
Hampir dini hari Anin tiba di rumah panti dengan sehat, selamat sampai tempat tujuan. Setelah berbincang-bincang sebentar dengan ibu Santi, selaku pemilik panti asuhan tempatnya Anin dulu di besarkan.
Anin memasuki kamarnya, langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur. Tempat tidur yang sudah lama ia tinggalkan, kini ia tempati lagi untuk beberapa hari ke depan.
Selesai membersihkan badannya, berganti pakaian tidurnya. Anin langsung memejamkan kelopak matanya, karena rasa kantuknya, capeknya semua menjadi satu kesatuan.
Mau tak mau Anin langsung tertidur pulas sebelum memulai harinya besok pagi di panti, bertemu adik-adiknya adalah impiannya yang sudah ia rindukan sekian lamanya.
Tertidur sangat pulas hingga hampir pagi menjelang, Anin mulai menggeliat kan tubuhnya. Bunyi seseorang dari arah dapur membuatnya, sedikit menyipit kan matanya untuk menyesuaikan cahaya lampu tidur yang memancar kearahnya.
Suara keramaian membangunkan Anin yang tak jauh dari tempat mengistirahatkan badannya, "Mungkin mereka sudah bangun," batinnya Anin mengira-ngira tentang praduga nya.
Bukannya bangun, Anin masih sibuk dengan mimpi indahnya. Rasa lelah karena perjalanan jauh, memudahkan ia tertidur kembali. Melanjutkan mimpi indahnya, sebelum esok datang untuk menyambut mentari pagi.
Tepat pukul 04.35pagi mau tak mau Anin sudah terbangun menjalankan perintah-Nya, lalu setelahnya keluar kamar untuk mencari sumber kesibukan karena terjadi benturan alat masak yang saling beradu, dan di gunakan.
Tidak butuh waktu lama, Anin sudah berada di dapur. Setelah menyalami orang-orang yang berada di dapur, mereka sedikit bercengkrama, bertukar kabar.
Keesokan paginya sekitar pukul 5pagi suara ramai tercipta, mereka adalah tukang masak . Di dalam dapur terjadi kesibukan, Mereka sibuk menyiapkan sarapan paginya, ada Anin yang turut membantu memasak.
Suasana dapur menjadi ramai seperti pasar tradisional, semenjak kedatangan Anin membuatnya lebih hidup, lebih bisa mencairkan suasana di dalam.
Masa seperti ini tidak akan terulang lagi, entah kapan dirinya bisa sedikit membantu bila tidak sekarang ini. Mumpung dirinya pulang, juga ada kesempatan.
Anin memanfaatkan kesempatan ini dengan baik, tidak ingin kehilangan momentum berada di ruang dapur. Memanfaatkan waktu yang ada supaya bisa Lebih akrab dalam kekeluargaan.
Kursi makan pun sudah di bersihkan, meja makan pun juga. Sudah di tata berbagai menu makanan yang terhidang diatas meja, berbagai macam menu ia masak spesial untuk sarapan paginya.
Mereka seperti pagi biasanya duduk manis di tempat duduknya masing-masing, sedikit ada celotehan lucu, candaan, tawa menghiasi pagi mereka sebelum acara sarapannya di mulai.
Sedang di kamarnya Anin baru saja menyelesaikan ritual membersihkan badannya, kini Anin duduk di meja rias sedikit memoleskan bedak tipis-tipis, dan lipstik supaya tak pucat.
Selesai dengan ritualnya, Anin bergegas untuk keluar kamar. Di tangannya ada satu koper yang ia bawa khusus oleh-oleh yang ada di panti, tak membeda-bedakan semuanya sama.
"Assalamualaikum sayang." sapa Anin sudah melebarkan senyumnya, senyum termanis terukir di wajah cantiknya.
__ADS_1
"Kakak! kak Anin." jawabnya adik-adiknya dengan keterkejutan, rasa tak percaya bahwa kakaknya sudah pulang, sudah kembali untuk menengoknya.
Mereka langsung menubruk tubuhnya Anin, Anin yang tak siap sampai tubuhnya sedikit oleng. Tetapi ada senyum di wajahnya, senyum kebahagiaan bisa kembali bertemu dengan keluarganya di panti.
"Kami sayang kakak!"
"Kami juga rindu sama kak Anin."
Mereka mengeratkan pelukannya, Anin pun membalasnya tak kalah eratnya membalas pelukan hangat adik-adiknya. Anin sudah berkaca-kaca karena terharu dengan perkataan adik-adiknya, karena hatinya selembut kapas.
"Don't cry Kak Anin." tuturnya mereka serempak, ada yang mengusap air matanya yang mulai bergulir membasahi pipinya Anin.
Anin tersenyum pipinya penuh dengan air mata, bukan air mata kesedihan, tetapi air mata kebahagiaannya bisa bertemu kembali dengan keluarganya.
"Kak Anin enggak pa-pa, kak Anin bahagia karena bisa berada di tengah-tengah kalian, bisa menjadi Kakak kalian!"
"Kakak Anin sayang banget sama kalian selamanya." ucapnya dengan berlinang air mata, air mata kebahagiaan untuk jiwanya yang juga tengah berbahagia.
Tidak di sadari mereka ada sepasang mata melihatnya dengan mengulum senyum, matanya juga berkaca-kaca ikut merasakan kebahagiaan yang hakiki.
Sekian bulan lamanya Anin pergi, kini ia kembali pulang untuk berkumpul dengan keluarga, Adik-adik, dan masih banyak yang menyayangi Anin.
*
Mereka sudah duduk anteng di meja makan, sudah menempati tempat duduknya masing-masing. Suasana di meja makan pagi ini begitu sangat riuh, sangat ramai karena mereka sedang merayakan kebahagiaan.
Kakak Anin yang sudah lama tak pulang, akhirnya pagi ini ketika mereka sudah siap untuk sarapan. Sudah di kejutkan dengan kedatangan kak Anin, makluk cantik yang ia rindukan untuk berjumpa.
Anin di kamarnya masih sibuk membersihkan dirinya di kamar kecil, kamarnya dulu, tempatnya untuk berkeluh kesah.
Setelah membereskan barang-barang bawaannya, Anin menyelesaikan ritualnya seperti biasanya. Sudah duduk manis di depan rias, wajahnya ia poles sedikit bedak tipis-tipis, dan lipstik sebagai pewarna biar bibirnya tak pucat.
Tak jauh dari kamarnya, Anin sudah melangkahkan kakinya menapaki lantai kamarnya untuk menuju meja makan.
Senyumnya langsung terbit melihat adik-adiknya yang sudah duduk anteng menunggunya. Menunggu kedatangan untuk sarapan bersama, sarapan yang beberapa tahun ini tak pernah ia rasakan semenjak dirinya keluar dari panti.
__ADS_1
"Kak Anin ayo duduk, kami sudah lapar hanya nunggu kak Anin lho." Tuturnya anak yang sang ceriwis, meskipun usianya masih kecil tetapi sangat berani, dan bukan anak pemalu.
"Baiklah-baiklah!" sahutnya Anin duduk di kursi yang kosong, kursi itu yang menjadi tempat nya dulu untuk makan.
Mereka tersenyum senang, Anin pun juga sama merasakan kebahagiaan yang sama kebahagiaan yang sekian bulan baru ia rasakan lagi.
Mereka melanjutkan makannya dengan suasana hati yang bahagia, senyum tak pernah lepas dari mereka yang tengah menikmati sarapannya.
Sesekali mereka saling bertukar cerita, bercanda sehingga suasana di meja makan pagi ini lebih hidup, lebih bisa kekeluargaan.
*
Dewa sudah memasuki ruangan nya dengan mood yang tidak dalam keadaan baik-baik saja, pikirannya berkelana kemana-mana? entah apa yang di pikirkan, tetapi ada perasaan kehilangan.
Tidak tahu sedang kehilangan apa? hatinya bisa merasakan bahwa hatinya tak baik-baik saja, seperti ada sesuatu tetapi apa.
Dewa bingung sendiri dengan suasana hatinya, biasanya ia akan sangat semangat setiap kali datang ke kantor. Berbeda dengan suasana hatinya, seakan dirinya sedang tak baik-baik saja.
"Kamu kenapa?" tanyanya sekertaris Rano.
Tak biasanya Dewa bersikap dalam mode mood yang jelek, seharusnya ia bahagia karena hari ini tidak ada jadwal yang beruntun.
"Enggak pa-pa!" jawabnya Dewa singkat.
Rano mendengus kesal mendengar jawaban pak bos Dewa, tak biasanya ia akan bersikap aneh seperti sekarang. Mencoba untuk menerka-nerka, tetapi tak ada jawabannya.
Setelah peninggalan sekertarisnya, Dewa melanjutkan memeriksa dokumen yang sudah di tumpuk diatas meja kerjanya. Satu persatu ia periksa, biasanya semua akan cepat beres.
Tetapi tidak untuk pagi ini, hatinya benar-benar tak mood. Sebagai atasan Dewa berusaha bersikap profesional, mencoba untuk berkonsentrasi untuk melanjutkan kerjanya.
Nasib karyawan ada di pundaknya, mau tak mau harus bisa menjadi pemimpin yang bisa mengayomi rakyatnya, atau pegawainya.
Dewa berada di kantornya sampai jam makan siang, setelahnya Dewa pamit untuk pulang dengan alasan sedikit tidak enak badan.
Setelah berpamitan dengan sekertarisnya, Dewa sudah berada di lift untuk menuju bassement. Tidak ada perkataan yang keluar dari bibirnya, bibirnya mengatup rapat.
__ADS_1