
Sore menjelang Anin sudah membereskan semua pekerjaannya, dan bersiap untuk pulang ke kost karena hari ini, Hari terakhirnya bekerja sebelum Anin mengajukan cuti untuk 5hari ke depan.
5hari yang akan membahagiakan, hari yang sekian bulan tak saling bersua, akhirnya akan terjawab tinggal beberapa menit lagi mereka akan berjumpa.
Rasa rindunya yang sudah membumbung tinggi, membuat Anin tak sabar untuk segera meninggalkan kantor, dan meneruskan perjalanan pulang.
Berkali-kali Nindy melirik ke sebelahnya, otaknya bekerja cepat ingin menanyakan kepada sang sahabat. Tak biasanya Anin bersemangat, bersemangat untuk segera pulang ke kampung.
"Sudah mau pulang Nin." tuturnya Nindy yang sudah ikut membereskan pekerjaannya.
"Sesekali mereka berbincang sebentar sembari membereskan sisa pekerjaannya."
Kertas-kertas diatas meja pun yang mulai berserakan sudah ia bereskan, sudah ia rapikan seperti semula. Komputer pun sudah ia matikan, tinggal membereskan beberapa barang kecil untuk ia taruh di tempatnya.
"Iya dong Nindy, kan sudah waktunya kita pulang juga! masa iya aku harus lembur terus, kapan cari cowoknya?" tawa Anin membahana, membayangkan bila itu benar-benar terjadi bahwa waktunya habis untuk bekerja.
"Suka bener saja kamu Nin." Nindy pun ikut tertawa, mendengar ucapan Anin membuat Nindy tergelitik untuk tahu siapa cowok yang di maksud sahabatnya.
"Hahahaha ya harus dong, masa kita jomblo terus! malu ah sama orang kantor, di kira kita enggak laku dong, Nindy." Anin menimpali perkataan sang sahabat yang mengingatkan akan statusnya yang belum mempunyai seseorang yang dekat.
"Emang nya kamu sudah punya incaran? sampai harus berkata seperti itu!" tanya Nindy yang sedikit curiga dengan sahabatnya, karena tak biasanya Anin berbicara sedikit tak jelas.
"Dahinya berkerut menunggu jawaban Anin yang masih ambigu."
"Belum! masih nyari, ya siapa tahu di jalan mendapatkan seseorang." ucap Anin yang penuh teka-teki, dan ingin membuat sahabatnya penasaran.
"Udah ah aku mau pulang takutnya di jalan kemalaman, takut-takut ada manusia bertopeng yang pura-pura menabrak ehh ternyata dia seorang pangeran." Membayangkan saja sudah membuatnya bahagia, bila itu terjadi aku pasti akan sangat bersyukur.
Mereka sudah berpisah di bassement kantor, Anin membawa mobilnya membahana ke jalanan yang sore ini sangat macet.
Biasanya tak macet, tetapi kali ini berbeda. Kemacetan nya mengiringi kepergiannya, kepulangannya untuk bertemu keluarga, dan sanak saudara di panti.
Sedang Septi sudah memesan taksi online, karena tak ingin merepotkan Anin untuk putar arah. Jalan pulang ke apartemen, dan jalan pulang ke panti bertolak belakang. Akhirnya Septi memilih pulang kerja menggunakan taksi Online.
Anin fokus mengemudikan mobilnya sembari bersenandung indah, Anin mulai menyanyi mengikuti suara penyanyi aslinya yang ia hidupkan memakai flashdist.
Senandung indah yang keluar dari bibirnya bagaikan nyanyian rindu, rindu akan kampung halamannya. Rindu yang menggunung mampu membuat Anin berkaca-kaca mengingat masa kelam, sampai ia bisa bangkit.
*
__ADS_1
Malam ini Dewa melemburkan dirinya di temani sekertaris Rano, mereka seakan tak terpisahkan kecuali mereka sudah pulang dari kantor, barulah mereka terpisah untuk beberapa jam kemudian sampai ia di pertemukan esok hari di kantor.
"Sudah malam, apa bapak belum mengantuk?" tanyanya sekertaris Rano sembari memicingkan matanya untuk melirik sang tuannya.
Sekertaris Rano sudah berkali-kali menguap, sudah mengajukan pertanyaan ke pak bos.
"Menggeleng sebagai jawabannya, karena sangat malas bila harus mengeluarkan suara, moodnya sedikit tidak baik."
Sekertaris Rano langsung mengatupkan bibirnya, tidak ada yang perlu ia tanyakan lagi. Moodnya pak bos sedang tak bersahabat, lagi-lagi sekertaris Rano harus menahan diri untuk mengajukan pertanyaan kembali.
Mereka kembali fokus dengan dokumen diatas mejanya, lembar demi lembar pun ia buka untuk memeriksa kembali pekerjaan yang masuk ke ruangan nya.
Walaupun ada rasa kantuk, tetapi ia tahan supaya besok-besok nya lebih meringankan dirinya dalam bekerja.
Bila tidak ada halangan, Dewa ingin pergi ke suatu tempat. Tempat yang beberapa waktu ini yang menjadi tempatnya berkunjung, tempat membuatnya melepaskan senyumnya.
Hampir pukul 10malam mereka baru menyelesaikan pekerjaannya, kebetulan ini malam minggu pasti di jalan-jalan sangat ramai.
Banyak muda-mudi yang nongkrong, berkencan atau sekedar temu kangen di cafe, pinggiran taman yang tak jauh dari pusat kota.
Keduanya sudah berada di mobil yang sama, sekertaris Rano kali ini menjadi sopir pribadi pak bos. Mereka mengendarai satu mobil yang sama, terjadi keheningan diantara keduanya.
Dewa duduk diam melihat dari kaca jendela, malam ini cuacanya sangat bersahabat untuk menghabiskan malam minggu dengan terkasih, atau keluarga, sahabat.
Bibirnya mengembangkan senyumnya kala melihat pak bos yang diam anteng, meskipun sangat gabut. Tak masalah ia tak di repotkan ini itu olehnya, bila sudah membuka bibirnya suasananya sangat terancam.
*
Sampai di halaman rumahnya Dewa, Rano tak mampir untuk singgah sebentar, memilih melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke apartemen.
Karena tidak ingin semakin malam, semakin jalanan akan macet, semakin Rano akan terlambat pulang.
Rano berusaha mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, walaupun sedikit ada kemacetan, tetap saja harus fokus pada jalanan supaya tetap sampai tujuan dengan selamat.
Dewa sudah memencet bel rumahnya, tak berselang lama pintu rumahnya di buka oleh simbok.
"Assalamualaikum mbok."
"Waalaikumsalam, baru pulang den!"
__ADS_1
"Iya mbok, Dewa ke kamar dulu ya.
"Baik den!"
Suasana rumah pun sudah sangat sepi, lampu-lampu pun sudah di matikan. Tinggal simbok yang yang terbangun membuka kan pintu untuknya, meskipun sedikit kasihan karena istirahatnya terganggu Dewa sendiri tak bisa masuk bila tak membangunkannya.
Klekkk
Belum juga melepas pakaian kerjanya, Dewa sudah menubruk kasur empuknya. Memandangi langit-langit kamarnya yang bernuansa warna putih, dan grey.
Netra nya tak berkedip kala memandangi langit kamarnya, pikirannya melayang, membahana ke hal-hal masa lalu. Masa dimana dirinya sempat terpuruk, sempat berada di titik terendah.
Lama berdiam diri akhirnya Dewa bangkit dari tiduran nya, mulai melangkah kan kakinya untuk masuk ke kamar kecil untuk membersihkan badannya.
Setelahnya Dewa langsung nyaman tertidur, tidak ada perlu yang ia pikirkan. Pekerjaan malam ini sudah beres, tinggal mengistirahatkan tubuhnya sebelum memulai hari esok yang lebih indah lagi.
*
Anin sampai di tempat tujuan waktu dini hari, suara adzan subuh berkumandang Anin baru saja memasuki panti yang menjadi tempat tinggalnya dulu.
Di dalam mobil pun Anin masih intens memandangi bangunan bertingkat di depannya. "Masih sama, tak ada yang berubah!" Batinnya Anin bermonolog dengan dirinya sendiri.
Tak di sangka netra nya mulai berkaca-kaca mengingat masa kecilnya, masa yang seperti adik-adiknya yang sama tinggal di panti.
Rumah tempatnya dulu, kini tak ada yang berubah masih seperti dulu, seperti terakhir kalinya ia pergi dari tempat ini!
Setelah membenahi penampilannya, Anin mulai membuka pintu mobilnya. Ia bersiap untuk keluar melangkahkan kakinya, siap untuk bertemu ibu, dan adik-adiknya.
Langkah kakinya ringan, seakan tak mempunyai beban. Rasa bahagia menyeruak begitu saja, rasa membuncah karena akan bertemu dengan seorang yang selama ini ia rindukan.
"Assalamualaikum." sapa Anin sudah tersenyum manis, manis karena sekian bulan tak bertemu kini hanya tinggal di depan netra nya.
"Waalaikumsalam ." balasnya dari dalam.
Klekkk
"Anindya." ucapnya ibu panti yang tak percaya di depan pintu, ada anak asuhnya yang berada di depannya.
"Iya Buk! Anin pulang, Anin kangen ibu." Tuturnya Anin dengan wajah cerianya, binar matanya menunjukkan bahwa hatinya kebahagiaan.
__ADS_1
"Masuk sayang! ibu juga kangen! apa kabarnya kamu, Anin?" tanyanya ibu panti yang berkaca-kaca, binar cintanya nampak di wajah cantiknya.
Mereka berpelukan, melepaskan rindu, melepaskan pelukan hangat yang lama tak bertemu.