
Semenjak rapat yang di gelar dadakan oleh perusahaan yang di pimpin langsung oleh Ceo Dewa, mereka berdua adalah Anindya, dan Nindy belum pernah sama sekali ketemu sebelumnya dengan pemilik perusahaan yang katanya handsome nya tingkat ibukota.
Kesan keduanya bertemu untuk Pertama kali, bertatap muka membuat ada rasa kagum dengan makhluk sempurna yang merupakan atasannya langsung, pemilik Amadya Group.
Pria tampan yang pernah ia temui di ibukota ini, pria yang memiliki sejuta pesona ketampanan diatas rata-rata.
"Emang sih tampan, tapi sayang mukanya jutek tak ramah sama karyawan nya termasuk kita berdua." Tutur Anindya yang tidak terlalu suka sifat bos besarnya, yang menurutnya seenaknya sendiri tanpa memikirkan perasaan karyawan nya.
"Kan yang penting Mapan, termasuk ITU nya juga harus On fire." sahut Nindy mengedipkan matanya, Nindy seakan main mata untuk memberikan kode kepada sang sahabat.
"Bahasa mu Nindy masalah On fire langsung gercap, kayak orang dewasa tahu hal-hal yang enak-enak. Aku memilih nggak ikutan ahh takutnya di dengar orang yang bersangkutan." Ujarnya Anindya yang malas membahas On fire, karena tidak memperhatikan ITU nya Ceo Dewa.
"Tu kan pikirannya selalu negatif dulu, sebelum aku menjelaskan apa arti kata ITU, ahh kamu Anindya nggak asyik!" Nindy beranjak dari tempat duduknya untuk masuk ke dalam kamar kecil, di kamar ukuran 1x2 Nindy menyelesaikan hajatnya.
Mendengar ucapan sahabatnya membuat Anindya berpikir ulang, "Apa dirinya keterlaluan? atau Nindy marah ya! Kenapa Nindy malah ke kamar kecil? harusnya kan..." Di tidak meneruskan ucapannya karena ponsel di dalam tas kerjanya bergetar.
Getaran ketiga Anindya berniat untuk mengangkat panggilan telepon dengan nomor baru, belum sempat menyentuh warna hijau, panggilan telepon sudah di matikan lebih dulu.
"Siapa? sepertinya kenal sama nomornya, tetapi siapa ya, kok aku lupa-lupa ingat ya!" Di bermonolog sendiri, berharap ada panggilan yang masuk, harapannya nihil karena tidak sama sekali ponselnya bergetar.
"Hmm nasib jomblo." Ucap lirih Anindya
Anindya kembali melamun mengingat nomor yang baru saja masuk, setelah di pikirkan sampai Nindy tak menemukan jawaban. Anindya masih saja tidak mengingat nomor tersebut, karena baginya nomor itu udah terlalu lama tak di lihatnya lagi, karena kesibukannya yang kian hari bertambah banyak.
__ADS_1
*
Sudah satu bulan ini, Dewa merasa lega karena perusahaan Amadya Group yang berada di anak cabang sedang baik-baik saja. Berharap tidak ada kendala seperti kemarin, yang mengharuskan dirinya turun tangan langsung ke lapangan..
"Semoga aman terkendali sampai memiliki anak cabang yang bertambah, Aamiin!" Ucap Dewa sudut bibirnya tertarik untuk membuat lengkungan bulan sabit.
Itu selalu Dewa harapan, karena tidak ingin proyek barunya menemukan kendala yang berarti yang membuat perusahaan rugi sebesar-besarnya.
Walaupun jarak Jakarta-Bandung sangat dekat, Tak membuat Dewa mengunjungi perusahaan cabang kecuali ada kepentingan.
Di jam makan siang ini suasana kantin perusahaan sangat ramai, banyak karyawan sedang menikmati makan siangnya.
Awalnya Dewa ingin makan siang di kantin tempat favoritnya, tetapi di urungkan karena tidak ada tempat kosong untuk dirinya.
"Kita makan pakai pesan online, gimana bos? ketimbang kita di tempat ini menjadi pusat perhatian banyak ciwi-ciwi ceriwis menatap kita, pak bos." bisiknya Rano kepada tuannya Dewa.
Dewa dan Rano sudah kembali ke ruangannya. Dewa sibuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda, sembari menunggu menu makanan kesukaannya melalui gosen yang di pesan keduanya melalui aplikasi sosial media.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, keduanya sudah menghabiskan menu makan yang sengaja di pesan via online. Memudahkan banyak orang bila malas untuk keluar rumah, tetapi bisa makan dengan nyaman tanpa gangguan.
Tak sampai 30menit mereka sudah menyelesaikan makannya, tidak ada percakapan atau komentar. Mereka langsung tancap gas mengerjakan pekerjaan nya, meskipun sangat santai tetapi mereka juga harus sigap bila ada serangan dadakan seperti kemarin.
Sedia payung sebelum hujan, peribahasa yang cocok untuk diriku sendiri.
__ADS_1
Anindya dan Nindy hatinya tengah berbunga-bunga bak bunga yang mulai bermekaran indah layaknya Abg yang sedang jatuh cinta. Seperti tanaman yang berada di belakang yang tumbuh subur, seperti perasaan keduanya menggambarkan aura kebahagiaan yang tak terlukiskan kata-kata.
Mereka menaiki angkutan umum yang kebetulan lewat di depan tempat nya bekerja. Tidak ada yang tahu bahwa aku kerja di perusahaan yang menduduki sepuluh besar di Indonesia. Walaupun hanya sepuluh besar setidaknya ada usahanya untuk mengalahkan pemilik tunggal .
Alhamdulillah." Keduanya mengucapkan syukur sampai rumah dengan sehat, semangat d berkali-kali saling melempar senyum dengan wajah yang berseri-seri sangat cantik.
Mereka sudah sampai di depan gang masuk rumahnya, meskipun kontrakan nya yang sempit warga di sekitar tempat tinggal ku sangat ramah, sembari bernostalgia masa dulu mereka belum bekerja di perusahaan yang terkenal dengan fasilitas yang mewah.
Tak pernah melupakan asal mu asal darimana dulu, kini keduanya sudah mendapatkan pekerjaan yang layak dan lebih dari baik.
Di bisa sedikit melupakan peristiwa kelam nya, masa muda nya terenggut karena pernikahan yang hanya bertahan seumur jagung saja.
Jika mengingat masa lalu kelam membuat hatinya teriris pilu, merasakan nasib pernikahannya yang tak bertahan sampai maut memisahkan.
Senyum yang dulu redup, kini sudah kembali bersinar. Sudah bisa mencari uang untuk keperluan sehari-hari, sedikit untuk mengirimkan ke panti ke tempat adik-adiknya di sana.
Kini semua sudah berlalu menjadi semua kenangan, menjadi masa yang terindah sekarang ini. menemukan sang sahabat, Ndy keluarga satu-satunya yang di miliki Di di Kota Bandung ini.
Sampainya di rumah kecil nan sederhana, mereka sudah masuk ke dalam rumah. Ada yang merebahkan tubuhnya dulu untuk menghilangkan rasa capeknya, ada pula yang masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Meskipun keduanya lahir dari latar belakang keluarga yang berbeda, tak membuat mereka susah untuk beradaptasi di lingkungan yang baru. Keduanya saling melengkapi satu dengan yang lainnya, tidak pernah membeda-bedakan tentang suku, ras dan status keduanya yang berbeda.
Mereka memiliki jiwa sosial yang tinggi, walaupun hidup di ibukota orang lain tak mudah.
__ADS_1
Aku pun merasakan susahnya berdiri di kota orang, kebanyakan di kota ini di isi banyaknya para perantau yang mencoba mengadu nasib hijrah ke ibukota.
Seperti itu gambaran yang mereka rasakan untuk saat ini, hanya tinggal cerita bahagia untuk masa depan yang lebih baik lagi.