
Dewa memasuki rumahnya dalam keadaan sepi, hari sudah larut malam membuatnya langsung masuk ke kamarnya. Setelah membersihkan tubuhnya, Dewa langsung berbaring diatas kasur empuknya. Kasur yang empuk menjadi obat mujarab untuk membuatnya nyaman untuk melepaskan penat, lelah, dan pusing akibat pekerjaan yang tidak ada selesai-selesai nya.
Menatap langit-langit kamarnya, sesekali pandangannya lurus ke atas untuk mengingat, mengingat peristiwa masa lalu yang seharusnya tidak perlu ia ingat lagi.
Sekelebat bayangan yang sudah mati-matian ia lupakan kini menari-nari di ujung pelupuk matanya, seakan menghantui nya.
Berbicara tentang asmara kisah percintaan pemilik perusahaan Arma Group, Dewa pernah mempunyai masa lalu tak mengenakan membuatnya sangat selektif untuk membawa hubungan yang serius ke jenjang pernikahan.
Dewa masih butuh waktu untuk memikirkan semuanya, karena semua tak semudah dirinya membalikkan telapak tangannya. Semuanya butuh proses, butuh waktu yang tepat supaya tidak salah dalam memilih hubungan yang baik untuk di ajaknya ke jenjang serius.
Yang usianya tak remaja lagi, bukan berarti Dewa tak memikirkan kisah percintaannya hanya saja belum saatnya untuk melangkah ke jenjang ke depan. Dewa sendiri belum terlalu yakin untuk melangkah, deadline pekerjaan yang panjang membuatnya untuk melakukan memikirkan masalah pekerjaan dulu.
Jodoh sudah ada yang mengatur, sudah ada yang jodohnya masing-masing. Entah kapan tiba nya jodoh itu akan datang, bukan kah semua orang akan berpasangan-pasangan tinggal waktu dan jodoh dari Tuhan.
Puas melamun karena kelelahan Dewa sudah tertidur dengan suara dengkuran yang memenuhi suara di kamarnya. Saking lelahnya Dewa tak menyadari bahwa dirinya mendengkur, biasanya pun Dewa tidak pernah mengeluarkan suara khasnya. Kali ini Dewa sangat berbeda, kesibukan nya membuat dirinya sangat kecapekan mau tak mau dirinya mengeluarkan suara yang khas.
__ADS_1
*****
Tidak tahu kesalahan nya apa? Anindya Dirgantara di pindahkan ke Jakarta, bila tidak mau atau menolak dengan sangat terpaksa harus menerima konsekuensi nya dari perusahaan yaitu pemecatan dengan tidak terhormat.
"Huuuffft .... menyebalkan kalau sudah seperti ini, maju mundur kena dech!" Ucap Anindya tersenyum kecut akan nasibnya yang harus di pindahkan secara tiba-tiba.
Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba mendapatkan kabar tentang kepindahannya, Anindya harus mempersiapkan segala nya untuk ke berangkat nya ke Jakarta.
Mungkin di tempat yang baru karyawan seperti dirinya sang di butuhkan, mungkin sangat di butuhkan karena karyawan seperti dirinya sangat langka.
Tidak seperti di Bandung mungkin ke banyakan stok mau tak mau demi sesuap nasi dan bertahan hidup. Anindya menyetujui keputusan perusahaan dengan sangat berat hati, ada rasa Berat bila harus berpisah dengan sang sahabat. Berharap Nindy juga ikut dengan kepindahannya ke Jakarta, karena beliaulah keluarga yang Anindya seorang yang ia punya kecuali keluarga di panti, tempatnya di besarkan.
Pertemuan yang bukan karena kebetulan, semua sudah ada yang mengatur, sudah ada yang mentakdirkan perjalanan nya akan bertemu dengan siapa? semuanya sudah ada yang menentukan, sebagai manusia biasa pasti punya rencana, tetapi semua sudah ada yang menentukan perjalanannya.
Malam ini Nindy tidak bisa memejamkan kedua kelopak matanya, padahal hari sudah malam, sudah mengantuk karena berkali-kali menguap. Tetapi sayang kelopak matanya enggan untuk terpejam, padahal ingin sekali tidur nyaman.
__ADS_1
Hampir jam 2pagi Nindy baru saja bisa memejamkan kelopak matanya, dan pagi sekali Nindy harus bangun karena ada tugas kantor yang belum di selesaikan. Rencananya pagi ini Ndy ingin berangkat pagi, dan segera menyelesaikan pekerjaannya yang di tunda nya supaya bisa pulang lebih awal.
Harapan nya untuk bangun pagi pupus sudah, seharusnya bangun jam 5pagi malah bangun jam 7pagi. Waktu yang di gadang-gadang pas untuk bangun, malah meleset tak seperti harapannya.
Cukup mandi bebek saja Nindy sudah siap dengan pakaian kerjanya, tak butuh waktu lama untuk bersiap-siap, tiba nya di kantor wajah Nindy tak bersemangat karena harus berjalan kaki sejauh 500meter.
Ojek online yang di pesannya tiba-tiba ban nya bocor, mau tak mau bila gajinya tak ingin di potong karena keterlambatannya. Nindy memilih jalan kaki, itung-itung untuk olahraga kakinya supaya kuat untuk menghadapi kenyataan hidup.
*****
Suasana pagi hari di kantor sangat sibuk, tidak ada yang berani berbicara, semuanya sibuk dengan pekerjaannya. Termasuk Anindya dan Nindy yang diam membisu, mereka fokus dengan layar laptop yang menyala terang.
Biasanya mereka akan ceriwis, tetapi pagi ini pagi yang berbeda untuk keduanya. Baru saja memasuki ruangan nya sudah menumpuk tumpukan kertas diatas meja, mau tak mau keduanya sibuk menyelesaikan karena harus terkumpul hari ini juga sebelum jam istirahat.
"Akhirnya selesai!" Ucap Anindya yang merentangkan kedua tangannya, supaya otot-otot yang kaku tak tegang lagi.
__ADS_1
"Finally, done!" Ucap Nindy .
Keduanya sudah menyelesaikan permasalahan nya, kini mereka mulai sedikit tersenyum karena sejak datang ke ke ruangannya tidak ada aura kebahagiaan. Aura keduanya sangat gelap, tak secerah mentari pagi yang bersinar menyinari bumi seisinya.