Bahagia Selepas Bercerai

Bahagia Selepas Bercerai
Bagian 27


__ADS_3

Susah payah ia mengajukan cuti berlibur, berbagai alasan pun ia buat supaya ijin cutinya berjalan sesuai keinginan.


Akhirnya nasib baik berpihak padanya,


cuti berlibur pun di acc walaupun hanya tiga hari baginya sudah bersyukur.


Aku ingin memanfaatkan cuti ku, menghabiskan waktu libur ku untuk menikmati kebersamaan dengan keluarga yang di panti, tempatnya ia di besarkan dulu.


Beberapa bulan sudah terlewati dengan penuh suka, dan suka. selama menjadi pegawai tetap di perusahaan Armadya.


Keakraban dengan sang ceo makin positif, keduanya tak pernah saling bertegur sapa secara langsung, kecuali posisi sedang tidak ada orang-orang di kantor barulah keduanya berinteraksi.


Dalam hitungan hari sudah berlalu, Anin memutuskan untuk mengambil cuti untuk tiga hari ke depan. Anin ingin mengunjungi adik-adiknya di panti, dan menceritakan masalah pribadinya yang tak bertahan lama.


Hanya pada ibu panti lah Anin akan bercerita, bukan untuk kalangan umum, atau adik-adik panti yang tak tahu menahu masalahnya.


Berbagi kasih sering Anin berikan, bukan uang semata tetapi kasih sayang yang ia berikan dengan setulus hati.


Anin ingin menyembunyikan sampai ia siap untuk menceritakan semuanya, entah sampai kapan dirinya siap! Akhirnya Anin mengambil langkah sedikit maju, siap tak siap ia harus siap menceritakan tentang nasib pernikahannya.


Dengan tekad yang bulat Anin siap menceritakan apa yang terjadi pada nasib pernikahannya.


Bukan untuk mengumbar aib masa lalu, orang-orang terdekat berhak tahu juga tentang beban yang harus ia tanggung beberapa bulan belakang ini.


Bagaimana pun ibu di panti berhak tahu tentang dirinya, karena anin sendiri sudah menganggap nya seperti ibu kandungnya sendiri.


Meskipun tak terlahir dari rahimnya, Anin sangat menyayangi dengan setulus hati, dan tidak akan tergantikan kelak ia menemukan pasangan yang baru.


Karena beliaulah yang merawatnya dari kecil hingga Anin sampai bisa ke tahap ini. Suka duka sudah Anin lalui dengan perjuangan, air mata bahkan tak tahu lagi bagaimana ia mengucapkan rasa syukur, dan terimakasih atas rezeki yang Allah kasih untuk dirinya.


Semata-mata doa itu dari mereka hingga ia bisa mencapai kesuksesan sekarang ini tanpa doa mereka Anin tak akan menjadi pa-pa.


Anin tengah bersiap untuk mempacking barang-barang bawaannya yang akan ia bawa ke panti, pakaian, keperluan lainnya pun sudah selesai ia packing tersendiri.

__ADS_1


Tidak lupa juga Anin membawa buah tangan untuk adik-adiknya, mungkin ini tak seberapa harganya, melihat senyumnya sudah membuat Anin bahagia.


Rasanya aku tak sabar menunggu hari esok tiba, hari dimana dirinya akan pulang ke tempatnya dulu.


"Kamu kenapa Nin? kog senyum-senyum enggak jelas begitu!" Tuturnya Septi yang sedikit penasaran, belum juga menyelesaikan pancingnya Anin sudah senyum-senyum seperti ada yang kesambet.


"Enggak pa-pa cuma bayangin aja ketemu adik, dan ibu ku kog Septi. Maklumlah aku lama tak pulang, ada rindu yang mengunung di lubuk hati ku terdalam." sahutnya Anin menghentikan packing nya, membayangkan kebersamaan mereka dulu.


Lagi-lagi Anin tersenyum penuh arti, seakan tak sabar menunggu hari esok tiba. Hari di mana ia akan pulang tiga hari untuk menghabiskan waktunya di panti.


Septi memperhatikan gerak-gerik Anin ikut tersenyum bahagia bila sahabat nya juga bahagia, kebahagiaan nya Anin adalah bahagianya juga.


Selesai packing hampir tengah malam, Anin melanjutkan mimpi indahnya di samping Septi yang lebih dulu tertidur di sebelahnya ketika dirinya belum selesai mempacking barang-barang bawaannya.


*


Semalam tidurnya sangat nyenyak, bermimpi indah adalah harapan semua orang termasuk aku yang menginginkan bunga tidur cantik, dan semangat baru.


Tidak ada obrolan di dalamnya, mereka fokus pada jalanan ibu kota yang biasanya akan macet di jam seperti ini.


Tetapi pagi ini lain dari yang lain, nampak kelengahan di lalu lintas yang biasanya macet parah.


Sampainya mereka di tempat kerjanya, nampak ada kebahagiaan di wajah keduanya. Walaupun mereka terpisah beberapa hari ke depan, ada rasa sedih juga membayangkan sepulangnya dari tempatnya kerja.


Koper yang berisi pakaian ganti pun sangat penuh, satu koper lagi pun berisi berbagai jenis cinderamata.


Tak pantas rasanya bertamu tak membawa buah tangan, akhirnya dengan bergejolak di hatinya aku memutuskan membawa sesuatu yang kelak bermanfaat untuk tempat tinggalnya dulu.


Rencananya Anin akan meluncur ke tempat tujuannya, tidak mampir lagi ke apartemennya. Barang-barangnya pun sudah Anin bawa di bagasi mobil, tak banyak hanya dua koper saja.


"Mbak Anin di panggil Pak Dewa, di suruh ke ruangan nya," ucap Rano sekretarisnya. Walaupun Rano bekerja sebagai sekretaris, terkadang bekerja sebagai tukang panggil-panggil, contohnya sekarang ini Rano sedangkan melaksanakan tugasnya untuk memanggil Anin untuk ke ruangannya.


"Baik pak Rano." Tuturnya Anin menyambut baik panggilan sekertaris Rano. Meskipun usianya diatasnya, tetapi Rano juga lumayan untuk jadi kandidat calon suami hihihi.

__ADS_1


Membayangkan saja Anin geleng-geleng kepala, pikirannya yang melalang buana tak masuk akal.


Kenapa aku malah mikirin sekertaris Rano, bukannya aku di panggil untuk ke ruangannya pak Dewa?


"Apakah kamu berbuat kesalahan, Nin?" tanyanya Septi yang penasaran, tak biasanya Pak Dewa memanggil pegawainya bila tak ada hal penting.


"Sepertinya enggak Septi, kenapa ya kog aku jadi takut-takut gimana gitu ya?" Anin bermonolog pada dirinya sendiri, karena ini panggilan pertamanya tanpa Septi.


"Semangat! semoga pak Dewa jinak kali ini!" Tuturnya Septi. Berharap tak marah-marah ke Anin.


"Makasih Septi." mereka berpelukan seperti Teletubbies, seakan tak terpisahkan barang satu menit pun.


Bismillah


Tok! Tok!


Setelah di persilahkan masuk, Anin langsung duduk di kursi yang tersedia. Ada rasa deg-degan karena sepertinya dirinya tak membuat kesalahan, kenapa harus ke ruangannya?


"Kamu tahu kesalahanmu?" tanyanya Dewa sembari masih sibuk melihat kertas untuk ia periksa


Deg


"Tidak Pak!" jawabnya Anin singkat tanpa berani untuk menatap lawan bicara.


Pikirannya berkecamuk kemana-mana? Tidak tahu kesalahannya apa? tetapi perasaan nya tidak enak.


Dewa melirik sebentar kearah Anin, batinnya mengulum senyum melihat reaksinya Anin. Padahal niat awalnya untuk memanggil nya ke ruangannya untuk bertanya tentang cutinya untuk beberapa hari ke belakang.


Bisa-bisanya bibirnya berkata demikian, seharusnya ia langsung saja bertanya perihal itu!


Malah bibirnya mengeluarkan perkataan tak sesuai yang ia rancang, kenapa aku ini melakukan hal yang membuat aku terlihat orang bo doh.


Dewa malah berdiam di tempat duduknya, bibirnya terkunci rapat. Awal ingin menanyakan sesuatu, malah pertanyaan membuatnya bingung harus berbicara apa lagi seakan otaknya buntu untuk berpikir.

__ADS_1


__ADS_2