Bahagia Selepas Bercerai

Bahagia Selepas Bercerai
Bagian 16


__ADS_3

Satu bulan berlalu.


Berada di Jakarta membuat dua orang yang bersahabat mulai membiasakan dirinya, dan mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Kini mereka sudah mulai betah, bisa terbiasa dengan kota yang tanpa hari tanpa ada kemacetan, selalu saja macet meskipun sudah melewati jalan tikus pun masih saja terjebak macet.


Selama satu bulan ini suka duka mereka lewati, keduanya sudah menemukan kenyamanan baru di tempat kerjanya sekarang. Sudah bisa membiasakan dirinya untuk bertemu dengan orang-orang luar, berbagai macam karakter orang semuanya ada di kota metropolitan ini.


Satu bulan semenjak kedatangan nya pertama kali ke Jakarta, mereka belum bertemu dengan pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Bukan tidak ingin bertemu, atau ada rasa takut untuk di interograsi. Mungkin karena pimpinannya sedang tidak ada di tempatnya, mereka bisa sedikit bernafas lega karena belum ada pertemuan berikutnya.


Mereka melewati hari-hari nya penuh dengan harapan tinggi, berharap di kota besar ini mereka bisa menemukan arti kebahagiaan sesungguhnya.


Kebahagiaan yang membawanya pada kenyamanan, untuk melakukan perbuatan baik terhadap sesama orang baik dengan teman kerjanya, atau dengan orang-orang yang mereka belum kenal.


Tidak ingin membuat orang berfikir negatif terhadap dirinya, mereka sudah pasang badan untuk menabur kebaikan. Sudah bisa melakukan hal yang positif untuk rekan-rekan kerjanya atau di tempat tinggalnya yang baru guna mentransfer energi yang positif pula.


Sebisa mungkin mereka harus bisa membawa diri, membawa ke hal-hal yang lebih positif lagi untuk menciptakan lingkungan yang hangat. Karena dari kenyamanan mereka bisa menemukan kebahagiaan sesungguhnya.


Mereka sedang sibuk dengan beberapa kertas diatas mejanya, tidak menyadari bahwa ada orang lain yang mengetuk-ngetuk pintu ruangan nya. Tidak terdengar di telinganya, mereka malah asyik menikmati kertas yang menurutnya lebih penting daripada seseorang yang memanggilnya.

__ADS_1


"Si al!" Dewa lagi-lagi mengumpat, karena ketukan pintu nya malah di abaikan, tidak menyadari bahwa dirinya pemilik perusahaan yang Syah!


Tok Tok Tok


Ketukan ke sekian kalinya baru ada jawaban dari luar, membuat hatinya Dewa dongkol bercampur dengan rasa sedikit bahagia karena usahanya tak akan sia-sia di makan sang waktu.


Cekkllek


Anin di buat tak berkutik, bibirnya tak bisa terkatup dengan rapat. Saking syok nya melongo dengan bibirnya terus saja membuka tanpa berniat untuk menyapa seseorang yang berada di depan pintu. Dengan pakaian formal, di balut dengan setelan jas yang berharga ratusan milyar terpampang sempurna.


"Sempurna!" Kata yang cocok untuk menggambarkan perasaan nya kali ini, di pertemukan dengan laki-laki yang sering ia baca di majalah. Kini dirinya bisa lihat langsung, Maha kuasa CiptaanNya. Makhluk hidup yang membuat hatinya jedag-jedung tak keruan.


Tanpa di persilahkan masuk terlebih dahulu, Dewa sudah menyelonong masuk melewati Anin yang masih bengong tak menyadari bahwa laki-laki yang berada di depannya sudah tidak ada di tempat.


"Kemana perginya laki-laki tersebut?" tanya Dya dalam hati, tidak menyadari bahwa laki-laki tersebut ada di sebelahnya.


"Hai nyariin aku ya." Ujar Dewa yang memegang pundaknya Dya.

__ADS_1


Deg


"Ahh enggak, ngapain aku nyariin kamu? Enggak penting amat!" Anin menyahut ucapan Dewa, lalu memutar tubuhnya untuk kembali ke tempat duduknya.


Tanpa ada rasa permisi atau bagaimana? Bima sudah anteng duduk di depannya Dya tanpa rasa bersalah. Nindy yang berada di sebelahnya Anin mengulum senyum, tak biasanya ada seorang laki-laki main ke ruangannya kecuali laki-laki yang berada di depannya.


"Seperti nya sangat menarik untuk di simak, tunggu episode selanjutnya." Batinnya Nindy tersenyum penuh arti.


"Kenapa bapak ke ruangan saya? apa ada hal yang penting dalam pekerjaan, atau ada kesalahan yang kami buat?" Anin mengajukan pertanyaan yang beruntun, saking penasarannya.


"Sama atasan itu yang sopan! tanya itu satu-satu bukan memberondong pertanyaan seperti sedang mengintrogasi penjahat!" jawab Dewa ketus.


"Sepertinya bos kita suka sama kamu, Anin." bisiknya Nindy pelan.


"Ngawur kamu Nindy!" cicitnya Anin dengan sangat pelan, supaya tidak terdengar dengan makluk jadi-jadian.


Anin tidak lagi menanggapi ucapan sang sahabat yang semakin ngawur tak jelas, Anin lebih memilih untuk menyelesaikan kertas-kertas diatas meja kerjanya. Tanpa memikirkan makhluk laki-laki tampan yang berada di depannya, laki-laki yang mampu mengusik pikirannya.

__ADS_1


Nindy pun sama mengikuti jejak sang sahabat, mulai menyibukkan dirinya untuk tidak merespon orang lain di ruangan. karena kertas dan bolpoin lebih penting daripada laki-laki tampan tersebut.


Dewa semakin mencebik kan bibirnya, lalu bangkit dari tempat duduknya untuk kembali ke ruangan nya tanpa mendapatkan apa-apa. Tujuan awalnya datang kemari untuk menjalin kesepakatan, tetapi urung di lakukan karena perempuan tersebut terlalu sangat cuek bebek.


__ADS_2