pernah lepas dari genggaman tangan, pelukan hangat.


Hari makin beranjak tak membuat mereka untuk bangun, keduanya masih asik menyelami dengan dunia mimpinya.

__ADS_1


Beda halnya dengan Anin malah sibuk memandangi wajah calon suaminya, wajah tampan yang mampu membuat kaum hawa klepek-klepek.


Jari lentiknya tak bosan membingkai wajah yang sempurna tanpa catat, "Kamu tampan ketika tidur, mas. Seperti bukan kamu yang jarang tersenyum."


Kata-kata itu hanya mampu ia ucapkan di dalam hatinya, tak berani bila berbicara langsung yang ada pria yang sedang tertidur dengan nyaman bisa-bisa terbangun.


Di dalam tidur pura-pura nya Dewa tersenyum bahagia, bahagia mendapatkan calon istri yang benar-benar bisa care sama aku. Jarang aku menemukan sosok perempuan yang mau mengerti aku, dan tidak memandang harta ku.


Berkali-kali Dewa mengintip sedikit, memandangi wajah ayu yang tidak membosankan.


Anin juga tak menyadari bahwa pria di sebelahnya tidak tertidur, malah sebaliknya mencuri pandang tipis-tipis.


"Jangan berhenti tetap di usap-usap seperti tadi." tutur Dewa yang membawa kembali tangan Anin, tepat berada di genggaman tangan.


Tangan satunya ia gunakan untuk membingkai paras ayu nan mempesona, Anin perempuan sederhana, baik, cantikmampu memperondakan hatinya.


"Jangan memandang ku seperti itu, aku takut kamu gigit." Anin langsung menutup mulutnya dengan tangan, bicaranya keceplosan.


Dewa yang mendengarnya tersenyum kecil, senyum yang jarang ia tersenyum kecuali keluarga, dan orang-orang dekatnya.

__ADS_1


"Cup." di kecupnya genggaman tangannya.


"Jangan Kecup-kecup gitu, geli aku mas." Anin berusaha untuk melepaskan, tetap saja tak bisa melawan dengan tangannya.


"Aku suka." jawab Dewa dengan enteng."


Tak ada pilihan lain kecuali pasrah, melawan pun sama saja tidak ada gunanya. Selain menikmati, aku juga merasa bahagia, dan beruntung bisa bertemu kamu.


🍐


Mereka sudah kembali pulang ke Jakarta, baru saja keduanya terpisah di tempat tinggal Anin. Dewa sudah membelokkan mobilnya untuk pulang ke rumah.


Di dalam perjalanan Dewa terus saja bersenandung, mengikuti lagu yang ia sedang putar di mobilnya.


Bibirnya terus saja mengembangkan senyum, senyum yang terukir sangat manis seperti gula Aren yang manisnya tak hilang


Setelah mobil sang pujaan hilang dari pandangan, Anin langsung masuk ke dalam dengan langkah enggan, malas. Badannya rasanya sangat capek, lelah, ngantuk, ingin cepat-cepat ketemu dengan air.


Ingin segera mengnguyur seluruh tubuhnya dengan air yang mengalir dari sumbernya. Membayangkan saja sudah membuat tak sabar, cepat-cepat ingin lakukan seperti kemauannya.

__ADS_1


__ADS_2